Arana turun dari mobil sembari membawa dua kantung kresek besar berisi bahan kue yang Mamanya minta. Jika bukan meminta tolong kepada Arana lalu siapa lagi?
"Assalamualaikum, Ma!" Ucap Arana saat Ia melangkah masuk ke dalam rumah.
Tak ada jawaban, Arana langsung berjalan menuju ke dapur untuk menyimpan barang belanjaan yang ia bawa.
"Mbak, Rana!" Panggil Aliya adik Arana.
Kening Arana mengernyit. Kemudian memberondong Aliya dengan banyak pertanyaan. "Kamu ada di rumah? Mama mana?"
"Mama masih di butik, belum pulang," jawab Aliya. "Oh iya Mbak Rana, kapan Mbak akan kenalin calon Mbak ke Mama, biar Mama izinin aku menikah dengan mas Adrian."
Arana yang sedang sibuk menyimpan bahan kue kini menoleh ke arah sang adik. "Kalau kalian pengen nikah, ya nikah aja sono. Jangan nyuruh Mbak untuk cari pacar secepatnya, emangnya mie instan apa tinggal beli di minimarket. Cinta nggak segampang itu Aliya, semuanya butuh proses, kayak mie instan yang perlu di masak juga seperti makanan yang mentah pada umumnya, padahal namanya instan, bukan?"
"Tapi, pelangkah yang Mbak Rana minta terlalu berat bagi kami. Kami berdua mana sanggup beli lamborghini keluaran terbaru. Lagi pula Mama juga tidak akan mengizinkan aku melangkahi Mbak Rana."
Bibir Arana tersenyum kecil hingga tak dapat di lihat oleh sang adik. Sebenarnya Arana tidak mau jika dirinya di langkahi oleh sang adik yang selisih lima tahun dengannya, tapi Arana juga belum bisa jika harus mempunyai pacar atau suami secepatnya. Bagi Arana cinta itu butuh proses yang panjang. Karena itulah Arana memberikan syarat pelangkah yang sangat sulit. Agar sang adik berpikir dua kali untuk menikah lebih dulu.
"Halah, kalau niat menikah juga pasti bisa beli lamborghini doang." Sindir Arana kepada sang adik.
"Kami baru lulus kuliah, masih dalam tahap mencari pekerjaan. Mana bisa punya uang sebanyak itu. Belum lagi biaya nikah dan lainnya."
Mata Aliya mulai berkaca-kaca. Arana tahu dan melihat itu akan tetapi dirinya harus tega terhadap sang adik. Menikah itu bukan hanya soal cinta tapi banyak hal.
"Katanya pacar kamu sudah dapat pekerjaan di luar negeri, itu pasti gajinya banyak."
Pacar Aliya baru saja lulus s1 bareng Aliya, tetapi laki-laki muda itu sudah dapat beasiswa s2 sekalian pekerjaan di luar negeri, lebih tepatnya di negara paman sam.
"Semuanya butuh proses, Mbak Rana. Dan sekarang mas Adrian sedang mengurus semuanya. Termasuk surat surat keberangkatan. Aku tidak mau menjalani hubungan jarak jauh sekitar 2 atau 3 tahun ke depan, solusinya ya kami harus menikah lebih dulu sebelum mas Adrian berangkat ke luar negeri."
"Sekali lagi Mbak katakan sama kamu Aliya, kalau mau menikah muda tolong di pikirkan lagi, pernikahan bukan hanya soal cinta saja tetapi ada banyak hal yang mungkin belum kamu ketahui."
Wajah Aliya mencelos, dia tahu berdebat seperti ini dengan sang kakak memang percuma tetapi apa salahnya bicara.
"Assalamualaikum..." Ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Arana dan Aliya menoleh ke arah sumber suara. Ada sang Mama yang baru saja datang.
"Waalaikumussalam..." Jawab Arana dan Aliya bersamaan.
Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya di depan Aliya. Dan Aliya pun mencium punggung tangan tersebut.
"Aliya, tumben pulang tanpa mengabari Mama?"
"Aliya pulang mendadak, Ma. Karena mas Adrian harus ngurus surat-surat."
Kemudian tatapannya beralih ke Arana. "Rana, kamu sudah beliin bahan kue yang Mama minta?" Tanya wanita paruh baya itu kepada Arana.
"Sudah Rana simpan di dalam laci," sahut Arana seraya mencium punggung tangan sang ibu tercinta.
"Lalu bagaimana pertemuanmu dengan Dewa anaknya tante Miranti?"
Arana terlihat menarik napas panjang. "Biasa aja sih, Ma. Kami bertemu, ngobrol sambil makan siang." Sahut Arana seperti tak tertarik dengan pembahasan tentang laki-laki yang dia temui tadi siang.
"Terus?" Sang ibu masih menunggu Arana bercerita lebih lanjut.
"Terus aku pulang karena jam istirahat kantor sudah habis," jawab Arana santai.
Kepala sang ibu menggeleng pelan. "Kamu itu sudah dewasa, seharusnya kamu bisa bersikap lebih baik jika bertemu dengan laki-laki."
"Rana tidak mau di jodohin, Ma. Jodoh Rana pasti sedang otw kok, Mama tenang saja."
"Ah sudahlah, Mama capek mau mandi dulu." Setelah mengatakan itu, ibunya Arana pergi meninggalkan dapur.
Aliya menatap punggung ibunya hingga wanita paruh baya itu tak terlihat lagi.
"Apa yang Mama katakan benar, kenapa sih Mbak Rana susah banget membuka hati untuk laki laki lain?" Kata Aliya kemudian dia pergi dari tempat itu.
Arana hanya diam menatap kepergian adiknya. "Kenapa sekarang aku yang di salahkan semua orang?"
***
Di tempat lain.
Matahari hampir tergelincir, senja mulai datang menyapa bumi dengan cahaya indahnya yang berwarna jingga.
Seorang pemuda duduk di kursi sembari memainkan game yang ada di dalam ponsel miliknya.
"Sudah sore, kenapa Rana belum datang menjemput juga?" Gumam pemuda yang memakai kaos distro warna biru dan celana jeans warna senada. Buket bunga mawar tergeletak di samping tempatnya duduk.
"Ah sudahlah, hampir empat jam aku menunggu di sini, tapi kenapa dia belum datang juga?"
Ia mematikan layar ponselnya, kemudian memasukkannya ke dalam saku celana panjang yang dipakainya.
"Lebih baik aku cari sendiri saja penginapan dekat sini," ujarnya sembari mengambil tas ransel warna hitam yang ada di atas kursi. Memakainya kemudian Ia mengambil buket bunga dan membawanya pergi dari tempat tersebut.
Ia berjalan sendirian tanpa arah, rencananya datang ke Jakarta untuk menghadiri acara melukis masal bersama para seniman pelukis yang ada di Jakarta. Juga menemui Arana karena itu permintaan sang ibunda.
Bruk!
Langkah kaki itu terhenti kala merasakan ada seseorang yang menabraknya. Dan saat Ia lihat ada seorang gadis berdiri di depannya.
"Kau menjatuhkan keranjang buah yang aku bawa," kata gadis berambut hitam panjang tersebut.
"Maaf, aku benar benar tidak sengaja. Sini biar aku bantu." Laki-laki itu langsung berjongkok dan memunguti buah-buahan yang tercecer. "Akan aku ganti, tapi tolong maafkan aku."
"Baiklah, tapi lain kali kalau jalan lihat depan, jangan lihat ponsel mulu." Protes gadis itu.
"Hem, apa ada toko buah dekat sini?" tanya laki-laki itu.
"Ada di sana, tak jauh dari sini."
"Ayok, aku akan ganti buahnya."
Keduanya berjalan beriringan menuju toko buah yang gadis itu maksud.
Mereka membeli buah-buahan persis seperti yang tadi di bawa gadis itu.
"Semuanya seratus lima puluh ribu," kata pedagang itu sembari memberikan keranjang buah kepada gadis itu.
Setelah membayar, mereka berjalan pelan meninggalkan tempat tersebut.
"Apa kamu tahu ada penginapan dekat sini?"
Langkah gadis itu terhenti. "Ada, aku tahu tempatnya. Kenapa?"
Laki-laki itu tersenyum. "Sebenarnya aku datang ke sini untuk menemui seseorang, tapi ya sudahlah. Tapi itu juga bukan tujuan awalku berada di sini. Jadi apa kamu mau mengantarkan aku mencari penginapan dekat sini?"
Gadis itu bergeming, entah kenapa tiba-tiba saja dia menatap aneh ke arah laki laki itu.
Merasa tidak enak hati, akhirnya laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
"Ah kita belum kenalan rupanya." Ia mengulurkan tangannya di depan gadis itu. "Namaku, Sadewa, panggil saja Dewa."
Gadis itu menyambut uluran tangan tersebut. "Aku Kirana, panggil saja Rana."
***