Mora menatap luar jendela pesawat ia tersenyum sambil memperhatikan buku miliknya. "Akhirnya selesai juga tugasnya di nepal tinggal di Agra setelah itu bakal balik deh hufff semangat Mora."
"Eh tapi aku belum pamitan sama Pak Mahee ah ya sudahlah lain waktu saja mana mungkin ia cari gue wong jauh udahan." tak berselang lama ada seseorang yang duduk di sebelah Mora dan meletakkan aipadnya di meja kecil dekat kursi penumpang.
Mora menoleh ke samping saat hendak memejamkan mata dirinya langsung terkejut dan terduduk. Dari merem jadi melek selebar lebarnya.
"Loh. Pak Maheer!" tunjuknya sedikit berdiri melihat kebelakang dan depan pesawat lalu kembali duduk di kursi.
"Kok bisa Pak Maheer disini? bukanya di nepal ya Pak?" tanya Mora tampak tak percaydan syok.
"Apa ini pesawat pribadi kamu?" Mora spontan menggeleng kan kepalanya.
"Apa saya di larang naik pesawat." Lagi lagi Mora spontan menggeleng kembali.
"Ya saya juga ada bisnis di Agra lagian saya ingat ada yang janji bakal ngajak saya makan malam tapi orangnya malah pergi tuh," sindir Maherr pura pura sibuk baca koran.
Mora mengaruk kepalanya yang tak gatal karena merasa tersindir ucapan Maheer."Ya sudah deh Pak waktu sampai di Agra saja lagian saya juga lupa namanya khilaf. Janji deh kali ini benar."
Maheer tersenyum tipis kini keduanya menikmati perjalanan pesawat menuju Agra dimana kota india yang ada Taj mahal nya.
Pesawat mendarat dengan mulus di bandara. Sebelum keluar menuju hiruk-pikuk kota Agra, Mora meminta izin untuk ke kamar bilas. Maheer menunggu di ruang tunggu dengan sisa-sisa senyum tipis yang belum hilang dari wajahnya. Namun, saat sosok wanita itu kembali, langkah kaki Maheer seolah terpaku di lantai marmer bandara.
Mora tidak lagi mengenakan pakaian santai yang tadi ia pakai di pesawat. Ia kini berbalut pakaian tertutup dengan cadar hitam yang menutupi sebagian besar wajahnya. Hanya matanya yang terlihat—sepasang mata jernih dengan bulu mata lentik yang tampak sangat kontras dengan kain gelap itu.
"Pak? Kenapa melamun?" tanya Mora, suaranya teredam kain namun tetap terdengar merdu.
Maheer tersentak. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia terpesona, namun egonya dengan cepat menariknya kembali ke realita. "Tidak ada. Hanya kaget kamu bisa berubah secepat itu. Ayo jalan," ketusnya sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan rona yang mungkin muncul di telinganya.
Mereka singgah di sebuah restoran terbuka dengan pemandangan langsung ke arah kubah-kubah tua di kejauhan. Sambil menunggu hidangan khas India tersaji, mereka berbincang ringan tentang bisnis Maheer di Agra.
Tiba-tiba, semilir angin kencang berembus, menerbangkan ujung-ujung kain cadar Mora. Secara tidak sengaja, kain itu tersingkap cukup lama untuk memperlihatkan hidung mancung dan bibir merah alaminya yang sedang tersenyum kecil. Maheer, yang tadinya sedang menyesap tehnya, terpaku. Keindahan itu seolah mengunci dunianya sesaat.
Menyadari tatapan Maheer, Mora segera merapikan kembali cadarnya dengan canggung. Maheer berdehem keras, kembali memasang wajah dingin sedingin es.
"Makanlah dengan cepat. Jadwal saya padat," ucapnya, meski dalam hati ia sedang berteriak menenangkan perasaannya yang kian tak menentu.
Dalam perjalanan menuju rumah lama ayah Mora, mobil mereka sempat terhenti karena kerumunan di pasar. Maheer melihat seorang anak kecil penjual kain dan tanpa sadar turun sebentar. Ia kembali dengan sebuah selendang merah sutra yang indah.
"Pegang ini. Warna hitam terlalu suram untukmu," kata Maheer singkat sambil memberikan selendang itu tanpa menatap mata Mora. Mora menerimanya dengan senyum hangat yang meski tak terlihat, sinarnya sampai ke matanya.
Sesampainya di sebuah rumah tua bergaya kolonial—rumah peninggalan ayah Mora—suasana mendadak haru. Maheer mengantar hingga depan pagar. Namun, baru saja Maheer berbalik menuju mobil, sebuah teriakan nyaring memecah kesunyian sore itu.
"Suniye, rukiye...!" (Dengar, tunggu...!)
Maheer menoleh cepat. Di sana, di depan pintu kayu besar yang usang, Mora berdiri sambil mengangkat tinggi-tinggi selendang merah pemberiannya. Angin kembali bertiup, membuat selendang itu berkibar seperti api yang menyala di tengah redupnya senja.
Mora berlari kecil mendekatinya. "Pak Maheer! Anda melupakan sesuatu!"
Maheer mengernyit.
"Apa?"
Mora menyerahkan sebuah bros kecil milik Maheer yang terjatuh di kursi mobil tadi, namun saat tangan mereka bersentuhan untuk mengambil bros itu, Maheer melihat mata Mora berkaca-kaca. "Terima kasih... untuk selendangnya, dan untuk sudah membawaku pulang ke sini."
Maheer terdiam. Dinginnya runtuh seketika. Di bawah langit Agra yang mulai menguning, ia menyadari bahwa perasaannya bukan lagi sekadar khilaf, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sedangkan di Indonesia kedua orang tua Mora tampak tentram bisa di bilang gak tenram sih seperti ini Papa Mora, tampak sangat menikmati paginya. Dengan hanya mengenakan kaus kutang putih dan sarung yang diikat serampangan di pinggang, ia sibuk dengan ritual hariannya: memandikan burung-burung kesayangannya. Namun, ritual itu tidak dilakukan dalam keheningan. Sebuah pelantang suara (speaker) nirkabel berukuran jumbo diletakkan tepat di atas meja taman, menggelegar menyuarakan irama dangdut koplo yang menghentak-hentak.
Lagu berjudul "Abang Pilih yang Mana" menggema ke seluruh penjuru rumah, bahkan mungkin terdengar sampai ke rumah tetangga tiga blok di depan.
"Abang pilih yang mana... janda atau perawan..."
Tuan Khumar bersenandung mengikuti lirik tersebut dengan penuh penghayatan. Tangannya yang memegang semprotan air bergerak seirama dengan ketukan kendang. Ia sesekali menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, membuat air dari selang menyiprat ke mana-mana, termasuk ke lantai teras yang baru saja dipel.
Di sisi lain dinding, tepatnya di dapur, suasana hati Nyonya Khumar —Ibu Mora—sama sekali tidak secerah cuaca di luar. Ia sedang berdiri di depan kompor, memegang sudip dengan posisi siaga satu. Di hadapannya, seekor ikan gurami besar sedang berenang di dalam minyak panas, menimbulkan suara desisan yang bersaing ketat dengan suara musik dari luar.
Rahang Nyonya Khumar mengeras. Setiap kali lirik "Pilih janda atau perawan" itu terulang, tangannya meremas gagang sudip semakin kuat.
"Astaga... amboi, amboi! Enak benar itu lagu ya, Bang!" gumamnya ketus dengan logat Melayu-Betawi yang kental. Matanya melirik tajam ke arah pintu belakang.
"Lihat saja nanti. Kalau bukan karena ikan ini sedang digoreng dan aku takut dia gosong, sudah kupites (cubit/pencet) kau, Bang! Benar-benar tidak ada perasaan!"
Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, namun aroma minyak panas dan lirik lagu tentang pilihan wanita itu justru membuatnya semakin jengkel.
Baginya, menyetel lagu dengan volume maksimal di pagi hari adalah sebuah provokasi, apalagi liriknya seolah-olah menyindir keberadaannya sebagai istri sah yang sudah setia berpuluh-puluh tahun.
Tuan Khumar masih asyik dalam dunianya. Ia kini sedang menyikat kandang burung perkututnya sambil sesekali bersiul mengikuti melodi suling dangdut. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang berjalan ke arahnya.
Setelah memastikan ikan guraminya matang sempurna dan kompor dimatikan, Nyonya Khumar melangkah keluar. Ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa sebuah panci aluminium tua dan sebuah tutup panci di tangan lainnya.
BRAAAK! KLUNTANG!
Nyonya Khumar menghantamkan tutup panci ke meja taman tepat di samping pelantang suara. Bunyinya memekakkan telinga, mengalahkan suara kendang yang sedang asyik-asyiknya berbunyi.
Tuan Khumar terlonjak hebat. Semprotan air di tangannya terlepas dan menyemprot tepat ke wajahnya sendiri. Burung perkutut di dalam kandang pun ikut kaget, terbang berputar-putar menciptakan badai bulu di dalam sangkar.
"Astagfirullah! Ibu! Kau mau buat jantung Bapak copot?!" seru Tuan Khumar sambil mengusap air di wajahnya.
Namun, kalimatnya terhenti saat melihat penampakan istrinya. Nyonya Khumar berdiri dengan berkacak pinggang.
Wajahnya yang memerah terkena uap dapur kini tampak semakin sangar. Matanya menatap horor ke arah sang suami, seolah-olah Tuan Khumar adalah terdakwa kasus kriminal kelas berat.
Suasana mendadak hening. Tuan Khumar meneguk ludahnya dengan susah payah. Jakunnya naik turun melihat tatapan dingin istrinya.
"Pilih mana, Bang?" tanya Nyonya Darmawan dengan nada suara yang rendah namun mengancam.
"Janda mana yang kau incar? Atau perawan mana yang mau kau pilih? Coba sebutkan namanya sekarang, mumpung ikan gorengnya masih panas, biar sekalian kugoreng juga orangnya!"
"Loh, loh... Bu, itu kan cuma lagu," bela Tuan Darmawan dengan suara mencicit. "Hanya seni, Bu. Hiburan supaya burung-burung ini rajin berkicau."
"Seni matamu!" balas Nyonya Darmawan tidak mau kalah.
"Kalau mau burungnya berkicau, setelkan suara alam, suara air terjun! Bukan suara biduan nanya janda atau perawan! Kau ini sudah tua, Bang! Ingat anak kita, si Mora, sedang di India sana cari rezeki, bapaknya malah mau pilih-pilih!"
Tuan Khumar hanya bisa terdiam, mematikan pelantang suara dengan gerakan secepat kilat. Ia tahu betul, kalau sudah menyangkut "pilih-memilih", istrinya tidak akan pernah memberikan ampunan dengan mudah.