Malam itu Raya tengah menonton televisi bersama ibunya di ruang TV, sambil menunggu ayahnya dan Adrian yang masih berada di masjid. Sebenarnya Raya risih karena intensitas pertemuannya dengan Adrian begitu sering, apalagi sekarang malam minggu yang kesannya Adrian tengah apel ke rumahnya, padahal Raya tidak mau pacaran, dirinya ingin rumah tangganya nanti berkah maka prosesnya pun harus berkah tanpa harus merusak intisari pernikahan itu sendiri. Namun Adrian seolah memiliki 1001 alasan agar dirinya bisa sering bertemu Raya, untungnya ayah Raya menjadi penyelamat Raya, ayahnya selalu menemani Adrian mengobrol bahkan main catur. Sehingga Raya bisa terbebas dari berdua-duaan dengan Adrian.
Ketika tengah asyik menonton TV, Raya dikagetkan dengan seseorang yang mengucap salam, Raya berfikir itu Adrian dan ayahnya yang habis pulang dari masjid, dirinya segera memakai kerudung selendang dan langsung menyelendangkannya di kepalanya tanpa menggunakan peniti. Betapa kagetnya Raya ketika yang dilihatnya adalah Ayas, tanpa banyak bicara, Raya langsung mempersilkan Ayas masuk dan duduk, dirinya tak bertanya pada Ayas mengenai maksud kedatangannya. Raya segera pergi membawa air dan beberapa kue untuk disuguhkan pada Ayas, Raya sempat mengobrol dengan Ayas mengenai kabar dan aktivitas, Raya melihat ada kegugupan di diri Ayas, tak lama ayah dan Adrian datang, mereka berdua duduk bersama dengan Ayas di ruang tamu.
Pikiran Raya berkecamuk tak karuan, Ayas seperti hendak melamar dirinya, dari kejauhan terdengar Ayas hendak membicarakan maksud kedatangannya namun Raya keburu datang membawa air untuk ayah dan Adrian, Raya sengaja memotong pembicaraan Ayas yang menyerempet ke arah serius, hal itu terpaksa dilakukan Raya untuk menyelamatkan harga diri Ayas, Jika saja Ayas datang melamar lebih cepat, mungkin Raya pasti akan bahagia, namun kini dirinya sudah dilamar oleh Adrian.
Raya datang sambil memberikan air untuk Adrian dan ayahnya sebelum Ayas melanjutkan bicaranya, saat akan memberikan air untuk Adrian, Adrian menggombal di depan Ayas dan ayahnya, dengan menyebutnya calon istri, tentu saja hal itu membuatnya malu namun tindakan Adrian seolah membantunya untuk memberi tahu pada Ayas bahwa dirinya kini sudah dilamar.
Setelah mengetahui hal itu Ayas menjadi gugup bahkan stuteringnya menjadi-jadi, Raya merasa kasihan namun inilah kenyataannya, apalagi ketika Ayas berpura-pura memberikan undangan pernikahan teman yang jelas-jelas Raya tidak mengenalnya sama sekali, bahkan nama tamu undangan tersebut bukan nama dirinya melainkan nama Ayas. Agar ayah dan Adrian tidak curiga, Raya menerima undangan tersebut, tak lama Ayas pergi. Raya mengantarnya sampai pintu tanpa berkata-kata, Raya tahu hati Ayas pasti hancur.
Raya hanya menatap punggung Ayas dari kejauhan, dirinya mungkin tidak akan pernah beertemu dengan Ayas lagi, seandainya Ayas datang lebih cepat. Hati Raya ikut menangis, padahal moment ketika Ayas datang melamar adalah moment yang amat ditunggu-tunggu Raya sejak dulu, tapi nasi sudah menjadi bubur, dirinya sebentar lagi akan segera menikah dengan Adrian. Pantang baginya untuk memikirkan Ayas, dirinya harus fokus pada seseorang yang akan menikahinya, Adrian.
“Ngapain di luar lama-lama? Dingin, ke dalam yuk!” ajak Adrian ketika mendapati Raya hanya diam mematung di teras rumah, Raya hanya mengangguk lalu masuk ke dalam rumah.
**
“Ray, orangtuaku akan datang seminggu lagi, kebetulan urusan mereka di Australia sudah selesai, jadi mereka bisa cepat-cepat kemari.” Ujar Adrian suatu siang di rumah Raya.
“Oh ya? Ya Alhamdulilah, jadi tanggal pernikahan sudah bisa segera ditentukan.” Kata Raya. Adrian tersenyum dia mencoba menggoda Raya dengan sedikit menyenggol lengan Raya dan berguyon kalau Raya sudah tidak sabar untuk menikah dengannya. Hal itu membuat Raya merenung bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi nyonya Adrian, tidak ada yang harus dikhawatirkan sekarang, karena beban hatinya sudah pergi dan impiannya untuk segera naik ke pelaminan segera terwujud. Untuk memantapkan hati, Raya melakukan sholat istikharah setiap malam, biasanya jika melakukan sholat istikharah, Alloh memberikan petunjuk, dengan lancarnya proses menuju pernikahan juga merupakan suatu petunjuk bahwa Adrian merupakan jodohnya. Raya melihat setelah dirinya melakukan sholat istikharah selama dua minggu, proses menuju ke pernikahan dimudahkan oleh-Nya, namun semuanya kembali kepada Yang Maha Kuasa, karena yang Namanya jodoh itu adalah misteri, Raya hanya bisa berikhtiar dan terus melibatkan Alloh dalam segala hal.
Ayah Raya datang menengahi Raya dan Adrian agar terhindar dari khalwat1, mereka berdua tengah membicarakan konsep pernikahan dan t***k bengek lainnya yang Raya sama sekali tidak tahu, Raya menyerahkan semuanya pada ayahnya saja, Raya pergi ke dapur membantu ibunya menyiapkan makanan ringan.
Adrian sering sekali mengajak Raya untuk pergi jalan-jalan, apalagi ketika hari minggu seperti sekarang ini, namun ayahnya tentu saja melarangnya karena merasa khawatir. Karena itu Adrian meminta ayah Raya untuk memajukan saja acara pernikahannya, karena dirinya ingin segera bisa berjalan-jalan berdua dengan Raya. Raya yang tengah mengantarkan makanan ringan, merasa geli dengan sikap Adrian. Raya sudah semakin merasa yakin bahwa Adrian adalah jodohnya, buktinya dalam waktu kurang dari sehari tanggal pernikahan yang belum ditentukan saja berubah maju, bahkan sebenarnya orangtua Adrian dipaksa untuk pulang ke Indonesia semata-mata agar Adrian bisa segera menikahi Raya. Raya hanya tersenyum mendengarnya, dirinya semakin yakin bahwa Adrian memang benar jodohnya.
**
Raya kembali mengunjungi kedai kopi Sakko, melanjutkan aktivitasnya menulis, karena baginya tidak ada caffe yang lebih nyaman selain kedai kopi Sakko. Selain itu dirinya juga ingin tahu kabar Ayas setelah dirinya datang ke rumahnya, sebenarnya tidak etis untuk seseorang yang sudah bertunangan seperti dirinya masih mencari-cari Ayas, namun kali ini dirinya datang sebagai teman tidak lebih. Dirinya juga sangat ingin bisa mengobrol dengan Ayas dengan nyaman layaknya seorang teman. Namun sayangnya Raya tidak menemukan Ayas, menurut Aji, Ayas sudah tidak bekerja lagi di kedai kopi Sakko.
Mendengar hal itu, Raya merasa bersalah, dirinya telah mengacaukan hidup seseorang, seandainya saja Raya tidak mengungkapkan perasaannya pada Ayas, mungkin Ayas kini masih hidup dengan tenang. Sebenarnya Raya sangat penasaran, apakah hati Ayas sedemikian hancurnya sehingga dia harus berhenti bekerja? Raya benar-benar merasa bersalah, tapi Raya yakin Ayas pasti bisa melewati semuanya dengan baik, dia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri agar bisa menerima semua keadaan, seperti Raya dulu ketika ditolak oleh Ayas, dia pergi selama satu bulan penuh ke rumah neneknya di desa.
Layar laptop Raya masih hitam, dirinya belum menekan tombol power untuk menghidupkan laptopnya, pikirannya tidak berada di situ, hatinya apalagi. Tanpa menunggu waktu lama, setelah kopinya dia habiskan, Raya segera pergi dari kedai kopi Sakko untuk mencari tempat lain. Setelah Raya keluar dari kedai kopi Sakko, entah kenapa hati Raya terasa sakit, terasa teramat perih, dirinya seolah mengalami patah hati untuk kedua kalinya.
Saat Raya hendak menstarter motornya, ponselnya berbunyi, disitu tertulis nama Adrian, Raya segera mengangkatnya. Dalam percakapan di telepon, Adrian menanyakan keberadaan Raya serta ingin mengajaknya untuk berbelanja barang-barang untuk seserahan nanti, Raya meminta Adrian untuk mengajak ibunya serta, agar dirinya tidak berduaan dengan Adrian, dan Adrian pun setuju.
Sebelum pergi, Raya menatap langit yang biru, hatinya serasa sesak, namun disamping itu ada rasa haru juga senang, perasaan yang campur aduk yang tidak bisa diterka maknanya apa, apakah dirinya juga harus pergi menenangkan diri lagi? Tapi sampai kapan harus begini? Raya hanya menghela nafas panjang, dirinya ingin menjalani apa yang seharusnya terjadi, tanpa harus menoleh ke belakang.
***