Untuk pertama kalinya dari hidup Gina diperhadapkan pada keadaan diluar kendalinya. Bahkan lebih dari itu dia dipaksa melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan akal sehatnya. Bagiku Gina semua dapat ditundukkan hanya dengan kata - kata dan pengaruh yang sudah dibangunnya. Tapi musuh yang ada di hadapannya sekarang tidaklah memiliki dasar logika yang sama dengannya. Kata - kata tidak akan mempan untuk menaklukkan kedua pria bengis tersebut.
Sementara itu teman satu tim yang dianggapnya sebagai wanita acuh dan tidak mau direpotkan semua di akademi kini seperti menjelma menjadi seorang wanita yang sangat berani dan tetap tenang walau sudah menerima ancaman yang dapat mengakibatkannya kehilangan nyawa.
“Zuka, bagaimana kalau kita serahkan saja benda itu kepada mereka untuk menyelamatkan nyawa. Aku tidak apa - apa kalau harus kalah kali ini. Bagiku nyawa lebih berharga dibanding kemenangan semu dari permainan ini.” Gina seperti akan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
“Kalau kau melakukan itu berarti kau pun adalah musuhku. Kau sudah terlambat untuk mundur Gina karena aku bertanggung jawab kepada Gazan untuk membawamu sampai ke titik akhir permainan untuk bertanding dengannya.”
“Hey apa yang kalian bicarakan? Apakah kau tidak menyadari keberadaan kami disini?”
Milko merasa tidak dihargai sekalian diremehkan mendengar pembicaraan mereka.
“Kau tunggulah disitu karena sebentar lagi kalian akan mendapat bagian dari perbuatan kalian yang telah membuat waktuku terbuang percuma.” Gina spontan membentak mereka tanpa rasa takut sedikit pun.
“Gina, sekarang tentukan pilihanmu! Kau mau menyerahkan benda itu atau tetap berjuang sampai akhir permainan ini?” Zuka menatap wajah Gina tanpa melewatkan detail sekecil apapun dari respon yang diberikan atas pertanyaan tersebut.
“Aku….” Gina pun mengerutkan keningnya bingung menentukan keputusan dari dua pilihan yang sulit tersebut.
Disamping itu dia melihat Zuka yang sudah siap menarik belati dari balik bajunya.
“Apa yang mau kau lakukan Gina? Bukankah kita hanya remaja dari akademi biasa? Oleh karena kita tidak perlu mengorbankan nyawa.” Gina masih berusaha membujuk Zuka denga wajah memelas.
“Jangan salah paham dulu. Dari awal aku bukanlah temanmu ada pembantumu yang mau melakukan apa yang kau mau. Kita disini harus siap mengorbankan apapun untuk mencapai tujuan. Seharusnya kau sudah menyadarinya dari awal bukan?”
“Baiklah aku akan berjuang sampai akhir permainan ini,” jawab Gina karena baginya pribadi Zuka yang ini jauh lebih mengerikan daripada kedua pria yang sedang menghadang mereka. Entah insting atau kepercayaan diri yang membuat Gina bertahan saat itu. Tapi satu hal yang pasti, saat dia menatap mata Zuka tidak tersirat ketakutan sama sekali. Itulah yang memberikan sedikit harapan padanya.
“Nah sekarang berarti tinggal kalian berdua yang menjadi masalah disini.” Zuka membalikkan badan dan mencabut belati dari tangannya.
“Kau kira kami akan takut hanya kau menggunakan pisau kecil seperti itu.” Milko mengacungkan pedangnya untuk menggertak Zuka.
“Pisau? Apakah kalian tahu sudah berapa banyak korban yang pernah ditelan oleh benda ini?” Zuka menjilat punggung belati tersebut seperti seorang pembunuh haus darah.
Belati tersebut dibuat dari badan khusus yang dibuat oleh keluar Gazan turun temurun. Kedua sisinya memiliki ukuran bergambar naga hitam saling melilit badan masing - masing perlambang keluarga Gazan.
“Kami tidak peduli dengan omong kosong itu. Yang paling penting sekarang kalian harus menyerah kunci tersebut kepada kami dan matilah di tempat ini.”