“Huh. Harusnya gue chat aja biar nggak dijemput,” gerutunya ketika melihat mobil yang sangat dikenalnya, itu mobil Devan. Namun, ketika mobil itu mendekat, Senna langsung masuk ke mobil saat tahu Devan menjemput. Tidak seperti biasanya, gadis itu memilih duduk di jok belakang. Biasanya Senna bahkan tidak peduli dengan protes Devan. Dia tetap ngotot untuk duduk di depan, apapun alasannya.
Selama meninggalkan kampus, Senna tidak bicara sepatah kata pun. Devan secara diam-diam menatap gadis itu melalui spion dalam. Ada yang berbeda. Mata Senna terlihat sembab, senyumnya pun hilang. Devan merindukan sosok Senna yang biasanya. Ceria dan manja.
"Sekarang kita jalan ke mana, Senna? Aku akan mengantarkanmu kemanapun." Devan memilih memulai pembicaraan. Dia tidak sabar lagi untuk menunggu Senna yang melakukannya.
"Pulang saja. Aku mau tidur di rumah, tidak ingin jalan-jalan." Senna menyahut ucapan Devan dengan nada datar.
Semangat gadis itu memang sudah sepenuhnya hilang. Dia tidak bisa jalan-jalan bersama seseorang yang sudah membuatnya patah hati. Senna sudah berniat untuk menjauhi Devan sesuai dengan anjuran ayahnya.
"Kenapa? Apa kau masih marah?" Devan mencoba menebak.
"Tenang saja, aku sudah memaafkan semua kesalahan Om, kok."
"Kamu sedang ada masalah? Dengan siapa? Cerita saja. Siapa tahu aku bisa bantu menyelesaikan masalah." Devan masih mencoba untuk mengajak Senna bicara. Dia berpikir kalau gadis muda itu sedang memiliki masalah dengan teman satu kampusnya atau orang tuanya.
"Om bisa diam saja, tidak? Lebih baik fokus menyetir dan antar aku pulang dengan selamat." Kali ini Senna mengeluarkan emosinya. Dia tidak peduli tentang bagaimana Devan akan melihatnya sekarang. Gadis itu berpikir, bersikap sebaik apapun tidak akan membuat duda tanpa anak itu menganggap cintanya ada.
"Baiklah. Aku akan diam. Hubungi aku kalau kau sudah mau bicara," ucap Devan sebelum menjadi seorang pendiam.
Dia bingung, di saat dirinya berusaha untuk sedikit menjadi hangat, Senna malah seakan tidak mengharapkan hal itu terjadi. Kalimat yang baru saja dia dengar merupakan kalimat paling kasar yang keluar dari mulut Senna.
Sesampainya di rumah, Senna langsung naik ke lantai atas. Gadis itu tidak mengizinkan Devan untuk mengatakan sesuatu, termasuk mengucapkan ajakan makan siang. Lelaki itu hanya bisa menatap kepergian Senna dengan sedikit keheranan.
"Kenapa tiba-tiba Senna berubah?"
Devan memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang mereka. Awalnya, masakan merupakan tanggung jawab dari asisten rumah tangga di rumah Senna, tetapi gadis itu selalu mau masakan Devan setiap lelaki itu berada di sana. Sehingga Devan memilih untuk bertanggung jawab atas makanan yang akan dimakan oleh mereka berdua.
Sampai lewat jam makan siang, Senna tak juga turun dari lantai atas. Devan yang sengaja menunggu gadis itu untuk makan bersama menjadi cemas. Dia bahkan belum lupa bagaimana wajah Senna sebelum naik ke kamarnya.
Devan berinisiatif menyusulnya. Dengan langkah perlahan dia menaiki satu per satu tangga yang menjadi penghubung antara lantai dasar dan lantai atas, tempat Senna tidur. Lelaki tiga puluh lima tahun itu mengetuk pintu kamar Senna beberapa kali. Tidak ada sahutan dari dalam. Devan juga tidak mendengar apapun.
"Senna, ayo makan siang. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, loh." Devan mencoba berbicara pada Senna, walaupun dia tidak yakin gadis muda itu mendengarkan ucapannya.
"Om makan sendiri aja. Senna nggak lapar." Senna menyahut dari dalam sana tanpa membuka pintu. Suara gadis itu sedikit serak. Sepertinya Senna baru saja menangis.
"Senna, kau kenapa? Sini keluar, cerita. Kau sedang ada masalah?" Devan berusaha mengajak Senna bicara. Dia bingung harus berbuat apa kalau tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh anak temannya tersebut.
"Senna cuma kangen sama papi."
"Kalau memang cuma kangen sama Papi, seharusnya jangan cuekin aku juga. Kau tahu, aku sudah memasak semua makanan kesukaanmu, dan sekarang kau malah tidak mau makan masakanku. Kalau begitu percuma aku masak. Lebih baik makanannya saya buang saja." Devan mengancam.
Tentu saja dia tidak serius. Dia hanya ingin Senna keluar dari kamar dan makan bersamanya. Devan sudah terlalu terbiasa dengan segala tingkah manja dan lucu gadis itu.
Pintu tiba-tiba terbuka.
"Jangan dibuang makanannya. Nggak boleh mubazir sama makanan. Di luar sana masih banyak orang yang nggak bisa makan," cerocos Senna panjang lebar.
Devan tidak bicara lagi, dia segera menggandeng tangan Senna, dan membawa gadis itu turun bersamanya. Devan tidak menyadari kalau mata Senna terus mengarah ke tangannya yang menggandeng erat. Selama ini, Devan tidak pernah bertindak sejauh itu. Mereka bahkan hampir tanpa sentuhan fisik yang berarti.
"Bisa lepasin tangan aku nggak?"
"Kenapa? Tanganku bersih, kok. Tadi sebelum naik ke kamarmu, sudah cuci tangan. Aku juga sudah pakai disinfektan," sahut Devan tanpa melepaskan genggaman tangannya sedikit pun.
"Nggak boleh pegangan tangan sama sembarang orang. Pacarku aja belum pegang tanganku," ucap Senna asal. Devan langsung melepaskan genggaman tangannya.
Lelaki itu berhenti melangkah, berbalik, dan menatap Senna dengan tatapan tajam.
"Jadi kamu sudah punya pacar?" tanyanya kemudian.
"Iya. Sudah." Senna menjawab sambil melihat ke arah sudut rumahnya yang lain.
"Sejak kapan? Kenapa tiba-tiba punya pacar?" protes Devan seakan tak terima.
Tentu saja dia tidak ingin mendengar apa yang baru saja dia dengar. Dia sedang berusaha untuk lebih manis terhadap Senna, tetapi ternyata dia kalah cepat dengan seseorang yang sekarang diakui gadis itu sebagai kekasihnya.
" Lagian kenapa nanya-nanya? Terserah aku mau pacaran sama siapa, dan kapan memulainya. Itu bukan urusan Om juga," jawab Senna ketus, dan langsung melangkah mendahului Devan yang masih kebingungan.
Kalau Senna sudah memiliki pacar, itu artinya dia sudah kehilangan kesempatan untuk mendekati gadis itu. Devan menatap kepergian Senna dengan wajah lesu. Dia tidak menyangka kalau pada akhirnya dia kalah start dengan lelaki lain untuk meluluhkan hati Senna.
Devan merogoh ponsel yang ada di sakunya, dan menghubungi Adam. Dia ingin mengabarkan pada sahabatnya itu tentang apa yang terjadi hari ini.
"Ada apa, Dev?" tanya Adam dari ujung sana tanpa basa-basi.
"Aku kalah start dengan lelaki lain, Dam. Senna bilang dia sudah punya pacar. Sepertinya aku akan mencoba menerima perjodohan dengan Stella. Mungkin Tuhan sudah menakdirkanku untuk lebih berbakti pada nenek."
"Hah? Serius, Dir? Aku ikut berduka buatmu. Tapi kau masih punya kesempatan kalau kau mau. Mereka baru pacaran, belum menikah, 'kan?"
"Aku tidak mau menjadi pengganggu, Dam. Kalau itu yang membuat Senna bahagia, aku akan mengalah. Kebahagiaan dia segalanya."
"Terus kapan, kau mau ketemu sama nek Ida?"
"Akhir Minggu ini, Dam. Semoga ini yang terbaik untuk kehidupanku kedepannya."
"Pasti. Semangat, bro!"
Devan segera mematikan sambungan teleponnya setelah berbasa-basi sedikit. Dia kemudian menyusul Senna yang sekarang sudah sampai ruang makan. Entah mengapa, mendengar gadis itu memiliki seorang kekasih membuat hati Devan menjadi retak. Dia ingin menuruti perkataan Adam, tetapi selama ini Devan tidak pernah menjadi perebut apapun yang menjadi milik orang lain. Dia menjadi sedikit menyesal sudah berpura-pura tidak peduli dengan Senna selama ini.
Saat tiba di ruang makan, Devan justru disuguhkan pemandangan yang aneh. Bukankah Senna seharusnya bahagia dengan kekasih barunya? Lalu kenapa sekarang gadis itu justru menjadikan meja makan sebagai tumpuan dagunya? Raut wajah Senna pun tampak begitu muram. Tidak ada kebahagiaan di sana.
"Kenapa tidak makan?" tanyanya seraya menarik kursi makan yang awalnya tertata rapi di bawah meja.
"Nungguin Om. Lagian Om lama banget jalannya kayak keong," omel Senna yang sekarang sedang membalikkan piringnya.
"Tadi aku menelepon Adam sebentar, ada urusan bisnis yang harus diselesaikan. Ayo makan. Mau diambilkan?" Devan menawarkan diri untuk mengambilkan lauk-pauk untuk Senna.
"Tidak usah. Senna bisa ambil makanan sendiri, kok. Senna sudah janji belajar mandiri. Senna tidak mau menyusahkan Om Devan lagi," ucapnya sambil memasukkan beberapa jenis lauk ke dalam piring setelah memasukkan nasi ke sana.
"Tapi aku ingin kau tetap menjadi Senna yang biasanya. Aku tidak suka kamu menjadi mandiri. Tolong jangan berubah, Senna. Jangan menyiksaku dengan semua perubahan sikapmu ini," ucap Devan di dalam hati. Sesungguhnya dia tidak mau melihat perubahan apapun dalam diri Senna.