6. Pemandangan Pagi Menggoda

1549 Words
Satu-satunya hal yang menahan Senna untuk tidak lari menjebol pintu kamar Devan karena pria itu akan segera bertunangan. Tubuhnya menggigil di balik selimut, tapi bukan karena dinginnya AC. Itu karena absennya kehangatan pria itu. “Ayo tidur Sen,” gumam Senna sambil memejamkan mata. Senna berbaring di atas tempat tidur. Malam ini dia berusaha untuk terus membiasakan diri tidur sendiri. Dia tidak mau terlihat manja di depan Devan, pria yang selama ini membuat dirinya tergila-gila. Matanya terpejam, lalu terbuka dan menatap langit-langit kamar, kemudian menoleh ke jendela, lalu kembali menatap pintu. Pikirannya penuh dengan narasi yang dia buat sendiri. Tangannya meraih selimut, menariknya sampai ke atas kepala, hanya menyisakan ujung hidung. “Ayo, Sen, lo bisa. Lo bisa tidur sendiri, Lo udah dewasa, lo udah udah gede,” ucap Senna bernarasi menyemangati diri sambil memeluk guling kesayangan. Beberapa menit berlalu. Senna bangkit, berjalan ke arah saklar lampu, menyalakan. Tapi ketika lampu menyala membuatnya semakin takut. ditambah matanya sakit, ia mematikan lagi. Senna diam sebentar, lalu kembali menyalakan, mematikan lagi. Semua berlangsung sampai beberapa kali. “Anjir, kenapa malah makin takut gini, sih?” bertanya pada diri sendiri, frustrasi. Kepalanya masuk di antara bantal. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan sebenarnya adalah—keluar kamar, ketuk pintu kamar Devan, minta tidur bersama atau sekadar ditemani. “Enggak boleh Senna, om itu udah punya calon istri.” Senna ingat dirinya yang sudah berjanji untuk berubah. Gue gak mau ganggu dia lagi, harus bisa sendiri, enggak boleh kek bocil,” ucap Senna meski hatinya sejak tadi terus saja menginginkan Devan. Di kamar yang terletak tak jauh dari sana, Devan memandangi layar ponselnya, tapi tatapannya kosong, pikirannya menerawang. Pikiran Devan terbang jauh, memikirkan Senna yang seharusnya saat ini sudah terlelap di kamarnya. Ya mungkin dia sudah tidur. Ada sesuatu yang yang mengganggu Devan. Itu adalah rasa kehilangan yang membuat dadanya ngilu, sedikit. “Ini semua karena dia beneran udah punya pacar?” gumam Devan dalam hati. Tangannya tak sadar memainkan jam tangan di pergelangan tangan. Keningnya bertaut, semakin memikirkan Senna, semakin terasa dorongan aneh yang membuatnya bangkit dari duduknya. Devan melihat jam dinding, hampir jam sebelas malam. Ia berjalan ke kamar Senna, kini dia berdiri di depan kamar yang pintunya tertutup rapat. “Cuma ngecek aja, enggak masalah ‘kan?” gumam Devan sambil jalan mendekat, tangannya kini bergerak mengetuk pintu. “Senna?” panggilnya pelan. Tak ada jawaban, Devan mengetuk lagi, memastikan. “Senna, kamu udah tidur? Kamu okay ‘kan?” Masih hening, tak ada jawaban. Devan mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih lama. Senna tidak menampakan diri, buat dia cemas. “Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ya, Om cuma mau ngecek.” Beberapa detik berlalu Devan masih berdiri mematung, lalu terdengar suara pelan dari dalam. “Aku tidur om, jangan ganggu. Aku capek.” Nada bicara Senna terdengar ketus, tidak seperti biasanya. Tidak ada manja, tidak ada rengekan, tidak ada nada menggoda seperti yang sering dia lakukan. Devan terdiam sejenak, rasanya asing. “Beneran enggak apa-apa?” tanya Devan sekali lagi, tetap berdiri di depan pintu. Beberapa detik kemudian, gagang pintu perlahan diputar. Senna membuka pintunya sedikit, hanya menampakkan wajahnya yang tampak pucat, rambutnya berantakan, matanya terlihat sayu. “Aku okay Om. Please deh, om ganggu aku tidur,” sahut Senna terdengar kesal. Devan bingung, tapi merasa lega. “Oh, okay sorry, just kinda worried, that's all. Biasanya kamu—ya, kamu bakal ribut karena takut sendirian kamu—” Dia tak melanjutkan. Hanya menatap Senna itu dengan tatapan yang lembut. Tanpa sadar, tangan Devan terangkat, menyentuh kepala Senna dengan lembut, mengusap rambutnya pelan. “Kamu beneran okay ‘kan? Heran aja enggak minta saya temenin, udah berani, ya?” tanya Devan setengah bercanda, tapi ada nada bicara yang penuh kelembutan dan perasaan itu tidak bisa dia tutupi, terlihat jelas. Senna menelan ludah, jantungnya berdebar tak karuan karena sentuhan itu. Tapi dia memaksakan diri tetap cuek, harus kuat, tidak boleh manja lagi, harus berubah. “Aku udah gede. Udah, Om enggak usah mikirin aku, nite Om.” Tanpa menunggu jawaban, Senna menutup pintu perlahan. Ia berdiri di balik pintu, sebelumnya dia tidak bisa tidur karena takut, tapi kini karena perasaan jadi berantakan akibat usapan tangan Si Om di kepalanya. “Om Devan sialan!” Kesalnya, suara gemetar menahan tangis. Ia berjalan ke kasur dan merebahkan tubuh, menutup wajahnya dengan bantal. Sementara itu, di luar pintu, Devan masih berdiri cukup lama. Devan lalu menghela napas dalam-dalam, menatap pintu itu sebentar sebelum berjalan kembali ke kamarnya. Ternyata dirinya benar-benar kehilangan sikap manja itu. *** Pagi ini Devan baru saja selesai mandi. Tetes-tetes air masih membasahi ujung rambut, tubuh kekarnya yang berbalut hanya sehelai handuk di pinggang tampak sangat maskulin dengan tubuh tegap dan d**a bidang nan menantang. Dengan langkah santai sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, ia berniat untuk segera mengenakan pakaian kerja. Tapi suara ribut-ribut terdengar pelan dari arah dapur membuat kedua alisnya bertaut. “Apaan sih pagi-pagi ribut banget?” gumam Devan, sambil melangkah cepat ke sumber suara. Begitu sampai, matanya menangkap pemandangan yang tidak ia sangka. Senna, gadis kecil manja yang biasanya hanya bisa duduk manis menunggu sarapan, kini berdiri di depan meja dapur. Tangannya sibuk memotong apel, gerakannya sangat kaku. Karena memang tidak terbiasa. Devan sempat tersenyum kecil, rasanya geli sekaligus aneh yang melintas di pikiran saat melihat Senna berusaha mandiri. Tapi sebelum dia sempat melangkah mendekat, tiba-tiba— “Aaw!” Devan refleks berlari mendekat, jelas ia panik dengar pekikan dari bibir Senna. berubah panik seketika. “Senna! Astaga, kenapa?” Senna rasanya mau menangis, ia menatap jari telunjuknya yang kini terluka, darah segar mulai keluar dari sayatan kecil akibat pisau yang tergelincir. “Aw aw aw, ssshh, perih,” lirih Senna, hampir saja air matanya menetes. Tapi dia menahan diri. 'Gue udah gede.' Begitu kata-kata yang dia ucap dalam hati. Devan tanpa pikir panjang langsung meraih pergelangan tangan Senna, matanya meneliti luka itu dengan cemas. “Duduk sini,” ajak Devan sambil setengah menyeret Senna ke kursi. Senna menatap Devan, lalu mengikuti tidak berani melawan. Devan benar-benar kelihatan panik, sangat. Lelaki itu lalu berlari kecil ke arah lemari penyimpanan, mengambil kotak P3K. Tangannya cekatan mengambil NaCl dan plester. Dengan lembut, ia menuangkan cairan itu ke luka Senna. “Ini enggak perih kok, NaCl enggak bikin sakit, sabar ya sebentar.” katanya sambil meniup-niup luka itu pelan, meski wajahnya terlihat begitu cemas dan takut. “A-aku enggak apa-apa kok om,” kata Senna pelan menenangkan Devan. Devan mendengus pelan. “Enggak apa-apa gimana Senna? Kamu tuh harusnya nunggu saya aja. Biasanya juga saya yang bikin sarapan. Kenapa malah nekat masak sendiri kayak gini, hmm?” Senna menunduk, merasa bersalah. Tapi di saat yang sama, tiba-tiba Senna menyadari sesuatu yang sejak tadi tidak dia perhatikan, Devan. Pria itu hanya mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya. d**a bidang, perut dengan roti sobek, lengan kekar yang basah oleh sisa air—semua tampak jelas di depan matanya. Dan lebih gilanya, si om-om itu terlihat dua kali lipat lebih ganteng dari biasanya. Senna menelan ludah tanpa sadar. Dalam kepalanya mulai sibuk dengan dialog. 'Ya ampun Senna! Fokus! sialan! Sialan pikiran gue!' Nafasnya seolah berat, tapi matanya tidak enggan berpaling. Dia bahkan tidak sadar ketika Devan memanggilnya berkali-kali. “Senna? Hei? Kamu dengar saya enggak?” tanya Devan sambil melambaikan tangan di depan wajah Senna. Senna tersentak dan akhirnya sasar. “Eh? Eh? I-iya, kenapa Om?” jawab Senna lalu buru-buru mengalihkan pandangannya, pipinya kini seperti kepiting rebus. Devan memandangnya dengan alis terangkat. “Kenapa diem? Sakit banget ya? Kamu pucat banget.” “Hah? Hmm, wnggak apa-apa om. Aku cuma—itu, ya—kaget aja. Hehehe.” Senna menunduk, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Devan masih memandang heran, tapi kemudian dia menghela napas pelan. “Yaudah, kalau gitu kamu di sini aja. Saya ganti baju dulu. Nanti saya yang buat sarapan, oke?” Senna cuma mengangguk pelan. Kepalanya masih menunduk. Matanya melirik ke arah tubuh Devan lagi, refleks—lalu buru-buru memalingkan wajahnya. Kini Devan berjalan menjauh., langkahnya membawanya hilang di balik tangga, masuk ke kamarnya. Senna menghela napas panjang. Kepalanya langsung jatuh ke atas meja dapur. “sialan!” Kesalnya pada otak dan pikiran kotor yang sempat terlintas. Senna menggerakkan tangan seolah sedang menyentuh bagian perut dan d**a seksi Devan. “Astaga, Senna! Kenapa pikiran gue gitu sih?! sialan! Tapi, tapi, ya Tuhan! Om Devan emang ganteng banget! Mati gue!” Senna menutup wajahnya yang memerah. d**a bidang, perut dengan roti sobek Om Devan buat pikirannya berantakan pagi ini. Setidaknya pikiran tentang Devan membuat luka kecilnya itu tak terasa sakit untuk beberapa saat. Sampai, beberapa menit kemudian, Devan muncul lagi, kali ini sudah berpakaian rapi. Kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung, celana bahan gelap yang memperlihatkan tubuhnya yang proporsional. Parfum segar maskulin tercium di dapur. “Kamu gimana? Masih sakit?” tanya Devan sambil menoleh lalu tersenyum. Senna hanya menggeleng, masih terdiam dengan pipi merona. Sisa rasa malu, gugup, juga pikiran kotornya membuat dia malu menatap Devan. Devan kemudian beralih ke kompor, menyiapkan sarapan yang mudah pagi ini. Hanya roti panggang, telur dadar, dan irisan apel, yang kali ini dia potong sendiri. Sementara itu, Senna cuma bisa duduk diam, matanya sesekali mencuri pandang. Bibirnya memilih tertutup rapat, tapi dalam hati ada satu kalimat yang berulang-ulang. 'Sialan! Gue bener-bener jatuh cinta sama dia, tapi dia bukan punya gue.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD