Setelah selama dua minggu Raya rutin mendatangi psikolog, dirinya sedikit demi sedikit mulai merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Raya juga sudah mulai rutin menulis kembali, meskipun tidak sesering biasanya. Psikolog yang merawat Raya menyarankan agar Raya bersosialisasi dengan orang lain, hal itu dilakukan agar rasa traumanya terhadap laki-laki bisa dengan cepat sembuh. Maka Raya berfikir untuk mencari pekerjaan untuk mengobati traumanya, dirinya mencoba berjalan-jalan di pusat kota, tanpa sengaja Raya melihat tulisan lowongan pekerjaan di sebuah kedai kopi, dirinya masuk dan bertemu dengan manager kedai kopi tersebut.
Keesokkan harinya Raya mulai bekerja di kedai kopi dan dirinya bekerja sebagai pelayan, namun Raya merasa nyaman bekerja di sana. Lagipula kedai kopi tempat kerjanya itu sering dia kunjungi, kedai kopi itu bernama kedai kopi Sakko. Tempat kerja Ayas dulu, namun Raya sebenarnya bersyukur Ayas sudah berhenti bekerja, sehingga Raya bisa dengan leluasa bekerja di sana.
Tak terasa sudah dua minggu Raya bekerja di kedai kopi Sakko, sedikit demi sedikit Raya bisa mengatasi rasa traumanya, menurut psikiaternya, rasa trauma itu memang harus dihadapi bukan dihindari, dan Raya membenarkan hal itu setelah kondisi dirinya sekarang menjadi jauh lebih baik.
Siang itu seperti biasa Raya bekerja mengantarkan pesanan kopi ke meja pelanggan, dan Raya kaget ketika mengantarkan pesanan kopi americano pada seorang pelanggan di meja faavoritnya adalah seseorang yang dia kenal, Ayas. Ayas pun sama kagetnya dengan Raya, namun Raya mencoba bersikap biasa saja padanya, menurut Raya, Ayas adalah bagian dari masa lalunya yang sudah dia lupakan. Ayas menanyakan padanya jadwal pulangnya, dan Raya menjawab apa adanya, Entah apa maksud Ayas bertanya begitu pada Raya, apakah Ayas ingin berbicara dengannya? Untuk apa? Raya sudah tidak mau berurusan lagi dengan Ayas, Raya merasa dirinya sangat malu dan bersalah padanya, karena dia telah menyakiti hati Ayas. Dirinya ingin menjalani hidup dengan tenang dan normal seperti halnya orang lain, namun pertemuan tidak sengajanya dengan Ayas malah membuat hatinya kembali gulana, namun Raya mencoba untuk tidak mengindahkan perasaannya lagi kini.
Pukul empat sore, ketika Raya tengah menuju ke parkiran motor, Raya melihat Ayas sudah berada di sana, Raya melihatnya sekilas lalu menuju motornya. Ayas melihat Raya, dan Ayas ingin mengajak Raya untuk bicara. Raya ragu, disamping itu Raya juga takut jika hanya berduaan saja dengan laki-laki. Jadi Raya meminta Ayas untuk berbicara saja di parkiran, karena masih banyak orang yang berlalu lalang di daerah itu. Ayas pun tidak keberatan. Mereka duduk di sebuah bangku samping pohon akasia.
“Apa kabar Ray?” sapa Ayas lembut.
“Baik alhamdulilah,” jawab Raya singkat.
“Kamu sudah menikah?” tanya Ayas to the point, membuat Raya seketika menegang.
“Belum, gak jadi”
“Ehm, jadi kamu sekarang sudah kembali sendiri?” Raya hanya menganggukkan kepalanya, terlihat wajah Ayas tersenyum, Raya merasa risih dengan ekspresi yang Ayas berikan.
“Boleh aku datang ke rumah, Ray?” Raya sudah tahu arah pembicaraan Ayas, namun Raya hanya diam saja, dirinya ingin segera menyudahi percakapan ini karena merasa tidak nyaman, jadi agar semuanya selesai Raya hanya memberikan anggukkan kecil.
“Kamu terlihat kecil Ray, apa kamu masih terluka karena tidak jadi menikah?” tanya Ayas hati-hati. Ayas sudah merasa percaya diri saat beribicara dengan Raya, tidak canggung seperti dulu.
“Tidak, justru aku merasa bersyukur tidak jadi menikah dengan orang itu,”
“Apa dia menyakiti kamu? Maaf aku tidak bermaksud untuk menyinggung masa lalu kamu,”
“Gak apa-apa, kamu harus tahu hal ini sebelum kamu datang ke rumahku, Adrian, calon suamiku itu dia.. dia.. dia hampir melecehkanku, namun aku berhasil lari,” kata Raya bergetar, Ayas kaget mendengarnya, namun Ayas tidak mengucap sepatah katapun
“Sejak kejadian itu aku sering memeriksakan diri ke psikolog, bekerja di sini pun atas saran dari dokterku, agar aku bisa menghadapi rasa traumaku.” Lanjut Raya, Ayas mengepalkan tangannya, geram dengan perlakuan Adrian pada Raya.
“Aku sudah selesai, aku menceritakan hal ini supaya kamu bisa memikirkan kembali sebelum memutuskan untuk datang ke rumahku, secara fisik aku baik-baik saja, namun secara mental aku tidak sedang baik-baik saja, aku mencoba untuk menyembuhkan lukaku sendiri.” Kata Raya lagi seraya berdiri, secara reflex Ayas pun ikut berdiri.
“Aku permisi, sampai jumpa,” ucap Raya sambil menstarter motornya, Ayas hanya diam mematung, tidak mencegah Raya untuk pergi, dirinya berusaha mencerna atas apa yang telah didengarnya. Raya pergi meninggalkan Ayas tanpa menengok ke belakang, di perjalanan air mata Raya membasahi pipinya.
Saat tiba di rumah, setelah selesai membersihkan diri, Raya membaringkan tubuhnya di atas kasur, dirinya memikirkan percakapannya dengan Ayas tadi. Ada gurat penyesalan di diri Raya karena telah menceritakan kisah kelamnya pada Ayas, namun dirinya memang harus menceritakan semuanya sebelum Ayas tahu kisahnya itu dari orang lain. Sebenarnya Raya takut Ayas membenci dirinya dan pergi setelah menceritakan kisah kelamnya, tapi dirinya berfikir kembali kalau memang benar Ayas mencintainya dengan tulus pasti dia akan datang untuk melamarnya. Raya sudah tidak mau memikirkan hal itu lagi, kepalanya menjadi sakit, Raya mencoba untuk tidak mempedulikan Ayas lagi, namun sangat sulit.
Hatinya kembali dilanda kegalauan, dirinya benar-benar sudah lelah dengan hidupnya kini, namun hidup harus terus berjalan, dirinya juga ingin memiliki kehidupan normal seperti orang-orang pada umumnya, menikah lalu memiliki anak, hidup berasama dengan orang-orang yang dicintainya. Hanya itu yang Raya inginkan, tapi semua yang terjadi pada dirinya adalah bagian dari takdir. Raya yakin Tuhan pasti memberikan kepahitan dalam hidup Raya itu semata-mata agar dirinya bisa mendapatkan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Raya berusaha untuk melupakan kejadian dirinya bertemu dengan Ayas tadi sore, dirinya juga melupakan percakapannya dengan Ayas yang membuatnya tanpa sadar malah berharap agar Ayas datang ke rumahnya. Raya mencoba melupakan semuanya itu, tanpa mengharapkan apapun lagi, dirinya hanya akan fokus pada kesembuhannya saja.
**
Sudah satu minggu pasca pertemuan Raya dengan Ayas di kedai kopi Sakko, dalam satu minggu itu Ayas tidak pernah datang ke rumahnya. Bukannya Raya mengharapkan Ayas untuk datang ke rumahnya, namun dirinya merasa sedih dengan kondisinya kini yang seolah statis, ada perasaan takut dan khawatir dengan masa depannya, apalagi dirinya mengalami kejadian yang menakutkan yang membuatnya trauma berat dan harus kembali lagi ke psikolog. Raya berfikir apakah ada laki-laki yang mau dengannya? Sedangkan usia Raya sudah menginjak kepala tiga. Sebagai manusia biasa perasaan-perasaan cemas itu mungkin lumrah terjadi, namun dirinya mau tidak mau harus kuat menjalani hidupnya, karena pasti Tuhan tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Raya yakin dengan janji-Nya.
Hari-hari Raya berjalan dengan baik, dirinya sedikit demi sedikit sudah bisa mengatasi sikap overthinkingnya itu. Dan dirinya mencoba untuk menata dan menjalani hidupnya dengan baik, Raya kembali bekerja dengan gembira, dirinya sudah kembali ceria seperti dulu. Raya tahu banyak hal yang harus dia lakukan saat ini. Dia ingin mencari seseorang yang serius dan bisa menemaninya sepanjang hidupnya, Raya tidak banyak berharap tentang kriteria calon suaminya, dia ingin suaminya itu nantinya bisa menghormatinya sebagai seorang perempuan tanpa harus banyak menuntut apapun, bagi Raya itu sudah lebih dari cukup. Raya sudah tidak berharap Ayas datang padanya lagi, dia sudah berdamai dengannya, jikalau berjodoh pasti akan dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik, namun jika tidak berjodoh, maka itu juga merupakan jalan yang terbaik.
Ba’da magrib, ketika Raya tengah mengaji, terdengar seseorang mengetuk pintu rumahnya, ayahnya yang baru pulang dari masjid langsung membukakan pintu, dilihatnya seseorang yang dikenal ayahnya, Satria yang merupakan sepupu Raya. Satria memberikan makanan berisi soto yang telah dibuat tante Arum untuk keluarga Raya. Raya sudah berfikir bahwa yang mengetuk pintu rumahnya itu adalah Ayas, namun ternyata dugaannya salah, tanpa sadar dirinya telah mengharapkan sosok Ayas, padahal Raya menyadari bahwa Ayas terlalu baik untuknya, seharusnya dirinya tahu diri dan tidak boleh berekspektasi tinggi, nanti jika harapannya tidak terwujud, maka tentu akan melukai hati Raya lagi. Raya kembali meneruskan mengaji, dirinya akan fokus memperbaiki diri tanpa berharap pada siapapun lagi selain berharap pada Tuhan yang Maha Kuasa.
***