03. Pemakaman

809 Words
"Papi ayo! Aku udah siap." Maurin berdiri di depan pintu rumah, di teras, Barra sudah menunggu putrinya sejak 15 menit yang lalu. Sesuai janjinya kemarin, sore ini Barra akan mengajak Maurin pergi ke kuburan Winda. "Kita jemput tante Manda dulu ya, setelah itu kita ke kuburan Mami," ucap Barra. Bibir Maurin otomatis mengerucut, dia melipat tangan di depan d**a. "Kenapa sih?" Barra mengusap ramput Maurin dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan tetap memegang kemudi. "Aku gak suka. Pasti nanti mami sedih kalau papi bawa perempuan itu ke sana," jawab Maurin. Matanya memancarkan kesedihan. "Kata siapa mami sedih? Maurin tau enggak, tante Manda itu dulu temennya mami," ucap Barra memberitahu. Mata Maurin sedikit menyipit menatap Barra, "Dia juga yang udah buat mami pergi kan? Kalau aja, waktu itu tante Manda langsung bawa mami ke rumah sakit, pasti sekarang mami masih hidup." Barra menghela nafas pelan, ternyata putrinya masih saja salah paham dengan kejadian beberapa tahun lalu. Saat itu Winda dan Manda sedang berbelanja, Muarin juga aja disana. Paginya Winda sudah berpamitan akan ke mall untuk membeli perlengkapan calon adik Maurin. Namun kejadian tak terduga menimpa mereka, Maurin yang saat itu masih kecil mendadak berlari ke arah jalan raya. Winda sebagai seorang ibu tentu akan selalu menjaga anaknya, dan saat itu keduanya tertabrak mobil. Mereka jatuh saling berpelukan, tidak ada luka yang serius pada Maurin. Tapi Winda mengalami pendarahan yang cukup hebat. Jarak mall dan rumah sakit yang jauh juga menjadi pemicunya. Winda terlambat diberi pertolongan dan meninggal dunia, bersama bayi di kandungannya sesaat dia selesai operasi. "Seharusnya mami masih sama kita, sama adik juga! Kenapa waktu itu tante Manda gak langsung bawa mami ke rumah sakit? Kenapa harus nunggu ambulance yang dateng? Tante Manda kan bisa bawa mobil," ucap Maurin dengan menggebu. "Jangan bahas itu lagi ya, kita udah sampe di rumah tante Manda. Kamu mau ikut turun sama papi?" Maurin menggeleng. "Yaudah, kamu tunggu di mobil. Papi panggil tante Manda sebentar." Barra langsung turun dari mobilnya, kemuidan membawa Amanda untuk ke mobil dan mulai melanjutkan perjalanannya lagi. "Tadi tante buat nugget pisang, Maurin mau coba?" Amanda mengulurkan kotak bekalnya ke arah Maurin, tentunya dengan senyum dan berharap Maurin akan menerimanya. "Itu, ditawarin tante Manda kok diem aja sih? Kamu gak mau?" Tanya Barra. Maurin menggeleng acuh. Hal itu membuat Manda merasa kecewa. Dia menajuhkan tangannya. "Aku mau dong, tapi suapin ya? Aku lagi nyetir," ucap Barra. "Biasanya papi bisa makan sendiri," protes Maurin. "Gak papa dong, sekali-sekali. Aa dong Man." Barra sedikit mengarahkan wajahnya ke samping dan membuka mulutnya lebar-lebar. Walau dengan ragu, Amanda mulai menyuapi Barra. Barra tersenyum puas di buatnya. "Emm... enak banget, coklatnya berasa," ucap Barra. "Papi lagi iklan?" Tanya Amanda dengan wajah datarnya.  Barra tertawa, "Cobain dong Maw, nanti nyesel lho kalau gak nyobain."  "Gak!"  "Yakin? Enak banget padahal," pancing Barra.  Maurin tampak menghela nafas kesal, kemudian dia mengulurkan tangannya ke belakang, kode untuk meminta makanan itu dari tangan Amanda. "Itu tangannya ngapain?" Tanya Barra. "Kata papi suruh nyobain," jawab Maurin. "Mana tente? Biar aku cobain."  Amanda lansung memberikan makanan itu kepada Maurin. Dia begitu memperhatikan ekspresi Maurin saat mengunyak makanannya. "Enak gak? Diem aja." Barra menyenggol lengan Maurin dengan tangannya.  "Hmm." "Hmm? Apa itu?"  "Enak," jawab Maurin.  Amanda tersenyum lega, walapun Maurin masih belum menerimanya dia akan terus berusaha agar anak itu luluh. Karena dengan ini, dia bisa memenuhi permintaan terakhir dari Winda.  ***  Maurin menatap batu nisan itu dengan sayu, dia ingin menangis. Tapi dia tidak sanggup membuat maminya bersedih disana. "Udah berdo'a buat mami?" Tanya Barra. Maurin mengangguk, "Udah."  "Maurin mau nangis ya?"  "Maurin gak boleh nangis disini, kan Maurin udah janji sama papi."  Barra mengusap rambut anaknya dengan sayang.  "Mau pulang sekarang?"  "Pengen main, aku udah lama gak main sama papi," jawab Maurin.  "Sama tante Manda juga ya?" Maurin menatap sekilas ke arah Amanda yang hanya menunduk, kemudian dia mengangguk singkat. Maurin dan Barra begitu menikmati permainan mereka, Amanda hanya diam mengamati. Dia cukup sadar diri untuk tidak merusak suasana hati Maurin yang tampak begitu bahagia ketika bermain dengan papinya. "Papi curang terus." "Lho kok curang? Kamu terima kekalahan aja, emang papi jago mainnya. Papi dulu ikut ekskul basket dari smp," jawab Barra. "Ah gak asik," Maurin duduk disebelah Manda, tangannya di kibaskan ke arah wajahnya karena gerah. "Tante punya tisu, ini, buat lap keringat kamu." Tanpa menjawab, Maurin langsung mengambil tisu iti dari tangan Amanda. Kemudian dia sedikit menggeser tubuhnya menjauh saat sadar dia terlalu dekat dengan Amanda. "Kamu juga mas." Barra mengangguk. "Setelah ini kita makan ya, Maurin mau makan apa?" Tanya Barra. "Mekdi," jawab Maurin. "Gak bosen apa makan ayam terus?" Maurin menggeleng santai. "Ada es krim baru pi." "Lain kali aja ya, sekarang kita makan di sana," Barra menunjuk sebuah restoran korea yang berada tak jauh dari mereka. "Gak bisa diet dong," protes Maurin. "Makan mekdi juga bikin gendut, udah kita makan disana aja," putus Barra. ________  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD