Tragedi

2285 Words
            Ba’da Ashar, Raya tengah menyeduh kopi ketika pintu rumahnya ada yang mengetuk, di luar hujan begitu deras dan Raya tinggal sendirian di rumah, orangtuanya pergi ke Bandung selama beberapa hari untuk menengok paman Raya yang terkena kecelakaan motor. Awalnya Raya juga akan ikut, namun dirinya ada pekerjaan dari editor untuk memperbaiki naskah novelnya yang telah dikurasi, karena deadline semakin menyempit, maka Raya tidak jadi ikut, Raya membuka tirai jendela, dilihatnya Adrian di depan pintu, Raya sudah mengatakan pada Adrian untuk jangan dulu ke rumahnya, karena orangtuanya tidak ada, tapi Adrian malah dengan sengaja datang. Raya bingung apakah harus membuka pintu untuk Adrian atau tidak, namun karena Adrian melihat Raya,  Raya mau tak mau harus membuka pintu.             “Hai, Ray, boleh aku masuk? Bajuku basah nih,” kata Adrian sambil ngeloyor masuk rumah, sengaja Raya tidak menutup pintu, namun karena hujan angin yang justru malah membuat air hujannya masuk ke rumah, Raya terpaksa menutup pintu rumahnya rapat-rapat.             Tanpa menjawab sapaan Ayas, Raya pergi untuk mengambil handuk dan baju ganti milik ayahnya untuk dipakai Adrian. Adrian menerimanya dan pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Selepas berganti pakaian Adrian duduk di ruang tamu, di meja sudah tersedia teh manis hangat untuk Adrian.             “Ray, bapak sama ibu pergi ya, kamu gak takut sendirian di rumah?” Tanya Adrian seraya menyeruput teh manis yang disuguhkan.             “Enggak, udah biasa kok.” Jawab Raya.             “Oh iya, laki-laki yang minggu lalu datang ke sini, teman kamu?” Tanya Adrian lagi, pertanyaan itu membuat Raya agak sedikit gugup, bukan karena takut Adrian salah paham, melainkan hatinya sedikit bergetar mengingat Ayas.             “Hanya teman SMA.” Jawab Raya tanpa gugup, namun hatinya sedikit berdebar-debar.             “Bukan mantan kamukan?”             “Bukan.”             “Untuk apa dia kemari malam itu? Pasti ada maksud lain selain memberikan undangan pernikahankan? Aku yakin kamu gak kenal sama nama yang ada di undangan pernikahan itu.” Sembur Adrian, membuat jantung Raya berdebar-debar, namun Raya berusaha tenang.             “Aku gak tahu maksud kedatangannya malam itu, namun itu sudah berlalu dan tidak penting lagi untuk dibahas bukan?” Jawab Raya tenang. Adrian menatap Raya tajam, namun Raya berusaha untuk tidak menatap mata Adrian.             “Ya, orang itu sama sekali tidak penting, yang terpenting adalah masa depan kita berdua, iya kan?” Kata Adrian sambil mengerling manja pada Raya, dan Raya hanya mengangguk. Raya hendak pergi ke dapur untuk mengambil beberapa camilan, namun Adrian malah memegang tangan Raya secara paksa dan menjatuhkan Raya ke pelukannya. Tentu saja Raya berontak dan hendak melepas pelukan Adrian, namun tenaga Raya tak cukup untuk menandingi Adrian yang dengan kuat memeluknya.             “Apa-apaan ini Adrian, lepaskan aku!” teriak Raya seraya meronta-ronta untuk melepaskan diri.             “Ray, kita ini akan menikah, memangnya salah kalau aku memelukmu? Bahkan aku tidak diizinkan untuk sekedar memegang tanganmu?” sergah Adrian dengan nafas memburu, Raya benar-benar takut, dirinya seperti tidak mengenal sosok Adrian, Adrian yang sekarang seperti sedang kerasukan setan. Adrian dengan sigap membopong Raya dan hendak membawanya ke kamar, namun Raya memegang barang-barang apapun di rumahnya untuk dijadikan senjata, namun lagi-lagi Raya gagal, bahkan tirai yang Raya pegang pun sobek dan terjatuh. Raya berteriak minta tolong namun karena hujan begitu deras, suaranya tertelan hujan sehingga tidak ada orang yang mendengar teriakannya. Raya memohon pada Adrian untuk melepaskannya, namun Adrian sudah seperti kehilangan kendali, dirinya seperti iblis yang menyamar sebagai manusia.             Raya masih mempertahankan benteng pertahanannya meski sekarang Adrian sudah membawanya ke kamarnya, Raya melihat kendi yang terbuat dari tanah liat yang dulu dibuatnya ketika SMA, tangannya mencoba meraih kendi tersebut, dan langsung memukulkannya dengan keras ke kepala Adrian, saat itu Adrian hendak membuka jilbab Raya. Adrian mengaduh dan memegang kepalanya yang kesakitan, di kesempatan itu Raya segera berlari ke luar sebelum Adrian menyeretnya kembali, untungnya pintu rumah Raya tidak terkunci, Raya segera berlari menerjang hujan sambil berteriak seperti orang gila. Dirinya terus berlari sampai ke jalan raya sambil hujan-hujanan dan berteriak. Karena takut dikejar Adrian yang membawa mobil, Raya berlari ke jalan yang hanya dilalui motor dan sepeda, di tengah pikirannya yang buntu, Raya teringat teman mainnya sewaktu kecil yang tinggal di daerah itu, Ariny namanya. Dirinya langsung berlari meuju rumah Ariny dan mengetuk pintunya berkali-kali. Raya melihat Ariny membuka pintu dan dirinya langsung memeluk temannya erat. Ariny yang kebingungan karena Raya mendadak datang dan langsung memeluknya tidak berkata-kata, dan menyuruhnya untuk masuk ke rumah.             Ariny memberikan Raya handuk dan baju ganti miliknya serta mengantarkan Raya ke kamar mandi. Setelah Raya berganti pakaian, Ariny memberikan Raya teh dan beberapa camilan, ibunya Ariny khawatir melihat kondisi Raya yang seperti sudah melihat setan, namun Raya tetap bungkam, tangannya masih bergetar hebat, seolah tak ingin berhenti. Raya masih trauma dengan apa yang telah dialaminya. Raya hanya meminta dipinjamkan ponsel oleh Ariny untuk menelpon ayahnya yang tengah di Bandung. Setelah selesai menelpon, Raya meminta tolong pada Ariny untuk mengantarkannya ke rumah tante Arum yang merupakan adik kandung ibu Raya.             Hujan sudah mulai reda, Ariny dan Raya naik motor ke rumah tante Arum, sebelum pergi, Raya berpamitan pada ibu Ariny sambil memeluknya, tentu saja ibu Ariny dan Ariny merasa ada yang aneh dengan sikap Raya, tidak biasanya Raya bersikap seperti itu, namun Ariny tidak bertanya, dan motor matic milik Ariny pun melaju mengantarkan Raya dan Ariny ke rumah tante Arum.                                                                                                 **             Di rumah tante Arum, Raya tetap bungkam atas apa yang terjadi pada dirinya, Ariny juga merasa khawatir pada teman mainnya tersebut, Ariny dan tante Arum pun menyerah untuk menginterogasi Raya, dan Ariny pada akhirnya pulang, setelah sebelumnya Raya mengucapkan terimakasih padanya dan Raya pun berjanji dirinya akan bercerita namun tidak sekarang, Ariny pun mengangguk dan segera menstrater motor maticnya.             Raya merebahkan tubuhnya di kamar sepupunya yang masih kuliah bernama Nissa. Raya tidak berani untuk tidur, karena bayang-bayang Adrian yang hendak melecehkannya terus membayanginya. Di luar, sayup-sayup terdengar suara tante Arum tengah berbicara dengan ayah Raya melalui telepon, setelah menutup teleponnya, tante Arum menyuruh Nissa untuk menjaga Raya, lalu beliau pergi ditemani Satria, putra tante Arum yang kedua yang masih SMA. Tak lupa Raya menyuruh Nissa untuk mengunci pintu, mengingat dirinya hanya tinggal berdua dengan Nissa. Raya masih trauma dengan kejadian tersebut, disamping itu dirinya juga takut jika Adrian mengejarnya sampai ke rumah tante Arum.             Suara motor tante Arum terdengar di halaman rumahnya, Nissa segera membuka pintu untuk ibu dan adiknya tersebut, sebenarnya Raya ingin tahu banyak hal setelah apa yang terjadi, apakah Ardian masih ada di rumahnya? Kondisi rumahnya sekarang pasti seperti kapal pecah, karena semua perabotan di ruang tamu hancur saat Raya hendak menyelamatkan diri. Dan bagaimana tanggapan tante Arum setelah melihat kondisi rumahnya itu? Raya masih berada di kamar, namun tante Arum masuk ke kamar Nissa dan menutup pintu, tante Arum langsung memeluk Raya dengan erat. Raya berfikir sepertinya tante Arum tahu dengan apa yang telah terjadi pada keponakannya itu.             “Ray, kamu gak apa-apakan?” tanya tante Arum begitu melepaskan pelukannya. Raya hanya menggeleng lemah.             “Tante tadi lihat kondisi rumah kamu, pintu terbuka, isi rumah kamu bagai kapal pecah, tante pikir rumah kamu dibobol maling, di lantai kamar kamu tante lihat ada noda darah, darah siapa itu Ray?” tanya tante Arum lagi khawatir, tanpa sadar Raya menangis, dirinya pun menceritakan apa yang telah terjadi tadi sore dan apa yang hendak Adrian lakukan pada dirinya. Tante Arum kaget dan langsung memeluk Raya lagi, noda darah di lantai itu adalah darah Adrian yang mungkin terluka karena Raya pukul dengan kendi. Raya menanyakan keberadaan Adrian, namun tante Arum tidak menemukan Adrian. Raya pikir mungkin Adrian kabur karena takut dihajar keluarganya.             Tante Arum pun segera menelpon ayah Raya dan menceritakan segalanya, orangtua Raya memutuskan untuk segera pulang keesokkan harinya. Tante Arum menyuruh Nissa untuk menemani Raya, karena menurut tante Arum kondisi psikis Raya masih belum stabil. Tante Arum merupakan seorang perawat yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta, dirinya juga seorang single parent, suaminya meninggal karena kecelakaan lalu lintas, tante Arum hanya tinggal bertiga bersama anak-anaknya, disamping itu tante Arum dan Raya memiliki kedekatan satu sama lain, layaknya ibu dan anak kandungnya, itulah alasan mengapa Raya memilih untuk menginap di rumah tante Arum padahal Raya memiliki dua orang tante lagi yang tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari rumahnya.             Tante Arum juga membawakan Raya beberapa baju ganti dan ponsel miliknya, ketika dirinya berada di rumah Raya. Raya melihat Nissa sudah tertidur disampingnya sedangkan Raya sendiri masih belum tidur, dirinya menatap ponselnya agak lama dan memutuskan untuk menghidupkannya. Di sana tertera nama Adrian yang mencoba menelponnya berulang kali, dan beberapa chat w******p dari Adrian, Raya mencoba membuka WhatsAppnya. Adrian meminta maaf pada Raya atas apa yang telah dilakukannya, bahkan dirinya siap untuk bertemu dengan kedua orangtua Raya dan siap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Raya merasa jijik dengan Adrian, dirinya sama sekali tidak ingin bertemu dengan laki-laki b******k itu. Raya menangis dalam diam, karena takut Nissa terbangun karena tangisnya, Raya merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Adrian, bagi Raya permintaan maaf saja tidak cukup untuk memaafkan perbuatan jahatnya itu. Raya bersyukur Tuhan masih melindunginya.             Keesokkan harinya, Raya sudah tampil fresh, tante Arum mengambil cuti selama dua hari sampai orangtua Raya pulang dari Bandung sekaligus untuk menemani Raya, tante Arum tahu Raya masih trauma jika ditinggal sendirian di rumah, sedangkan Nissa dan Satria tidak bisa tinggal di rumah terus karena harus kuliah dan sekolah.             Pukul sepuluh pagi, orangtua Raya tiba di rumah tante Arum, ibu Raya langsung memeluk putri satu-satunya itu dengan diselingi isak tangis. Raya dan orangtuanya pulang dengan ditemani tante Arum, rencananya orangtuanya akan mengundang Adrian dan membicarakan kejadian yang menimpa Raya kemarin. Sebenarnya Raya tidak setuju dengan usul ayahnya, karena Raya masih takut bertemu Adrian, namun dirinya harus segera memutuskan apa yang seharusnya dia lakukan.                                                                                         **             Tiba di rumah, Raya merasa segan untuk masuk ke kamarnya, kamarnya sudah rapi, noda darahpun tidak ada, Raya yakin tante Arum pasti sudah membereskannya. Tante Arum belum pulang, dirinya masih menemani Raya, Nissa juga sehabis kuliah disuruh tante Arum untuk menginap di rumah Raya, sedangkan Satria tinggal sendiri di rumahnya. Kali ini di rumah Raya hadir juga Uwa Rohman, kakak pertama ibunya. Mereka  juga serius berembug untuk memutuskan sesuatu yang menyangkut masa depan Raya.             Malam harinya Adrian datang bersama kedua orangtuanya, kepala Adrian dililit perban, Raya masih berada di kamar ditemani Nissa.             “Pak, Bu saya mohon maaf atas perbuatan saya pada Raya kemarin, saat itu saya khilaf karena saya takut kehilangan Raya.” Kata Adrian, Raya yang mendengarnya merasa muak dengan apa yang dikatakan Adrian, bagi Raya Adrian sudah mati.             “Saya selaku ayahnya Adrian merasa malu atas perbuatan anak saya pada putri anda, tapi alangkah lebih baiknya semua ini diselesaikan dengan baik, lagipula Raya dan Adrian akan segera menikah, jadi kejadian ini bisa dilupakan dengan mudah. Saya akan menggelar pesta pernikahan yang super mewah, lagipula Adrian ini sangat mencintai putri anda berdua, sangat jarang pemuda seperti Adrian mencintai dengan tulus.” Jelas ayahnya Adrian, perkataan ayahnya Adrian amat sangat menyakiti hati Raya, sehingga Raya keluar dari kamar diiringi dengan tangis.             “Saya tidak mau menikah dengan putra Bapak, saya kembalikan cincin pertunangan kami!” seru Raya, hatinya masih sangat sakit, setelah apa yang dilaluinya kemarin yang kehormatannya hampir ternodai, dirinya tidak bisa memaafkan dengan mudah.             “Ray, kamu tahu alasanku berbuat begitu? Karena laki-laki bernama Ayas, aku tahu Ayas malam itu datang hendak melamarmu, dan aku lihat rona sedih di matamu, aku sangat mencintaimu Ray, aku takut kau pergi dengan laki-laki macam Aya situ!” ucap Adrian sambil berdiri.             “Aku tidak ada hubungan apapun dengan Ayas, kenapa kau mempermasalahkan itu? Bukankah aku ini tunanganmu? Kenapa kau harus takut kehilanganku? Tapi kali ini, kau sendiri yang memutuskan semuanya, aku sudah tidak mau lagi berurusan denganmu!” balas Raya tak kalah sengit meskipun diselingi dengan isak tangis yang tertahan.             “Ray, siapa yang akan menikahimu kalau bukan aku? Lagipula umurmu sudah tigapuluh tahun, siapa yang akan menikah dengan wanita yang sudah berumur sepertimu? Apakah Ayas? Lantas dimana dia sekarang? Dia sudah kamu tolak, dan kamu tidak memiliki siapapun lagi sekarang.” Sergah Adrian, hati Raya hancur mendengar penuturan Adrian, bahkan tante Arum hendak menampar pipi Adrian jika tidak dicegah oleh Uwa Rohman.             “Sebaiknya kalian pergi dari rumahku, aku tidak mau bertemu dengan kalian lagi,” kata Raya sambil pergi ke kamar dan menguncinya.             “Ray, maafkan aku Ray, kau tahu aku sudah melakukan berbagai cara untuk menemukanmu? Aku tidak mau kehilanganmu lagi Ray, aku sangat mencintaimu, Ray Raya!” teriak Adrian sambil menggedor-gedor pintu kamar Raya, Raya benar-benar takut pada Adrian, Adrian seperti seorang psikopat yang hendak membunuhnya.             Adrian dipaksa untuk pergi dari rumah, ayah Raya akan memproses perbuatan Adrian pada polisi. Meskipun orangtua Raya tahu bahwa akan sulit memenjarakan Adrian karena melihat background orangtua Adrian yang seorang konglomerat. Pasti mereka akan menyewa pengacara yang super mahal untuk membebaskan putranya dari tuduhan.             Sudah satu minggu pasca kejadian menakutkan itu, namun Raya masih trauma jika ditinggal sendirian di rumah, tante Arum merekomendasikan Raya ke seorang psikiater kenalannya. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan trauma Raya akibat percobaan p*********n yang dilakukan Adrian pada Raya. Awalnya Raya ragu, namun karena Raya merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja, dia pun akhirnya mencoba saran tante Arum untuk pergi ke psikiater.             Dugaan orangtua Raya, bahwa Adrian pasti akan dengan mudah terbebas dari tuduhan, terbukti adanya. Raya merasa perjuangan orangtuanya sia-sia, melihat keluarganya hanyalah orang biasa yang tidak memiliki kekuatan hukum. Setelah Adrian lepas dari tuduhan, Raya mendengar kabar kalau Adrian ikut orangtuanya ke Australia. Raya merasa lega karena akhirnya dirinya bisa terbebas dari belenggu ketakutan akan terror Adrian. Disamping itu Raya juga benar-benar merasa memikirkan perkataan Adrian tempo hari, ‘siapa yang akan menikahinya dengan usia setua itu kalau bukan dirinya?’ Namun Raya segera mengenyahkan pikiran sesat itu, Raya yakin bahwa rezeki, jodoh dan maut sudah Tuhan gariskan sebelum alam semesta ini diciptakan, lantas kenapa Raya masih ragu?                                                                                             ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD