TJOL 7

1730 Words
Darren kebingungan saat ia akan minum, rasa haus begitu menyerang tenggorokannya. Tadi, ia pamit kepada Indra untuk minum. Namun, Indra sama sekali tak memberitahunya kalau di sini memang tidak disediakan gelas ataupun botol. "Heuh, bagaimana aku bisa minum?" gumam Darren, jujur saja ia sudah benar-benar haus setelah dua jam ia berkutat dengan hal-hal baru yang harus ia pelajari. "Ini," ucap seorang pemuda seumuran Darren berseragam office boy, menyodorkan sebuah plastik bening. "Minum pakai ini," katanya lagi. "Oh, terima kasih." Darren menerima plastik itu, mulai hari ini mungkin sampai selama Darren di sini harus terbiasa minum menggunakan plastik. Karena memang di area kerja, sama sekali tidak diperkenankan membawa air minum. Padahal jika dilihat dari letak tempat minum sampai ke area tempatnya tadi cukup jauh, bisa-bisa sudah haus lagi belum sampai di area kerja. "Memang begini ya?" tanya Darren, kepada pemuda yang memperkenalkan diri dengan nama Ahmad itu. "Iya, kan di sini produksi harness mobil. Bisa konslet kalau terkena air 'kan?" "Iya juga sih, memangnya tidak haus lagi? Jarak tempat ini ke tempat kerja kan juga lumayan jauh?" "Ya mau tidak mau harus ikuti apa yang ada di sini." "Ah, sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" "Sekitar setengah tahun," ucap Ahmad, Darren merasa nyaman mengobrol dengan Ahmad meskipun mereka baru saling kenal. Darren rasa, Ahmad ini pemuda yang jujur. Entah, itu saja penilaiannya ketika ia bertemu tatap dengan Ahmad. Entah kenapa, ia asyik saja mengobrol dengan pemuda yang baru dikenalnya itu. "Aku sudah selesai, terima kasih plastiknya," ucap Darren, ia lipat kembali plastik itu. Darren masukkan ke dalam saku kecil di tasnya, lalu ia pamit kembali ke tempat kerjanya tadi. Di mana Satria memberinya banyak tugas dihari pertama Darren kerja. Darren ingin protes, tetapi ia anak baru. Sebagai anak baru, memang harus menuruti apa kata senior. Lelah, itu yang Darren rasakan dihari pertamanya bekerja. Meskipun begitu, banyak pengalaman baru yang ia dapatkan. Termasuk mengenal berbagai macam karakter yang baru ia kenal, terutama Satria. Entah kenapa, pemuda itu terlihat tak suka kepadanya. Darren berjalan pelan menuju tempat absen khusus anak baru, semua karyawan baru berjubel untuk absen manual dan ingin segera pulang. Darren memilih untuk duduk di rest area terlebih dahulu, menunggu antrean itu sedikit lengang. Ponsel yang berada di saku kemejanya bergetar, satu pesan dari Syla muncul saat Darren menyalakan layar. Tadi sewaktu istirahat, Darren tak sempat berpamitan kembali untuk melanjutkan pekerjaan. Wajar saja jika sekarang Syla tengah mengomel karena terlalu lama menunggu balasan pesan yang ia kirimkan untuk putranya itu, Darren jadi membayangkan bagaimana jika ia jadi sang ayah. Pastinya memerlukan stok sabar yang cukup banyak untuk mengimbangi sifat sang bunda. Darren memasukkan kembali ponselnya setelah balasan terkirim, ia lihat antrean absen tak sepenuh tadi. Ia berjalan ke arah di mana kartu absen miliknya ia letakkan pagi tadi, ia tulis jam berapa sekarang. Tidak hanya untuk absen, antrean juga masih terlihat di sepanjang jalan keluar dari parkiran. Perlahan tapi pasti, Darren mendekati sepedanya. Ia melirik motor baru yang masih terparkir di sebelah sepedanya, motor Satria. "Kenapa? Kau mau motor seperti milikku?" tanya suara itu tiba-tiba, Satria sudah berdiri di samping motornya. Pemuda itu memergoki Darren yang tengah melihat motornya. "Tidak," jawab Darren, ia memutar arah sepedanya. Tak sengaja, ban depan sepedanya menyenggol body motor milik Satria. "Kau! Kau tidak tahu, motor ini baru!" Satria mulai mencak-mencak. "Maaf," kata Darren, ia naiki sepedanya lalu meninggalkan parkiran beserta Satria yang masih merasa dongkol terhadapnya. "Lihat saja! Seberapa kuat mentalmu untuk tetap berada di pabrik ini!" geram Satria, ia mengelus body motornya yang membekas ban roda milik Darren. ***** Tak ada yang dilakukan Darren sesampainya di rumah selain beristirahat, bahkan ia duduk di depan pintu yang baru saja ia buka. Menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal dihari pertamanya bekerja. Sembari ia beri pijatan kecil dikedua kakinya. Peluh yang mengering dari tubuhnya menguarkan bau yang sedikit tertutupi wangi parfum yang ia pakai, tetapi risih juga rasanya. Darren beranjak memasuki kamarnya setelah melepas sepatunya, mengambil handuk. Berharap guyuran air sore ini bisa mengembalikan kembali tenaganya. Seragam yang tadi Darren kenakan sudah ia lepaskan, ia lempar ke dalam mesin cuci baru miliknya. Nanti saja ia mencucinya, saat lelah yang ia rasakan sedikit mereda. Ada rasa cemas saat Darren menyalakan keran air, ia takut air akan mati dipertengahan saat ia mandi seperti kejadian beberapa hari lalu. Darren memilih menampungnya terlebih dahulu, membiarkan bak air terisi penuh. Guyuran pertama menyentuh kepalanya, dingin dan segar yang ia rasakan. Seolah rasa capai setelah bekerja ikut luruh bersama air yang mengalir melewati sekujur tubuhnya. "Segarnya," gumam Darren disela mandinya, ia tak pernah merasa nikmat seperti ini saat mandi. Ini pertama kalinya. Handuk yang melingkar di pinggang mengantarnya ke dalam kamar, Darren mengambil baju asal saja yang penting ia bisa segera beristirahat. Kasur pun seolah sudah melambaikan tangannya untuk mendekap erat Darren. "Sebentar, aku isi perut dulu," kata Darren. Rasa lelah yang masih terasa menguasai membuat Darren merasa malas untuk sekedar memasak mie instan, ia memilih mengambil roti saja. Mengolesnya dengan selai, lalu melahapnya hingga tak tersisa. Sepeda telah ia masukkan, begitu juga pintu yang sudah ia kunci. Setelahnya, ia kembali ke kamarnya mengikuti panggilan kasur yang siap ditiduri. "Tidur sebentar deh," ucap Darren, ia memasang alarm untuk membangunkannya saat adzan Maghrib nanti. Ia rasa setengah jam cukup untuk mengistirahatkan matanya sejenak. ***** "Bik, Syla ke mana?" tanya Denis kepada salah seorang asisten rumah tangga, ia merasa heran. Biasanya jika ia pulang kerja, senyum manis Syla akan selalu menyambutnya jika ia membuka pintu. Namun, malam ini sama sekali tak ia dapati istrinya. "Ibu di kamar, Pak. Sejak tadi siang tidak keluar kamar." Alis Denis saling bertaut, ia sedikit cemas dengan keadaan sang istri. Denis memilih untuk segera naik ke kamarnya setelah meminta sang asisten rumah tangganya itu menyiapkan makan malam dan mengantarkannya ke kamar. Syla tengah membanting beberapa kali ponselnya saat Denis memasuki kamar mereka, lelaki itu mendekati sang istri. "Kenapa?" tanya Denis, ia naik ke atas ranjang. Ditatap wajah sang istri yang terlihat murung. "Sakit?" tanya Denis lagi, ia memegang kening Syla. Sama sekali tidak demam. "Ada apa?" Syla memalingkan wajah ketika Denis menatapnya, Denis hanya membuang napas. Sudah beberapa hari ini Syla selalu seperti ini, uring-uringan tidak jelas. "Kenapa lagi?" Ketukan pintu mengalihkan fokus Denis, ia beranjak untuk membukakan pintu. Sebuah penampan telah berpindah ke tangan Denis, ia kembali mendekati Syla yang masih bergeming di posisinya. "Makan dulu ya? Aku tahu, kamu pasti belum makan sejak tadi siang." Syla masih tetap dalam mode acuh, ia enggan menatap sang suami. Semua kekesalan seolah ia limpahkan kepada Denis, padahal Darren lah pelakunya. Remaja itu sejak tadi mengabaikan pesan dan panggilan dari Syla, ia selalu menyalahkan keputusan sang suami atas putranya. Syla sangat kesal dengan suaminya itu. "Makanlah." Satu suap nasi berada tepat di depan mulut Syla, Syla sama sekali tak berniat membuka mulutnya. "Aku takut kamu sakit, makan Sayang," bujuk Denis. "Apa dengan makan, aku bisa melihat putraku sekarang?" tanya Syla, ia menatap tajam suaminya. Denis menghela napas berat, jika seperti ini ia harus pintar-pintar membujuk istrinya agar melunak. Setelah ia mengirim Darren ke Semarang, sering sekali terjadi drama seperti ini. Seolah Syla berubah menjadi sosok remaja dengan tingkah labilnya. Sekarang senang, besoknya sedih. Begitu terus. "Bisa saja," ucap Denis enteng, ia berusaha tak terpancing emosi istrinya. "Jangan memberiku harapan palsu, Mas!" Mata Syla berkaca-kaca, sorotan rindu untuk sang putra tercetak jelas di sana. "Makan saja dulu, itu urusan belakangan." "Mas, Apa ..." ucapan Syla terpotong, ia kalah cepat dengan Denis yang segera menjejalkan makanan ke mulut Syla. Syla dengan enggan mengunyah makanan yang terlanjur masuk ke dalam mulutnya. "Kau curang!" hardik Syla sesaat setelah menelan makanannya, ia seka air mata yang telah meleleh dipipinya. "Jangan seperti ini, aku tak mau kalau kamu sampai sakit," ucap Denis, ia kembali menyiapkan suapan kedua untuk Syla. "Tapi, Mas! Kau tidak tahu bagaimana rasanya mencemaskan putra kita di sana! Apalagi ..." "Apalagi dia tinggal sendiri dan sejak tadi tidak membalas pesan darimu?" potong Denis cepat, ia sudah hapal tiap kata yang akan terlontar dari bibir tipis milik istrinya. Membuat Syla cemberut, ia mendorong bahu Denis. Untung saja tak membuat makanan yang Denis bawa berhamburan. Denis tertawa kencang, jujur saja ia gemas dengan tingkah sang istri. "Makan, nanti akan aku beri hadiah." "Apa?" tanya Syla cepat. "Makan dulu, nanti setelah selesai makan aku akan memberimu hadiah." "Aku tak percaya." "Ayolah, apa yang membuatmu tak percaya padaku, Sayang?" Denis memainkan kedua alisnya, meledek Syla. "Kau ini! Cepat suapi aku, awas kalau kamu bohong soal hadiah!" kata Syla, sepertinya tembok pertahannya sudah jebol. "Oke." Suapan demi suapan dengan telaten Denis berikan kepada Syla, ia menyodorkan segelas air putih ketika Syla menelan suapan terakhirnya. Denis letakkan bekas makan sang istri ke atas nakas. "Apa hadiahnya?" tanya Syla. "Hadiahnya? Setelah aku mandi, aku akan memberimu hadiah," ucap Denis, ia segera turun dari atas ranjang. Ia membuka dasinya yang terasa mencekiknya sejak tadi, lalu ia lepaskan kancing demi kancing kemeja kerjanya. Berjalan santai ke arah kamar mandi, meninggalkan Syla dengan kekesalan yang meninggi. Bahkan wanita itu telah menangis. Punggung Syla yang pertama kali Denis tatap saat ia keluar dari kamar mandi, ia tahu betul tabiat istrinya jika sedang marah. Dengan santai, Denis mengambil pakaiannya. Bau sabun menguar dihidung Syla, ia tahu suaminya telah berada didekatnya. "Apa hadiah masih berlaku?" bisik Denis yang mencondongkan tubuhnya, ia berkata tepat ditelinga Syla. Denis naik ke atas ranjang, berbaring di samping sang istri. Syla menggerakkan tubuhnya menjauh dari Denis. "Kamu benar-benar tidak mau menerimanya?" Dua buah tiket pesawat sudah berada ditangan Denis. "Ya sudah, aku bisa cancel salah satu tiket ini. Tak masalah," kata Denis, ia meletakkan kedua tiket itu ke atas nakas tepat saat Syla memutar tubuhnya. "Tiket ke mana?" "Masih mau?" "Aku tanya tiket ke mana, Mas!" "Semarang." Mata Syla berbinar ketika mendengar nama kota itu disebut, ia mendekati Denis. Meminta untuk melihat tiket itu. "Besok, kebetulan ada briefing masal. Sekalian aku akan mengajakmu, bertemu putra kita. Kamu mau?" Syla mengangguk cepat, tentu saja ia sangat mau. "Sini, peluk dulu," pinta Denis, Syla menghambur ke dalam dekapan suaminya. Denis membelai lembut rambut Syla, mengecup kening istrinya itu dengan sayang. Dalam hati, Ia ucapkan maaf atas semua tindakannya. Jika biasanya Syla paling malas untuk packing barang karena hanya menyiapkan barang-barang milik Denis dan harus ditinggal ke luar kota, sekarang ia begitu semangat. Mereka akan pergi bersama besok, bayang-bayang Darren sudah berada di pelupuk matanya. 'Sebentar lagi kita bertemu, Nak,' batin Syla dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD