Chapter 31 - 32

1208 Words

CHAPTER 31                 Mengambil uang dari ATM, menuju rumah sakit, hingga kini keduanya berada di depan sebuah warung makan lumayan besar yang terkesan lokal. Brendon yang memilihnya, katanya ini rumah makan paling enak menurutnya.                 "Kamu gak protes?" tanya Brendon ketika keduanya duduk di salah satu bangku yang tersedia. Suasana tidak terlalu ramai dan terkesan damai.                 "Kenapa aku harus protes?" Indira bertanya balik, menatap sekitaran dengan senyum tipis.                 "Yah, tipikal cewek kan biasanya kalau diajak dimari, ancur selalu. Dalihnya romantisnya ilang, lah, apalah. Bullshit banget." Brendon memutar bola mata, Indira rasa ia ada pengalaman tentang itu.                 Gadis itu tertawa pelan. "Tempatnya bagus, bersih, enak dipandang da

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD