Belum ada pergerakan dari Mora dan Maheer. Mereka berdua sama sama saling diam membuat Sinta gemas melihat dua sejoli ini. Sinta menarik dan mendorong Maheer agar mereka berdua naik ke atas panggung sebab panitia sudah memangili nama mereka berdua.
"Eh eh eh... Sin!" senta Mora merasa sangat malu.
Maheer juga sama ia sedikit linglung dengan apa yang terjadi entah kenapa malah mendadak tenaganya tak ada sehingga mudah di dorong. Nah sekarang Mora dan Maheer telah di atas panggung " Sekarang menarilah dengan heboh. Ok."
Sinta turun le bawah tinggal lah Mora dan Maheer di atas panggung Mora jadi bingung ia emang suka india dan menari tapi gak di depan banyak orang.
"Sumpah banyak banget orang inimah kayak uji nyali emang suka sih nari india tapi gak di depan banyak orang gini juga kali," gumam Mora mulai panik seketika itu.
Maheer yang dengar gumamam dari Mora menatap para orang orang yang menatap mereka berdua lalu Maheer menatap Mora dan tiba tiba Maheer menarik tangan Mora.
Maheer menatap Mora dengan sorot mata yang sulit diartikan. Di tengah riuh rendah musik India yang menghentak, ia bisa merasakan kegelisahan gadis di depannya. Tanpa aba-aba, Maheer menarik lembut tangan Mora, menuntunnya ke tengah panggung yang kini telah dipenuhi oleh bubuk warna-warni yang beterbangan.
"Ikuti saja gerakanku," bisik Maheer pelan, nyaris tak terdengar di tengah dentuman musik, namun cukup untuk membuat jantung Mora berdegup lebih kencang.
Lagu Saree Ke Fall Sa mulai mengalun keras.
Maheer memulai gerakannya dengan lincah, khas tarian Bollywood yang penuh energi. Mora, yang awalnya kaku karena malu, perlahan mulai terbawa suasana. Ia memang menyukai tarian India, dan tubuhnya seolah memiliki memorinya sendiri. Dengan ragu namun pasti, ia mulai menggerakkan pinggul dan tangannya seirama dengan Maheer. Maheer tersenyum tipis melihat Mora yang mulai berani. Ia mendekat, melakukan gerakan menggoda yang membuat penonton bersorak heboh. Mora sempat terkesiap saat Maheer menarik ujung selendang sarinya, sebuah adegan klasik yang sering ia lihat di film, namun kini ia merasakannya sendiri. Bubuk kuning di pipi Maheer tampak kontras dengan kemeja putihnya yang mulai ternoda warna-warni. Di bawah panggung, Sinta berdiri di barisan paling depan bersama beberapa teman kuliah Mora. Bukannya merasa aneh, mereka justru tampak terpana. Sinta menyikut lengan temannya sambil menunjuk ke arah panggung dengan wajah berseri-seri.
"Gila, lihat mereka! Serasi banget, kan?" seru Sinta setengah berteriak agar terdengar.
Teman-teman Mora yang lain ikut mengangguk antusias, bahkan ada yang sibuk merekam momen itu dengan ponsel mereka. Mereka tampak ikut bahagia melihat Mora yang biasanya pendiam, kini bisa tampil begitu bersinar dan lepas di atas panggung bersama Maheer. Dukungan dan senyuman tulus dari teman-temannya itu tak sengaja tertangkap oleh mata Mora, membuatnya merasa jauh lebih percaya diri. Maheer menyadari perubahan ekspresi Mora yang kini lebih rileks. Saat musik mencapai puncaknya, ia merangkul pinggang Mora dan membisikkan sesuatu yang membuat Mora tertegun.
"Lihat? Semua orang menyukaimu. Kamu cantik kalau sedang menari seperti ini."
Mora menengadah, menatap mata Maheer yang berkilat jenaka sekaligus melindungi. Ketakutannya benar-benar menguap, digantikan oleh perasaan hangat yang mulai mekar di tengah siraman bubuk warna-warni festival Holi. Ia pun tersenyum lebar, lalu berputar dengan anggun, membiarkan sarinya mengembang indah, menikmati momen magis yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semua orang bertepuk tangan ria menyaksikan Mora dan Maheer yang sangat lihai dalam menari. Mereka berdua turun dari atas pagung dan Mora menepuk pelan bahu temannya.
"Puas?" melotot dan memayunkan bibirnya.
"Hehehe puas kok sayang ...Ulu.. Ulu... merajuk ya kan aku hanya bantu saja kalian berdua serasi banget lo." Maheer langsung salah tingkah dan menatap arah lain mengurangi salting nya.
Mata Mora makin melotot menatap kejahilan temannya ini."Udah ah melotot seram tahu mending kalian nikmati aja perayaan holi dan selamat holi Mora ini perayaan pertama untuk mu kan di india." Sinta memberikan warna terang di pipi Mora dan Mora tampak sangat bahagia ia juga memberikan warna ke pipi Sinta mereka berdua saling berpelukan dan mengucapkan selamat holi juga.
"Ra aku ke sana dulu ya dan... selamat berkencan...," canda Sinta mengoda Maheer .
Mora pun pura pura memukul Sinta sebelum Mora memukul dirinya Sinta sudah mengambil seribu langkah untuk lari menghindari pukulan dari Mora.
"Awas tuh anak satu," ucap Mora tersenyum.
Maheer pun melirik warna merah di sebelah dan menatap warnah tersebut. Mata kini tertuju ke arah Mora.
Deg
Jantung Mora terhenti saat itu di liriknya orang yang menyentuh pipinya di samping. Ternyata Maheer lah yang memberikan warna merah di pipinya. Suasana jadi hening ia rasakan jantungnya berpacu dengan cepat tangan Maheer belum terlepas dari pipi Mora. Muka Mora jadi padam memerah karena merona.
"Astaga ...astaga gimana nih kok tiba tiba pak Maheer beri warna sih. Bilang dong Pak kalau mau ngasih ngasih abah abah dulu biar gak langsung deg degan aku nya. Emmmm meleyot nih hati berasa dengar lagu Janam janam janam saath chalna yunhi
Kasam tumhe kasam aake milna yahin
Ek jaan hai bhale do badan h. Aaaarh gak bisa bisa meledak nih hati." batin Mora mulai salting parah.
"Khem...."
Mora berdehem Maherr pun tersadar ia langsung menjauhkan tangannya dari pipi Mora. Mereka berdua sama sama saling membuang buka untuk menetral kan perasaan mereka.
Mora menatap warna di depan dan mengambil segenggam dan ....
"Haha haha haha...." Mora melempar warna yang sama ke Maherr dan berlari menjauh sambil tertawa terbahak bahak.
Maheer pun langsung mengejar Mora sambil membawa nampa isi warna terjadilah aksi saling kejar kejaran. Sedangkan di mobil Lado yang sangat kasian menanti tuan nya kembali. Namun sayang seribu sayang Lado menjadi korban Maheer ia menunggu di dalam mobil hingga sangat bosan.
"Kemana si bos main di tinggalin aja tahu gini mending kembali ke rumah main holi aaah begini nasib orang jomblo saat bucin aku jadi satu satunya korban." Lado jadi ngelangsa ia menatap orang orang asik main holi.
"Lado saat kita senang senang biar lah aku menikmati holi he heh hehe." Lado keluar dari mobil dan ikut menikmati perayaan holi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aiko menatap aipad di tangan sambil menggambar karakter anime kesukaan. Lagu terdengar kecang di hanset telinga sampai sampai ada Riko di belakang tidak tahu.
"Akhirnya selesai juga karakter kesayangan kuuuu... muaaak." Aiko memeluk aipad dan menciumi gambar karakter di aipadnya.
"BAaaa!"
"ASTAGA KESAYANGAN ANIMEKU JADI NYATA?!" teriak Aiko histeris.
Tubuhnya tersentak kaget hingga ia hampir terjungkal dari kursi taman. Melihat reaksi Aiko yang sangat kaget sampai wajahnya memerah padam, Riko tidak bisa menahan tawa. Ia merasa gadis di depannya ini benar-benar lucu.
"Hahaha! Maaf, maaf. Habisnya kamu serius banget sampai dunia sekitar dicuekin," ujar Riko sambil tertawa kecil. Karena merasa terlalu gemas, tangan Riko mendarat di kepala Aiko, lalu ia mengacak-acak rambut pink lembut milik gadis itu sampai berantakan.
"Rikooo! Ih, rambutku jadi berantakan tauuu!" rengek Aiko sambil mencoba merapikan rambut merah mudanya yang kini mencuat ke sana kemari. Meski mengeluh, pipi Aiko justru makin merona karena perlakuan manis itu.
Riko kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak elegan dengan pita cantik di atasnya.
"Nih, buat kamu. Anggap saja ucapan terima kasih karena kemarin sudah mau menemani aku ke acara pesta keluargaku."
Aiko mengerjapkan mata, rasa kesalnya langsung hilang berganti binar kegembiraan. Dengan tangan gemetar karena senang, ia membuka kotak itu. Matanya membulat sempurna saat melihat sebuah tas cantik dengan desain elegan yang sudah lama ia idam-idamkan.
"Wah! Serius ini buat aku? Bagus banget, Riko! Aku suka banget, makasih ya!" Aiko memeluk tas barunya dengan senyum lebar yang sangat tulus.
Namun, momen manis itu tiba-tiba pecah.
BRUK!
Seorang mahasiswi yang tampak terburu-buru berlari dari arah belakang dan tanpa sengaja menabrak punggung Riko dengan cukup keras. Karena kehilangan keseimbangan, mahasiswi itu hampir jatuh tersungkur jika saja Riko tidak dengan sigap berbalik dan menangkap tubuh gadis itu agar tidak mencium lantai.
"Eh! Hati-hati," ucap Riko refleks, tangannya menahan lengan dan pinggang mahasiswi tersebut untuk menopangnya.
Mahasiswi itu mendongak, menatap Riko dengan tatapan malu-malu sambil menggumamkan maaf, "A-ah, maaf... aku tidak sengaja, terima kasih ya sudah menolongku."
Senyum di wajah Aiko seketika luntur. Rasa hangat yang tadi memenuhi dadanya mendadak berubah menjadi rasa sesak yang aneh. Ia melihat pemandangan di depannya—tangan Riko yang masih memegangi mahasiswi itu—dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menusuk hati Aiko. Tas mahal di pelukannya seolah kehilangan kilaunya dalam sekejap saat ia melihat perhatian Riko terbagi pada gadis lain.
Riko kembali merapikan pakaian dan berbalik arah ke Aiko. Melihat Aiko melamun Riko menyadarkan Aiko agar tersadar." Hay melamuni apasih?" Riko melambai tangannya di depan wajah Aiko.
"Ah ..."
"Oh aku tahu nih pasti aku ya ayo ...loh benar kan tembakan ku."
"Gak mana ada sok tahu heh ya udah lah aku masuk kelas makasih ya hadiahnya." ucap Aiko buru buru masuk kelas agar menghindari Riko.
"Loh loh ... kok jadi aku di tinggalin. Aiko tunggu aku juga ikut masuk ke kelas aissss tu anak kenapa sih." Riko mengejar Aiko yang tampak biru buru me kelas.
Tanpa di sadari Aiko maupun Riko ada orang yang terus menatap keduanya. Dengan senyuman misterius orang tersebut seakan sedangkan merencanakan sesuatu.
"Riko .... Aiko .... mereka tidak cocok sama sekali sungguh mengelikan huh." Orang tuh langsung menghilang dari sudut ia memantau.