02. Penolakan

871 Words
Amanda tidak menyangka akan dipandang begitu rendah oleh mama Barra. Dia menggelengkan kepala, "Enggak tante, Manda gak butuh uang. Manda benar-benar tulus sayang sama Mas Barra." Ratih tersenyum mengejek, "Kamu bisa dapat uang karena kerja di kantor Barra, dan bisa saya tebak, kamu bukan dari keluarga terpandang." Amanda mengangguk dan tersenyum tipis, "Saya memang dari keluarga sederhana tante, tapi kalau tante berfikiran saya menikah dengan Mas Barra hanya karena uang, tante salah." "Halah, saya tau perempuan kampung itu kayak gimana! Gak usah munafik." Amanda menunduk, tidak lagi menanggapi perkataan Ratih. "Asik banget sih ngobrolnya." Barra duduk di sebelah Amanda dengan Maurin yang berada di pangkuannya. "Mama mau ke toilet dulu," ucap Ratih. Barra mengangguk. Dia mengusap rambut Maurin, anaknya masih enggan menatap Amanda. "Sayang, kenalan dulu dong sama tante Manda." Maurin menggeleng. "Ayo dong, tante Manda baik lho. Dia beliin kado buat Maurin, pengen liat kadonya gak?" Lagi-lagi Maurin menggeleng. "Gak papa mas, mungkin Maurin lagi pengen manja-manjaan sama kamu." Sebisa mungkin Amanda tersenyum, walau dalam hatinya terasa begitu sesak. Dia berusaha menarik nafas berulang kali secara diam-diam, untuk menghalau tangisnya. "Ayo, Maw, kenalan dulu sama tante Manda. Papi marah lho kalau kamu gak mau kenalan," ancam Barra. Ajaibnya Maurin langsung menatap Amanda dan mengulurkan tangan kanannya, "Maurin," gumamnya tidak jelas. Amanda dengan senang hati menerima uluran tangan itu, "Amanda, kamu bisa panggil tante Manda." "Hmm." Buru-buru Maurin melepas tangannya dan kembali memeluk Barra. "Ih anak ABG manja banget sama papinya, kalah sama Lio dan Elia," cibir Mita. Maurin mendengus tak suka, "Tante berisik!" "Gak malu tuh sama maminya?" Goda Mita. "Mami udah di surga," jawab Maurin, tiba-tiba suaranya melemah. Tak lama kemudian dia menangis di leher Barra. "Maurin kangen sama mami." Barra menatap tajam ke arah Mita sebagai tanda protesnya, kemudian menusap punggung Maurin yang bergetar. "Kan udah janji gak boleh nangis, nanti mami sedih liat Maurin nangis begini," Barra berusaha menjauhkan kepala Maurin dari lehernya. "Besok kita ke makam mami, papi janji gak akan pulang malem lagi." "Janji?" "Iya sayang. Udah jangan nangis lagi dong, hapus air matanya. Hari ini kan hari ulang tahun Maurin, harus happy dong." Amanda yang melihat semuanya mendadak minder, apakah dia bisa sedekat itu dengan Maurin nanti? "Maafin tante ya," ucap Mita. "Makan aja yuk, steak pesenan kamu udah jadi tau." "Kalau gak enak aku minta kado dobel dari tante!" Mita terkekeh mendengarnya, kemudian mengangguk. "Iya. Apa sih yang enggak buat tuan putri. Kita makan disana yuk, bareng Lio sama Lia." Maurin mengangguk, kemudian turun dari pangkuan Barra dan pergi bersama Mita. "Maurin sayang banget ya sama Mbak Winda?" Barra mengangguk, "Dia deket banget sama maminya." "Mas Barra pasti juga sayang banget kan sama Mbak Winda?" Barra tersenyum, dan mengangguk, "Dia adalah wanita yang sangat baik, dan sayang sama keluarganya." "Mas," "Hem?" "Kayaknya aku gak bisa---" "Stop Manda, kita udah bahas hal ini sebelumnya. Ini cuma masalah waktu, aku yakin lama-lama Maurin bisa terima kamu." Amanda mengangguk lemah, sebenarnya bukan itu yang menjadi kegelisahannya sekarang. Pikirannya ada pada perkataan Ratih tadi. "Kok jadi bengong, makan yuk. Yang lain udah pada makan." *** Maurin menatap kesal ke arah Barra, pasalnya dia ingin membuka kado bersama papinya. Tapi Barra justru akan mengantarkan Amanda pulang. "Sebentar aja sayang, nanti setelah papi pulang kita buka kadonya," jelas Barra. Maurin menggeleng, "Nanti aku keburu ngantuk papi." "Gak lama kok, 30 menit, oke?" "Papi kan bisa pesen taksi buat dia." Maurin menunjuk Amanda dengan telunjuknya. "Maurin, gak sopan. Papi janji, 30 menit aja." "Mas, gak papa biar aku naik taksi aja," ucap Amanda. Barra menggeleng dengan tegas, "Ini udah malem Manda, bahaya. Biar aku anterin." "Maurin sebel sama papi!" Barra menatap pasrah ke arah Maurin yang berlari ke arah kamarnya. "Aku pulang sendiri aja mas." "Enggak. Ayo, aku antar pulang." Barra mengandeng Manda masuk ke dalam mobilnya, secepat mungkin dia harus sampai ke rumah kembali. "Makasih ya mas, kamu hati-hati pulangnya. Jangan ngebut," ucap Amanda. "Iya sayang, kamu istirahat ya." Barra memberi kecupan singkat di kening Amanda sebelum kembali melajukan mobilnya. Amanda melangkah dengan gontai masuk ke dalam kontrakannya. "Cie... yang habis ketemu sama calon mertua." "Apaan sih Rim, ngagetin aja." "Cerita dong, gimana tadi?" Rima mendekat ke arah Manda yang duduk di atas ranjang. "Kok mukanya murung gitu?" Amanda menghela nafas, "Ternyata punya hubungan sama orang kaya itu rumit ya Rim." "Ha? Gimana-gimana? Rumit?" Amanda mengangguk. "Mereka pikir aku cuma mau hartanya Mas Barra, mamanya sih yang bilang begitu. Gak tau yang lain." "Ih kok gitu banget sih calon ibu mertua lo, amit-amit gue punya mertua kayak gitu." "Anaknya Mas Barra juga gak suka sama aku deh kayaknya." "Barra tau soal ini?" "Soal anaknya? Tau. Tapi kalau soal mamanya kayaknya gak tau deh, aku juga gak mau cerita sama dia. Takutnya nanti malah jadi beban." "Yang sabar ya beb," Rima memeluk Amanda dari samping. "Terus rencana lo selanjutnya gimana?" "Gak tau." Rima menatap Amanda, "Ya kalau cinta pertahanin lah, berjuang!" "Aku emang cinta banget sama Mas Barra, sama Maurin juga, walaupun baru ketemu tadi," "Anaknya namanya Maurin?" "Iya." "Semoga yang terbaik buat lo aja deh, lo itu orang baik. Gue yakin bakalan dapet jodoh orang baik juga." "Aamiin. Gue mandi dulu deh, badan udah lengket banget." "Abis ngapain lo sama Barra?" Amanda menjita kepala Rima, "Ngeres aja pikiran lo!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD