Part 03. Bos Baru Di Kantor Arana

1605 Words
Kepala Arana terasa sangat berat, pusing karena memikirkan ucapan ibunya tadi malam. Hingga pagi tadi saat sarapan bersama, ketiganya pun masih tak mau bertegur sapa. Arana tahu jika dirinya memang belum bisa membuka pintu hatinya pada laki-laki untuk saat ini. Sosok Rafael yang membuat Arana trauma jika menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Ia memijat kepalanya yang kini bertambah pusing karena pekerjaannya belum juga selesai. "Eh guys ... Ada gosip baru, masih anget nih," kata Danisa sembari berbisik-bisik di telinga Shintia yang menempati kubikel tepat di belakangnya. "Halah! Pasti gosip cowok ganteng lagi, gue udah muak lo cerita tentang pacar baru lo terus," sahut Shintia sembari mengedikkan kedua bahunya. "Nggak usah ngegas kali!" Danisa tak mau kalah. "Ini memang tentang cowok ganteng, tapi bukan pacar baru gue, tapi anak baru di kantor kita ini. Dia datang bersama Pak Waluyo." Terang Danisa, gadis cantik berambut cokelat itu memang punya banyak teman dekat laki-laki, berganti ganti pacar sudah hal biasa baginya. Tapi itu berbeda dengan Shintia yang kini sedang menjalani LDR dengan pacarnya. Apalagi Arana yang sampai sekarang masih jomblo abadi. Sedangkan Arana kini hanya diam mendengarkan kedua sahabat bicara sambil mengamati gambar yang ada di layar komputernya. Ia masih sibuk mengerjakan gambar yang kemarin belum sempat Ia selesaikan. "Mungkin asisten pribadi barunya pak Waluyo, secara beliau kan sudah tua, kasihan kalau masih kerja keras di usianya yang sudah tua seperti ini." Timpal Shintia. Danisa nampak berpikir sejenak. "Bisa jadi sih, tapi tadi pas gue ke toilet, nggak sengaja gue dengar kalau dia adalah wakil Direktur baru di kantor ini." "Hush...!" Desis Arana. "Berisik banget sih lo berdua! ganggu konsentrasi gue kerja aja." Danisa memajukan bibirnya tanda tak suka. Sedangkan Shintia tersenyum mengejek Danisa. "Si Danisa tuh, gercep banget kalau ada gosip baru, apalagi tentang cowok ganteng. Kayaknya sih lo harus kursus sama Danisa deh, Rana. Biar lo cepet - cepet bisa move on dari mantan lo itu." Arana mendengkus kesal. Ia menjauhkan tangannya dari keyboard. Menoleh ke samping untuk bisa bicara dengan kedua sahabatnya yang hobi ngerumpi itu. "Gue?" Arana menatap kedua sahabatnya bergantian. "Nggak mau cari pacar orang kantor ini, males jadi bahan gosipnya kalian berdua." Shintia dan Danisa seketika tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Arana. Secara Arana tahu jika kedua sahabatnya itu memang suka sekali menggosipkan orang orang yang ada di kantor ini. Terutama cowok ganteng, karena Danisa memang selalu paling cepat kalau mengenai hal itu. "Khusus lo aman dari gosip kita deh, Rana. Ya nggak Shin?" Ujar Danisa. "Yoi, sist." Sahut Shintia dengan cepat. "Gue kagak percaya sama lo berdua." Setelah mengatakan itu Arana melangkah pergi meninggalkan tempat kerjanya. "Eh, Rana! lo mau kemana?" Tanya Danisa. "Gue mau BAB, lo mau ikut?" "Hih, ogah!" Arana tak menggubris kedua sahabatnya. Ia terus melangkah keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ke toilet. Langkah kaki Arana terhenti saat Ia mendengar suara kaki melangkah dan orang-orang yang sedang berbicara. "Ramai banget kayaknya?" gumam Arana bicara sendiri sebelum Ia berbelok menuju ke toilet perempuan. Ia melihat empat orang pria berjalan melewatinya. "Itu kan Pak Waluyo, dan yang satunya mungkin itu orang yang tadi Danisa ceritain." lanjutnya bicara sendiri sembari terus memperhatikan pria muda yang berjalan tepat di samping pak Waluyo, pemilik perusahaan tempat Arana bekerja saat ini. Detik kemudian tiba tiba saja mata Arana membulat kala ia melihat wajah pria itu. Wajah yang tidak asing baginya karena kemarin siang mereka sudah pernah bertemu. "Astaga, di-dia?" Arana tak mampu melanjutkan ucapannya, Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, sungguh dirinya sangat terkejut sekarang ini. "Kenapa dia bisa berada di sini?" Buru buru Arana langsung masuk ke dalam toilet. Membasuh wajahnya dengan air dingin. "Tidak mungkin itu orang yang kemarin aku temui, tidak mungkin." Sanggah Arana. Ia menatap dirinya dari pantulan cermin yang ada di depannya. "Ah! tidak, tidak! Bisa jadi itu orang lain yang wajahnya mirip kan?" Lagi-lagi dia meyakinkan dirinya sendiri kalau orang yang dilihatnya adalah orang lain yang tidak dia kenal. "Yah itu bisa saja, dia tidak mungkin Dewa yang aku temui kemarin kan?" Ia masih bicara sendiri. "Mbak Rana ngomong sama siapa?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam toilet. Arana menoleh, "Nggak ngomong sama siapa siapa kok, gue duluan ya." Ia buru buru melangkah keluar dari toilet tersebut, berjalan kembali menuju ke ruang kerjanya. Sesampainya di sana Ia melihat Pak Agus sudah berdiri di tempatnya bekerja. "Saya mau kalian membawakan hasil kerja kalian sebelum jam makan siang. Karena pak Waluyo dan pak Dewa yang memintanya," kata pak Agus dengan suara tegasnya. "Baik, pak. Kami hampir selesai kok." Sahut Shintia. "Saya sudah hampir selesai juga kok, pak." Timpal Danisa. "Arana kemana?" Tanya Pak Agus saat melihat tempat kerja Arana kosong. "Dia izin ke toilet sebentar, pak." "Nah itu dia Arana datang..." Tangan Danisa menunjuk ke arah pintu dimana ada Arana berdiri di sana. Semua orang pun menoleh ke arah pintu, Arana menatap kedua sahabatnya. "Ada apa?" Tanya Arana tanpa mengeluarkan suara. Kedua sahabatnya menunjuk ke arah pak Agus. Tanda bahaya datang. "Arana dari mana saja kamu?" Tanya Pak Agus kepada Arana yang baru saja masuk ke ruangan tersebut. "Maaf Pak, saya baru saja dari toilet." Ujar Arana sembari melewati pak Agus dan kemudian Ia duduk kembali di tempatnya bekerja. Pak Agus memperhatikan Arana. "Pekerjaan kamu sudah selesai belum, Arana?" "Belum, pak. Tinggal di beri sentuhan warna saja, tapi saya belum tahu warna apa yang pak Waluyo minta. Pak Agus kemarin kan cuti jadi. Saya bingung mau tanya sama siapa lagi," jawab Arana dengan sedikit takut. Sebagai drafter di perusahaan Jati Utomo group, Arana dan timnya harus membuat gambar rumah atau gedung sesuai permintaan atasan, dia yang hobi menggambar sejak kecil membuat Arana tak pernah kesulitan dalam mengerjakan gambar sesuai perintah Pak Agus sebagai atasannya. Tetapi akhir akhir ini kepala Arana di buat pusing oleh sang adik dan ibunya yang selalu memaksanya menikah lebih dulu dari pada dilangkahi Aliya. "Kenapa tidak chat WA saya, Arana. Saya pasti akan bantu kamu kok." Suara Pak Agus terdengar lebih lembut dari pada sebelumnya saat dia bicara dengan Shintia dan Danisa. "Iya pak, aduh maaf saya lupa." Padahal Arana memang malas jika berurusan dengan pak Agus di luar kantor. Siapa sih yang tidak kenal dengan Pak Agus, pria berumur tiga puluh lima tahun yang berstatus duda itu selalu genit kepada gadis cantik yang ada di kantor ini. Arana malas saja jika dia chat pak Agus, pasti ujung ujungnya mengajak bertemu dengan alasan membahas pekerjaan padahal tidak. "Ya, sudah lah Arana, kamu selesaikan saja pekerjaanmu itu, saya mau siapkan tempat untuk meeting nanti setelah jam makan siang. Bos baru kita mau lihat pekerjaan semua karyawannya di kantor ini." Setelah mengatakan itu, pak Agus melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. "Sumpah ya Arana, Kenapa bisa suara Pak Agus selembut itu saat bicara sama lo? Sedangkan sama kita aja sudah kayak singa galak." Protes Danisa setelah melihat pak Agus pergi. Arana mengedikkan bahunya. "Mana gue tahu, kayaknya biasa aja deh tadi bicaranya. Nggak ada yang istimewa." "Arana mana peka sama hal kayak gitu," kata Shintia. "Udah ah, ayok kita kerja lagi, biar nggak di marahi sama bos baru itu." lanjut Shintia. "Yuk lah." Timpal Danisa. Arana kembali melanjutkan pekerjaannya, Ia meraih ponsel untuk menghubungi Pak Agus, itu terpaksa Ia lakukan agar pekerjaannya cepat selesai. Jam makan siang telah tiba, pekerjaan Arana tinggal sebentar lagi. "Rana, lo udah selesai belum?" Tanya Danisa sembari membereskan beberapa kertas di atas meja kerjanya. "Belum, sedikit lagi." Sahut Arana. "Gue sudah selesai nih, nitip ya Rana. Perut gue mules banget," kata Shintia sembari menaruh kertas miliknya di atas meja kerja Arana. Belum sempat Arana membuka suaranya kini Danisa berbicara. "Gue juga nitip, bye..." Kemudian gadis itu melangkah pergi menyusul Shintia. Mata Arana membulat saat melihat kedua sahabatnya yang seenaknya nitip hasil kerjanya. "Weh, dasar kalian berdua!" "Ck! Masa gue harus pergi ke ruangan pak Agus sendirian sih, males gue." Gumam Arana bicara sendiri. Ia memilih melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, dari pada ngedumel tak jelas. Setelah selesai, Ia bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke ruangan pak Agus. Namun belum sempat Ia mengetuk pintu ruangan itu, ada seseorang yang datang menghampiri Arana. "Mbak Rana, cari Pak Agus ya?" Tanya laki-laki yang juga bekerja di kantor ini. "Iya, apa pak Agus ada di ruangannya?" Tanya Arana. "Tadi beliau bilang kalau ada yang cari Pak Agus, di suruh ke ruang meeting. Jadi Mbak Rana ke sana saja, pasti beliau sudah menunggu." 'Ruang meeting? Mati gue!' rutuk Arana dalam hati. Mau tak mau Arana harus pergi ke ruang meeting sekarang juga walaupun dengan langkah kaki yang berat. 'Semoga saja dia tidak ada di sana.' batin Arana. Pintu ruang meeting tersebut tertutup rapat, dengan sedikit ragu Arana mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu tersebut. Tok! Tok! Tok! Setelah mengetuk pintu tiga kali, Arana membukanya dengan pelan dan mata terpejam. 'Semoga saja tidak ada dia.' rapal Arana dalam hati hingga pintu tersebut terbuka sempurna. "Arana!" Panggil pak Agus ketika melihat Arana berdiri di depan pintu. Saat Arana membuka mata, Ia mendapati semua orang kini menoleh ke arahnya. Termasuk laki-laki yang kemarin Ia temui di bandara. "Arana?" Gumam laki-laki itu saat melihat gadis yang ada di depan sana. Wajah cantik itu tak asing lagi baginya. "Em ... pak Agus, ini hasil yang bapak minta tadi," ucap Arana sembari menyerahkan map yang ada di tangannya kepada pak Agus. "Sa-saya permisi pak." Pamit Arana langsung. Membuat laki-laki yang duduk di sebelah pak Waluyo itu mengernyitkan dahinya karena heran dengan tingkah Arana yang seakan tak mengenalnya. 'Apakah ini sebuah kebetulan kita bertemu lagi, Arana?' gumam laki-laki itu dalam hati. Sudut bibirnya tersenyum. Sedangkan di luar ruangan Arana berlari menuju kantin dengan napas tersengal-sengal. "Kenapa sih lo, Rana? Kayak baru lihat hantu saja?" Tanya Shintia heran saat melihat wajah pucat sahabatnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD