Author Pov.
Sesampainya di kantor Xander segera di sibukan dengan berbagai macam dokumen dan juga meeting dengan beberapa manajer, Xander kira tadi hanya menaanda tangani beberapa kesepakatan kerja sehingga dia mengajak Kezia, namun ternyata dia harus meeting juga, semoga saja Kezia tidak merasa bosan dia tinggal sendiri di ruangannya.
Kezia yang merasa bosan di tinggal Xander sendirian di ruangannya memilih untuk jalan jalan di kantor Xander, siapa tau dia dapat teman atau mungkin dia bisa mengamati bagaimana kerjanya karyawan Xander.
Kezia dengan tenang jalan jalan mengabaikan para staf yang melihatnya, dia bahkan tidak perduli dengan bisikan bisikan karyawan di belakangnya, menurutnya hal itu memang tidak pantas untuk di perdulikan.
***
Jam dua belas Xander selesai meeting dengan manajer, dia segera pergi ke ruang kerjanya, dia meninggalkan Kezia lebih dari satu jam, Xander yakin jika istrinya akan mengalami kebosanan.
Sesampainya di ruang kerja Xander tidak menemukan keberadaan Kezia sama sekali, Xander segera menelfon Kezia.
“Key, kamu dimana?.” Tanya Xander, dia khawatir Kezia kenapa kenapa, apa lagi dia sedang hamil.
“Aku di kantin, lagi makan pecel, enak banget dehhh, sini nyusul…” Jawab Kezia,
Xander sampai di kantin, ini jam makan siang, banyak karyawan yang makan siang disini atau hanya sekedar mengobrol sambil menikmati kopi.
Xander melihat Kezia yang duduk sendirian di dekat taman, Xander segera menghampiri Kezia, beberapa karyawannya menyapa Xander, namun Xander hanya mengangguk sambil berjalan menghapiri istrinya itu.
“Keyyy…” Xander langsung duduk di hadapan Kezia.
“Hyyy suami, udah selesai meetingnya?,” Tanya Kezia, di meja ini sudah tersedia beberapa makanan Xander tidak yakin Kezia mampu menghabiskan semua ini, namun melihat lahapnya Kezia makan Xander jadi sangsi jiak Kezia tidak mampu menghabiskan makanannya.
“Hemmm… kamu ngapain disini?,” Tanya Xander, walau dia tau Kezia sedang makan, namun dia tidak tau Kezia makan apa.
“Aku lagi makan, ini namanya nasi pecel, kamu harus cobain dehh,, Aaaa,,,, ayo buka mulutnya.” Xander dengan terpaksa membuka mulutnya, baru kali ini dia mencoba makanan ini, dia lupa namanya, namun rasanya pas, perpaduan atara sayur, nasi dan saus kacangnya sangat enak, pas di lidahnya.
“Gimana enak?,” Tanya Kezia meminta pendapat Xander.
“Emmmm, lumayan sih,,” Jawab Xander, bpadahal sih enak, Cuma ya masa iya Xander boss besar di perusahaan ini makan makanan kantin sih.
“Kamu mau makan apa?,” Tanya Kezia pada Xander, Kezia tau, sedari pagi Xander sudah sibuk mengurus ini itu, di tambah lagi Xander tadi meeting juga, pasti dia kelaparan.
“Enggak tau, aku enggak biasa makan di kantin, pesenin apa aja yang kiranya aku mampu makan,” Jawab Xander sambil meminum jus alpukat milik Kezia, tanpa minta pada Kezia, Kezia sendiri hanya menatap Xander dengan tatapan sebalnya.
Kezia memesankan Xander ayam bakar bumbu balado, dan salad buah, lalu untuk minumnya Kezia memesan jus jeruk, dia juga memesan jus alpukat untuknya karena minumnya sudah di habiskan Xander.
Xander menikmati makan siangnya dengan lahap, tidak sia sia dia mengizinkan bagian personalia untuk membuka kantin di kantor ini, makanan disini cukup lezat dan tempatnya cukup bersih, apa lagi ada pepohonan di sebelah kantin yang membuah udara segar walau di siang hari.
“Gimana enak enggak?,” Tanya Kezia setelah Xander selesai makan nasi ayam bakar bumbu balado, sedangkan Kezia sedang makan siomay, Xander juag baru tau kalau makanan yang dimana Keiza namanya siomay, dan rasanya cukup enak, ada saus kacangnya lagi, sama seperti pecel kalau tidak salah.
“Lumayan tapi pedas sihh ayam bakarnya.” Kezia mengangguk, iya lah pedas, namanya juga balado, yang manis ya dirinya lah, siapa lagi kalau bukan Kezia.
“Yaudah bayar, habis ini kita ke ruangan kamu lagi, aku ngantuk, kayaknya tidur siang enak,,” Xander mengangguk, dia dan Kezia melangkah ke kasir, membayar makanannya yang cukup banyak, siapa lagi yang makan kalau bukan Kezia.
Xander tidak menyangka jika semua makanannya tidak sampai seratus ribu, sungguh murah sekali makanan di kantin ini, apa mereka para penjualnya mendapatkan untung?.
***
Kezia benar benar langsung tidur di kamar pribadi milik Xander, sedangkan Xander kembali melanjutkan kerjanya, agar dia bisa pulang tepat waktu syukur syukur dia bisa pulang awal, kasihan jika Kezia disini sampai sore, tapi tidak masalah juga sih kamar tidurnya juga nyaman untuk di tidurin Kezia.
Kezia merasa haus, hingga dia bangun dari tempat tidurnya, tidak ada air minum di meja samping tempat tidurnya, terpaksa Kezia keluar dari kamar pribadi milik Xander. Xander yang fokus membaca dokumen segera mengalihkan pandanganya pada Kezia yang keluar dari kamarnya.
“Udah bangun?,” Tanya Xander, padahal Kezia sudah berjalan ke sofa, masih aja ditanya sudah bangun. Xander, Xander….
“Aku haus,,,” Jawab Kezia, dia segera duduk di sofa, sambil memejamkan matanya.
“Aku ambilkan dulu, kamu tunggu disini ya,” Xander segera ke pantry yang berada di luar, biasanya dia akan menyuruh Naomi sekertarisnya untuk membuatkan kopi ataupun minuman lainnya, namun kali ini dia yang mengambilkan minum untuk istrinya.
Xander datang dengan segelas air putih dan juga satu botol air mineral, untuk jaga jaga jika Kezia membutuhkan air lagi, biar dia tidak bolak balik keluar.
“Makasih suami…” Ucap Kezia, ketika Xander menyodorkan segelas air padanya, Kezia segera meneguk air di dalam gelas itu hingga tandas.
“Sama sama istri…” Xander bukannya kembali melanjutkan pekerjaannya, dia memilih untuk ikut duduk di samping Kezia, bahkan tangannya Xander tak segan segan untuk mengelus perut Kezia yang mulai membesar, Kezia netu saja langsung bersender di bahu Xander.
“Hai little Xander, gimana kabarmu hari ini?, apa kamu rewel didalam sana?, little Xander, ini daddy, kamu jaga Mommy ya, sehat sehat disana Daddy menanti kelahiranmu…” Xander bermonolog pada perut Kezia. Kezia jangan di tanya, dia sangat sangat merasa bahagia Xander bisa berada di sampingnya, dia merasa cukup dengan semua yang dia miliki, ada keluarga yang menyayanginya, ada suami yang perduli padanya, ada janin di perutnya yang tumbuh tiap hari, membuat Kezia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, ya ini devinisi Bahagia menurut Kezia.
“Aku mencintaimu Kezia Natarina Wiryanagara Spindler Timothy.” Xander mengecup kening Kezia beberapa kali lalu mencium bibir Kezia, melumatnya sebentar, dia takut khilaf, apa lagi saat ini mereka sedang di kantor, bisa turun pamornya sebagai boss tegas dan galak ketahuan enaena di kantor dengan istrinya, walau sebenarnya enggak masalah sih, toh mereka sudah halal.
“Aku juga mencintaimu suamiku, Xander Frangklin Timothy.” Balas Kezia.
***
Kezia dan Xander tidak langsung pulang ke mansionnya, karena Natarina ingin mengajak mereka makan malam bersama di mansionnya, sehingga mereka berdua langsung ke mansion Orlando.
Kezia membantu Natarina dan koki untuk masak makan malam, sedangkan Orlando dan Xander, mereka sedang menikmati kopi di teras belakang, sambil berbicara tentang bisnis Xander saat ini yang sudah mulai membaik pasca di sabotase Martin satu bulan yang lalu.
Elmira yang baru pulang dari magang di kantor perusahaan Orlando kaget ketika melihat Kezia dan Nata sedang asik masak di dapur, Elmira segera menghampiri dua wanita beda generasi itu.
“Mom, Kak Key..” Elmira memeluk dua wanita itu satu persatu,
“Ihhhh. El bau deh, sana mandi dulu dek.” Kezia sudah membiasakan diri memanggil Elmira dengan Dek, atau Adek, karena Elmira bukan lagi adik iparnya namun anak Orlando dan Natarina juga.
“Iyaa, iya,, Kak Key, yaudah El ke kamar dulu,” Elmira langsung pergi kekamarnya meninggalkan Natarina dan Kezia di dapur.
“Mom, El kayaknya betah bengt ya disini?,” Tanya Kezia, karena selama ini Elmira lebih memilih tinggal di mansion Orlando dari pada tinggal di mansion Xander.
“Mommy sih enggak tau, Mommy hanya mencoba membuat Elmira nyaman disini dan memberikan kasih sayang untuknya, selayaknya orang tua pada anaknya,” Kezia hanya mengangguk sambil mengusap usap perutnya, yang mulai membuncit itu, semoga saja nanti anak anaknya selalu emndapat kasih sayang dari kedua orang tuanya.
“Mom, pernikahan Keenan dan Letisha semakin dekat, apa Keenan baik baik saja?.” Tanya Kezia pada Natarina, Kezia hanya takut Keenan tertekan dengan orang orang disekitarnya yang memaksanya menikah dengan Letisha, apa lgai Keenan tentu tidak bisa kabur karena pengawalan semakin di perketat.
“Mommy kurang tau, namun Mbak Tyas bilang kalau Keenan lebih suka di perpustakaan atau di kamarnya, walau dulu memang Keenan seperti itu, namun saat ini Keenan bahkan jarang berkumpul dengan Mas Dewa dan Mbak Tyas.” Kezia hanya menghela nafasnya, sepupunya itu memang sangat pendiam, jika ada masalah memang selalu dia pendam sendiri, Kezia yakin jika saat ini Keenan sedang kalut, dia pasti butuh orang untuk berkeluh kesah.
“Mom, Key tau siapa wanita yang di cintai Keenan, namun Paman Dewa dan keluarga pasti menentang hubungan mereka, apa lagi wanita itu bukan wanita terhormat seperti Letisha ataupun yang lain,,” Kezia mengetahui jika Keenan memiliki hubungan dengan salah satu penyanyi yang sering menyanyi di pendopo lawas dekat dengan keraton di bagian utara.
“Memang dia siapa Nak?,” Tanya Natarina Penasaran.
“Setau aku dia salah satu mahasiswi di UGM, kalau enggak salah dia orang Bangka Belitung, tapi dia bukan dari kalangan, yahhh,, Mommy tau sendiri keluarga Kesultanan itu gimana kalau mencari calon, harus bibit bebet dan bobotnya setara dengan mereka.” Jawab Kezia, Natarina diam, keluarganya memang keluarga yang sangat sangat dihormati, jika salah satu anak atau cucu dari mereka menjalin hubungan dengan orang yang tidak satu level dengan mereka maka tidak ada restu, gunjingan dan hujatan pasti ada.
“Key, kamu jangan merencanakan hal hal yang membuat Paman Dewa marah, Mommy tau kamu dan para sepupu yang lain tidak menyukai pernikahan Keenan dan Letisha, tapi Mommy mohon kamu jangan membuat ulah lagi, Eyang sudah tidak ada, jadi tidak ada yang membela kamu dan Sepupu kamu, jika kalian melakukan kesalahan,” Kezia hanya mengangguk, padahal dalam isi kepalanya sudah menyusun berbagai rencana untuk membatalkan pernikahan Keenan dan Letisha. Tapi sayang Mommynya sudah menegetahui terlebih dulu isi fikiran dalam kepalanya.