Bangunan Kuno

560 Words
Dengan cepat dan hati - hati menaiki tangga yang terbuat dari akar dan sangat curam. Bahkan untuk menaikinya harus berpegangan seperti sedang mendaki. Zuka melihat Gina yang sudah sangat kelelahan mengalami kesulitan menaiki tangga tersebut. “Apakah kau tidak apa - apa?” Tanya Zuka kepada Gina yang sesekali menghela nafas panjang. “Tidak. Aku mau bisa sedikit lagi.”  “Jangan terlalu memaksakan diri karena tujuan kita sudah dekat. Setidaknya untuk pos pertama ini. Ingat kaulah yang ingin mengikuti permainan ini sejak awal bukan?” Zuka pun melanjutkan langkahnya dan tiba lebih dahulu di depan pintu masuk. Beberapa pintu sudah terbuka oleh kunci dengan bentuk yang hampir sama dengan milik mereka. Mereka melangkah menuju salah satu pintu yang belum terbuka dan memasukkan kunci yang ada pada Gina. “Klek!” Pintu itu pun terbuka dengan satu putaran berlawan arah dengan jarum jam. Dibalik pintu tersebut terdapat lorong panjang dan lurus dengan dinding yang terbuat dari tanah. “Gelap sekali!” Gina menggigil karena tidak ada penerangan di tempat itu. “Wajar saja kalau hari sudah petang. Oleh karena ini kita harus bergegas masuk sebelum malam tiba.” Di dalam lorong itu tidak terdengar suara apapun dan sangat lembab. Kelihatan sekali kalau tempat ini sudah berumur ratusan tahun. “Apakah kita tidak apa - apa masuk ke dalam sini?” Keluh Gina. “Jangan khawatir, walaupun terlihat ringkih tapi kontruksi ini cukup kuat untuk berdiri selama ribuan tahun sekalipun.” “Astaga, bagaimana cara mereka membangun tempat ini tanpa teknologi maju seperti saat ini.” Gina menyentuh dinding tanah dan dia dapat merasakan betapa kokoh pondasinya.  Demikianlah mereka terus menyusuri lorong itu selama beberapa saat.  “Klak...klak...klak!” Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka tapi tidak terlihat apapun di depan atau pun dibelakang. “Zuka, bagaimana mungkin kita bisa mendengar suaranya tapi tidak ada sesuatu apapun disini?” Tanya Gina. “Sepertinya lorong ini menyebabkan terjadinya pantulan suara dari tempat yang jauh,” jawab Zuka. “Oya kita pernah mempelajarinya dahulu saat di akademi.” “Awas!” Zuka langsung mengeluarkan kedua belatinya karena menyadari kehadiran hawa membunuh yang sangat dekat. “Selamat datang di pos pertama nona Zuka dan nona Gina. Kalian adalah peserta terakhir hari ini. Apakah kalian mau langsung melanjutkan perjalanan atau beristirahat dahulu?”  Seorang pria dengan pakaian suku pedalaman datang menyambut kedua wanita itu. Walau dia memiliki hawa membunuh yang sangat kuat tapi dari penampilannya tidak menunjukkan adanya niat untuk membunuh siapapun. “Katakan padaku siapa sebenarnya dirimu?” Zuka memaksa. “Maaf tapi kami dilarang untuk memberitahukan informasi apapun yang berkaitan dengan permainan ataupun identitas kami. Tapi kalau kalian memaksa berarti terpaksa kami membujuk dengan cara yang lebih dimengerti.” “Apakah maksudmu kau ingin memaksa kami mengikutimu?” Gina mulai ketakutan begitu merasakan hawa membunuh semakin kuat dari pria tersebut. “Tentu saja kalau kalian tidak mau bekerjasama,” jawab pria tersebut sambil tersenyum. “Baiklah kami akan mengikutimu. Tapi kami mau beristirahat terlebih dahulu. Oh ya apakah pria yang bernama Gazan dan Andris sudah tiba ditempat ini?” Tanya Zuka. “Tuan Gazan dan Tuan Andris sudah tiba saat tengah hari sebagai yang pertama kali mendapatkan tempat ini.” “Bagaimana mungkin mereka bisa menyelesaikannya begitu cepat?” Gina sangat kesal mengakuinya “Kalau itu silahkan tanyakan langsung kepada mereka berdua. Tugas saja hanyalah sebagai pelayan yang menyediakan kebutuhan para peserta.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD