14. Semakin Di Komporin

864 Words

“Mas? Mas kenapa?” tanya Stella yang mulai menyadari perubahan ekspresi Devan. Devan segera mengalihkan pandangan. Dia tersenyum, palsu. “Enggak. Nggak apa-apa. Yuk, turun.” Mereka turun, Stella berjalan lebih dulu menuju warung lain di seberang. Devan menoleh sekali lagi ke arah Senna, sebelum akhirnya menghela napas dan mengikuti Stella memesan makanan. “Aku pesenin yang sambalnya dipisah ya, Mas,” ucap Stella sambil menutup buku menu. Senyumnya manis, matanya berbinar bahagia menatap Devan yang kini duduk bersandar santai dengan kedua lengan terlipat di depan d**a. Devan hanya mengangguk pelan, kemeja abu-abunya tergulung rapi sampai siku, memperlihatkan lengan berotot yang sering membuat mata wanita melirik diam-diam. Tapi saat ini, tatapan matanya kosong. Pandangannya ke arah mej

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD