MAV~

1148 Words
Segala drama yang terjadi Mora akhirnya lepas landas kini dirinya berada dalam pesawat sambil menatap arah luar jendela. Ia berharap saat di india nanti bisa meraih impiannya. Setelah beberapa jam lamanya Mora dalam pesawat akhirnya Mora sampai juga di nepal lebih tepatnya di Bandara Internasional Tribhuvan. Pesawat Mora mendarat semua penumpang segera keluar dan menuju ketempat dimana koper koper dan barang barang di turunkan. Setelah Mora mengambil kopernya Mora segera memesan taksi menuju penginapan atau semacam tempat tinggal sementara sampai 3 bulan kedepan. "guesthouse tak le chaliye, kripya." sang supir mengaguk paham ia sempat terpesona dengan kecantikan turis yang ya bawa. (Gays anggap aja kalau bahasa india gak mungkin author harus traselit satu satu oke) "Baru di nepal ya emba?" tanya supir sekedar basa basi lali di jawab anggukan kepala oleh Mora. "Oh wala pantes emba tapi wajah emba ada campuran india ya saya sampai terkesima loh," ucap sang supir Mora yang ngerti bahasa india jadi tersenyum. "Kebetulan ayah saya orang india dan ibu saya orang Indonesia jadinya wajah saya perpaduan antara india dan pribumi," balas Mora sang supir ber oh ria. Jalan macet saat lapu merah menyala dan Mora merasa bosen dia buka kaca mobil dan melihat sekeliling arah jendela dan tak lama kemudian ada mobil berhenti di samping jendela yang ia buka. Sang pemilik mobil itu juga membuka kaca jendela dan terlihat pria matang berjas hitam dengan fokus tablet. Mora terpanah melihat pria tersebut penampilan yang gagah dan rahang yang tegas tubuh yang kokoh membuat aurah pria tersebut semakin Hot dan seksi di pandang. Sampai sampai Mora menelan saliva susah payah. Tiba tiba mobil itu berjalan karena lampu sudah hijau membuat Mora terkejut karena taksi yang ia tumpangi ikut berjalan, Lamunan Mora buyar seketika itu. "Aissss karena kelamaan jomblo nih gue jadi gak beres otak gue," batin Mora me gelang pelan. Di tempat lain Perusahaan pencakar langit menjulang tinggi datang lah pemimpin mereka pemilik perusahaan singh. Semuanya pada kalang kabut menyambut kedatangan pimpin mereka. Pasalnya pimpin mereka orang yang aangat ditakuti dan dingin plus arogan tanpa ampun. Semua berbaris rapi bunyi sepatu mahal terdengar dari arah pintu masuk mereka langsung menatap ke arah pintu. Setelah pintu mobil terbuka, nampaknya pria berjas hitam dengan aurah pempin yang kuat. "Selamat datang Pak Singh!" ucap mereka semua membukung hormat. Pria tersebut berdehem pelan dan di belakangnya di ikuti oleh sekretarisnya. Sampailah ruangan presdir bertulis Presdir Maher Singh. Cucu pemilik perusahaan keluarga Singh. "Ladobgimana penijauan semalam soal lokasi proyek?" tanya Mahir fokus ke layar laptop dengan tangan kemeja nya di gulung terkesan sangat Hot di pandang. "Semua berjalan sangat baik Pak oh ya besok ada kiriman dari kampus terbaik di Indonesia mereka mengirim mahasiswi terbaik mereka untuk perusahaan kita dalam 3 bulan kedepan mengingat ia dari jurusan arsitektur terbaik serta rancangan ruangan ternama," ujar Lado membuat Maher menghentikan sementara kegiatan ia terdiam mengingat kejadian 15 tahun yang lalu saat di Indonesia yang sempat menimbulkan trauma mendalam sehingga enggan ia datang ke negara itu. "Apa kabar bocah itu ya udah 15 tahun berlalu pasti ia seorang mahasiswi juga, tapi tunggu kenapa aku kepikiran bocah itu karena aku lupa menanyakan namanya saat itu sudahlah sebaiknya aku fokus bekerja," batin Maher. "Pak," panggil lado nampak bos sedangkan melamun. "Pak," panggil lado sekali lagi membuat Maher buyar Lamunan dan menatap dingin sang sekretaris. Lado pun hanya mengaruk pipinya yang tak gatal."Kau urus saja lado aku tak ingin ikut campur yang penting seperti tahun semalam mereka mengirim yang terbaik untuk perusahaan ini!" tegas Maher kembali berkutat dengan layar laptop dan berkas lado pun paham. "Siap Pak kalau gitu saya permisi dulu." Maher mengaguk. Mora yang lagi menyusun barang bawanya bersin bersin sedari tadi bahkan tak henti henti. "Perasaan ada abu deh bersih juga kok apa ada orang yang lagi omongin gue ya wah pasti si wibu nih ck ck bikin rusuh juga nih anak mudah mudahan si Riko gak kalang kabut dengan reok nya si wibu," kekeh Mora melanjutkan kembali membenahi barang barangnya. Keesokan harinya Mora sengaja pasang alarm seakan tahu kebiasaan kebonya itu ia berjaga agar tak kesiangan. Pagi ini Mora sudah rapi dan bersiap menuju ke lokasi proyek setelah mempelajari berkas dari kampus. Mora pergi menaiki bus umum dimana saling desakan satu sana lain membuat Mora mempunyai pengalaman baru di india. Mora menatap para pembangunan proyek yang sudah 60 persen di bangun dengan semangat 45 Mora berjalan sambil membawa rancangan dan rencana ide ide luar biasanya. "Permisi Pak," pengawas proyek menoleh. "Emba Mora," sahutnya me genali Mora dari biodata yang dikirim oleh pihak perusahaan. "Ya pak saya Mora saya kesini untuk menunjukan rancangan saya dan melihat pembangunan ini Pak." Mora memberikan kertas cetak biru ke kepala pengawasan proyek. Kepala pengawas pun mengaguk dan melihat betapa indahnya rancangan serta detail setiap inti yang ada di rancangan. Mora pun menjelaskan rancangan yang ia buat dengan sangat jelas membuat kepala proyek langsung paham. Setelah Mora menunjukan dan menjelaskan rancangan ia di ajak untuk melihat pembangunan di dalam dan Mora di beri helm pelindung kepala. Sebuah mobil sedan hitam berhenti di area proyek buka lah pintu mobil tanpak seorang pria berjas mewah bersama sang sekretaris. "Ini dia tuan Maher proyek kita yang lagi berjalan menurut informasi kiriman mahasiswi dari Indonesia tiba." Maher melihat sekeliling area proyek banyak pekerja buru bangunan giat mengerjakan tugas masing-masing. "Tuan Maher," Hormat kepala proyek. "Gimana dengan mahasiswi kiriman dari luar negeri?" tanya Maher melihat selembar kertas cetak biru rancangan. "Sepertinya mereka tak salah kirim orang tuan saya jamin pemikiran kita bakal sama dan kali ini proyek bakal beda seperti sebelumnya." kening Maher bekerut. "Bedanya?" "Coba Tuan lihat gadis ini merancang bangunan sesuai kebutuhan klien kita bukan hanya di lihat dari luar saja bagus rancangannya tapi juga di dalam tampak menampilkan kenyamanan untuk klien kita tuan," jelas sang kepala proyek menujuk setiap detail yang sudah Mora jelaskan. Maher mendengar penjelasan dari kepala proyek semakin penasaran. Ia memasang helm pelindung kepala dan masuk ke area pembangunan proyek. "Dimana gadis itu bukanya ia sudah datang?" tanya Maher memeriksa kualitas bahan bangunan proyek. "Emmm saya tanyakan dulu ke kepala proyek dulu tuan, sebentar saya bakal kembali lagi," ucap Lado bergegas menemui kepala proyek tersebut untuk menanyakan dimana gadis mahasiswi tersebut. Maher terus berjalan setiap sudut proyek," Bahan sangat bagus dan kokoh sepertinya bakal cepat selesai sesuai jadwal yang di kirakan." Maher menoleh ke belakang dan melihat ada bongkahan kayu balok besar yang hampir tumbang mengenai seseorang gadis yang lagi asik melihat sekeliling. Mata Maher melotot dan bergegas berlari menunju gadis tersebut. "MENYIKIRLAH DARI SANA HEH!" teriak Maher terus berlari dan menarik tangan si gadis tersebut. Gadis tadi sempat menoleh dan terkejut saat tubuhnya di tari dan mereka terjatuh berpelukan keributan terjadi memancing perhatian para pekerja disana. (*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*) BERSAMBUNG Hay bunda2 sayangnya akoh# aduh udah lama aurhor gak nulis jumpa lagi nih dengan cerita baru akoh yang pastinya ada unsur acah acah nehi nehi yuk patangi terus cerita akoh ya bunda2. salam see you dari author 😘😘😘😘😘
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD