Ayas berhenti kerja dari kedai kopi Sakko, dirinya memutuskan untuk berwiraswasta dengan membuka usaha percetakan. Memang berat, namun dirinya harus berubah, tidak mungkin akan selamanya stganan, lagipula Ayas merasa kurang cocok bekerja di sana. Disamping itu, Ayas ingin mencoba hidup baru setelah apa yang dialaminya. Ayas menulis daftar di buku catatannya mengenai hal-hal apa saja yang ingin dia lakukan selama dirinya hidup. Dia juga ingin menemukan permata di dalam dirinya, mencari jati dirinya, maka dirinya pun dalam jangka pendek ini berencana untuk naik gunung bersama teman-teman masa kecilnya yang masih sama-sama lajang. Dirinya ingin menemukan impiannya, sari pati hidupnya, jati dirinya.
Sebelum berangkat ke gunung, Ayas mempersiapkan dirinya dengan berolahraga, juga membeli beberapa peralatan naik gunung lainnya yang belum sempat terbeli. Orangtua Ayas merasa lega dan mendukung seratus persen keputusan putranya tersebut, bagi ayahnya, sudah waktunya Ayas menikmati hidupnya, sejak dulu Ayas tidak pernah diberi kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, orangtua Ayas tanpa sadar terlalu mengatur hidup putranya tersebut, sampai-sampai memilih jurusan kuliah pun ditentukan oleh mereka, karena bagi ayahnya, Ayas harus menjadi seorang PNS seperti dirinya, namun ternyata kenyataan di lapangan tidak sesuai apa yang diharapkan. Sekarang, setelah apa yang terjadi pada putranya itu ayahnya tidak lagi ingin ikut campur.
Setelah solat shubuh, Ayas berangkat bersama teman-teman laki-lakinya untuk melakukan perjalanan menuju gunung menggunakan mobil zip yang dimiliki oleh Reza, salah satu temannya yang juga ikut. Ini merupakan kali pertama bagi Ayas naik gunung, maka dirinya begitu antusias dan bersemangat. Salah satu alasan dirinya untuk naik gunung tak lain adalah untuk melupakan Raya, dirinya merasa bayang-bayang wajah Raya selalu mengikutinya, sehingga dirinya menjadi tidak fokus. Ayas merasa dirinya membutuhkan waktu untuk bisa melepaskan wanita yang dicintainya itu, apalagi selama hidupnya baru pertama kali dirinya jatuh cinta pada seorang wanita dan sebenarnya wanita itu juga mencintainya, namun karena waktu dirinya benar-benar kehilangan wanitanya itu. Dalam hati yang paling dalam, Ayas merasa menyesal karena kebodohannya terlambat menyadari perasaan yang sesungguhnya, dirinya terlalu memikirkan keadaan sehingga pada akhirnya dia harus menerima bahwa wanita yang dicintainya itu memilih orang lain. Jika mengingat itu, hati Ayas begitu sesak, tak terbayangkan sesaknya itu seperti apa, pokoknya hatinya serasa berubah seperti kaca yang pecah berkeping-keping.
Dalam hembusan angin pagi, Ayas mencoba menghidu segarnya udara pagi yang bersih sambil menutup mata dan merentangkan kedua tangannya, dirinya tidak pernah merasakan perasaan sebebas ini, lukanya sedikit terobati sekarang. Perasaan itu mengingatkannya pada dirinya waktu kecil, ketika dirinya dibonceng dengan menggunakan sepeda oleh ayahnya, menutup mata sambil merentangan tangan seperti yang dilakukannya sekarang.
Ayas membaca bucket list di buku catatan kecilnya, banyak hal yang harus dia lakukan agar hidupnya bermakna dan tidak sia-sia, apalagi sekarang dirinya akan membuka usaha percetakan yang tentunya akan menguras waktu dan tenaganya, juga penghasilan yang tidak akan menentu, maka dirinya harus memiliki amunisi yang kuat untuk menghadapi badai kehidupan yang akan terjadi.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, Ayas dan teman-temannya akhirnya sampai di lokasi, Ayas takjub dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Di sana selain Ayas dan teman-temannya, banyak pendaki yang juga datang dari berbagai daerah. Pak Yosi selaku sesepuh desa memberikan nasihat pada semua pendaki untuk tetap berhati-hati.
Sebelum memulai pendakian, Ayas dan teman-temannya bermalam dengan mendirikan tenda yang masih di lokasi yang sama saat mereka datang, mereka menyiapkan amunisi untuk pendakian besok, karena medannya agak berat, Reza selaku ketua tim sekaligus orang pertama di timnya yang pernah memiliki pengalaman mendaki gunung itu sebelumnya memberikan motivasi dan mempersiapkan segala hal yang akan terjadi nanti. Ayas benar-benar berdebar-debar, ini merupakan pengalaman baru baginya, dirinya merasa bersemangat sekaligus takut untuk menaklukan gunung yang akan didakinya besok.
Ayas dan teman-temannya bangun pukul tiga pagi, mereka bersiap-siap untuk mendaki gunung, Ayas melihat para pendaki lain juga tengah bersiap-siap untuk pergi, namun tidak sedikit pula pendaki lain yang masih berada di dalam tendanya. Reza sebagai ketua tim memilih waktu tersebut karena medan yang akan ditempuh nanti itu berat.
Ayas bersama timnya mulai berjalan menelusuri jalan menanjak, sebelum mereka melewati hutan yang menurut Reza merupakan hutan dengan medan yang sulit dan membingungkan, karena jika sampai tersesat hanya keajaiban yang akan membawanya pulang, maka Reza mewanti-wanti agar timnya tidak sampai tersesat dengan menggunakan media tali, yang masing-masing diikatkan di pinggang masing-masing, disamping itu kabut tebal juga menghalangi pandangan mereka, sampai akhirnya mereka berhasil melewati hutan itu dan harus menghadapi medan selanjutnya yang tak kalah sulit. Bagi Ayas naik gunung itu sama seperti menjalani kehidupan, kita akan banyak menemui kesulitan yang dihadapi di tengah-tengah tujuan hidup kita, berhasil di kesulitan yang satu maka kita harus siap-siap dengan kesulitan yang akan datang. Ayas benar-benar banyak belajar dan menangkap intisari dari kegiatannya mendaki gunung ini.
**
Setelah melewati berbagai medan yang terjal yang dia temui selama berhari-hari, akhirnya Ayas dan timnya sampai di puncak gunung pagi harinya, di sana juga sudah banyak para pendaki lainnya yang sampai. Ayas benar-benar terpukau dengan keindahan alam yang luar biasa, dia mengucapkan rasa syukur sambil bersujud atas karunia yang telah Tuhan berikan untuknya.
“Gimana Yas, indahkan?” tanya Reza padanya.
“Subhanalloh, luar biasa indahnya,” jawab Ayas sambil matanya tak lepas dari pemandangan menakjubkan di depannya.
Ayas seperti berada di atas awan, seperti biasa dirinya merentangkan tangannya dan menutup mata serta menghidu udara gunung yang bersih, Dirinya membiarkan tubuhnya diterpa angin gunung, mungkin menurut para pendaki lain, tindakan Ayas begitu kampungan, namun dia tidak peduli, dirinya benar-benar menikmati moment yang langka ini, perasaan yang tak biasa itu tidak mungkin dia lupakan seumur hidupnya.
Siang harinya, setelah puas menikmati area puncak, dirinya dan tim segera pergi untuk turun gunung, sebelum turun, Ayas menatap keindahan alam yang menakjubkan itu sekali lagi untuk yang terakhirnya, dirinya tidak bisa memprediksi apakah dia akan kembali lagi ke tempat ini suatu hari nanti atau tidak, namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ayas berharap bisa kembali lagi naik gunung bersama teman-temannya yang lain. Ayas pun pergi menyusul Reza dan kawan-kawannya.
Ayas dan timnya kembali ke camp di hari ketiga saat malam hari, akhirnya dirinya dan tim bisa berisitirahat dan makan dengan enak, setelah sebelumnya kurang tidur dan kurang asupan makanan. Setelah makan, dirinya merebahkan diri di tendanya, Reza dan teman-temannya yang lain sedang bernyanyi menggunakan gitar, disamping itu para pendaki lain dari berbagai daerah juga turut serta bergabung dengan teman-temannya dan saling mengenalkan diri satu sama lain. Sedangkan Ayas tengah rebahan di tenda sambil dirinya melihat ponsel yang berisi foto-foto dirinya dan teman-temannya selama melakukan perjalanan naik gunung dan ketika di puncak gunung. Ketika Ayas tengah men-slide foto-foto di ponselnya, dirinya tanpa sengaja melihat foto Raya yang tengah bertopang dagu sambil menatap jalanan yang terhalang oleh kaca jendela saat di kedai kopi Sakko. Hati Ayas tiba-tiba panas, dirinya ingat foto itu dia ambil secara diam-diam saat dirinya masih bekerja di kedai kopi Sakko.
Tak terasa air mata Ayas menetes, dia seolah kehilangan semangat lagi setelah apa yang dilaluinya, baginya, Raya adalah segalanya, dia belum siap untuk menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya itu akan menikah dengan orang lain. Ayas merasa Raya adalah belahan jiwanya, namun kini belahan jiwanya itu akan hilang dan pergi. Hati Ayas tiba-tiba sesak, dirinya tidak mampu lagi menahan beban cinta yang masih dia pikul, dirinya pun tidak mampu untuk melepaskan beban cinta itu. Ayas benar-benar bingung dengan apa yang dihadapinya kini, semakin dia melupakan Raya, perasaan cinta itu semakin dalam.
Ayas ingin sekali mengetahui kabar Raya kini, namun dirinya melihat bahwa dia bukanlah siapa-siapa dan tidak berhak tahu apapun tentang kehidupan Raya. Ayas hanya bisa berdoa, supaya Tuhan segera menyembuhkan hatinya dari belenggu cinta Raya dengan segera, agar dirinya bisa menjalani hidup dengan tenang dan bahagia.
Ayas menangis sesenggukkan di dalam tenda sendirian, tidak ada yang mendengarkan karena lokasi tenda dengan tempat berkumpulnya teman-teman dan para pendaki lain lumayan agak jauh, sehingga Ayas bisa menangis dengan leluasa. Rasa sesak di dalam dadanya dia coba keluarkan, dirinya ingin ketika pulang nanti, Ayas sudah lepas dari belenggu cinta Raya, hari barunya nanti merupakan awal untuk menaiki tangga pertama. Mungkin di awal-awal pasti dirinya akan mendapatkan kesulitan, namun dia yakin, dia pasti bisa melewatinya dengan baik. Ayas menghapus air matanya, dia menutupi matanya yang sembab dengan menggunakan kaca mata, kemudian dia keluar dari tenda, dan bergabung dengan teman-temannya yang lain yang tengah bercanda dan bernyanyi dengan riang gembira. Seharusnya Ayas ikut bersenang-senang alih-alih hanya memikirkan nasib naasnya karena seorang wanita yang dicintainya hendak menikah dengan orang lain. Ayas tidak ingin seperti Qois yang menjadi gila karena cintanya pada Laila tidak terwujud, dirinya ingin menjadi Ayas yang penuh semangat dan memiliki banyak harapan akan masa depan dan hidupnya. Dirinya disambut oleh Reza dan teman-temannya dan duduk melingkari api unggun serta ikut bernyanyi bersama.
***