Tamu Tak Diundang

554 Words
“Apa yang kau lakukan Zuka?” Gina masih tidak terima karena Zuka tidak menuruti perintahnya. “Kau tidak berhak memerintahku disini atau dimana pun itu,” jawab Zuka dengan lugas dan membuat Gina terdiam. Tanpa permisi Andris langsung menerobos masuk untuk melihat keadaan mereka. “Aku tidak menyangka kalian berdua dapat sampai di titik ini dengan petunjuk yang sedikit,” kata Andris. “Ada apa Andris? Apakah kau takut kalah?” Gina menatap tajam ke mata Andris sehingga membuatnya berhenti tertawa. “Malah sebaliknya, aku merasa lebih tertantang untuk mengalahkan kalian. Aku ingin tahu bagaimana rasanya gagal menjadi juara dalam permainan ini.” Andris balas menatap Gina dan tersenyum sinis. “Zuka, apakah kau tidak apa - apa?” Tanya Gazan. Tiba - tiba ruangan itu berubah menjadi sunyi karena Gina dan Andris terkejut melihat perlakuan Gazan kepada Zuka yang terbilang agak aneh. “Aku tidak apa - apa,” jawab Zuka dengan tersenyum. “Hey sebenarnya diantara kalian ini ada hubungan apa sehingga bisa begitu santai berbicara satu sama lain?” Seru Andris. Gazan menatap Andris dengan wajah serius. “Apakah ada sesuatu yang salah kalau bertanya kepada seseorang?”  “Tapi yang kau tanya itu adalah seorang wanita,” sahut Andris memotong pembicaraan. “Mmm, memangnya kenapa kalau dia seorang wanita. Aku pun akan melakukan hal sama kepada yang lain,” jawab Gazan. “Lalu mengapa kau tidak menanyakannya kepada Gina?”  “Aku rasa di akan baik - baik saja karena ada Zuka disampingnya. Benar bukan?” Jeremy menatap Gina. Gina terkejut mendapatkan pertanyaan itu mengingat apa yang sudah terjadi dan apa yang telah dilakukan oleh Zuka bagi dirinya. “Aku hanya melakukan apa yang harus untuk mengikuti permainan ini.” Zuka tersenyum kepada Gina seperti dipaksakan. “Oh iya benar sekali,aku sangat terbantu oleh Zuka.” Gina terbata - bata karena bingung harus berkata apa. Demikianlah akhirnya Andris kehabisan alasan untuk melanjutkan pembicaraan itu. “Oh ya kami dengar kalianlah yang terlebih dahulu sampai ke tempat ini. Apakah kalian sudah bertemu dengan para peserta lainnya?” Tanya Gina. “Kami tidak peduli dengan mereka. Tapi sepertinya kami bertemu dengan beberapa orang yang terlihat berpengalaman di jalan menuju kesini. Dari penampilan mereka aku yakin sudah melewati banyak rintangan susah,” jawab Andris. “Ayo sudah waktunya kita melanjutkan perjalanan.” Gazan memanggil Andris kemudian berbalik badan. “Apa kalian gila mau pergi disaat gelap seperti ini?” Gina terkejut. “Berarti kalian belum mendapat informasi perihal pos kedua bukan? Segeralah habiskan makanan kalian dan mendaftarkan diri untuk melanjutkan permainan menuju pos dua.” Zuka dan Gina terdiam mendengarnya.  “Kau istirahat saja! Aku yang akan pergi ke tempat pendaftaran,” kata Zuka kepada Gina. “Baiklah kalau begitu. Tapi kau harus berhati - hati karena aku khawatir mereka akan melakukan sesuatu yang jahat agar kita gugur dari permainan ini.” “Kau tenang saja Gina. Kalau mereka mampu melakukannya berarti kita memang pantas untuk berhenti di pos ini.” Zuka tersenyum dan keluar dari ruangan tersebut. Baru saja keluar dari tempat itu tiba - tiba seorang pelayan datang menghampirinya. “Apakah anda mau pergi mendaftar untuk pos dua?”  “Kau benar. Antarkan aku sekarang!” Tanpa basa basi Zuka berkata dengan tegas. Saat tidak dilihat oleh Gina dan Andris, Zuka kembali menjadi pribadi biasa yang merupakan pelayan dari Gazan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD