9. Devan Obses Level Max

1505 Words
“Gue bego banget! Bisa-bisanya jatuh cinta ama orang yang nganggap gue anak kecil dan tidak lain sebagai keponakan doang,” lirihnya dengan suara parau nyaris tidak terdengar karena deru kendaraan. Punggung Galen pun terasa lembab karena tangisan Senna. Galen melirik ke spion melihat mata Senna sembab, dia pun menurunkan kecepatan motornya. “Sen, are you okay?” Galen bertanya dengan nada lebut. Senna mengelengkan kepala, menyembunyikan wajahnya. “Gue nyesel datang ke sana, malah nyakitin diri sendiri. Wanita yang dijodohin dengan Om Devan, sangat cantik dan juga dewasa tidak seperti yang cumin anak kecil—" Tangis Senna pecah, Galen menahan napas. Ada nyeri yang asing menjalar di dadanya melihat gadis itu hancur karena laki-laki lain. “Lo mau ke mana sekarang?” tanya Galen akhirnya, suaranya rendah. “Biar perasaan lo enakan.” Senna menyeka air matanya dengan kasar, menarik napas panjang yang bergetar. “Ke mana aja. Asal jangan pulang dulu. Gue cuma mau menghindar sebentar.” “Oke,” Galen kembali memacu motornya menembus kerlap-kerlip kota. “Kita healing sebentar. Gue temenin lo sampai lega.” Sementara di rumah Hamidah, Devan kembali ke dalam rumah setelah bertanya ke satpam. Wajahnya semakin cemas. “Senna, pergi sama cowok. Naik motor, satpam juga gak tau siapa,” kesal Devan. “Namanya anak-anak bergaul kan biasa Dev. Kamu enggak usahlah berlebihan.” Hamidah mencoba menenangkan, tapi Devan tak bisa tenang. Devan mondar-mandir di ruang tengah, resah. Ponselnya terus ia genggam, jari-jarinya bahkan gemetar, cemas. Beberapa kali melihat pesan chat yang dia kirim tetapi sama sekali belum ada balasan Senna. Stella melangkah pelan mendekat. Tatapannya tertuju pada Devan dengan curiga, ia memaksakan senyum di bibir. “Mas, sabar, nanti juga dia balik. Kamu itu cemasnya berlebihan, beda.” Stella menekankan kata Beda tatapan matanya tertuju pada Devan, mencaritahu. Langkah Devan terhenti, segera menatap Stella. Ia tersadar mendengar apa yang dikatakan Stella barusan, tapi tak menjawab—hanya diam. Senyum Stella memudar. Matanya mulai berpaling dari Devan. “Aku ngerti kok Mas, kamu—memang harus bertanggung jawab. Ya ‘kan Mas? Tanggung jawab paman ke keponakannya? “Iya,” jawab Devan singkat. Devan mondar-mandir di depan rumah Senna. Wajahnya cemas, matanya tak henti melirik jam tangan sambil sesekali memandang ke arah jalan. Jantungnya berdegup kencang, perasaan was-was tak bisa dia tahan meski sudah berulang kali mencoba menenangkan diri. “Ke mana sih?” Hampir setengah jam ia berdiri di sana, ketika akhirnya dari jauh terdengar deru motor terdengar mendekat. Devan menoleh cepat, tatapannya langsung menangkap sosok Senna yang turun dari motor sambil memegangi helm, Devan lega. Namun senyum lega itu lenyap seketika saat telinganya menangkap ucapan Senna pada anak laki-laki yang mengantarnya—Galen. “Makasih, sayang.,” ucap Senna dengan nada santai dan terdengar manis. Galen kaget, mulutnya terbuka sedikit, matanya melebar, bingung. Tapi Galen hanya tersenyum canggung, mencoba mengikuti suasana hati Senna. Devan yang melihat itu, seketika matanya menatap tajam. Rasa panas membakar d**a tanpa bisa ia tahan. Langkah kakinya cepat, menghampir keduanya. Dan Galen bekum sempat berkata apa-apa, tangan Devan melayang, menampar pipi Galen cukup keras. Galen kaget, matanya menatap Devan kaget. Senna terpekik, buru-buru berdiri di depan Galen, menatap Devan dengan mata penuh amarah. “Om! Kenapa sih? Gila nampar orang seenaknya?!” Senna berteriak, suaranya nyaring di telinga. “Om tuh nggak berhak nampar Galen! Om bukan papi aku, bukan siapa-siapa aku! Lagian aku pulang tepat waktu, sesuai peraturan, jam sembilan! Kenapa sih, om harus kasar kayak gini?!” Galen memegangi pipinya yang memerah, masih tampak shock. “Hei, it’s okay Sen, I’m okay.” Galen menenangkan, tapi emosi Senna sudah di ujung tanduk. Devan terdiam, napasnya terengah, ia benar-benar tak bisa menahan marah yang juga bercampur rasa cemas. “Dia bawa kamu malam-malam, saya nggak kenal siapa dia, saya khawatir Senna!” Devan berusaha menjelaskan, tapi suaranya terdengar kacau. Senna menggeleng keras, tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Devan. “Udahlah, Om. Aku udah gede, aku nggak butuh orang buat ngatur hidup aku. Aku bisa jaga diri. Aku cuma mau pergi sebentar, itu aja. Kenapa Om harus kasar?!” Devan terdiam. Hatinya rasanya nyeri mendengar nada suara Senna. Namun, ia juga tak bisa menyangka kalau ia memang kehilangan kendali. Senna menoleh pada Galen, suaranya lebih lembut. “Udah Gal, lo pulang aja. Please, gue yang minta. Gue nggak mau lo ditampar lagi.” Galen tampak ragu, wajahnya masih kaget, tapi ia melihat Senna yang serius dan memilih menuruti permintaan itu. “Lo yakin, Sen?” tanya Galen ragu. Senna mengangguk. “Yakin. Please, pulang aja dulu.” Galen mengangguk lalu mengenakan helmnya lagi, ia menatap Senna sejenak sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka. Begitu motor itu menjauh, Senna masih berdiri dengan kesal, sambil mengusap air matanya sekilas. Devan melangkah pelan ke arahnya, tapi gadis itu hanya menatapnya Devan sinis tanpa kata-kata. “Saya cuma cemas Senna,” ucap Devan pelan. Suaranya lembut, nadanya penuh rasa bersalah. “Saya cuma nggak tenang, saya takut kamu kenapa-kenapa. Saya nggak tahu apa-apa soal anak itu.” Senna menghela napas, lalu menatap Devan, tapi kini lebih karena kecewa daripada marah. “Senna udah janji, kan? Bakal balik sebelum jam sembilan. Senna nggak bohong Om, nggak kabur.” Devan mengangguk pelan. “Iya, saya maaf ya,” ucapnya. Tanpa berkata lebih, Senna berbalik, melangkah ke dalam rumah. Devan mengikutinya dari belakang, langkahnya seolah tertahan menjaga jarak agar Senna tak lagi kesal. Begitu sampai di depan kamarnya, Senna berbalik berhadapan dengan Devan. Mereka berhadapan, tapi Senna hanya menunduk. “Senna capek Om, mau tidur. Udah, jangan ngikutin.” Devan menghela napas berniat untuk menjawab, tapi sebelum sempat menjawab, Senna sudah berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Devan berdiri kaku di depan pintu itu. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya sakit, pikirannya kacau. Ia menunduk, menarik napas panjang, sebelum akhirnya berjalan ke kamarnya sendiri. Di balik pintu, Senna bersandar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia kesal, marah, perasaannya sama kacaunya dengan Devan. “Om Devan ngeselin!” Kesal Senna sambil mengusap airmata lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Saat pagi, baik Devan maupun Senna tidak ada yang baik-baik saja. Devan bangun dengan wajah kusut karena tidak bisa tidur setelah memikirkan apa yang terjadi semalam. Dia menghela napas kasar sambil membuat sarapan seadanya, sambil sesekali menghela napas kasar. Semalam dia benar-benar kacau, emosinya meledak diikuti oleh rasa cemburu. Sementara itu, Senna di lantai atas baru saja bangun, semalam dia tidur nyenyak tanpa drama. “Marah-marah malah bikin bisa tidur,” ucap Senna. Senna duduk lalu terdiam sejenak, menatap langit-langit emosi semalam masih ada, tapi tidak seperti semalam. Ia menghela napas kemudian beranjak untuk bersiap-siap ke kampus. Baru saja selesai, ponselnya berdering, di layar tertulis: Papi memanggil “Halo, Pi?” “Sayang semalam kamu pergi dengan laki-laki, ya, Nak?” tanya Dhanva—ayah Senna dengan nada lembut. Seketika raut wajah Senna berubah kesal, sebelum menjawab, dia mengendus pelan, “Ya, sama Galen, Pi. Mami kenal dia. Temen aku dari dulu kok. Tanya aja sama Mami.” Nada suaranya terdengar kesal. “Papi ngerti, papi nggak marah. Cuma Nak, kamu juga harus coba hargain Om Devan. Dia itu bener-bener sayang sama kamu, Nak. Papi tahu dia nggak akan macem-macem sama kamu. Om Devan cuma khawatir.” Senna terdiam, memutar bola mata. Lalu berjalan pelan ke depan cermin sambil mengeringkan rambutnya. “Aku cuma muter-muter aja di jalan, beli es krim sama Galen. Nggak ngapa-ngapain. Lagian, aku udah pulang tepat waktu pi, Aku juga nggak kabur, cuma makan es krim dan pulang tepat waktu.” protes Senna Suara Dhanva tetap tenang, “Papi ngerti, tapi ‘kan kamu posisinya pergi sama Om Devan malam tadi. Dia bertanggung jawab. Jadi ya, paling nggak, coba ngerti posisi dia ya sayang.” Senna menautkan kedua alisnya, bibirnya mengerucut. “Senna bukan anak kecil lagi, Pi, Senna juga ijin kok sama nenek. Ngapain dibesar-besarkan sih?” Nada suaranya mulai meninggi. Dadanya terasa sedikit sesak, walau tak sampai menangis. Dhanva terdiam sejenak di seberang. Lalu suaranya terdengar lagi. “Papi ngerti maaf ya, kalau kamu ngerasa kesel sama papi. Tapi Nak, ada orang yang bener-bener peduli sama kamu. Bukan cuma papi sama mami. Om Devan juga. Om Devan cuma mau jagain kamu.” Senna menggigit bibirnya, lalu menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. “Senna pergi dari sana karena Om Devan ngobrol dengan calon istrinya. Jadi, Senna nggak mau ganggu,” ucapnya mematikan panggilan sepihak. “Ngapin sih, pake acara ngadu ke Papi segala,” umpatnya. Sayangnya kekesalahannya itu, berubah ketika mencium aroma makanan di hidungnya. Semalam dia tidak makan dengan benar, ketika turun dari tangga, dia terhenti sesaat, menatap punggung lelaki itu yang tampak tegak dan kekar. “Senna Sadar, jangan bego. Dia enggak pernah anggap Lo siapa-siapanya,” bisiknya pada diri sendiri. Senna menegakkan bahu, pura-pura tak peduli, segera melangkah keluar tanpa suara. “Sen, sarapan dulu, semalam kamu nggak makan dengan benar, loh,” seru Devan, tetapi tidak ada respon sama sekali dari Senna, membuatnya hanya bisa menatap punggung Senna yang menjauh. Devan menghela napas sadar diri Senna pasti masih marah padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD