Chapter 02

1520 Words
Bel istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari dalam kelas. Mereka berlomba-lomba untuk bisa ke kantin lebih dulu daripada yang lainnya. Tentunya tidak bagi seorang Raja, dia dengan santai keluar kelas tanpa berdesak-desakan karena semua anak kelasnya sudah keluar, begitu juga dengan Satyo yang mungkin saja sudah berada dikantin dan memesan makanan. Langkah kakinya pelan menyusuri area lorong yang menghubungkan kantin dan toilet itu. "Kak Raja!" panggil seseorang membuat Raja menghentikan langkah kakinya. Seorang remaja putri terlihat menampilkan senyumnya, Raja dengan senang hati membalas senyum manis itu. "Kenapa Ran?" tanya Raja pada gadis yang bernama Rania itu. "Aku bawa bekal buat kak Raja, di terima ya!" Rania menyodorkan paperbag berwarna coklat itu pada Rania. Raja menerimanya dengan senang hati, di bukanya paperbag itu. Dapat Raja lihat kotak makan bening itu menampilkan nasi kuning yang berisi didalamnya, tak lupa ada smoothies stroberry pada botol minuman bening itu. "Makasih Ran, sebenarnya kamu enggak usah repot-repot kayak gini. Besok enggak usah di bawain lagi ya!" ujar Raja pada Rania. "Enggak repot kok Kak, lagian Mama seneng banget waktu aku bilang mau bawain kakak bekal." Rania menjawab dengan nada yang pelan "Bilang makasih ke Mama kamu ya! Kakak duluan ya Ran!" pamit Raja pasa Rania. Rania tersenyum mengiringi kepergian Raja menuju kantin. Dengan hati yang berbunga-bunga karena bekal yang dia bawa di terima oleh Raja -kakak kelas yang sudah lama Rania kagumi itu. Rania melangkahkan kakinya riang menuju kelasnya. "Dari Rania lagi?" tanya Satyo pada Raja yang baru saja tiba di kantin "Iya." Raja menyahut singkat, dia menaruh paperbag itu diatas meja. "Nasi kuning + smoothies strawberry," ujar Satyo yang sudah hapal apa yang ada di dalam paperbag itu. "Enggak bosen emangnya Ja?" tanya satyo lagi. "Enggak. Nasi kuning buatan Mamanya Rania kan enak, lo pernah cobain kan?" ujar Raja menaikkan alisnya sebelah. Raja mulai menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya. Masih tetap enak seperti biasanya, Raja tidak pernah bosan padahal sudah hampir setiap hari dia memakannya. "Enak sih enak, kalo tiap hari kan bisa aja eneg Ja!" sahut Satyo menyuap bakso yang dia beli sebelum ke datangan Raja. "Tapi gue kagak tuh!" ujar Raja menaik-turunkan kedua bahunya. Dia kembali fokus dengan menyuap nasinya dan sesekali menyeruput smoothies itu. "Coach Rangga masih nanyain perihal lo mundur dari jabatan kapten basket!" Satyo tiba-tiba membahas tentang masalah kemundurannya menjadi kapten basket. "Bilang aja kalo gue enggak mau jadi kapten basket lagi!" sahut Raja enteng. "Udah gue bilang berkali-kali kayak gitu, tapi coach Rangga enggak mau percaya. Dia malah nuduh kalo gue bohong padahal emang bener bohong sih!" ujar Satyo mendengus. "Yaudah nanti gue bilang ke coach Rangga sendiri!" sahut Raja menutup kotak makan yang sudah habis isinya itu, memasukkannya kembali ke dalam paperbag. "Minta airnya dong!" pinta Raja pada Satyo. Satyo memberikan sebotol air mineral yang sengaja dia belikan untuk Raja. Raja mengeluarkan beberapa tablet obat yang harus dia konsumsi hari ini. Raja memasukkan beberapa butir obat kedalam mukutnya sekaligus, Raja memejamkan matanya menahan rasa pahit yang mendera lidahnya. "Bosen enggak Ja?" "Ditanya bosen enggaknya ya gue bosen lah, kalo bisa mah gue kagak mau konsumsi nih obat," sahut Raja meneguk sekali lagi air mineral itu untuk menghilangkan rasa pahit yang menjalar pada permukaan lidahnya. *** Dari kursi tribun bagian atas, Raja menselonjorkan kedua kakinya diantara kursi yang berderet disampingnya. Dari atas sini Raja menatap beberapa laki-laki berseragam basket sedang latihan, jika biasanya Raja akan bersemangat ikut latihan basket maka sekarang Raja hanya bisa menatap segerombolan orang itu tanpa minat untuk bergabung. "Enggak gabung lo?" tanya Sella kapten basket putri. "Bosen!" sahut Raja singkat tanpa mau menatap Sella yang kini sudah duduk diujung kakinya dengan seragam basket dan handband yang melingkar pada lengan kirinya. "Gue denger lo ngundurin diri dari jabatan kapten basket, kenapa?" tanya Sella, dia memang tidak terlalu akrab sebenarnya dengan Raja tapi tidak terlalu asing juga jika untuk sekedar menyapa dan berbicara santai. "Gue mau fokus belajar biar bisa nembus besiswa ke Harvard," sahut Raja beralibi, padahal jika mau Raja tidak perlu belajar terlalu giat karena sejatinya dia sudah pintar. Beasiswa? Raja sebenarnya tidak memerlukannnya karena kedua orangtuanya masih bisa membiayai dia untuk kuliah disana. "Alasan lo, gue tahu itu bukan alasan utama dari kemunduran lo dari jabatan kapten basket putra!" sahut Sella tak percaya begitu saja dengan omongan Raja. "Walaupun gue enggak terlalu kenal sama lo, tapi gue tahu lo memiliki tekad kuat buat jadi atlet basket. Itu terlihat dari kegigihan lo waktu bermain basket dulu," lanjut Sella. "Gue enggak maksa buat lo ngasih tahu ke gue alasan pastinya kenapa lo mundur dari jabatan kapten basket putra." "Gue kebawah ya." Sella menepuk pelan pundak Raja sebelum dia benar-benar turun menuju lapangan. Raja menatap kepergian Sella, rambut panjang yabg di kuncir itu terlihat berayun kanan-kiri seiring dengan langkah ceria gadis itu. "Ada hal yang memang enggak perlu lo tahu," gumam Raja. Karena bosan menatap segerombolan anak bermain basket, Raja mulai melangkah pergi dari tribun itu. Langkah kakinya membawa dia pada gerbang sekolah. "Sekala berantem sama Dion!" ujar seseorang yang lewat disamping Raja. "Masalah Rania lagi kan?" tanya teman disampingnya. Raja yang mendengar nama Sekala dan Rania disebut dengan perlahan mulai mengikuti kedua lelaki itu. "Iyalah, apalagi kalo bukan tentang Rania. Si Sekala kan demen banget sama Rania tapi sayang, Rania nya kagak!" Raja menghentikan langkahnya, kini dia tidak dapat mendengar pembicaraan kedua lelaki itu lagi. Raja membalikkan badannya, gotcha! Sekala keluar dengan wajah babak belur dan ada Rania disampingnya. "Berantem sama siapa?" tanya Raja pada Sekala, padahal dia sudah tahu tapi masih saja Raja memilih untul bertanya "Mau sama siapapun Sekala berantem, abang enggak perlu tahu!" desis Sekala mengusap ujung bibirnya yang berdarah. "Sekala jangan gitu! Itu abang kamu, jawabnya yang sopan dong!" tegur Rania pada Sekala. "Maaf kak, Sekala berantem itu karena Rania," lanjut Rania menatap Raja yang menampilkan wajah datar nya. "Lo enggak usah minta maaf, ini bukan salah lo. Gue berantem emang karena gue ada masalah sama Dion!" ujar Sekala mendelik pada Rania yang malah meminta maaf. "Ayo gue anter pulang!" Sekala menarik tangan Rania dan membawanya pergi dari hadapan Raja. Rania melambaikan tangannya berpamitan dengan Raja, Raja hanya menyunggingkan senyumnya menatap kepergian kedua adik kelasnya itu. Raja menyetop taxi yang kebetulan lewat di depannya, berhubung taxi itu tidak ada penumpangnya maka Raja sekarang yang menumpang. "Jalan pak!" ujar Raja menyuruh sopir taxi untuk segera berjalan "Pak tunggu! Saya mau naik juga!" teriakan nyaring dari belakang mobil taxi membuat Raja meminta sang sopir untuk segera berhenti. Sella, ya orang yang berteriak meminta sopir taxi untuk berhenti itu adalah Sella. Dengan segera Sella berlari menghampiri taxi yang sudah berhenti itu. Tok! Tok! Tok! Sella mengetuk kaca mobil bagian belakang tepat Raja duduk disebelahnya. Raja dengan segera menaikkan sebelah alisnya menatap Sella. "Gue nebeng boleh nggak? Sampe bengkel depan perempatan doang kok!" ujar Sella meminta untuk Raja mau menebengi dirinya sampai bengkel depen perempatan jalan. "Boleh! Naik!" sahut Raja yang dengan segera Sella menuju pintu sebelah lagi. Sella dengan anteng duduk di sebelah Raja. Didalam mobul hanya ada keheningan, suara-suara klakson yang ada di luar menjadi backsound atas keterdiaman mereka. "Pak! Berhenti disini aja enggak papa!" ujar Sella menyetop taxi agar berhenti tak jaub dari tempat yang dia katakan tadi. Taxi berhenti sekitar 10 meter dari bengkel besar yang ada di pinggir jalan perempatan. Sella dengan segera turun setelah membayar ongkos taxi. "Thanks buat tebengannya!" ujar Sella sebelum benar-benar pergi. Raja hanya menganggukkan kepalanya, dia segera meminta sang sopir taxi untuk segera melaju menuju rumahnya. "Bisa nggak kalo setiap Raja pulang sekolah Mama sama Sekala jangan berantem kayak gini?" tanya Raja yang sudah jengah dengan keributan antara Mama dan adiknya itu. Selalu saja setiap pulang sekolah akan ada keributan yang menanti untuk dia dengar seperti sekarang. "Kamu Sekala! Masalah kecil kayak gini kamu gede-gedein, kalo kamu enggak suka sama menu makan siang yang Mama buat ya jangan dimakan simpel toh, enggak usah ribut sampai banting piring kayak gini!" "Mama juga! Mama tuh punya anak cowok dua, yang harusnya mama perhatiin kita dengan seimbang jangan berat sebelah kayak gini. Kalo udah ribut kayak gini, siapa yang mau di salahin. Sekala yang merasa mama pilih kasih atau siapa?" tanya Raja menatap sang Mama. Intonasi suara Raja tidaklah nyaring dan keras, Raja berkata dengan suara yang lembut dan pelan. "Mama kalo masak menu makan siang, ya jangan mikirin bang Raja doang. Pikirin Sekala juga yang suka apa dan mau makan apa, Sekala juga anak Mama kan yang perlu Mama perhatiin bukan cuma bang Raja doang!" ujar Sekala pada akhirnya, wajah lelaki itu masih ada memar dan bagian sudut bibirnya juga masih nampak kemerahan. "Udah! Mama udah masakin makanan kesukaan kamu Sekala, tapi apa? Kamu enggak pernah mau makan apa yang Mama buatin!" sahut Andin "Mama lupa kalo Sekala alergi udang? Kalo Mama inget, Mama enggak bakalan masak udang buat makan siang kita!" ujar Sekala keras lalu meninggalkan sang Mama. "Raja mau ke kamar!" pamit Raja pada akhirnya, dia terlalu lelah untuk hari ini. "Kamu harus makan dan minum obat Raja!" "Raja engga laper, nanti Raja makan roti sebelum minum obat!" sahut Raja lalu melengos begitu saja meninggalkan sang Mama yang ada di ruang makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD