5. Disaat Mulai Membuka Hati

1317 Words
Perubahan Sifat Senna benar-benar membuat Devan merasa kehilangan, ia benar-benar merindukan sosok Senna yang dulu, manja dan cerewet. Tapi sejak pagi tadi, sejak pulang sekolah, hingga sekarang. Senna tidak lagi melakukan hal itu. Bahkan saat malam hari Senna juga tidak merengek untuk ditemani tidur, padahal dia yakin Senna tidak bisa melakukan hal itu sendiri. Apa karena ia sudah punya kekasih? Meskipun iya, tidak seharusnya ia merubah sifatnya seperti ini. Hingga waktunya tidur, Dengan sengaja Devan menunggu Senna meminta ia menemaninya tidur, tapi hingga malam hampir larut, Senna tidak juga keluar kamar. Ini aneh, kalau tiba-tiba Senna berani tidur sendiri, setelah apa yang dilihatnya tadi pagi, Devan yakin Senna tidak main-main dengan ucapannya yang tidak bisa tidur sendirian. Tapi kenapa malam ini Senna tidak datang menemuinya, dan meminta untuk menemaninya tidur? Devan, yang saat ini tengah duduk di sofa yang ada di ruang tengah, merasa cemas, ia memutuskan untuk menemui Senna, ia ingin tahu apa yang sedang anak dari sahabatnya itu lakukan. Pelan tapi pasti, Devan mulai menaiki anak tangga, menuju kamar Senna. Devan mengetuk pintu kamar Senna hingga beberapa kali, sama halnya tadi siang, tidak ada sahutan dari dalam. Devan mencoba untuk mencuri dengar, takut Senna menangis seperti apa yang didengar tadi siang. Tapi nyatanya Devan tidak mendengar apa-apa. "Senna, kau sudah tidur?" Devan kembali mengetuk pintu, berharap Senna merespons panggilannya. Tapi tetap saja, Duda tampan itu tidak mendengar apa-apa, Senna tidak merespons panggilannya. "Senna!" Kembali mengetuk pintu, dan memanggil tapi tetap saja tidak ada respons. "Senna, aku yakin kau belum tidur, jangan memaksakan diri kalau memang tidak bisa melakukannya." Devan mencoba mengajak Senna berbicara, dia tidak bisa terus-terusan membiarkan Senna seperti ini. Tidak ada tanggapan dari dalam, hening, Senna tidak merespons ucapan Devan. Devan yang tidak tahu harus berbuat apa, memutuskan untuk pergi dari depan kamar Senna. "Kalau butuh teman untuk menemanimu tidur, datang saja ke kamarku. Pintunya tidak dikunci, kok," ucap Devan, sebelum ia benar-benar pergi. Langkah Devan terasa berat, saat akan meninggalkan kamar Senna. Berulang kali menoleh, berharap Senna membuka pintu. Tapi nyatanya, hingga ia mulai menuruni anak tangga, Senna tidak kunjung membukakan pintu untuknya. "Baiklah, mungkin dia benar-benar ingin berubah." Devan pasrah. Ia melanjutkan langkahnya, menuju kamar yang dia tinggali. * "Iya, Nek, iya Devan akan datang. Tapi tidak sekarang, ya. Devan janji akan datang, mungkin minggu depan. Iya. iya nenek, Devan janji, Devan tidak akan bohong. Ya sudah, nek, Devan tutup dulu, Devan mau istirahat. Iya, selamat malam, Nek?" Devan mematikan sambungan teleponnya. Namun saat ia akan meletakkan ponselnya. Begitu terkejutnya ia saat melihat Senna sudah berada di dalam kamarnya, berdiri di ambang pintu, mendekap boneka beruang berbulu lembut yang memiliki ukuran lumayan besar. "Aku nggak bisa tidur. Apa boleh tidur di sini?" Tanya Senna. Bicara dengan wajah cemberut. "Hem, kemarilah." Devan mempersilahkan Senna untuk tidur bersamanya. Senna tersenyum, ia berlari, dan dengan segera merebahkan dirinya di samping Devan. Senna tidur dalam posisi telentang, matanya masih bulat sempurna. Apa yang Senna rasakan sekarang yang membuat Senna sulit terpejam. Ada perasaan bahagia dan sedih, bahagia karena bisa tidur bersama duda tampan yang dia cinta, namun kebahagiaan harus pupus karena sang duda tampan sudah memiliki kekasih, lebih tepatnya calon istri. Senna menoleh ke samping, ke arah Devan. Tatapan keduanya bertemu, tapi dengan segera Senna memalingkan wajahnya, bahkan memunggungi Devan. Kembali, Devan terkejut dengan sikap Senna yang selalu cuek dan acuh terhadapnya. Devan sangat merindukan sifat manja dan cerewet yang selalu dia tunjukkan padanya. "Om Devan jahat, kenapa tidak bilang kalau sudah punya calon istri. Apa susah sih jujur, kalau sudah punya calon istri. Sengaja mempermainkanku. Dasar jahat," batinnya kesal. Hingga tengah malam, Devan juga belum juga bisa memejamkan matanya. Ia terus saja gelisah, akan keputusan, menerima tawaran sang nenek. Karena apa, karena dia sudah mencintai gadis kecil yang kini tidur satu ranjang dengannya. Tapi apa boleh buat, gadis itu sudah tidak mencintainya lagi, dia mencintai pria yang kini menjadi kekasihnya. Malam berikutnya, Devan memenuhi undangan si nenek untuk datang ke rumahnya, setelah sekian lama ia menolak. Ia memutuskan hal itu setelah merasa sudah tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan hati Senna. Ia memutuskan untuk datang ke acara yang dibuat sang nenek. "Senna, aku akan pergi ke rumah nenek Hamidah, kau mau ikut?" Devan mencoba menawarkan diri. Saat ini, keduanya sedang sarapan bersama. Namun tidak ada respons dari Senna, dia tetap diam membisu seperti kemarin. "Aku harap kamu ikut juga, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di rumah." Devan memberi keputusan. Dan dengan terpaksa Senna menuruti kemauan Devan, meski berat. Karena dia yakin, dia akan bertemu dengan wanita yang akan jadi calon istri Devan. Kalau boleh memilih Senna tidak ingin ikut apalagi dia tahu apa tujuan Devan pulang ke rumah sang nenek. Selesai sarapan, Dengan segera Devan mengantarkan Senna ke kampus. Dan di sini Senna masih berusaha untuk menjaga jarak. Ia kembali duduk kursi penumpang, tidak mau lagi duduk di depan, di samping Devan. Devan hanya bisa melihat Senna dari pantulan kaca spion mobilnya. Sikap pendiam Senna benar-benar membuat Devan merasa kehilangan, Devan merindukan Senna yang dulu, Senna yang manja, cerewet dan banyak bicara, bukan Senna yang pendiam, dan bersikap acuh seperti ini. "Aku akan menjemputmu lebih cepat nanti, untuk persiapan makan malam," ucap Devan, saat mobil yang Devan kendarai sudah sampai tujuan, kampus Senna. "Ya," jawab Senna singkat. Senna lantas membuka mobil dan keluar. "Hai, Sen. Pagi-pagi sudah masam saja itu muka, ada apa?" Baru saja Senna keluar dari dalam mobil, Galen langsung menyambut kedatangannya. "Enggak apa-apa," jawab Senna singkat. "Eh, siapa yang antar ke kampus?" tanya Galen, saat melihat Devan. "Bukan siapa-siapa. Dia Om Devan, teman Papi. Papi minta dia untuk jagain aku di rumah, untuk sementara, selama Papa dan Mama pergi. "Oh ..." Galen ber-oh ria, sebelum menyapa Devan. "Pagi, Om," sapa Galen dengan ramah ke arah Devan. Devan diam, ia hanya menatap Galen dengan wajah datar. "Jadi ini pacar Senna? Lumayan, ganteng dan seumur dengan Senna lagi. Pantas Senna suka sama dia." "Kenapa dia?" tanya Galen saat sapaannya tidak direspons oleh Devan. Bukannya menanggapi sapaannya, Devan malah terkesan acuh dan pergi begitu saja, meninggalkan Gerbang universitas di mana Senna menempuh pendidikannya. "Enggak tahu. Sudah yuk masuk, panas nih." Senna sedikit mengeluh, sinar matahari pagi terasa menyengat saat menerpa kulit putih nan mulus milik Senna. Bukan matahari yang sebenarnya membuat Senna kepanasan, tapi rasa cemburu akan Devan yang sudah memiliki calon istri yang membuatnya kepanasan. "Utu utu utu.. Kasihan sekali, panas ya? Ya sudah yuk masuk kelas." Keduanya Jalan bersama, menuju kelas mereka, dan sepanjang jalan menuju kelas mereka bumbui dengan candaan. Dari kejauhan, Devan menghentikan laju kendaraannya hanya untuk melihat kedekatan Senna dengan pemuda itu, Devan hanya bisa menghela nafas gusar, saat Ia melihat keduanya dari pantulan kaca spion. Devan melihat, Senna terlihat sangat bahagia bersama Galen. "Mungkin ini keputusan terbaik yang harus saya ambil," gumam Devan. Devan melihat arloji di tangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, sudah waktunya Devan berangkat ke kantor, apalagi hari ini ada jadwal meeting pagi dengan salah satu klien. "Kenapa perasaan ini tumbuh di saat Senna sudah berpaling? Apa salah bersikap seperti ini? Aku hanya tidak mau mengecewakan Dimas. Tapi ... Kenapa di saat sudah mengambil keputusan, malah diri sendiri yang kecewa. Ah sudahlah, mungkin Senna bukan jodohku." Devan bicara seorang diri. Dan kembali menambah kecepatan laju kendaraannya, menuju gedung perkantoran di mana ia bekerja. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, Mobil yang Devan kendarai sudah tiba di perusahaan di mana ia bekerja. "Hi, Bro, bagaimana? Kamu yakin dengan keputusanmu, menerima perjodohan ini?" tanya Adam yang langsung menghampiri meja kerja Devan saat melihat sahabatnya datang dengan wajah yang terlihat masam. "Hemm ... Mau bagaimana lagi. Senna sudah punya pacar, mereka sumuran. Aku melihatnya langsung, dia juga cukup tampan untuk jadi kekasih Senna." Devan tidak bohong akan hal ini, Galen memang tampan tapi hanya saja dia tidak tahu, kalau dihati Senna hanya ada Devan. "Yang sabar ya, Bro. Mungkin dia bukan jodohmu." Adam hanya bisa memberi semangat, karena hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD