Ayas menelepon Fathur, salah satu karyawannya, karena dirinya tidak akan kembali ke tempat kerjanya hari itu, dirinya ingin menunggu Raya pulang kerja dan berbicara dengannya mengenai banyak hal yang sangat ingin ditanyakannya. Sorenya, Ayas melihat Raya keluar dari kedai kopi, dirinya langsung menyusul Raya yang berjalan menuju ke parkiran motor khusus karyawan. Sebelum Raya datang, Ayas sudah sampai di parkiran khusus karyawan, begitu melihat Raya, Ayas langsung menyapanya dan menanyakan langsung apakah dirinya sudah menikah atau belum. Dalam hati, Ayas merasa senang setelah tahu Raya tidak jadi menikah, namun terlepas dari itu Ayas juga merasa kasihan pada Raya karena dirinya melihat tubuh Raya terlihat kurus, pasti kejadian itu membuat Raya sedih. Ayas pun mengatakan keinginannya untuk bertandang ke rumahnya dalam waktu dekat, meski Raya hanya menjawab dengan anggukkan kepala, Ayas merasa bahwa Raya masih membutuhkan waktu untuk dapat menyembuhkan luka hatinya.
Ayas kaget setelah mendengar cerita Raya tentang dia yang hampir dilecehkan oleh calon suaminya itu, hati Ayas panas, ingin sekali dirinya menghajar laki-laki b******k itu. Ayas semakin kasihan pada Raya atas apa yang telah dialaminya itu, apalagi Raya harus mengatasi traumanya dengan pergi ke psikolog. Ayas ingin sekali memeluk gadis itu namun dirinya sadar, dia bukanlah siapa-siapa bagi Raya.
Sehari setelah Ayas bertemu dengan Raya, Ayas berencana untuk datang ke rumah Raya, tekadnya sudah bulat, Ayas akan menikahi gadis itu apapun yang terjadi, dirinya semakin yakin ingin selalu melindungi Raya. Namun karena kesibukan pekerjaannya itu dirinya terpaksa mengundurkan waktu untuk datang ke rumah Raya. Seiring waktu, orderan dari klien semakin membludak, Ayas benar-benar kewalahan, dirinya bahkan berhari-hari tidak pulang ke rumahnya karena sibuk dengan pekerjaannya, Ayas pun meminta Fathur untuk membuka lowongan pekerjaan lagi, karena Ayas dan kedua karyawannya tidak mampu untuk mengerjakan orderan yang sedemikian banyaknya jika dilakukan bertiga. Terkadang adiknya, Attar pun ikut membantu namun karena dirinya masih sekolah, jadi dia tidak bisa konsisten.
Ayas baru benar-benar istirahat setelah tengah malam, dirinya merebahkan tubuhnya di kasur lipat yang dibawanya dari rumah, Ayas menatap langit-langit ruko sambil melamun, dirinya mencari waktu yang tepat untuk melamar Raya, dia takut jika kejadian yang lama terulang lagi, maka ini merupakan kesempatan Ayas untuk segera memutuskan, kata ayahnya niat baik itu harus disegerakan, karena takut terjadi hal-hal yang tidak terduga. Memang benar, takdir itu ada di tangan Yang Maha Kuasa, dan sebagai manusia biasa tentunya kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, maka sesuatu yang baik harus disegerakan, karena menikah adalah ibadah terpanjang.
Ayas pun akhirnya memutuskan untuk segera melamar Raya kembali, dirinya takut kehilangan Raya untuk kesekian kalinya. Ayas tertidur dengan memeluk tekad dalam d**a, dirinya ingin segera menyapa esok hari.
**
Pagi-pagi sekali Ayas bersiap-siap untuk bekerja, malamnya sepulang kerja, dirinya berencana untuk bertandang ke rumah Raya. Ayas menjadi lebih bersemangat dalam menjalani harinya. Ayas mewawancarai dua orang calon karyawan baru di perusahannya, dan menyelesaikan segala sesuatunya yang menyangkut pekerjaan. Orderan semakin besar, namun kali ini dirinya sudah tidak merasa kewalahan lagi, karena sudah ada empat orang karyawannya yang membantunya. Sehingga Ayas bisa pulang dengan cepat dan langsung menemui ayah Raya untuk melamar Raya.
Ayas pulang sebelum maghrib, dirinya langsung membersihkan diri dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat maghrib di masjid dekat rumahnya. Sepulang dari masjid, Ayas berncana untuk pergi ke rumah Raya, tak lupa dirinya juga meminta doa restu kedua orangtuanya untuk kembali melamar gadis yang sama. Ayas pergi menggunakan motor scoopynya yang baru tiga bulan dia beli menuju rumah gadis yang ingin dia nikahi.
Tidak sampai lima belas menit, Ayas sudah sampai di rumah Raya dan dirinya mengetuk pintu rumahnya tersebut dan tak lupa mengucap salam, pintu terbuka oleh seorang perempuan muda yang sangat Ayas kenal, Raya. Tampak raut wajah Raya yang kaget namun di bibirnya ada seulas senyum yang coba Raya sembunyikan.
“Ayah ada Ray?” tanya Ayas, Raya hanya mengangguk dan mempersilakan Ayas untuk masuk dan duduk di ruangan tamu yang sama dengan ruang tamu yang dulu. Seorang laki-laki paruh baya yang merupakan ayah Raya datang menyambut Ayas dengan suka cita. Raya datang sambil menyuguhkan minuman dan beberapa camilan untuk Ayas dan ayahnya, setelah itu Raya masuk ke kamarnya.
“Nak Ayas kan? Apa kabarnya Nak?” tanya ayah Raya.
“Iya Pak, saya Ayas, yang tempo hari pernah datang kemari, alhamdulilah kabar saya baik Pak,” jawab Ayas sopan.
“Kedatangan saya kemari, untuk melamar putri Bapak, Raya, saya berharap kali ini Raya belum ada yang meminang,” lanjut Ayas lagi, namun dijawab dengan tawa ayah Raya.
“Belum Nak, Raya belum ada yang meminang lagi selain kamu, tapi sebagai ayah, saya tidak bisa memaksakan kehendak, saya membebaskan anak saya untuk memilih, apakah dirinya mau menerima kamu atau tidak, saya panggilakan anak saya dulu ya,” kata ayah Raya sambil dirinya berdiri dan memanggil Raya ke kamarnya. Ayas merasa jantungnya berdebar dengan kencang, dirinya sangat takut jika Raya menolaknya. Raya sudah duduk disamping ayahnya, tanpa berkata-kata.
“Raya, di depanmu ada seorang laki-laki sholeh yang hendak melamarmu, semua keputusan ada di tanganmu, ayah membebaskanmu untuk memilih, apakah kamu mau menerima pinangan laki-laki ini atau tidak?” tanya ayah Raya, Ayas melihat mata Raya berkaca-kaca. Setelah beberapa detik, akhirnya Raya menjawab.
“Bismillahirrohmannirrohiim, saya menerimanya,” jawaban Raya membuat hati Ayas lega, dirinya merasa menjadi seseorang yang beruntung.
“Alhamdulilah terimakasih, saya dan keluarga akan melamar secara resmi esok hari, karena sesuatu yang baik memang harus disegarakan, apakah Bapak dan Raya tidak keberatan?” kata Ayas.
“Inshaa Alloh tidak Nak, silakan saja datang ke rumah ini, pintu rumah ini terbuka lebar untukmu.” Ujar ayah Raya, membuat Ayas semakin bahagia.
Setelah semuanya selesai, Ayas pun segera pamit dari rumah Raya, dirinya merasa bahagia sekali, berbanding terbalik dengan kejadian tempo hari ketika semuanya tidak berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Ayas menyalakan motornya dan melesat memburu jalan.
Setibanya di rumah, Ayas disambut oleh kelurganya, orangtuanya benar-benar harap-harap cemas, mereka takut kejadian tempo hari terulang lagi dan membuat putranya terluka lagi. Namun respon Ayas kali ini berbeda, dirinya menyunggingkan senyum yang lebar, dan mengatakan kalau lamarannya kali ini diterima. Sontak keluarga Ayas berucap syukur, Ayna dan Ainun pun bahkan saling berpelukan saking bahagianya melihat kakak tercinta mereka berhasil meminang gadis pujaannya.
Ayas pun mengadakan rapat mendadak mengenai rencana lamaran yang dilakukan esok hari, keluarganya pun setuju dan mempersiapkannya dengan matang. Ayas dan keluarganya akan datang melamar Raya besok sekitar pukul Sembilan pagi, acara lamarannya pun akan dilakukan secara sederhana, hanya mengundang keluarga inti saja, nanti mereka akan menentukan tanggal yang pas untuk acara pernikahan nanti. Ayas merasa Tuhan begitu baik, dirinya benar-benar bersyukur dengan apa yang terjadi selama ini, baik itu kesulitan maupun segala kemudahan, karena Ayas tahu bahwa di setiap kejadian itu pasti ada kebaikan di dalamnya. Ayas yang dulu melamar Raya dengan niat yang tergesa-gesa tanpa kesiapan fisik maupun mental, dibuat menjadi luka namun sekarang, Ayas melamar Raya dalam keadaan sudah siap baik fisik maupun mental. Tak henti-hentinya Ayas mengucap syukur atas Karunia Tuhan yang begitu luar biasa ini.
**
Keesokkan harinya, Ayas dan keluarga datang untuk melamar Raya, mereka pergi dengan menggunakan mobil pinjaman dari Fajar, Fajar pun turut serta karena Ayas adalah sahabatnya, namun entahlah apa yang dipikirkan Fajar apakah dirinya ingin tulus mengantarnya atau semata-mata hanya ingin mendekati adiknya, Ayna. Yang jelas, Ayas sungguh terbantu dengan bantuan pinjaman mobilnya itu.
Setelah tiba di rumah Raya, Ayas dan keluarga disambut oleh keluarga besar Raya, mereka dijamu dengan sangat baik, Ayas juga membawa seorang ustadz untuk menyampaikan maksud dan tujuan dirinya dan keluarga datang ke rumah Raya. Prosesi lamaran secara sederhana pun akhirnya selesai dengan menautkan cincin yang dipasangkan oleh ibu Ayas ke jari manis Raya sebagai hadiah bahwa Raya sudah dilamar oleh Ayas. Selain itu tanggal pernikahanpun ditentukan oleh dua keluarga, dan mereka menginginkan pernikahan diadakan satu bulan dari sekarang untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Ayas benar-benar bahagia kini, namun dirinya harus bersabar selama satu bulan sampai acara pernikahan tiba, diam-diam Ayas menatap wajah Raya yang memancarkan rona kebahagiaan sama seperti dirinya. Ayas tidak akan pernah melupakan moment sebahagia ini, dirinya benar-benar sangat bahagia.
***