“K-kok keliatannya gue bukan dewasa tapi jadi imut,” gerutunya sambil merapikan letak kancing mutiara di bagian d**a gaunnya. Padahal dia merasa memilih dress itu akan kelihatan dewasa.
Senna melihat dirinya yang tengah memakai dress pinafone merah muda pastel dengan potongan A-line klasik, berpadu dengan lengan chiffon krem menewarang serta kerutan di bagian pergelangan tangan, apalagi pola kerah pita besar di bagian kerah memberikan kesan lugu ditubuhnya. Untuk menambah kesan dewasa, Senna menata sebagian rambutnya ke belakang, dengan menyematkan jepit bermotif Mutiara yang sangat serasi dengan kacng dressnya, sedang sisa rambutnya dibiarkan tergerai dengan dibuat mengembang.
“Apa ganti dress saja, ya?” pikirnya sesaat tetapi diurungkan, kemudian mengambil parfum menyemprotkan sedikit di pergelangan tangan dan lehernya. “Em, dilihat-lihat, gue udah cantik dan terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Nggak mungkin kelihatan kayak bocah lagi,” ucapnya sambil memutar diri untuk melihat keseluruhan dirinya, tetapi wajahnya jadi murah karena mengingat harus bertemu dengan calon istri Devan nanti.
Jantungnya berdebar, meski berulang kali menguatkan hati, ada rasa takut yang tak bisa ia usir. Senna tahu, tujuan makan malam ini bukan sekadar pertemuan biasa. Stella pasti ada di sana. Perempuan yang disebut-sebut akan menjadi istri Devan.
“Lo bisa, Sen. Meskipun lo bukan siapa-siapa, tapi lo harus keliatan cantik seperti biasa,” serunya menyemangati diri sendiri.
Saat keluar kamar, langkahnya terhenti ketika melihat Devan yang telah menunggunya di ruang tamu. Pria itu sejak tadi memperhatikan layar ponselnya, dengan setelan kemeja santai berwarna abu-abu yang lengan yang digulung hingga sikut, dipadukan dengan celana hitam.
Ketika Senna turun, pria itu terpaku sesaat. Balutan dress itu membuat wajah Senna benar-benar terlihat cantik, dan manis apalagi gaya rambut yang dibiarkan tergerai membuatnya tampak jauh lebih dewasa dari biasanya. Tubuh mungil yang selama ini terbungkus piyama pink atau kaos santai, kini terlihat anggun, mempesona.
Justru penampilan seperti itu pula yang membuat jantung Devan berdetak lebih cepat.
“Om?” Senna memanggil pelan, suaranya lembut memanggil Devan. “Kita jadi berangkat kan?”
Devan tersadar, lalu ia mengedip cepat, berdehem pelan sambil mengangguk. “Iya, iya jadi.”
Devan memaksakan untuk tersenyum, namun tatapan matanya jelas masih melekat pada Senna. Kecantikan Senna malam ini yang membuatnya sulit berpaling. Untuk sesaat, Devan bahkan hampir lupa siapa yang akan mereka temui malam itu. Mereka berjalan berdampingan keluar rumah. Devan diam, tetapi dalam diamnya, pikirannya berisik tak karuan.
Di perjalanan, Devan sesekali melirik, mencuri pandang. Keduanya nyaris tidak berbicara. Senna pun menatap jalanan dengan tatapan kosong, pikirannya kacau, dia tahu akan bertemu dengan wanita yang akan dijodohkan dengan Devan. Dia penasaran tetapi juga takut.
Berbeda dengan Devan, pria itu masih dalam pikirannya yang kalut. Antara melepaskan Senna dengan menerima perjodohan itu ataukah berani mengambil resiko. Devan terlalu takut dengan norma. Toh, sekarang Senna sudah punya kekasih.
Sesampainya di rumah Hamidah, mereka disambut dengan hangat. Hamidah, perempuan senja berusia 60-an menyambut dengan wajah ramah dan tatapan penuh kasih, ia langsung tersenyum saat melihat Senna.
“Ini pasti Senna, ya?” sapa Hamidah lembut. “Sudah besar, ya,” ucap wanita tua itu.
Senna mengangguk sambil tersenyum sopan. Namun momen itu tak berlangsung lama ketika sosok Stella muncul dari ruang tengah. Wanita itu tinggi, berkulit putih, rambutnya panjang tergerai, tubuh langsing dengan lekuk feminin yang nyaris sempurna. Gaun berwarna champagne sederhana melekat pas di tubuhnya.
Senna seketika minder, ketika melihat penampilan Stella, wanita itu tidak hanya cantik tetapi terlihat dewasa, benar-benar pasangan yang cocok untuk Devan.
“Yah, beda banget itu enak digenggam,” desis Senna miris. Matanya menunduk sesaat, merasakan ketidaknyamanan yang menusuk. Melihat size dadanya yang hanya setutup gelas.
“Mas Devan udah datang, ya?” Stella bertanya lembut, melangkah mendekat sambil tersenyum.
Devan hanya mengangguk, tatapannya melirik sekilas pada wanita ity. “Iya, Stella.”
Stella mendekat, matanya melirik ke arah Senna sekilas sebelum kembali menatap Devan. “Hari ini aku masak sup daging kesukaan Mas. Semoga cocok, ya.”
Senna diam, lalu tersenyum penuh kepalsuan. Tapi tak lama bibirnya sulit bertahan dengan senyuman itu. Jujur perasaannya sangat terluka, tapi wajahnya berusaha tetap biasa.
“Iya, terima kasih,” jawab Devan datar tetapi dibuat lebih antusias.
Ruang makan itu, tidak riuh makanan yang dihidangkan dikarenakan setiap orang seakan tengah perang dingin. Hanya ada suara dentingan sendok beradu dengan piring porselen. Hamidah melirik cucunya dengan tatapan mendesak, berharap Devan akan mencoba mengajar Stella bicara.
Sedangkan Senna mengaduk-aduk makanannya, selera makannya lenyap. Hingga, lamunannya terpecahkan oleh suara Stella.
“Jadi Senna masih kuliah atau sudah kerja?” tanya Stella berusaha memecah keheningan, terdengar ramah tetapi wanita itu tengah menilai dirinya. Senna menyadari itu, wanita yang tersenyum manis dengan dagu terangkat.
“Masih kuliah, Tante,” jawab Senna.
Kata ‘tante’ yang diucapkan Senna membuat sudut bibir Stella berdenyut, jelas dia tidak suka panggilan itu. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang.
Senna menambahkan, setengah bercanda. “Kalau nanti Tante nikah sama Om Devan, berarti aku tetap panggil Tante, ya? Tante Stella,” seru Senna, suaranya bergetar tipis di ujung kalimat. “Cocok, kan?”
PRANG.
Sendok di tangan Devan terlepas, jatuh berdenting keras ke piringnya. Suara itu membuat semua orang tersentak. Rahangnya mengeras, tapi mulutnya tetap terkunci rapat.
Stella melirik Devan dengan cemas, lalu tertawa canggung untuk menutupi situasi. “Iya... tentu saja. Nanti aku jadi Tante kamu.” Stella menjawab, tangannya bergerak menyentuh punggung tangan Devan di atas meja, mengusapnya menenangkan. “Ya kan, Mas?”
Mata Senna memanas melihat tangan mereka bersentuhan. Bodoh lo, Sen. Lo yang mancing, lo yang sakit sendiri.
“Apa yang anak bodoh itu lakukan, kenapa dia tidak bicara.” Hamidah mengumpat dalam hati.
Devan tetap membisu, menarik tangan dari sentuhan Stella keudian kembali makan. Dia benar-benar sangat pengecut.
Setelah malam malam selesai, Hamidah berdehem pelan, “Mungkin kalian butuh waktu berdua,” serunya sambil meninggalkan dua orang itu.
Wajah Stella seketika berbinar, dia segera melangkah ke sisi Devan, lalu melingkarkan tangannya di lengan kekar pria itu menariknya bangkit.
“Ayo, Mas. Kita ngobrol bentar,” ajak Stella manja.
Devan tampak enggan. Tubuhnya kaku, matanya sempat melirik Senna sekilas—hanya sekilas—sebelum akhirnya pasrah ditarik oleh wanita itu.
Dia hanya mengangguk, membuat hati Senna remuk saat itu juga. Dia menjadi sangat yakin jika Devan benar-benar setuju dengan perjodohan itu.
Senna hanya bisa menatap punggung tegap Devan yang perlahan menjauh, berjalan berdampingan dengan Stella menuju pintu taman. Mereka terlihat serasi. Sangat serasi. Pria mapan dan wanita dewasa yang anggun.
Sementara dirinya? Hanya bocah kuliahan yang terjebak dalam perasaan terlarang. Gue enggak boleh nangis. Jangan nangis di sini, Senna. Murahan banget lo kalau nangis, rutuknya dalam hati.
Dengan tangan gemetar hebat, ia merogoh tas kecilnya, mengambil ponsel. Ia butuh pelarian. Ia butuh seseorang yang bisa membuatnya merasa diinginkan, bukan diabaikan seperti sampah.
Jemarinya mengetik cepat nama satu orang yang selama ini hanya jadi cadangan di hatinya, kemudian mengetik sebuah pesan. “Tolong jemput gue, gue sharelock, ke lo.”
Pesan yang terkirim ditujukan untuk Galen. Dia benar-benar tidak betah berada di sana.
Saat ponselnya berbunyi, dia segera melihat balasan pesan yang diterimanya.
“Gue udah di depan.”
Senna segera beranjak dari tempat duduknya, “Nek, Senna pulang dulu. Ada janji dengan teman tadi. Bilang aja Om Devan, kalau aku udah pulang dengan teman,” seru Senna.
Walaupun Hamidah terkejut sesaat tetapi mengangguk pelan, “Enggak nunggu Devan?”
Senna segera mencium tangan Hamidah, “Takut ganggu nek.” Setelah mencium tangan Hamidah Senna segera meninggalkan tempat itu. Dengan hati yang sakit, Senna keluar dari rumah itu, berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
“Eh, gila, lo beneran Senna?” tanya Galen setengah bercanda tetapi berubah khawatir melihat wajah Senna.
Senna tidak menjawab, dia hanya menyeka air matanya dengan napas berat. Galen yang ingin meledek seketika memilih diam.
“Pakai ini, biar orang nggak liat wajah cantikmu itu sedang menangis,” seru Galen sambil memakaikan helm pada Senna dengan hati-hati, suara pria itu terdengar lembut.
“Kalau gue tahu lu pakai dress harusnya gue bawa mobil aja bukan motor,” sesalnya.
Senna mendengus pelan, suaranya serak. “Diem lo ah! Gue lagi males.”
Galen hanya tersenyum tipis, tak ingin memaksa. Dia segera melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Senna. “Gue nggak mau lo masuk angin. Ditutup aja, ya, pake jaket gue,” ucap Galen sambil mengencangkan jaket itu di pangkuan Senna.
Senna mengangguk, Galen kemudian menyalahkan motornya melaju di jalanan. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Ketika bertemu lampu merah, Galen menoleh sedikit, suaranya terdengar tidak jelas dari balik helm. “Eh, kita mau ke mana Sen?”
“Ke mana aja, gue nggak mau pulang sebelum jam sembilan. Gue cuma mau suasana tenang dulu.” Galen mengangguk paham.
Devan yang mengobrol dengan Stella tidak menyimak perkataan wanita itu. Pikirannya terus saja terbayang pada Senna. Senyum tipis gadis itu, matanya yang kosong. Dan terutama, kata-kata Senna saat memanggil Stella ‘Tante’ entah kenapa, menyakiti hatinya.
Ketika kembali, dia tidak menemukan keberadaan Senna, “nek, Senna mana?” tanyanya buru-buru.
“Oh, dia pulang deluan. Dijemput temannya, katanya ada janji,” seru Hamidah sambil menyesap the miliknya.
Wajah Devan seketika menggelap. “Teman? Siapa? Kenapa nggak bilang ke saya?” serunya dengan nada tinggi.
Hamidah terkejut dengan ekspresi wajah Devan. “Ya, nenak nggak tahu. Dia bilang dijemput.”
Devan segera mengambil ponsel dan menghubungi Senna. Dia lebih mengkhawatirkan Senna daripada Stella yang sejak tadi memperhatikan dirinya.d
“Sialan,” umpatnya setelah beberapa kali menghubungi Senna tetapi tidak ada jawaban hal itu membuatnya semakin cemas.
“Dia cuma pergi sama temennya. Lagian Senna udah gede,” ucap Hamidah mencoba menenangkan. "Coba tanya satpam depan. Mungkin mereka liat," seru Hamidah dengan nada kesal.
Devan segera berlari keluar rumah seperti kesetanan. "Devan!" panggil Stella, suaranya pecah di udara malam.
Langkah Devan tidak melambat. Pria itu bahkan tidak menoleh.
Stella merasakan kakinya lemas, dia hanya hanya bisa menatap punggung pria itu yang menjauh. Stella menghela napas berat. Matanya berkaca-kaca. Baru kali ini ia menyadari, bahwa sepertinya di dalam hati pria itu, ada nama lain yang lebih berarti dan itu bukan dirinya.