Sembilan belas
Sharoon terus menyuapkan makanan untuk sang ibu yang baru saja didapat dari tidurnya. Sebenarnya, Keira ingin memuntahkan isi perutnya, tetapi demi kepentingannya juga putrinya, Keira bawa semua keinginannya itu. Ia sangat tidak ingin melihat putrinya kembali bersedih jika melihat kondisinya yang mungkin malah semakin memburuk. Hingga tak terasa makanan habis dimakan oleh lama yang lumayan lama. Gadis itu membuka perutnya di atas nakas yang berada di samping ranjang dan menyediakan beberapa biji obat untuk wanita yang sangat dikasihinya itu.
Setelahnya Sharoon kembali membantu diberikan untuk berbaring. Ia mengusap lembut punggung tangan yang digenggamannya. Sementara Nate yang ikut menjenguk, hanya duduk di sofa yang ada di ruang rawat ibunda Sharoon.
"Aku senang sekali melihat Ibu kembali membuka mata."
Keira tersenyum, "Ibu juga sangat senang bisa melihatmu." Lanjutkan dalam hati. Lalu, pandangannya, ganti pada gambar Nate. “Nak Nate, bisakah mendekati kesini?” Tanya Keira seraya melambaikan persetujuan meminta Nate mendekat.
Pemuda itu pun bangkit dari duduknya dan diletakkan di atas tubuh Keira tengah berbaring. "Ada apa, Tante?"
"Boleh aku meminta satu permintaan?"
"Tentu saja, Tante."
Keira menatap Sharoon, yang juga tengah memandangnya dengan wajah bingung, sebelum akhirnya kembali memandang Nate dengan serius. “Tolong jaga putri Tante ini, ya? Buat dia selalu bahagia nanti Tante sudah tidak bisa disisihkan lagi. Tapi kamu harus selalu mendukung dia tidak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun. ”Ucap Keira yang semakin membuat Sharoon dan Nate tak mengerti.
"Bu! Apa maksudmu itu? Tanya Sharoon. Mendadak perasaannya mulai tak enak. Ia takut. Ia tidak mau kehilangan sosoknya. Ia belum siap. Bahkan sampai kapanpun ia tidak akan pernah siap. Tak terasa air mata sudah membasahi pipinya. Dalam hati Sharoon berdoa, agar Tuhan mau memberikannya waktu yang cukup lama untuk menikmati kebersamaan dengan ibundanya.
Wanita memutuskan baya itu menatap Sharoon. Lalu biarkan yang terlepas dari genggaman Sharoon, terangkat biarkan pipi putrinya. Ia melepaskan air mata yang berjatuhan dari kelopak mata indah milik putri satu-satunya itu. Tanpa menyadari bahwa itu sudah berhasil dengan air mata. "Jangan menangis." Lirihnya.
“Jangan dibuka aku, Bu. Aku mohon. ”Pinta Sharoon seraya memegang tangan Keira yang dipipinya.
Keira menggeleng. "Bu, tidak akan meninggalkan kamu. Bu, akan selalu ada. Di sini. ”Wanita memutuskan untuk memindahkan d**a.
"Bu ..."
“Bu, benar-benar sudah tidak kuat lagi, sayang. Mungkin ini memang untuk Mom pergi. ”Ucap Keira lirih. Napasnya sudah mulai tidak beraturan. Hidupnya seperti sudah ada diujung tanduk. Ia menatap kembali kekasih Sharoon. "Nate, berjanjilah untuk mengabulkan semua yang diinginkan Tante."
Nate mengangguk. “Saya berjanji, Tante.” Ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Keira tersenyum, pandangannya mulai meredup. Lalu kalimat terakhir yang keluar dari bibirnya adalah terima kasih sayang untuk putrinya. "Mom menyayangimu, Sharoon." Setelahnya, Keira menghembuskan napas terakhir diiringi dengan tertutupnya mata indah itu untuk selamanya.
"IBU !!!!" Teriak Sharoon histeris. "Bu jangan biarkan aku." Ia mengguncang tubuh tak bernyawa diizinkan.
Nate segera bergerak memuaskan kekasihnya. Ia merengkuh tubuh lemah Sharoon. “Jangan suka ini, sayang.”
“Bu, Nate. Bu pergi meninggalkan aku. ”Lirihnya. “Kenapa harus segera ini? Sementara rasanya baru kemarin Sadar dari komanya. Tapi, kenapa dia bangun hanya untuk selamat selamat tinggal? Kenapa Kenapa, Nate? ”Gadis itu memukul-mukul d**a kekasihnya. Dan, Nate tidak peduli. Ia membiarkan Sharoon meluapkan rasa sedih, kehilangan, dan frustasi pada tubuh tegapnya.
“Ini sudah menjadi takdir, sayang. Kamu harus kuat. Demi ibu kamu. ”Ucap Nate seraya mengelus lembut kembali Sharoon.
“Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Nate.”
Nate menggeleng. "Tidak. Kamu masih punya aku. Aku janji akan selalu ada buat kamu. Percayalah. ”Ucapnya dengan mantap.
Gadis dalam pelukannya mengangguk. Namun, detik kemudian tubuh Sharoon ambruk. Ia tak sadarkan diri. Nate segera mengangkat tubuh itu. Lalu mintalah dokter dan perawat untuk menyetujui jasad ibunda Sharoon dan minta satu orang perawat untuk meminta kekasihnya.
****
Sharoon mengerjapkan kedua matanya yang terasa masih berat. Pemandangannya menyapu pemandangannya.
"Sharoon?" Panggil seorang pemuda membuat Sharoon menoleh. "Akhirnya kamu sadar, sayang." Lanjutkan dan Sharoon hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Namun, senyuman itu tidak berlangsung lama saat ingatan tentang sosok membiarkan menyeruak di dalam pikirannya. Di mana sekarang? Sharoon sangat berharap semua yang ia alami sekarang hanya mimpi, mimpi buruk yang sama tidak pernah ada dalam daftar keinginannya.
"Bu ..." Lirih Sharoon pelan masih dengan menatap wajah kekasihnya. “Nate, dimana Bu? “Tanya gadis itu dengan suara beratnya membuat Nate tak mampu menatap mata kekasihnya itu. “Nate, bilang sama aku, karena Mom masih hidupkan?” Gadis itu menarik perhatian kekasihnya karena Nate tak kunjung mengeluarkan suaranya. Sharoon terus berteriak histeris yang segera ditenangkan oleh Nate. Seorang perawat yang melangkahkan kaki di kamar tempat kekasihnya akan memberikan suntikan penenang, tetapi Nate membelanjakannya, ia akan segera bertanda bahwa ia yang mendukungnya. Perawat itu pun segera berlalu dari ruangan tersebut.
"Ssshhh .. sabar sayang sabar." Seram Gumam Nate terus mengelus gadis itu yang terus dipelukannya.
Sharoon tahu, sangat tahu bahwa ia bukan hanya mimpi buruk. Ibunya sudah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan ia dalam kesendirian, dalam kesepian dan dalam kesedihan.
Lalu bagaimana ia akan mengubah hari-hari berikutnya tanpa sosok itu? Bersenang-senanglah semua perjuangannya untuk membuat berhasil sembuh sia-sia. Ia bahkan sampai rela menjual harta berharganya hanya untuk kesembuhan sang ibu. Tapi, apa yang ia dapat? Ibunya berbalik lebih memilih untuk berhenti berjuang dan meninggalkannya sendiri. “Tuhan tidak adil, Nate. Kenapa Tuhan dengan tega merampas satu-satunya tumpuan hidupku? ”
“Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Tuhan memanggil ibumu karena Tuhan lebih menyayanginya. Kamu tidak boleh bersuudzon kepada Tuhan. ”Ucap Nate. Selama ini ia benar-benar banyak belajar dari sosok Aluna. Berharap rencana Tuhan pasti akan lebih indah dan tidak terduga. Manusia boleh merencanakan, tetapi tetap Tuhan lah yang menentukan.
Sharoon tidak bisa lagi membendung tangisnya. Ia semakin memeluk tubuh tegap kekasihnya itu, seolah menumpukan begitu dalam kesedihannya saat ini. Sementara Nate tidak lagi bersuara. Pemuda itu hanya mengelus punggung yang terlihat rapuh dan melepaskan pelukan gadis itu kian mengencang.
****
Mrs.Emily menggeleng tak percaya pada permainan Aluna. Ia layak ada yang aneh dengan gadis itu. Kenapa akhir-akhir ini permainannya selalu buruk? Padahal sebelumnya Aluna selalu menunjukkan bakat bermainan pianonya itu dengan sangat indah. Hingga terbesit dalam pemilihan untuk memilih Aluna sebagai mengundang tahun ini.
"Aluna? Ada apa sebenarnya dengan kamu? Apa kamu sedang ada masalah? ”Tanya Mrs. Emily yang membuat Aluna tersentak. Lagi-lagi gadis itu melamun disaat latihan seperti.
Aluna menggeleng pelan, "Maafkan saya, Bu."
Wanita yang hampir berkepala empat itu hanya mendesah. "Masalahnya kamu seperti ini bukan hanya sekali." Ucapnya membuat Aluna menundukan prioritas.
Jo yang juga berada disitu hanya terdiam. Dalam hati ia mengubah karena perubahan. Mendadak rasa bersalah menghampirinya. Sebenarnya ia juga tidak ingin melakukan semua ini. Tapi apa daya, mimpi adalah hal pertama yang akan ia perjuangkan di dalam pertarungan itu harus menyakiti hati seseorang.
“Aku memang tidak tahu-menahu akan masalah kamu. Tapi saya mohon, tolong belajarlah untuk meminta profesional, Aluna. ”Tegur Mrs.Emily. Ia sungguh tidak paham dengan anak muda zaman sekarang. Selalu mencampur adukan masalah pribadi dengan yang lain.
Gadis itu meringis mendengar teguran tersebut. "Saya benar-benar meminta maaf, Ny. Saya berjanji ini yang terakhir kali saya tidak setuju profesional." Jawabnya dengan mantap.
Mrs.Emily hanya menganggukan disetujui. Ia hanya bisa menyambut dengan senang hati. Lalu, tampilkannya beralih mentap Jo yang sedari tadi terdiam. "Dan untukmu, Jo. Permainanmu seperti biasa sangat luar biasa. Saya kagum kepadamu. ”Pujinya yang dibalas dengan senyuman tipis oleh Jo.
“Terimakasih, Bu”
“Baiklah. Saya sudah membuat keputusan. Yang akan saya pilih untuk mewakili Juilliard di perlombaan tahun ini adalah— ”Mrs.Emily menerima ucapan selamatnya. Ia menatap Aluna dan Jo secara bergantian. "Joshua." Lanjutkan.
Kedua ujung sudut bibir Jo semakin tertarik ke atas menampilkan senyuman lebar diwajahnya. Ia menggumamkan terimakasih kepada Mrs.Emily karena telah memilihnya. Lalu ia beralih tatapannya pada sosok Aluna yang juga tengah menatapnya dengan senyuman tipis diwajah cantiknya. Segera, Jo kembali beralih tatapannya kearah lain, membuat Aluna berubah senyuman itu menjadi senyuman masam.
"Selamat, Jo." Ucap Mrs. Emily seraya diminta tangan Jo. “Saya harap kamu dapat memenangkan perlombaan tersebut. Tawarkan pada dunia bakat kamu yang sungguh-sungguh. ”Lanjutkan penuh harap dan pandangannya beralih dari Jo ke Aluna. "Dan untuk kamu, Aluna." Gadis yang dipanggil itu menatap wajah Mrs. Emily. “Saya harap kamu tidak berkecil hati. Kamu masih bisa mewakili Juilliard diperlombaan-perlombaan nanti. ”
Aluna mengangguk, “Iya, Mrs.”
****
“Jo, tunggu.” Teriak Aluna dari belakang, membuat Jo meghentikan langkahnya dan memutar tubuh tegapnya hingga menghadap Aluna.
Pemuda yang mendukung salah satu alisnya dengan pandangan bertanya. “Ada apa?”
Sebelum menjawab, Aluna menyerahkan napas terlebih dulu ia meminta terlebih dahulu Jo dari ruang latihan sampai ke tempat parker di mana ia berdiri saat ini. “Aku hanya ingin memenangkan selamat atas terpilihnya kamu mewakili Juilliard diperlombaan lusa nanti.”
Jo mengangguk, “Terimakasih.” Balasnya singkat.
“Aku yakin kamu pasti akan memenangkan perlombaan itu.” Ucap Aluna dengan yakin. “Aku selalu mendukungmu, Jo.” Lanjutkan seraya menepuk perlahan bahu pemuda itu dan mulai beranjak pergi Jo yang terpaku menatapnya.
Pemuda itu memandang bahu yang ditepuk oleh Aluna tadi, lalu ia membuka d**a bagian kirinya. "Kenapa di sini terasa sakit?" Gumam Jo pelan.
Tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget saat ponselnya bergetar. Ia merogoh saku celananya dan mendapati panggilan dari sahabatnya. Lalu ia pun menggeser ikon berwarna hijau dilayar ponselnya dan mendekatkan benda canggih itu ke indera pendengarannya. "Halo, Nate? Ada apa? ”Tanya Jo langsung.
“Jo, Ibunya Sharoon baru saja meninggaldan saat ini kita perjalanan menuju pemakanan. Cepatlah kemari. ”Ucapan Nate disebrang sana membuat mata kedua Jo membelalak lebar mendengarnya.
“Aku akan segera kesana sekarang.” Jo langsung memutuskan untuk pergi tanpa meminta jawaban dari temannya. Segera ia pindah mobilnya dan mulai mengemudikannya diaktifkan yang ia bisa. Karena diundang, Sharoon sudah menjadi sahabatnya sendiri.
****
Waktu terasa berjalan sangat lambat, jarum jam bergerak setiap detiknya membawa jarum yang terpasang, menyayat hati Sharoon atau bergerak yang menerima wanita yang menerima baya itu. Air mata sudah membasahi wajah Sharoon. Karena saat ini hanya air matalah yang mampu mewakili semua perasaannya.
Sempat Sharoon berpikir, mengapa harus pergi dulu? Kenapa bukan ia saja? Mengapa membiarkan itu menjadi penyakit terkutuk? Kenapa bukan ia saja? Mengapa selama ini perlu selalu pada persetujuan? Kenapa bukan ia saja?
Semua ini masih terasa seperti mimpi. Di dunia ini tidak ada satu pun anak yang menginginkan kematian orang tuanya. Sama dengan dia. Dulu, bahkan ia selalu bermimpi jika kelak ia menikah nanti, membiarkan lah yang akan mendampinginya. Tapi sekarang? Mimpi itu harus rela ia kubur bersamaan dengan jasadergian.
"Kenapa putri ini tersenyum-senyum seperti itu?" Tanya Keira yang anehnya elihat kelakukan putri tunggalnya itu.
Sharoon tersentak kaget saat mendengar suara biarkan. Ia langsung menoleh kearah wanita yang dikasihinya itu. "Bu! Mengagetkanku saja. ”Gerutunya.
Keira hanya terkekeh dilihat. Ia lalu duduk di samping putrinya dengan pandangan ke arah langit yang memenangkan bintang. “Ibu tidak mengagetkan. Itu karena kamu yang sedang melamun tadi. ”Ucapnya. “Ayo ceritakan sama, Bu. Apa yang membuat gadis kecil Ibu ini melamun sambil tersenyum-senyum sendiri. ”
Sharoon menatap wajah tersenyum itu dari samping. "Bu, kalau kamu berteman dengan aku, apa itu salah?" Tanya Sharoon.
“Tidak ada yang salah, sayang. Mencintai lawan jenis itu adalah hal yang lumrah. ”Ucapnya. "Tetatpi, jangan mencintainya lebih dari pada kamu mencintai Tuhanmu." Sambung Keira.
“Dan kamu harus selalu ingat, jangan pernah mengotori hati kamu, sayang. Kamu boleh saja menerima, tapi kamu tidak boleh memaksakannya. Jika cinta itu benar-benar ada di antara kalian, pasti kalian akan sama sama berjuang. ”Jelas wanita itu diangguki paham oleh Sharoon. Jari telunjuk Keira dengan gemas mencolek hidung mancung putrinya.
Sekarang Sharoon mengerti. Dengan Antusias ia memeluk erat tubuh itu. Wanita yang dikasihinya itu memang sangat pandai. “Terimakasih, Bu. Sudah membuat saya jauh lebih tenang. Aku berjanji akan selalu mengingat pesanmu ini. ”Sang ibu kembali tersenyum hangat mengerti apa yang ia sampaikan.
Kenangan itu terus berputar, dibaliknya, bagaikan kaset rusak yang terus berputar. Sharoon terus menangis melihat dengan mata sendiri Bagaimana jasad diizinkan ditimbun oleh tanah. Rasanya ia sangat ingin memutar waktu saat ini juga. Namun apa daya, ia adalah manusia biasa.
Jo melihat tubuh gadis itu masih terguncang hebat dalam pelukan Nate. Jo tahu bagaimana rasanya dilewatkan oleh satu-satunya wanita paling berjasa di dalam, senang, hancur, marah, bahkan hampa. Baginya kehilangan salah seorang ibu bagaikan kehilangan salah satu melepaskan. Ia tidak akan pernah bisa berjalan dengan sempurna lagi. Pemuda itu mendesah pelan, ia lalu menatap langit yang terlihat mendung di atas sana. “Seharusnya kamu lebih bersyukur, Sha. Karena kamu lebih beruntung dari pada aku. ”Lirih Jo pelan, kini ia berdiri tepat disamping seluruhnya.
“Kamu punya waktu lebih banyak bersama ibumu. Bahkan sampai kamu sedewasa ini. Tapi lihatlah aku. "Ucap Pemuda itu seraya mengedikan bahunya lalu menerima ucapannya." Ibuku menerima disaat aku masih terlalu kecil. Saat aku masih ingin bermanja dengan ibuku. Saat aku masih ingin bermain dan berlari bersama ibuku. Saat ini saya masih membutuhkan bimbingannya. Tapi apa? Waktuku sangat singkat dengan ibuku, sangat singkat, Sha. ”Jo pun ikut berjongkok dan memandang nanar pemakaman yang ada di pemulihan.
Sharoon diam. Jo sedikit. “Aku memang masih memiliki ayah. Tapi apa pernah dia memperhatikanku? Apa pernah dia bertanya keadaanku? Lagipula dia tidak pernah tahu apa yang selama ini aku impi-impikan. ”Lirih Jo. "Dari semenjak aku berubah sampai aku dewasa ini, Ayah selalu menganggapku tidak pernah ada, selalu mengabaikan bahkan serasa tak kasat mata." Pemuda itu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia merasakan ramai yang teramat di dadanya. Luka itu kembali membasah. Sebisa apa pun Jo berusaha melupakan ingatan tersebut tetap saja, rasa sakitnya selalu membekas. Tapi, jauh dilubukputaran, ia selalu menyimpan rasa sayang untuk mencari kesimpulan.
Sementara Sharoon sudah berhenti tangisnya, hanya suara isakan kecil yang masih dari bibir tipisnya. Gadis itu mulai sadar bukan dia saja yang terpuruk seperti ini. Ia tahu kehidupan itu akan terus berjalan dan kesedihan itu tak selamanya harus dipendam. Kita harus mengikhlaskan semuanya. Dan semua ucapan terima kasih telah ia renungkan. Jo benar-benar, ia jauh lebih beruntung karena memiliki waktu yang panjang bersama, sementara Jo hanya diberikan waktu yang begitu singkat. Akhirnya Sharoon menyadari dan memang harus belajar untuk berpijak di kedua membantunya sendiri. Meski begitu, membiarkan akan terus dihatinya. Jasadnya boleh saja sudah tidak ada, tetapi dia akan tetap hidup dihati terdalamnya.
“Teriakasih, Jo. Kamu benar-benar berhak bersyukur selama ini Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk lebih lama menghabiskan waktu bersama ibuku, dan Tuhan jugamasih mengizinkan aku untuk merawatnya. ”Ucap Sharoon.
Dan, Jo pun hanya mengangguk menyetujui senyumannya.
****
Sepulangnya dari pemakaman, Jo langsung meluncur menuju perusahaan lawan. Ia melangkahkan tungkainya hingga mencapai langit itu. Para karyawan yang memberikan senyuman kepada anak-anak dari atasannya tersebut. Tapi, Jo hanya membalasnya dengan senyum tipis. Pemuda itu berjalan kearah seumur hidup dan segera memasukinya saat pintu lift terbuka. Ia memenangkan angka 21 di mana ruangan itu berada dan merupakan lantai tertinggi di gedung itu. Melihatnya Beralih ke undangan di tangan kanannya. Seketika senyumnya mengembang, ia sangat berharap sekali sang ayah bisa menyempatkan hadir untuk menyaksikan perlombaannya nanti.
Tak lama pintu lift terbuka, segera saja keluar dan melangkah menuju luar bertemu. "Ayah ada?" Tanya Jo langsung kepada sekretaris yang diundang, yang memang mejanya berada di dekat ruangan sang ayah.
Sekretaris itu menoleh, "Eh, Mr.Jo." Ia pun langsung beranjak dari duduknya dan menunduk menerima. "Mr.Albert ada di dalam ruangannya." Ucapnya dan Jo langsung melangkahkan kembali tungkainya, membuka ruangan yang terasa begitu mencekam itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Disana, ia melihat sang ayah tengah berkutat dengan laptopnya seperti tidak mengerti siapa yang mencoba ruangannya.
"Ayah." Panggil Jo yang membuat Kevin mendongak.
"Jo? Ada apa kamu kemari? Ayah sedang sibuk. "
Jo tersenyum kecut mendengarkan ucapan sang ayah, lalu ia bergerak maju lebih dekat. “Aku hanya ingin mengantar ini.” Ucapnya seraya menyodorkan undangan yang ditangannya.
“Kamu taruh saja disitu.” Jawab Kevin tanpa menoleh kearah Jo atau kearah undangan yang diberikan oleh Jo.
Lagi-lagi Jo hanya bisa tersenyum kecut. Ia mendesah perlahan seraya membuka undangan tersebut di pinggir meja kerja sang ayah. "Aku harap Ayah berkenan untuk hadir." Kevin hanya membalasnya dengan gumaman pelan. "Aku menunggu kedatanganmu, Ayah." Kali ini tidak ada balasan. Jo menatap sendu menentang sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruangan itu.
Mendengar suara langkah kaki menjauh, Kevin mendongak. Ia melihat kembali tegap putranya yang mulai lambat mengecil dan hilang dibalik pintu. Ia mendesah perlahan dan mengusap kasarnya. Dalam hati ia terus mengutuk dirinya yang selalu menyakiti hati Jo. Bukan. Semua ini bukan keinginannya. Ia hanya perlu bingung harus memulai dari mana untuk memperbaiki hubungan yang terlanjur rusak itu.
Kevin bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju jendela yang ada di ruangannya. Menatap kendaraan yang lewat di bawah sana. Ia melepaskan kaca itu seraya menggumam pelan, "Sandra ..."
****
Kutipan:
"Jika melepaskan dapat membuatmu bahagia, maka aku akan mencoba mengikhlaskannya."