"Ada apa tuan memanggil saya," ucap seorang gadis datang memberi hormat ke seseorang yang berdiri dari minimnya cahaya membelalangi gadis tersebut.
"Datang lah ke india semua data baik tempat tinggal sudah ku siapkan di Agra. Pastikan semuanya sesuai dengan rencana," tintah nya masih membelangkangi gadis tersebut.
"Baik tuan saya tidak akan mengecewakan tuan."
Pria tersebut mengkode dengan tangannya agar keluar dari ruangan ini. Gadis itu pun menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Pria itu terus menatap bingkai foto besar di balik cahaya minim dan tongkat yang ia pegang sebagai bentuk inisial kekuranganya.
"Tak akan ku ulangi kejadian yang sama kali ini itu janji ku," ucapnya meremas tongkat ia pegang.
Setelah itu sekilas masa lalu dimana gadis kecil menatap arah aroma itu seperti sihir yang menyiksa. Dari balik kaca bening toko kue "Delice", gadis kecil itu menatap barisan roti manis yang masih mengepulkan uap. Perutnya melilit, rasa perihnya sudah melampaui rasa lapar biasa; itu adalah rasa sakit yang mencengkeram tulang. Sudah dua hari hanya air keran yang masuk ke tubuhnya. Logikanya kalah oleh insting bertahan hidup. Saat pintu toko terbuka untuk seorang pelanggan, ia melesat masuk secepat bayangan. Tangannya yang kotor menyambar sebuah roti bantal besar.
"Hei! Pencuri! Tangkap!"
Gadis itu berlari sekuat tenaga. Kaki kecilnya yang tanpa alas menghantam aspal keras. Namun, tubuh ringkihnya bukan tandingan orang dewasa. Di sebuah gang sempit yang buntu, langkahnya terhenti. Pemilik toko yang berwajah merah padam berhasil mencengkeram kerah bajunya dan membantingnya ke tanah.
"Berani-beraninya kau mencuri dariku, tikus kecil!"
Bug!
Sebuah tendangan mendarat di perutnya. Gadis itu meringkuk, mendekap roti yang kini sudah gepeng dan kotor itu erat-erat di dadanya. Pukulan demi pukulan datang, rasa sakit menjalar dari punggung ke kepalanya. Dia tidak menangis. Dia hanya memejamkan mata, menunggu rasa sakit itu membawanya pergi selamanya.
Tiba-tiba, suara derit rem mobil yang halus memecah kebisingan gang.
"Hentikan."
Suara itu tenang, namun memiliki otoritas yang membuat si pemilik toko seketika membeku. Seorang pria paruh baya turun dari mobil hitam mengkilap. Pakaiannya rapi, namun wajahnya memancarkan keteduhan yang ganjil. Tanpa kata, pria itu mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang bernilai besar kepada si pemilik toko.
"Ini untuk rotinya, dan untuk biaya tutup mulutmu atas kekerasan ini. Pergilah," ucap pria itu dingin.
Si pemilik toko mendengus, namun segera pergi setelah mendapatkan uangnya. Gadis itu gemetar hebat, menyusut ke sudut dinding yang lembap. Dia siap untuk dihajar lagi, atau mungkin dibawa ke kantor polisi. Namun, pria itu justru berlutut di depannya, mengabaikan debu yang mengotori celana mahalnya.
"Ini," pria itu menyodorkan sebungkus roti baru yang masih hangat, yang rupanya dia ambil dari dalam mobil. "Makanlah. Yang itu sudah kotor."
Gadis itu menatap pria itu dengan penuh kecurigaan. Namun, wangi mentega yang kuat meruntuhkan pertahanannya. Dia merebut roti itu dan melahapnya dengan rakus. Dia makan seperti serigala yang kelaparan, hampir tersedak di setiap gigitan. Sang kakek hanya memperhatikan dengan senyum tipis, lalu mengulurkan botol air mineral. Setelah roti itu habis tak bersisa, gadis itu mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Matanya yang bulat kini menatap tajam ke arah sang penyelamat.
"Apa imbalan yang Anda minta?" tanyanya dengan suara serak namun tegas.
Pria itu tertegun. Dia mengharapkan ucapan terima kasih yang penuh tangis, bukan sebuah negosiasi. "Aku tidak meminta apa-apa, Nak."
"Tidak," Ara menggeleng keras. "Aku mungkin kecil, tapi aku tidak ingin berhutang budi pada orang asing. Katakan saja. Aku akan membayarnya suatu hari nanti. Aku janji."
Keyakinan di mata bocah itu membuat sang kakek terkesima. Dia melihat sesuatu yang langka: harga diri yang tidak bisa hancur oleh kemiskinan. Kakek itu kemudian mengelus rambut Ara yang kusam dan kusut.
"Baiklah, kalau itu maumu," ucap sang kakek lembut. "Untuk sekarang, aku tidak butuh apa-apa. Tapi jangan menolak untuk ikut denganku. Aku akan merawatmu sebagai cucuku sendiri. Dan suatu saat nanti... mungkin bertahun-tahun dari sekarang, saat aku sudah tua dan lemah, mungkin aku akan butuh bantuanmu."
Ara menatap tangan besar pria itu yang terulur padanya. Dia tahu ini adalah titik balik hidupnya. "Baiklah, Kakek. Aku akan menepati janjiku. Nyawaku adalah milikmu."
Lamunan itu buyar saat suara kunci koper yang beradu terdengar di ruangan yang sunyi itu. Gadis kecil itu yang kini telah tumbuh menjadi wanita muda dengan tatapan sedingin es—berdiri di depan jendela besar apartemennya. Di luar sana, kota Agra membentang luas. Tempat yang dulu hanya memberinya rasa lapar, kini ada di bawah kakinya. Dia merapikan blazernya, memastikan tidak ada lipatan yang salah. Di dalam koper itu, tersimpan semua perlengkapan yang dia butuhkan untuk tugas terakhirnya dari sang kakek.
"Ini saatnya," bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca. "Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Aku akan membalas jasa Anda, Kakek... apa pun taruhannya."
Dia meraih gagang koper, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi. Janji yang diucapkan seorang gadis kecil di gang gelap belasan tahun lalu, kini siap ditunaikan oleh seorang wanita yang tidak mengenal rasa takut
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Di perusahaan gedung pencakar langit milik keluarga Sigh Bundela. Maheer duduk di ruang rapat setelah dua bulan hasil rancangan yang telah di kirim oleh pihak kampus membuat ia dan klien sangat puas tak mengecewakan.
Hingga saat rapat berjalan sambil membicarakan proyek selanjutnya akan mendatang. "Wah tuan Maherr anda masih mudah tapi sangat handal dalam bisnis saya sangat senang dan untuk kedepannya kita bakal jadi rekan bisnis dalam waktu jangka sangat lama."
Maheer menjabat tangan kliennya" Tak perlu memuji saya seperti itu tuan mahotra saya masih belajar urusan kerja sama kita untuk kedepannya saya berharap anda jadi rekan saya juga dalam cukup waktu lama. Jika sudah selesai saya bakal undangan anda dalam peresmian. " jelas Maher.
"Baik lah saya tunggu kabarnya." kliennya pun pamit pulang dan Lado nayap gembira Maheer.
"Lado apa jadwal saya hari ini?" tanya Maher kembali duduk sambil lihat data di laptonya.
"Anu tuan .... " Lado menjeda ucapannya dan memikirkan kata kata yang pas.
"Anu apa Lado?"
"Anu tuan jadwal anda kosong tapi ____ nona Mora bakal ke india lebih tempatnya si Agra tuan," jawab Lado.
DEG!!!
Langsung Maheer menghentikan ketikan di laptonya.