Titik Terang

1266 Words
            Ayas tiba di rumah dengan perasaan senang dan juga semangat sepulangnya dari mendaki gunung. Dirinya sekarang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Bahkan Ayas sudah siap memulai usaha pertamanya yaitu merancang usaha percetakan, dirinya sudah membeli peralatan untuk menjalankan usahanya tersebut. Untuk sementara Ayas dibantu oleh adiknya, Attar sampai nanti Ayas mendapatkan karyawan jika usahanya sudah terlihat hasilnya.             Setelah melaksanakan sholat tahajud, Ayas tidak tidur lagi, dirinya membuka laptopnya untuk sekedar berselancar di dunia maya, dia juga mempromosikan design undangan, baik undangan nikah maupun undangan khitanan di media sosial i********:. Ayas memang jago mendesign, sebenarnya dirinya ingin kuliah di jurusan design grafis, namun karena ditentang ayahnya, maka Ayas mau tak mau harus menuruti keinginan ayahnya tersebut. Dan kini saat kesempatannya datang, Ayas benar-benar bersemangat untuk memulai usahanya itu.             Ayas mendapatkan orderan pertamanya melalui media sosial i********: miliknya, dirinya menjadi bersemangat. Klien pertamanya adalah seorang laki-laki bernama Aditya, dia berasal dari Salopa, dia memesan design undangan nikah dua versi, versi digital dan versi cetak. Setelah si klien mentransfer DP-nya Ayas pun segera membuat designnya dengan sepenuh hati agar klien pertamanya itu merasa puas dengan hasil yang dikerjakannya.                                                                                                     **             Tak terasa usaha percetakan milik Ayas sudah berjalan selama dua minggu, dalam kurun waktu dua minggu itu, Ayas sudah mendapatkan puluhan orderan, sehingga dirinya merekrut dua orang karyawan untuk membantunya. Ayas pun menyewa sebuah ruko di daerahnya agar dirinya bisa bekerja dengan nyaman. Tiba-tiba Ayas dikagetkan dengan kedatangan seorang kenalannya dulu ketika masih bekerja di kedai kopi Sakko, Fajar.             “Yas, sukses sekarang nih setelah resign dari kedai kopi Sakko nih,” ucap Fajar.             “Alhamdulilah, usaha percetakanku sekarang berjalan dengan lancar, mudah-mudahan kesananya lancar terus.” Jawab Ayas sambil menyodorkan kopi pada Fajar.             “Gimana kabar teman-teman kerja di Sakko nih Jar?” tanya Ayas penasaran.             “Alhamdulilah baik, tapi kamu kayaknya gak akan ketemu lagi sama Aji dan istrinya Diva, karena mereka udah berhenti, katanya mereka mau mencoba membuka kedai kopi di kampung halamannya Aji di Sumatra.” Jawab Fajar sambil dirinya meminum kopi instan buatan Ayas.             “Wah, syukurlah akhirnya mereka bisa mandiri,”             “Oh ya, gimana kabarnya kekasih kamu itu?” tanya Fajar tiba-tiba. Hati Ayas mendadak panas.             “Aku gak punya kekasihlah Jar, hidupku masih madesu, masa depan suram, belum berani punya kekasih-kekasihan.” Jawab Ayas santai, meskipun jantungnya sedikit berdebar.             “Bukannya kata Aji, pelanggan setia kita itu ya yang sering bawa-bawa laptop, siapa tuh namanya? Raya ya?” pancing Fajar, dan berhasil membuat pipi Ayas merona.             “k*****t tuh si Aji, gak bisa jaga rahasia, hah, Raya udah mau nikah sama orang lain Jar, mungkin sekarang dia udah nikah.”             “Sabar mblo, suatu saat pasti akan ketemu jodohnya,”             “Mbla mblo mbla mblo, kamu sendiri juga jomlo Jar, ya kan? Atau jangan-jangan kesini mau buat undangan ya?”             “Ha ha ha ha, doain aja, kesini tuh pengen silaturahmi bukannya buat undangan,”             “Tenang, untuk mantan bos, aku kasih diskon deh,”             “Calonnya juga belum ada Yas, cariin dong, kesepian nih,”             “Sebelum kamu juga, aku dululah Jar, ha ha ha ha…”             Di sela-sela obrolan antara Ayas dan Fajar tentang perihal jodoh yang belum terlihat, tiba-tiba adik Ayas, Ayna datang sambil mengantarkan makan siang untuk kakaknya itu.             “A Ayas, ini bekal makan siang AA, jangan nyisa lho, awas!” ancam Ayna, melihat wajah Ayna yang imut, Fajar jadi menggoda Ayas.             “Adik kamu Yas? Boleh juga tuh, dia masih sekolah atau udah kuliah?”             “Apaan sih, Ayna tuh masih kecil, dia masih kuliah baru semester lima, dia masih harus fokus kuliah, gak boleh pacar-pacaran, lagian pacaran kan dilarang.”             “Kalo gak pacaran berarti langsung nikah donng? Ide bagus tuh,”             “Jangan main-main sama adikku, awas lo!” ancam Ayas, mereka berdua tertawa bersama-sama, Ayas pun mengajak Fajar untuk makan bersama.             “Sepiring berdua ini?” tanya Fajar pada Ayas, membuat Ayas tertawa.             “Bukan, sebungkus nasi berdua, biar romantis, kan kita bromance bro,” jawab Ayas diselingi tawanya yang renyah.                                                                                             **             Setiap malam sebelum tidur, Ayas tanpa sengaja ingat pada sosok Raya, dirinya bertanya-tanya apakah Raya kini sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya? Tadi siang dia sebenarnya ingin menanyakan pada Fajar, apakah Raya masih mengunjungi kedai kopinya atau tidak? Namun karena gengsi akhirnya Ayas malah larut dalam kepenasarannya. Lagipula buat apa Ayas menanyakan Raya? Diakan sudah menjadi istri orang lain, sungguh hal yang tidak pantas jika dirinya masih memikirkan dan mengharapkan Raya yang kemungkinan sudah menikah dengan orang lain. Ayas berfikir untuk move on dari Raya, dirinya harus bisa menemukan seorang wanita untuk dijadikan istri. Tapi Ayas tidak memiliki teman dekat wanita manapun yang bisa dia ajak untuk menikah. Dirinya sekarang sudah merasa cukup siap untuk menikah, penghasilannya dari usaha percetakan sudah mulai terlihat baik dan stagnan, meski baru berjalan selama dua minggu, tapi Ayas yakin bisnisnya itu akan melaju dengan cepat melihat betapa puasnya para kliennya dengan hasil usahanya tersebut.             Ayas berencana untuk serius mencari jodoh kali ini, dirinya akan berusaha untuk membuka hati dan menerima wanita yang mau menikah dengannya. Ayas tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi, dirinya akan benar-benar serius kali ini.                                                                                             **             Sesuai prediksi Ayas, usaha percetakannya meroket dalam kurun waktu dua bulan, Ayas pun mencari tambahan karyawan lagi untuk membantunya meneyelesaikan orderan yang semakin bertambah setiap harinya. Disamping itu, dirinya juga mentargetkan untuk cepat-cepat mendapatkan pasangan hidup yang bisa menemaninya mengelola bisnis. Karena merasa tidak tahu dengan cara apa Ayas mencari jodoh, dirinya mencoba mencari jodoh melalui aplikasi pencari jodoh yang dia temukan dia play store. Ayas benar-benar malu jika meminta dicarikan oleh orangtua atau adik-adiknya, apalagi teman-temannya. Yang kebanyakan teman-temannya itu juga masih berstatus jomlo.             Saat istirahat siang, Ayas mencoba bermain ke kedai kopi Sakko, dirinya berharap bisa menemukan jodoh di kedai kopi tersebut, seperti di film-film romantis atau di drama-drama Korea yang sering Ayna tonton saat sedang libur kuliah.             Ayas memesan kopi americano dari seorang barista baru yang dari name tagnya bernama Diki. Sambil menunggu pesanan, Ayas duduk di kursi dekat jendela yang merupakan tempat favorit Raya, Ayas sama sekali baru tersadar bahwa ini merupakan tempat duduk favorit Raya. Ayas kembali teringat lagi dengan Raya gara-gara dirinya salah duduk, Ayas benar-benar menyesalinya.             Namun betapa kagetnya Ayas ketika kopinya diantarkan oleh seseorang yang Ayas kenal, Raya. Ayas kaget dengan apa yang dilihatnya, dirinya bertanya-tanya kenapa Raya malah bekerja di kedai kopi Sakko? Ayas melihat raut wajah Raya juga tampak kaget, namun Raya terlihat bisa mencairkan suasana. Bagi Ayas ini seperti dejavu, dulu kejadian seperti ini pernah terjadi, namun yang membedakan adalah saat itu Ayas lah yang menjadi pelayan sedangkan Raya menjadi pelanggan, namun kini kejadian berbalik, mereka bertukar posisi.             “Tunggu, kamu kerja di sini Ray?” tanya Ayas sebelum Raya pergi ke dapur.             “Iya, baru dua minggu, maaf Yas, aku gak bisa lama-lama ngobrol, masih banyak pekerjaan,” jawab Raya.             “Kamu pulang jam berapa?”             “Aku bagian shift pagi, jadi pulangnya nanti sore, permisi.” Raya berjalan menuju dapur, sedangkan Ayas masih diliputi beragam pertanyaan di kepalanya. Ayas merasa ada yang janggal dengan apa yang terjadi pada Raya, Ayas melihat di jarinya tidak ada satupun cincin seperti yang dilihatnya ketika hendak melamar Raya. Apa yang terjadi dengan gadis itu sebenarnya? Disamping itu Raya terlihat kurus dan pucat seperti ada beban yang menghimpitnya. Ayas akan menunggu Raya pulang kerja dan hendak berbicara dengan gadis itu untuk mendapatkan semua jawaban. Jika memang Raya tidak jadi menikah atau bahkan rumah tangganya gagal sekalipun, Ayas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi kali ini, Ayas ingin medapatkan cintanya kembali. Ayas meminum kopi americano, seraya matanya tak henti melihat Raya yang kesana kemari mengantarkan pesanan kopi.                                                                                              ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD