Bagian 15

1324 Words
Sean mendesah pelan melihat hujan yang turun semakin deras. Padahal sampai beberapa menit yang lalu cuacanya masih sangat cerah, tapi tiba-tiba saja langit menjadi gelap dan hujan turun dengan sangat deras. Sean duduk dengan memeluk kedua lututnya. Dia memang benci cuaca yang panas, tapi Sean juga tidak suka dengan cuaca seperti ini. Dingin dan lembap. Sial. Gadis itu lantas menoleh pada Seungha, menatap pemuda itu dengan tajam. Jika saja Seungha tidak mengajaknya bersepeda, dia pasti masih berada di dalam kamarnya dan tidur dengan nyaman. “Dasar menyebalkan,” gumam Sean pelan. Seungha bisa mendengar dengan jelas bahwa Sean baru saja mengeluh, tapi apa yang terjadi pada mereka saat ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Saat mengajak Sean bersepeda tadi matahari bersinar dengan cerah, mana tahu Seungha jika akan turun hujan seperti ini. Dia bukan seorang peramal cuaca. Keduanya lalu menghela napas bersamaan, sama-sama menatap kosong pada rintik hujan yang sepertinya tidak akan segera berhenti. “Kau suka hujan?” tanya Seungha setelah hening selama beberapa saat. “Tidak,” jawab Sean singkat. Bukan karena benci tubuhnya basah karena air hujan, tapi karena hujan sendiri membawa kenangan yang menyakitkan bagi Sean. Hujan turun dengan deras ketika Sean mengalami kecelakaan yang akhirnya merenggut balet dari dunianya. Karena itu dia membenci hujan. Sean merasa, hujanlah salah satu penyebab dirinya kehilangan balet, hal yang berharga dalam hidupnya. “Aku juga,” balas Seungha lalu menghela napas. Bagi pemuda itu, hujan juga menyimpan kenangan yang menyakitkan. Dia kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya saat hujan turun. “Kenapa kau tidak menyukai hujan?” Sean menoleh ke arah pemuda itu sambil menatap sebal. “Sepertinya aku tidak perlu memberitahumu apa alasanku tidak menyukai hujan.” “Kenapa?” “Karena kau orang asing.” Seungha terkekeh pelan mendengar ucapan Sean. Hampir dua minggu saling mengenal, gadis itu masih menganggapnya sebagai orang asing. Padahal dia sudah susah payah mendekati Sean agar bisa berteman dengan gadis itu. “Apa yang harus aku lakukan agar status orang asingku ini berubah menjadi teman untukmu?” “Jangan lakukan apa pun, karena aku tak berniat berteman denganmu,” balas Sean sinis. Gadis itu memang tidak berniat berteman dengan Seungha sejak awal. Selama ini Sean terpaksa harus terlibat dengan pemuda itu, seperti yang terjadi hari ini. Seungha dengan kurang ajar menculiknya dan membuatnya terjebak bersama pemuda itu di dalam gazebo ini. “Apa yang tak kau suka dariku? Bukankah selama ini aku bersikap ramah padamu?” Nada bicara Seungha berubah serius. Jujur, ingin tahu kenapa Sean sangat tak menyukainya dan selalu menyebutnya menyebalkan. “Semuanya,” jawab Sean jujur. “Kau mungkin bisa menipu semua orang, tapi aku tahu kau itu sebenarnya bermuka dua.” “Bermuka dua?” “Kau menyembunyikan sifatmu yang sesungguhnya di balik senyum kapitalismu itu.” Seungha terkejut mendengar bagaimana pendapat Sean tentang dirinya. Hanya sebentar, karena setelahnya Seungha mengalihkan pandangan, menatap lurus pada rintik hujan. Meski terkejut, Seungha tak berusaha menampik pendapat Sean tentang dirinya. Walau sebenarnya tak semua penilaian Sean terhadap dirinya adalah benar. *** 30 menit berlalu, tapi hujan tak kunjung reda. Justru turun semakin deras. Sean meraba saku celananya, mencari ponselnya untuk memberitahu kakek dan neneknya jika dia diculik oleh Seungha dan sekarang terjebak di gazebo bersama pemuda itu. Gadis itu mendesah pelan, saat tak menemukan ponselnya di saku celana. Sean baru ingat jika dia meninggalkan benda itu di kamar. Sial. “Kau mau pulang sekarang?” ajak Seungha. Pemuda itu akhirnya bersuara lagi setelah hanya diam saja sejak mendengar pendapat Sean tentangnya. “Kau mau basah kuyup?” balas Sean sewot. Hujan masih turun dengan deras. Jika pulang sekarang, itu artinya mereka akan pulang dengan keadaan basah kuyup. Sean jelas tidak mau. “Memangnya kau mau terus menunggu di sini sampai malam?” Sean menelan ludah, menatap langit yang sebelumnya berwarna abu-abu kini mulai menghitam. Pulang dengan keadaan basah kuyup memang hal yang buruk, tapi terjebak di sini sampai malam bersama Seungha itu jauh lebih buruk. “Tapi....” Sean menggantung kalimatnya. Ragu apakah ia harus setuju dengan ajakan Seungha untuk pulang menerobos derasnya hujan. Sean memang benci kehujanan, tapi bukan hanya itu. Sean takut terjadi sesuatu padanya jika ia menerobos derasnya hujan yang turun, seperti kecelakaan yang ia alami setahun lalu. Memang tak banyak kendaraan yang melintas di jalan desa seperti ini, tapi jalannya tetap licin. Serta tak ada yang menjamin bahwa mereka tak terluka saat pulang nanti. “Kau takut?” “Hah?” Pertanyaan Seungha itu membuat Sean menoleh. Dirinya memang takut, tapi harga dirinya yang tinggi membuat Sean tak mau mengaku. Jadi Sean memilih diam saja. “Tenang saja, aku akan pelan-pelan mengayuh sepedanya nanti,” kata Seungha sambil melepas jaketnya, memakaikannya ke kepala Sean lalu mengikat kedua lengan jaket itu di leher Sean. “Kau pakai ini saja. Memang akan tetap basah, tapi setidaknya bisa melindungi kepalamu dari rintik hujan.” Sean otomatis menahan napasnya, ketika Seungha mendekat padanya sambil mengikat kedua lengan jaket pemuda itu di lehernya. “Ayo.” Seungha naik lebih dulu ke sepedanya. Pemuda itu lantas membantu Sean naik dan duduk di frame sepeda. “Kita berangkat sekarang.” Seperti perkataannya, Seungha benar-benar mengayuh pedal sepedanya dengan pelan. Karena hujan jalanan itu memang jadi licin. Jadi, dia memang harus berhati-hati. Salah-salah, mereka bisa jatuh dan terluka. Jika dia bersepeda sendiri, mungkin Seungha akan mengebut. Namun, posisinya sekarang dia membawa anak orang. Jadi, Seungha harus memastikan Sean pulang dengan selamat. *** Sean menyipitkan mata, berusaha agar tetap bisa melihat di bawah rintik hujan yang turun. Gadis itu mempererat pegangannya pada stang sepeda. Hujan turun sangat deras, dan membuat jalanan menjadi licin. Jujur, gadis itu takut jika tiba-tiba sepeda Seungha ini tergelincir lalu mereka jatuh. Tapi kalian tahu, pemuda menyebalkan itu benar-benar menepati perkataannya tadi. Seungha mengayuh sepeda dengan pelan. Perbuatan pemuda itu membuat Sean agak tersentuh. Begitu sampai di depan rumah kakeknya, Sean turun dari frame sepeda, lalu menatap Seungha sejenak. Seperti ragu untuk mengatakan sesuatu. “Kalau begitu aku pergi sekarang. Kau cepat masuk sana, nanti bisa terkena flu.” “Tunggu.” Seungha yang hendak mengayuh sepedanya lagi itu berhenti saat Sean tiba-tiba bersuara. Padahal tadinya pemuda itu kira Sean akan langsung masuk ke dalam tanpa mengatakan apa-apa, seperti biasanya. “Ada apa?” “Terima kasih,” kata Sean pelan. Gadis itu harus menurunkan harga dirinya untuk mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Seungha sekilas tersenyum. Tidak menyangka kalau kata terima kasih bisa keluar dari mulut Sean. “Jaketmu?” kata Sean lagi, hendak melepas jaket Seungha di kepalanya. “Lain kali saja, yang satu juga belum kau kembalikan.” Sean ingat, masih ada satu jaket Seungha yang belum ia kembalikan. Jaket yang pemuda itu pinjamkan saat pertama kali mereka bertemu di sungai belakang bukit. “Sudah ya, aku pergi sekerang.” Sean menatap punggung Seungha yang menjauh dari rumah kakeknya. Berbeda dengan saat memboncengnya tadi, kali ini pemuda itu mengayuh sepedanya dengan sangat cepat. *** Dari dalam kamarnya, Sean menatap keluar jendela dan hujan masih turun dengan sangat deras di luar sana. Beruntung tadi dia setuju untuk pulang, meski harus basah kuyup. Jika tidak, pasti dirinya masih terjebak di gazebo itu sampai sekarang. Si muka dua? Sean bergegas mencari ponselnya. Dia ingin tahu bagaimana keadaan Seungha. Setelah mengantarnya pulang sampai sekarang, pemuda itu belum memberi kabar apa pun. Sean begini bukan karena khawatir. Mengingat Seungha pulang basah kuyup dan memakai kaos tipis, karena jaketnya dipinjamkan pada Sean, dia hanya ingin tahu saja bagaimana keadaan Seungha sekarang. Begitu ponselnya ketemu Sean segera menyalakan benda itu. Jam pada ponsel menunjukkan pukul 8 malam, dan tidak ada pesan masuk. Termasuk dari Seungha. Sean mencari nama Seungha di daftar pesan masuk. Hendak mengetik sesuatu, tapi Sean mengurungkan niatnya. Jika dia mengirim pesan pada Seungha, pemuda itu mungkin berpikir jika dia mengkhawatirkannya atau yang terburuk berpikir bahwa dirinya ingin berteman dengan pemuda itu. Sean menggeleng cepat. Diletakkannya lagi ponselnya di atas meja. Tak masalah jika dia tidak menanyakan keadaan Seungha. Toh, yang terjadi hari ini adalah akibat dari ulah pemuda itu sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD