Chapter 03

1519 Words
Raja memantul-mantulkan bola basket yang dia bawa dari rumah pada permukaan lantai semen lapangan basket yang ada di dekat taman kota. Raja sengaja kesini untuk menghilangkan rasa suntuk nya, bukan untuk bermain basket tapi hanya sekedar duduk dan menatap gerombolan orang-orang bermain. "Hai!" sapa seseorang dari samping Raja. Raja spontan mendongakkan kepalanya menatap gadis yang berdiri dan menyapanya. "Hai juga!" "Sendirian?" tanya Sella. "Seperti yang lo lihat!" sahut Raja mengedikan bahunya acuh. "Enggak mau gabung sama yang lain?" tanya Sella menunjuk gerombolan yang bermain basket itu dengan dagunya. "Enggak pengen main basket!" sahut Raja menatap lurus kedepan. "Enggak pengen main tapi kenapa lo bawa bola basket ke lapangan kalo bukan buat main?" tanya Sella menaikkan sebelah alisnya menatap Raja dari samping. "Terus enggak boleh gitu kalo gue bawa bola basket ke lapangan tapi gue kagak main basket?" tanya Raja balik menatap Sella dengan menaikkan alisnya juga. Keduanya kini saling tatap, ini pertama kalinya Sella menatap manik mata coklat madu yang mengesankan itu. Debaran jantungnya tiba-tiba mengencang seperti dia lari marathon saja. "Ya enggak gitu!" sahut Sella lalu memutuskan kontak mata itu. "Mau main bareng?" tanya Raja pada Sella yang menatap sembarang arah. "Ayok!" Sella menyahut semangat. Raja berjalan mendahului menuju lapangan sebelah lagi yang kosong. "By one ya!" teriak Sella. "Siapa takut!!" Raja ikut berteriak Kini keduanya sudah saling berhadapan, dengan sosok cowok yang tidak di kenal sebagai wasitnya. Cowok itu melempar bola keatas, Sella dan Raja dengan sigap melompat untuk mengambil alih bola basket tersebut. Bola kini sudah ada di tangan Raja, dengan segera lelaki itu mendribble bola menuju ring lawan. Sella dengan semangat juang untuk merebut bola yang ada di tangan Raja. Permainan mereka cukup mengundang perhatian orang banyak, kini pada pinggiran lapangan sudah ada banyak orang yang berderet melihat aksi dua insan yang saling memperebutkan bola. Tanpa memperdulikan rasa sakit pada perutnya yang kian menjalar, Raja dengan segera melempar bola menuju ring. Pluk! Bola masuk dengan mulus pada detik-detik terakhir permainan sebelum usai. Skor mereka imbang, Raja segera merebahkan tubuhnya pada lantai semen, memejamkan matanya dia mengatur nafas yang memburu dan rasa sakit yang menjalar pada perutnya itu. "Lo enggak papa?" tanya Sella yang melihat wajah pucat Raja. "Enggak papa kok!" sahut Raja masih tiduran pada lantai semen. "Muka lo pucet, beneran lo enggak papa?" tanya Sella khawatir. "Enggak usah khawatir gitu. Mungkin ini efek gue kecapean, udah lama juga gue enggak main basket kayak gini." Raja bangun dari tidurannya, kini dia menatap Sella yang menatapnya khawatir. "Jangan natap gue kayak gitu. Im fine, trust me!" Raja mengusap dahi Sella yang mengkerut itu. "Beneran?" tanya Sella sekali lagi. "Beneran Sella! Sekali lagi lo nanya gue buang lo ke rawa-rawa!" kesal Raja dengan Sella yang banyak tanya itu. "Ya kan gue khawatir b**o!!" ujar Sella ikut kesal juga. "Acie khawatir, padahal kita enggak ada apa-apa!" ledek Raja. "Buat khawatir sama orang itu apa harus ada apa-apanya gitu?" tanya Sella menatap Raja datar "Ya enggak sih!" sahut Raja menggaruk tengkuknya. "Gue khawatir sama lo karena gue udah nganggep lo kayak temen gue sendiri!" ujar Sella. "Jadi sekarang kita temenan?" tanya Raja menatap Sella dalam. "Why not!" sahut Sella enteng "Teman?" Raja menaikkan jari kelingkingnya tepat didepan wajah Sella. "Teman!" Sella menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Raja dan tersenyum. Raja tak pernah berpikir akan berteman dengan Sella si kapten basket putri ini. Walau dulu dia sering bertegur sapa dengan gadis didepannya ini tapi, tak pernah sekalipun dia memiliki niat untuk berteman baik dengannya. Tapi sekarang malah dia sendiri yang menawarkan pertemanan pada gadis itu. *** "Raja! Saya ingin berbicara sebentar! Apa kamu ada waktu?" tanya coach Rangga yang bertemu dengan Raja. "Bisa coach, kebetulan kelas saya lagi jam kosong!" sahut Raja "Kita bicara di lapangan basket indoor saja!" Raja mengikuti coach Rangga menuju lapangan indoor di sekolahnya. SMA Anak Bangsa memiliki beberapa lapangan seperti lapangan basket indoor dan outdoor, lapangan futsal, lapangan voli dan lapangan untuk badminton pun ada. Di lapangan indoor hanya ada beberapa orang saja itupun adalah pemain inti basket putra yang sedang ah Raja tidak tahu juga karena dia tidak jelas melihatnya. Coach Rangga mengajak Raja untuk duduk di kursi penonton. "Langsung aja ya, saya enggak mau bertele-tele. Apa alasan sebenarnya kamu mengundurkan diri dari kapten basket? Padahal kamu sendiri tahu kalo bulan depan kita bakalan ada turnamen, dengan kamu mengundurkan diri tiba-tiba kayak gini membuat saya kelimpungan untuk mencari pengganti kamu!" ujar Coach Rangga. "Saya ngundurin diri kan udah dari 3 bulan yang lalu coach!" sahut Raja. "Seharusnya dengan waktu tiga bulan kemarin, coach sudah menemukan pengganti saya." Raja melanjutkan perkataannya, matanya menangkap beberapa anak cheers mulai memasuki area lapangan. Mungkin mereka akan latihan karena lapangan indoor biasa digunakan oleh anak cheers. "Kamu kira mencari pengganti seperti kamu itu gampang?" tanya coach Rangga. "Kalaupun ada yang seahli kamu, saya yang tidak yakin. Karena modal ahli di lapangan itu tidak cukup, harus diimbangi dengan attitude yang baik. Saya tidak ingin tim basket kita hancur karena punya kapten yang tak berattitude apalagi yang temperamental, dikit-dikit berantem." Coach Rangga melanjutkan. "Tapi mau bagaimana lagi coach, saya sudah tidak bisa menjadi kapten basket lagi!" sahut Raja "Apa alasan kamu Raja? Kasih saya alasan yang meyakinkan!" ujar Coach Rangga. "Saya sakit coach! Saya sekarang bertahan hanya dengan satu ginjal di tubuh saya!" sahut Raja melemah. "Salah satu ginjal saya rusak, beberapa bulan yang lalu saya melakukan operasi pengangkatan ginjal." lanjut Raja. "Maaf karena saya baru mengatakan sekarang alasan saya mengundurkan diri dari tim basket sekolah!" "Kenapa enggak bilang dari waktu itu Raja?" tanya Coach Rangga. "Saya waktu itu tidak mau ada yang tahu kalau saya sedang sakit," sahut Raja. Keduanya kini terdiam, Raja yang diam memikirkan hidupnya sedangkan Coach Rangga yang diam entah apa yang di pikirkan oleh lelaki itu. Karena cukup lama keterdiaman mereka, Raja pamit untuk kembali ke kelasnya padahal jam istirahat bentar lagi berbunyi. Melangkahkan kakinya menyusuri area lorong, Raja menolehkan kepalanya saat melihat Sekala yang bermain futsal dengan teman-temannya. Senyum itu merekah di bibir milik Sekala saat di berhasil mencetak poin untuk timnya. "Sekarang lo udah bisa main futsal seperti apa yang lo inginkan dulu dek!" gumam Raja lalu melangkahkan kakinya terus. *** "Sella!" Sella yang sedang berjalan sendirian di koridor dengan segera membalikkan badannya saat ada yang memanggil namanya. Segaf si ketua osis terlihat berdiri dengan jas osis miliknya. "Kenapa?" tanya Sella menaikkan sebelah alisnya. "Pulang sekolah lo free nggak?" tanya Segaf pada Sella. "Pulang sekolah gue mau latihan, kenapa?" "Oh okey. Gue kira lo free nanti, baru aja mau ngajak keluar!" sahut Segaf "Sorry ya, gue enggak bisa. Mungkin lain kali, kalo gitu gue duluan ya!" pamit Sella Segaf yang ditinggal sendiri pun hanya bisa melanjutkan kembali langkahnya menuju kelas yang berbeda dengan Sella. "Susah banget deh ngajak lo keluar! Pasti ada aja alasan lo nolak!" gumam Segaf menatap kepergian Sella. "Segaf! Udah di tungguin pak Imron tuh diruang osis!" teriak Karlina dari belakang Segaf. Segaf menganggukkan kepalanya, dia dengan segera menghampiri Karlina. Beralih pada Sella yang saat ini sudah duduk anteng di kursi duduknya. "Bu Naya belum dateng?" tanya Sella pada Audi disampingnya "Katanya bentar lagi kesini, beliau bilang masih ada urusan sama kepala sekolah!" sahut Audi. Hingga tak lama Bu Naya datang dengan setumpuk buku paket dalam dekapannya, di belakang Bu Naya ada sosok lelaki yang sudah mereka kenali tentunya. Dia Raja Mehaswara, siapa sih yang enggak kenal dengan yang namanya Raja Maheswara. Kapten basket ah ralat mantan kapten basket karena lelaki itu mengundurkan diri dari jabatan kapten basket. Udah ganteng, ramah dan penyabar lagi, gimana enggak pada kepincut siswi yang ada di SMA Anak Bangsa ini. "Makasih ya Raja!" ujar Bu Naya kepada Raja. "Sama-sama bu!" sebelum keluar dari kelas Sella, Raja menyunggingkan senyumnya mengapa gadis yang duduk di bangku samping dekat dengan jendela, siapa lagi kalo bukan oknum yang bernama Sella Pratiwi kapten basket putri itu. Sella menyunggingkan senyumnya membalas senyum manis milik Raja, sayang kalo enggak di bales. Kapan lagi dia di senyumin kayak gitu. "Ehem! Saling lempar senyum nih ye! Ada apa gerangan sih kawan?" tanya Audi jahil kepada Sella. "Enggak ada apa-apa, cuma temen doang!" sahut Sella yang matanya masih menatap kepergian Raja. "Enggak ada apa-apa kok natepnya kayak gitu sih. Rajanya aja udah enggak kelihatan tapi masih aja dilihatin!" ujar Audi masih gencar. "Dibilangin juga malah enggak percaya! Terserah lo aja sih!" sahut Sella malas dan kini menatap Bu Naya yang menjelaskan di depan kelas. Setelah dua jam pertemuan terakhir dan bel pulang pun berbunyi yang artinya mereka sudah harus bersiap untuk mengakhiri pertemuan hari ini. "Materi yang ibu kasih sampai disini dulu. Mingu deoan kita tes materi yabg hari ini, kalian jangan lupa belajar!" ujar Bu Naya. "Ibu duluan!" ujar Bu Naya lalu keluar dari kelas Sella. "Barengan nggak nih?" tanya Audi pada Sella. "Duluan aja gue mau latihan!" sahut Sella pada Audi "Yaudah bye!" "Hati-hati," ujar Sella yang diangguki oleh Audi. Sella menyampirkan tas gendong miliknya pada bahu kirinya, dengan segera dia menuju loker untuk berganti pakaian lalu setelahnya menuju lapangan out door. Disana sudah ada beberapa gadis yang tergabung dalam inti basket putri, dengan segera Sella bergabung diantara mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD