Maher menarik tangan gadis di depannya, tubuh Mora pun ikut terhuyung. Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain, seakan akan waktu telah berhenti. Bunyi bisik sekitar tak terdengar oleh mereka berdua baik Maher dan Mora terlena dengan dunia mereka sesaat.
Hembusan angin bertiup menerpa wajah Mora membuat rambut Mora sedikit tertutup muka, tanpa sadar Maher menyingkirkan anak rambut tersebut. Bola mata kedua saling tatap tatapan satu sama lain. Tak peduli suara detak jantung terus berdetak kencang.
"Mata ini? kenapa tidak asing di benakku?" batin Maher masih betah memegang tubuh Mora agar tak jatuh ke bawah.
"OMG Astaga bukannya dia cowok yang di lampu merah di dalam mobil itu? ya ampun apakah ini mimpi? kalau mimpi pliss jangan bangun dulu dong masih betah nih," batin Mora terkesima dengan ketampanan Maher yang sangat maskulin.
Aroma vanila dan maskulin kedua saling tercium di hidung masing masing. Kedua masih betah dengan posisi seperti tadi tak ada keduanya sadar. Para pekerja jadi bingung mau bicara takut salah. Lalu Lado pun datang dan mengacaukan adegan romantis seketika itu.
"Pak Maher gak papa kan?" tanya Lado dengan nafas ngos ngosan.
Maher dan Mora pun tersadar dengan cepat cepat Maher mendirikan tubuh Mora. Mora pun memperbaiki posisinya.
"Khem ...." Maher berdemem untuk menghilangkan rasa cagung antar keduanya.
"Ya ampun malu banget gue Mora Mora bisa bisa lo menghanyal seperti lagu lagu di india deh ampun deh untuk gak ke ceplosan bilang mujhe tumase pyaar hai. Bisa malu seumur hidup," batin Mora dalam hati.
"Saya gak papa, kenapa ada wanita yang main masuk ke area konstruksi?" tanya dengan nada dingin dan menatap semua para pekerja di konstruksi dan kepala proyek.
"Saya mahasiswi dari Indonesia yang di kirim untuk merancang proyek ini jadi bukannya sembarangan masuk," potong Mora menatap tak kalah sengit ke Maher dirinya tak ingin orang lain mendapatkan masalah hangat gara gara dia sedikit ceroboh.
Santai semua pada mengaguk takut takut mereka di penat."Meskipun begitu setidaknya ada satu orang yang menemani bukan malah sendiri udah tahu tempat ini berbahaya apalagi anda sempat ceroboh karena tak melihat sekitar hampir ada kecelakaan besar," tegas Maher menatap dingin Mora.
Mora tak ingin kalah juga dari Maher," Ok saya ngaku salah karena ceroboh ini semua tak ada hubungannya dengan mereka jadi ini murni salah saya. Saya minta maaf untuk ini dan terima kasih untuk menyelamatkan hidup saya pak Maher," jelas Mora menatap balik Maher.
Semua orang hanya menonton perdebatan Maher dan Mora tak ada satu pun antara mereka yang berani melerai keduanya atau hanya sekedar menghentikan perdebatan terjadi.
Dreeeeet
Maher menatap hp dan membaca isi pesan yang masuk."Lado antarkan saya pulang," tintah nya.
"Siap Pak," Hormat Lado.
Maher menghentikan langka kakinya dan menatap Mora sejenak sampai," Kau temani dia saat bertugas di area proyek jangan sampai hal ini terjadi lagi dan untuk kedepannya mohon bantuannya untuk proyek ini ku harap sesuai dengan ekspetasi ku," ucap Maher menatap Mora lalu kembali menatap kedepan.
Mora seketika menatap Maher lalu entah kenapa ada desiran yang tak ia mengerti saat menatap Maher. Bahkan saat Maher melangkah semakin jauh Mora terus menatap punggung Maher sampai benar benar menghilang dari pandangannya.
"Emba Mora," panggil kepala proyek membuat Mora tersentak.
"Ya Pak?" jawab Mora.
"Mari emba." Mora mengikuti kepala proyek.
Di dalam mobil Maher melamun ia masih memikirkan wajah Mora. Entah kenapa ada perasaan yang ia tak ketahui. Ia pun menatap luar jendela mobil seketika terbesit wajah Mora di benak nya. Lado yang lagi menghidupkan lagu india membuat Maher makin terhayun dalam pemikiran nya apalagi lagu india sangat mendukung dengan suasana hatinya kini.
Yah emang gitu ya gays kadang author kalau dengar lagu india suka terhayun walau gak tahu artinya kadang lagunya mewakili perasaan author ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤.
"Siapa gadis itu kenapa berada di dekatnya membuat hatiku tak menentukan aaarrrk sial kenapa dengan hatiku ini," rancau Maher dalam hatinya.
"LADO KAU INGIN GAJIMU DI POTONG SEBAIKNYA KAU MATIKAN SAJA LAGU ITU!" gondok Maher sangat kesal dengan lagu yang di hidupkan lado sesuai pula dengan suasana hatinya kini.
Lado hampir mengrem dadakan akibat bentakan tiba tiba untung diri masih bisa mengendalikan mobil jika tidak habis sudah hidup mereka. Buru buru Lado mematikan lagunya dari pada kena amukan bosnya dan gajinya ikut terpotong bisa berabe entar ia hanya mengaruk kepalanya yang tak gatal dengan kebingungan.
Di apartemen milik Mora, Mora kini sudah bersih bersih setelah tugasnya cukup menguras sedikit tenaga sampai sore tadi baru ia selesai dan besok mungkin tak semelelahkan hari ini. Mora menggosok rambutnya yang masah setelah habis mandi. Ia lempar handuk tadi di dekat tempat tidur lalu naik ke atas ranjang dan tertidur. Sebelum memjamkan mata Mora teringat dengan kejadian tadi pagi.
"Galak juga dia ternyata tapi cukup mengoda juga malah badannya kekar lagi hihihi," gumam Mora terguling guling di tempat tidur akibat malu malu.
Sedangkan di belahan negara lain Aiko menatap kesal Riko di depannya. "Buruaan Rikooo gue bosan lo mau ngapain sih disini apa gak ada kerjaan yang lain apa," kentus Aiko menatap jegah pria di depannya.
"Emmm emmm Aiko gue ...." Riko ragu untuk mengatakan kepada Aiko seakan akan kata kata yang sudah di simpan di otak tak bisa do ungkapan.
"Lo sekali lagi am em am em gue gebuki lo pake sendal gue mau hah dari tadi gue nungguin sampai kesemutan," Galak Aiko sembari mengangkat sendalnya.
Perempuan rambut pink ala ala anime itu menatap garang sang empu pun jadi semakin resah dan takut. "Turunin nak apa tuh sendal kayak gue habis maling kolor aja." ucapan Riko sukses membuat Aiko melotot horor.
"Makanya buruaan cepat ngomong," desakan Aiko tak sabaran.
"Ya nih juga ngomong galak banget untung sayang," gumam Riko.
"Apa!." Masih terdengar di telinga Aiko.
"Temani gue malam nanti ya plisss ya ini urgen banget Ai gue mohon," pinta Riko dengan wajah memelas.
"Emang mau kemana sih sampai lo harus mohon gue ikut?" tanya Aiko melunak sejenak.
"Ada acara keluarga sih tapi gue malas datang sendiri kan kalau ada lo sangkahnya lo pacar gue hehehehe." Riko malah masang wajah cengir.
"Rikooooo ...gak gue gak mau yang ada entar urusan ribet lagi," tolak mentah mentah Aiko menutup pintu rumahnya.
Seketika Riko berlutut di hadapan Aiko membuat Aiko gelapan."Eh eh eh Rik lo apa apa sih berdiri gak," ucap Aiko kalang kabut mencoba membuat Riko berdiri tapi hasilnya nihil.
"Gak lo harus janji dulu entar malam ikut gue masak lo gak kasian sama gue. Gue malas tahu asik di jodohi mulu sama nyokap gue malah pada gak ada yang beres lagi," Ucap Riko dengan seduh.
"Ya ya tapi lo berdiri dulu malu gue entar di lihat sama tetangga." Riko dengan girang langsung berdiri.
"Ok. nanti malam gue jemput ya lo datang cantik ini bajunya." Riko cepat memberikan paperbag yang berisi baju dan pergi dengan cepat sebelum Aiko berubah pikirannya.
"Nanti malam gue jemput Ai!" teriak Riko melambai kan tangannya. Mau gak mau Aiko terpaksa membantu Riko.
Kembali lagi ke negara nepal kebetulan di nepal terjadi hujan sangat lebat di sore hari. Maner yang hendak pulang menuju kerumahnya tak sengaja matanya menatap sosok yang kini sudah merusak pikirannya.
"Lado hentikan mobilnya," perintah Maher.
"Ada apa Pak?" Lado pun segera menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Ada payung Lado?" tanya Maher.
"Ada tuan tunggu sebentar." Lado memberikan Maher payung.
Maher mengambil payung tersebut dan segera membuka pintu mobil dan cepat cepat membuka payung tersebut. Ia berlari menuju halte bus," Loh tuan mau kemana?"
"Hujan lebat lagi mana bus belum nongol nongol," keluh Mora mulai kedinginan dengan hawa hujan yang cukup deras.
Lalu tiba tiba ada memberikan sesuatu di pubdaknya sehingga tubuhnya jadi hangat. Ia mendongkrak ke atas dan melihat seorang yang memberikan jas dan payung.
"Loh Pak Maher kok anda disini?" tanya Mora terkejut.
"Ikut saya ke mobil tak ada bus yang bakal lewat entar lagi malam kamu perempuan takutnya daerah ini berbahaya." belum juga Mora mengiyakan udah di tarik tangannya oleh Maher.
Mereka berdua berjalan sepayung berdua dan yang membuat Mora baper saat payung sebagian besar menutup dirinya. Dan ia melihat bahu Maher basah sebelah saja. "Aduh nih cowok bikin gue salting ngalahi sarukhan dan kajol main film dah romantis nya udah dong jangan jadi sarukhan kedua apalagi hujan cocok deh dengan lagu zanam zanam arrrh Bunda anak mu ini di bikin baper orang," batin Mora mengigit bibir sebisa mungkin agar tidak salting bisa bisa salto dia entar.
Maher membuka pintu mobil dengan cepat Mora masuk ke dalam begitu juga dengan Maher menutup payung dan menutup pintu mobil meletakkan payung di kursi belakang. Maher pun tak lupa mengambil handuk agar Mora mengeringkan rambutnya untungnya handuk selalu dia bawa untuk berjaga jaga.
"Ini ambil lah keringkan rambutmu." Mora menatap Maher dan tersenyum sambil menerima handuk.
Lado menjalankan mobil tanpa bicara dia sudah tahu ternyata si bosnya lagi jatuh cinta."Bos bos entar karena gadis ini sampai bikin bos uringan udah jatuh cinta tapi tak menyadari nya ck ck ck sungguh payah si bos nih mah," batin lado sangat senang akhirnya ada perempuan yang bisa muluhkan hati bosnya.
"Dimana rumah mu biar lado yang mengantarkan?"
(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)
BERSAMBUNG
Hay bunda2 sayangnya akoh# aduh udah lama aurhor gak nulis jumpa lagi nih dengan cerita baru akoh yang pastinya ada unsur acah acah nehi nehi yuk patangi terus cerita akoh ya bunda2. salam see you dari author 😘😘😘😘😘