Kamar Yang Nyaman

534 Words
Pelayan itu pun kemudian mengantarkan Zuka dan Gina ke tempat istirahat yang sudah disediakan bagi para peserta yang berhasil mencapai pos pertama. Saat membuka kamar itu mereka langsung terkejut melihat bagian dalamnya. Kamar itu dibuat dengan bagus sedemikian rupa agar para peserta dalam beristirahat dengan sempurna agar tenaganya cepat pulih untuk mengikuti permainan berikutnya. “Hey, apakah makan itu disediakan untuk kami?” Gina begitu gembira karena tidak perlu memakan daging ular yang dibawa oleh Zuka dari hutan. “Benar sekali nona Gina. Kalian dapat menikmati semuanya yang ada di dalam ruangan ini. Hanya saja kalian tidak boleh keluar seorang diri tanpa pengawalan dari kami. Jadi apabila kalian memiliki keperluan pribadi silahkan sentuh bola kristal yang ada di antara tempat tidur itu. Maka salah satu diantara para pelayan yang lokasinya terdekat akan dapat untuk melayani keperluan anda. “ “Memangnya apa yang terjadi kalau kami yang pergi seorang diri tanpa pengawalan?” “Kami tidak diberi ijin untuk menjawab pertanyaan diluar perjanjian yang telah anda tanda tangani kemarin.” “Hah, memangnya ada peraturan yang bertulis tentang keberadaan kalian?” “Apakah anda mau kami bacakan sekarang agar lebih jelas?”  “Tidak! Itu tidak perlu. Aku percaya pada perkataan kalian,” seru Zuka yang langsung terduduk di tempat tidurnya sambil mengambil sebuah pisang untuk dimakan. “Hey, mengapa kau tidak membiarkan dia membaca peraturan itu agar aku bisa percaya? Katakan padaku apa alasanmu!” Gina masih belum terima karena Zuka yang mengintervensi permintaannya kepada pelayan. “Itu salahmu karena tidak membaca peraturan yang begitu jelas. Bahkan orang bodoh tidak akan melewatkan poin yang ditulis dengan huruf kapital cetak tebal itu.” Zuka pun kembali mengambil buat lainnya karena dia biasanya memang makan buah saat benar - benar lapar. “Yang benar? Jangan - jangan kau sudah mengetahui peraturan disini?” Gina terkejut karena dia merasa sangat keliru dengan kemampuan Zuka. “Tentu saja. Aku sudah mencermatinya sebelum diberikan kepada Gazan. Selain itu aku tidak mau kalah hanya karena tidak mengetahui aturan permainannya. Termasuk dengan alasan teman yang lemah.” Zuka membuang mukanya karena dia sedang berbicara tentang Gina. “Mungkin sekarang kau meremehkanku. Tapi aku berjanji akan meningkatkan kemampuan sehingga kau tidak lagi memandang aku rendah.” Gina menatap Zuka dengan tajam akibat sudah begitu emosi. “Tok...tok...tok! Apakah kalian ada di dalam?” Terdengar suara Andris dari balik pintu. Maka terkejutlah Gina karen malu baru saja tiba. “Diam!” Gina meminta Zuka agar tidak menjawab panggilan Andris karena takut diledek. Zuka tidak punya pilihan selain mengikuti kehendak Gina yang sangat bersikeras tidak mau mengeluarkan suara sedikitpun. “Hey, aku tahu kalian ada didalam bukan? Aku mengetahuinya dari papan pengumuman yang terpampang kalau nama kalian termasuk dalam bilangan orang yang berhasil melewati rintangan pertama. Disana tertera kalau kalian menggunakan kamar ini untuk tempat beristirahat. Cepatlah buka karena aku tidak mau terlalu lama disini.” Andris terus memaksa walau tidak mendapatkan respon apa - apa dari mereka. “Gazan, bagaimana kalau kau yang memanggil mereka?” Pinta Andris dan mempersilahkan Gazan maju ke pintu. Begitu mendengar perkataan Andris yang menyebut nama masternya, Zuka dengan spontan langsung membuka pintu tersebut. “Silahkan masuk.” Zuka hanya bisa berdiri tegak saat Gazan memasuki ruangan tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD