Kepercayaan Yang Mulai Terbentuk

1123 Words
Perlahan mulut ular besar itu terbuka untuk siap menerkam Gina. Namun Zuka langsung menarik tangan teman satu timnya itu mendekat kepadanya sehingga ular itu pun ikut bereaksi langsung menjulurkan kepalanya. “Cratt…!” Zuka dengan cepat memotong kepala ular itu sebelum mencapai Gina yang sudah pasrah dan tidak bisa berbuat apa - apa. “Aaa…!” Gina berteriak ketakutan melihat darah ular yang menyembur ke wajahnya saat kepala ular tersebut terjatuh. “Tenanglah Gina! Aku sudah membunuhnya. Jadi kau tidak perlu takut lagi,” kata Zuka sambil menatap mata Gina. “Tapi badannya masih bergerak,” sahut Gina. “Kau tidak perlu khawatir. Hal itu terjadi karena jaringan sarafnya masih berfungsi sekalipun badan sudah terpisah dari kepala,” kata Zuka sambil menyeka darah yang membasahi senjatanya. “Zuka, apakah kau tidak memiliki rasa takut terhadap makhluk itu?”  “Takut? Makhluk seperti itu tidak cukup untuk membuatku takut. Bagiku kehidupan ini lebih menakutkan daripada makhluk seperti itu.” “Gaya bicaramu seperti orang tua saja.” “Oya Gina, karena perlombaan ini memakan waktu yang banyak dan kita tidak diberikan makanan. Mungkin ada baiknya kalau kita mengambil beberapa bagian dari daging ular ini untuk dijadikan bahan makanan.” “Huek…!” Gina langsung muntah mendengar perkataan Zuka. “Jangan aneh - aneh Zuka. Dengan tas sebesar itu apakah kau tidak membawa banyak bahan makanan?” “Untuk apa? Bukankah di hutan ini tersedia lebih banyak bahan makanan segar. Jangan khawatir karena aku juga bisa memasak di alam liar. Aku tidak keberatan untuk mengolah makanan kita. Apakah kau tidak menyukai daging ular ini.” Zuka sudah bersiap dengan senjatanya yang terhunus untuk memotong badan ular yang sedang menggantung di dahan pohon tersebut. “Hey, aku belum menyetujui kalau kita akan makan daging ular ini!” Seru Gina kepada Zuka. “Terserah padamu Gina. Tapi tidak mau mati kelaparan di tengah hutan ini. Kalau kau perutmu bisa menunggu sampai satu bulan tidak makan bagiku tidak masalah. Tapi jangan sampai kau menjadi beban hanya karena kurang makan.” “Kau memang sudah gila Zuka. Kalau bisa mengulang waktu, aku lebih baik tidak mengikuti perlombaan ini daripada harus menjalani hidup seperti makhluk liar,” kata Gina dengan kesal. Setelah membersihkan daging ular itu mereka pun kembali berjalan dan semakin berhati - hati karena dari ukuran ular tadi kemungkinan masih ada yang lain disekitar situ. “Zuka, walau lokasi pos pertama dapat dilihat dari sini, tapi jaraknya masih sangat jauh bukan. Lalu kita belum menemukan kunci tersebut.” Walau sudah berbicara panjang lebar, Zuka tidak begitu memperhatikan perkataan Gina. Pandangannya terarah pada sebuah pohon yang ada di hutan tersebut. “Hey, apakah kau mendengarkanku?” Gina berteriak di telinga Zuka. “Hentikan tingkah konyolmu itu! Lihatlah disana apakah kau melihat pohon yang bentuknya seperti payung itu?” Tanya Zuka. “Pohon yang paling tinggi itu kan?”  “Iya, aku memiliki firasat kalau kita akan mendapatkan sesuatu disana. Ayo kita perlu kesana sebelum didahului oleh orang lain.” “Jangan bercanda! Memangnya ada orang yang menyadari ketinggian pohon itu apabila dilihat dari bawah?” “Apa yang kau katakan ada benarnya juga. Baiklah ayo kita pergi kesana!” Zuka berjalan terlebih dahulu tanpa meminta persetujuan dari Gina. Di perjalanan mereka melihat pemandangan hutan yang semakin gelap walau waktu masih siang. Daun - daun di tempat itu benar - benar menutupi tanah sehingga membuat suasana semakin mencekam. “Perhatikan langkahmu Gina. Di tempat ini aku hampir tidak bisa merasakan apa - apa,” kata Zuka. “Bukankah kalau begitu ditempat ini tidak ada bahaya yang mengintai?” “Tidak, tempat sunyi dan gelap sangatlah berbahaya. Kita tidak bisa melihat musuh yang mau menyerang.” Gina pun terdiam mendengar perkataan Zuka yang sangat masuk akal baginya. Kini dia mulai mempercayai setiap perkataan Zuka setelah melihat apa yang terjadi tadi. Langkah demi langkah mereka lalui untuk mendatangi pohon aneh tersebut.  “Auuu…!” Tiba - tiba terdengar suara serigala melolong pada ambang tengah hari. “Mengapa ada suara seperti itu ditempat ini?” Tanya Gina yang langsung mendekatkan diri kepada Zuka. “Mungkin karena tempat ini sangat gelap dan cocok untuk menjadi habitat mereka. Jangan sampai jatuh karena serigala sangat jarang berkeliaran sendiri. Bahkan saat berburu mereka bersama dengan kerabatnya.” “Bukankah serigala memiliki penciuman yang sangat tajam?” Tanya Gina. “Kau benar. Sepertinya mereka sudah menyadari kehadiran kita disini dan menunggu salah satu dari kita terjatuh.” “Perlombaan apa ini? Mengapa mereka tidak memeriksa bahaya yang ada di tempat ini terlebih dahulu?” Gina terus mengeluh dan terduduk lemas. “Menurutku orang - orang itu sengaja membiarkan bahaya itu ada untuk menghalangi perjalanan kita.” “Kalau begitu mereka tidak peduli kalau kita akan hidup atau mati.” “Setelah apa yang telah terjadi mengapa baru sekarang kau berbicara tentang hidup dan mati. Bukankah kalau tadi kau ditelan ular itu pasti akan mati?” “Kau benar? Aku baru menyadarinya karena ketakutanku terhadap anjing dari kecil.” “Tenangkan dirimu karena kita akan memasuki lapisan paling gelap dari tempat ini sebelum mencapai pohon itu. Lihatlah ke atasmu!” Zuka menunjukkan kepada Gina kalau pohon tersebut ternyata sudah ada di depan mata. “Aku benar - benar tidak menyadari keberadaan pohon ini karena ketakutan mendengar perkataanmu.” “Yang salah bukan perkataanku tapi mentalmu yang begitu lemah,” kata Zuka. “Apakah kau tidak bisa sekali saja mengalah?” “Kesombonganmu telah membuat dirimu kehilangan jati diri yang seharusnya dibangun diatas dasar kesadaran akan kelemahan diri.” “Iya iya! Ayo kita lanjutkan perjalanan. Ocehanmu lebih menyeramkan daripada kegelapan ini.”  Begitu mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan tersebut, tidak terlihat apapun juga. Bahkan suara apapun tidak terdengar di tempat itu. “Zuka kau dimana? Aku tidak bisa melihatmu sekarang?” Walau Gina sudah berteriak berkali - kali, tidak terdengar suara Zuka yang menjawab panggilan tersebut. Gina semakin putus asa karena kesunyian benar - benar menyelimuti tempat dimana dia berdiri. Angin sepoi - sepoi basah yang sertai oleh hawa dingin tiba - tiba mengenai tengkuk Gina. “Apakah kau takut?” Suara lembut Zuka langsung mengejutkan Gina. “Aaa…!” Gina berteriak ketakutan. “Hahaha, mengapa kau begitu khawatir. Kegelapan seperti ini tidak akan mampu membutakan inderaku yang sudah terlatih ini.”  “Cass…!” Zuka menyalahkan obor dengan sebuah ranting yang sudah dilumuri minyak. “Nah baru kelihatan. Apakah kau baik - baik saja Gina?” Tanya Zuka. Gina yang sudah tersungkur melihat Zuka kemudian berdiri. “Mengapa kau tidak menyalakannya sejak tadi?”  “Apakah kau mau serigala itu mengetahui posisi kita? Sudahlah! Kita sekarang sudah berada di dalam pohon besar itu.” “Hah! Bagaimana bisa?” Gina terkejut. “Kalau kau tidak percaya lihatlah dinding ini!” Zuka menyentuh dinding dari kayu yang basah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD