Gina pun langsung mengikuti anjuran Zuka dan meraba dinding tersebut.
“Astaga! Ternyata kita benar - benar berada di dalam sebuah pohon besar itu.” Gina terus mengamati tempat tersebut karena belum pernah baginya mengalami hal aneh tersebut.
“Perhatikan setiap langkahmu karena cahaya obor ini jangkauannya tidak cukup jauh untuk menerangi penglihatan kita.”
“Lalu apakah kau menemukan petunjuk yang berkaitan dengan perlombaan ini?” Tanya Gina.
“Mungkin lebih tepatnya kita telah masuk ke tempat dimana kunci itu tersembunyi. Apabila hati kita dikuasai oleh ketakutan maka suara sebesar apapun tidak akan terdengar.”
“Kau benar Zuka. Seperti kata - kata yang tertulis digerbang masuk tadi.”
“Apa ini?” Gina melihat sebuah cahaya kecil di dalam suatu lubang kecil.
Gina pun menarik benda tersebut keluar untuk memeriksanya.
Tiba - tiba benda itu pun mengeluarkan cahaya yang begitu menyilaukan sampai - sampai dalam menerangi kegelapan tempat tersebut.
“Ya ampun. Apakah kau memikirkan apa yang aku pikirkan?” Tanya Zuka karena terkejut melihat cahaya tersebut bahkan mengalahkan cahaya obor yang dipegangnya.
“Apakah mungkin benda inilah yang sedang kita cari itu?” Gina memasukkannya kedalam kantong karena cahayanya sangat terang. Mata mereka mulai tidak tahan akan pantulan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
“Maaf aku sudah tidak bisa tahan lagi melihat cahayanya,” kata Gina.
“Aku pun merasakan yang sama. Tapi apabila dilihat dari bentuknya aku yakin itulah kunci yang kita cari.”
“Berarti sudah saatnya kita pergi menuju pos pertama untuk melanjutkan ke pos berikutnya.”
“Ayo kita pergi sekarang!” Ajak Zuka berjalan di depan sebagai penerang.
Mereka pun keluar dari dalam pohon tersebut bermodalkan cahaya dari obor yang dibuat oleh Zuka.
Dengan melewati jalan yang sama mereka kembali ke jalur utama menuju pos pertama. Perjalanan itu terasa lebih mudah karena tidak perlu berjibaku dengan kegelapan dan lolongan serigala yang haus darah.
“Pelankan langkahmu Zuka!” Gina berteriak karena tidak bisa mengikuti kecepatan Zuka yang begitu lincah menapak dahan tanpa merusaknya.
“Gerakannya tidak seperti wanita pada umumnya. Bahkan aku tidak pernah melihat pria yang dapat melakukan itu,” gumam Gina melihat keluwesan Zuka bagaikan kapas yang melayang kian kemari. Langkahnya sangat ringan bahkan seperti menginjak udara.
“Aku tidak bisa membayangkan kalau mengikuti perlombaan ini tanpanya.”
“Kita harus bergegas karena sebentar lagi akan gelap dan kau tahu bukan apa yang terjadi saat kegelapan memenuhi hutan ini?” Zuka menoleh ke belakang memaksa Gina untuk mengikuti derap langkahnya.
“Iya aku tahu! Tapi aku hanya wanita cantik dengan keanggunan. Tak sepertimu yang terlatih dengan kehidupan alam liar.”
“Alam liar? Kau selalu saja mengeluhkan sesuatu yang tidak berguna. Perubahan bukanlah perubahan sampai perubahan itu benar - benar terjadi. Kau tidak bisa hidup dengan pola pikir pencari alasan. Kau harus mencari solusi untuk setiap masalah.
Saat mendekati pos pertama maka turunlah mereka ke tanah karena jalur pohon itu tidak terhubung langsung ke tempat yang dituju. Dari posisi mereka saat ini waktu yang ditempuh seharusnya sekitar 1 jam lagi apabila tidak ada hambatan di perjalanan.
“Semoga saja jalur yang tersisa bagi kita tidak berbahaya seperti yang sebelumnya,” kata Gina sambil menghela nafas panjang.
Mereka pun sudah bisa mempercepat langkah karena sudah berjalan di tanah. Disaat kelegaan mulai mereka rasakan, mendadak Zuka langsung dikejutkan oleh perasaan tidak enak.
“Maju kemana kalian? Dari cara kalian melangkah yang terburu - buru aku yakin kunci yang diminta itu sudah ditemukan bukan?” Dari balik semak dua orang pria keluar memegang sebuah pedang yang berlumuran darah segar.
“Apa yang kalian inginkan?” Gina begitu was - was karena dialah yang sedang memegang benda yang mereka maksud.
“Kami hanya ingin kalian memberikan benda itu saja. Lagipula tidak baik wanita seperti kalian mengikuti perlombaan yang seharusnya diikuti oleh para pria kuat.”
“Oh jadi kalian ingin memetik hasil yang tidak kalian perjuangkan sendiri?” Zuka tersenyum sinis menatap tajam kedua pria tersebut.
“Kau benar sekali wanita manis. Astaga aku baru menyadari kalau terlalu indah untuk berada di dalam hutan ini. Beritahu aku siapa namamu?”
“Sebelum menanyakan nama orang lain, menurut kepatutan bukankah kau terlebih dahulu memberitahukan namamu?”
“Aku adalah Milko dan teman satu tim denganku bernama Mario. Kami berasal dari daerah selatan yang cukup jauh dari sini. Sekarang giliran kalian!” Milko mengarahkan senjatanya kepada Zuka dan Gina.
“Aku Zuka dan dia Gina. Kami adalah penduduk kota ini.”
“Bagaimana kalau kau menjadi pasanganku saja. Aku adalah orang yang paling berpengaruh di daerah selatan. Apa saja yang kau inginkan pasti akan aku berikan.”
“Benarkah? Kalau begitu aku menginginkan nyawamu saja. Apakah kau dapat memberikannya sekarang. Tampaknya kau pun sudah merenggut banyak nyawa orang lain dengan besi yang ada ditanganmu.”
“Oh jadi kau bisa mengetahui kalau darah ini bukanlah miliki binatang hutan melainkan manusia. Aku terkesan dengan kecerdasanmu wanita cantik. Keinginanku untuk menjadikanmu sebagai milikmu semakin besar saja.”
Pria tersebut berjalan mendekati Zuka dan Gina yang terlihat lemah dan ditambah mereka saat ini lelah berjalan cukup jauh.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikannya?” Jawab pria tersenyum sambil memegang dagu Zuka.
Gina yang tertegun ketakutan tidak bisa berbuat apa - apa melihat temannya diperlakukan secara tidak sopan oleh orang yang tidak dikenal tersebut.
“Buk…!” Pukul telah mendarat di perut pria tersebut.
“Apakah ibumu tidak pernah mengajarkan sopan santun memperlakukan wanita terhormat?” Zuka memandang rendah orang yang sedang kesakitan tersebut. Bahkan pedang di tangannya langsung terlepas karena memegang perutnya.
“Zuka, apa yang kau lakukan?” Gina berteriak karena menyadari apa yang dapat dilakukan oleh kedua pria tersebut dengan senjata mengerikan tersebut.
“Dasar wanita gila! Pukulannya ternyata kuat juga sampai bisa mengenai organ dalamku,” kata Milko di dalam hatinya.
“Padahal aku sudah berbaik hati mau menjadikanmu sebagai milikku. Tapi kau sepertinya sudah membuat keputusan yang tidak tepat. Oleh karena itu akan kupastikan darah kalian pun akan membasahi senjataku.” Milko berdiri dengan kemarahan yang meledak - ledak karena telah diperlakukan begitu kasar oleh wanita yang dianggapnya lemah.
Dia memperkuat genggaman pada gagang senjata tajam yang dimilikinya. Bersiap untuk menyerang kedua wanita itu dan merebut kunci tersebut agar dapat melanjutkan permainan itu.
“Gina, jangan jauh - jauh dari aku dan berjaga - jagalah akan pergerakan musuh. Aku akan mengajari kepadamu cara mempertahankan diri ala keluargaku.” Zuka langsung bersiap dengan kuda - kuda untuk bertarung melawan musuh.
“Jangan bercanda Zuka! Kita tidak akan bisa bertarung melawan kedua pria yang menggunakan senjata seperti ini.” Rasa takut sudah menguasai pikiran Gina dan berbagai kemungkinan yang mengerikan menguasai pikirannya.