Raya bekerja seperti biasa, saat itu dirinya tengah makan siang di bangku samping pohon akasia ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan tertera nama yang tidak asing baginya, Nawang. Raya membuka pesan dari temannya itu, yang dulu pernah menjadi perantara antara Raya dengan Ayas. Isinya menanyakan kabar dan pertanyaan yang sering sekali ditanyakan orang-orang, ‘sudah punya calon belum?’ Raya tersenyum dengan isi chat dari Nawang, dirinya pun segera membalas chat Nawang dan mengatakan kalau dirinya belum memiliki calon, Raya pun menambahkan candaan di chatnya ‘apa kamu berniat mencomblangiku lagi?’ Tanpa diduga balasan Nawang memang mengarah kesitu, Nawang ingin kembali membantu Raya menemukan jodohnya. Sebenarnya Raya masih ragu, dirinya merasa takut jika terjadi berbagai penolakan lagi seperti dulu, namun dirinya harus bangkit dari keterpurukan, namun Raya tidak memberikan jawaban langsung apakah dirinya bersedia untuk diomblangi lagi atau tidak. Untungnya Nawang tidak marah, dirinya justru memberikan kesempatan untuk Raya berfikir, karena teman suaminya tengah mencari pasangan hidup, dan Nawang langsung teringat Raya. Dalam chat, Nawang memberikan deadline untuk berfikir selama tiga hari. Raya pun mengiyakan.
Setibanya di rumah, setelah membersihkan diri, Raya merebahkan tubuhnya di kasur, dirinya menatap langit-langit kamarnya yang sengaja di cat dengan warna hijau. Raya berfikir, apakah dirinya harus menerima laki-laki yang tak Raya kenal untuk memprosesnya? Namun jika Raya terlalu lama berfikir, mungkin laki-laki yang hendak ditaarufkan dengan dirinya itu pergi dan mencari perempuan lain. Tapi hati Raya masih saja bimbang, entah kenapa dirinya selalu mengingat nama Ayas. Apakah ini merupakan petunjuk dari Tuhan bahwa Ayas adalah jodohnya? Namun Raya tidak tahu apakah keraguan yang ada di dalam dirinya berasal dari Tuhan atau bukan? Raya bingung, jika sudah dihadapkan dengan masalah jodoh seperti ini.
Raya tahu bahwa dirinya harus segera memutuskan, karena kesempatan tidak datang dua kali, tapi Raya sangat menginginkan Ayas untuk menjadi pasangan hidupnya. Raya benar-benar bingung, tidak ada seseorang yang bisa memberikannya solusi atas masalah yang dihadapinya ini selain mengadukannya kepada Yang Maha Kuasa.
**
Keesokkan harinya, Nawang kembali mengirimkan pesan melaui chat, Raya benar-benar belum memiliki jawaban atas apa yang harus dilakukan, Nawang pun mengirimkan sebuah foto seorang laki-laki yang menurut Raya tampan, laki-laki itu bernama Aditya. Aditya adalah seorang guru di salah satu sekolah swasta terbesar di kotanya dan usianya 32 tahun, tanpa sepengetahuan Raya, Nawang ternyata sudah memberikan foto Raya kepada Aditya, dan Aditya begitu antusias untuk segera bertaaruf dengan Raya.
Raya benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan, sebenarnya dirinya masih ragu, namun Raya beralasan bahwa deadlinenya masih dua hari lagi, jadi dirinya masih punya waktu untuk berfikir dan merundingkannya dengan orangtua. Raya harus benar-benar memikirkan hal ini, karena sudah saatnya Raya memikirkan masa depannya. Karena kepala Raya mendadak pusing, dirinya meminta izin untuk pulang lebih cepat pada manager kedai kopi.
Ketika pulang, Raya langsung merebahkan dirinya di atas kasur, kejadian ini seperti dejavu baginya, dulu Raya pernah merasakan perasaan seperti ini ketika Anita mengenalkannya pada sepupunya Andri, dan saat itu Raya tengah mencari jawaban dari Ayas. Kini hal itu terjadi lagi, kali ini Nawang yang hendak menjodohkannya dengan Aditya dan Raya masih menunggu kedatangan Ayas untuk melamar dirinya. Raya berfikir kenapa dirinya selalu berada di posisi yang sama? Menunggu ketidakpastian pada orang yang sama pula, apakah kali ini Raya harus benar-benar melepaskan Ayas? Raya tertidur seraya meninggalkan berjuta pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
**
Malam harinya, ba’da maghrib, kala itu Raya sedang menulis di blognya, tiba-tiba pintu rumah Raya diketuk oleh seseorang, Raya berfikir mungkin itu sepupunya Satria yang datang mengirim makanan ke rumahnya. Namun betapa kagetnya Raya ketika yang datang adalah seseorang yang sangat Raya tunggu-tunggu kedatangannya, Ayas. Raya benar-benar merasa bahagia dirinya tanpa sadar tersenyum lalu Raya mempersilakan Ayas untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Raya memanggil ayahnya yang sedang menonton televisi bersama ibunya, ayah Raya datang dan mengobrol dengan Ayas, sedangkan Raya pergi ke dapur untuk mengambil teh dan beberapa cemilan untuk Ayas dan ayahnya. Setelah Raya mengantarkan teh dan cemilan, dirinya kembali masuk ke kamar. Raya sengaja mencuri dengar percakapan ayahnya dan Ayas di balik pintu kamar, dan betapa bahagianya Raya, ketika Ayas mengatakan bahwa dia ingin melamar Raya. Tanpa terasa, air mata Raya menetes terharu, dirinya benar-benar merasa bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. Ayah Raya datang mengetuk pintu kamarnya, menyuruhnya untuk keluar dan duduk disamping ayahnya. Ayah Raya mengatakan bahwa ayahnya memberikan kebebasan untuk Raya menentukan apakah lamaran Ayas diterima ataukah tidak. Dengan mengucap basmalah, Raya menerima lamaran Ayas. Hati Raya sungguh berbunga-bunga, dirinya merasa bahwa penantiannya kini telah habis masanya tergantikan oleh kebahagiaan yang tiada tara.
Setelah Ayas pulang, Raya segera memberitahukan pada Nawang bahwa dirinya kini sudah dilamar seseorang, sehingga Raya menolak untuk ditaarufkan dengan Aditya. Untungnya Nawang tidak seperti Anita yang marah karena telah menolak laki-laki yang direkomendasikannya. Esok hari Ayas dan keluarganya akan datang menemuinya untuk mengadakan lamaran secara resmi sekaligus menentukan tanggal pernikahan. Raya merasa ini seperti mimpi, seseorang yang sempat Raya lupakan, malah datang melamar dirinya. Raya tidak bisa tidur karena saking bahagianya, akhirnya dirinya bisa bersanding dengan laki-laki yang dia cintai dan juga mencintainya.
**
Keesokkan harinya, tepat pukul Sembilan pagi, Ayas dan keluarganya datang, mereka membawa bingkisan yang beraneka rupa. Disamping itu atasannya yang bernama Fajar juga hadir ke acara lamaran Raya dan Ayas. Raya dibantu oleh tante Arum dan kelurga Raya yang lain. Tiba saatnya ibu Ayas menyematkan cincin di jari manis Raya, betapa bahagianya Raya kini cincin dari Ayaslah yang akhirnya tersemat di jari manisnya. Senyum Raya seolah tidak ada habis-habisnya atas apa yang telah Tuhan berikan untuknya. Raya harus bersabar selama satu bulan sebelum acara pernikahannya nanti dengan Ayas.
Setelah acara lamaran selesai, Ayas dan keluarganya pulang, sebenarnya dalam lubuk hati Raya yang paling dalam, dirinya ingin sekali mengobrol dengan Ayas, namun karena memang lamaran itu seperti kayu bakar yang mudah sekali terbakar oleh api, maka Raya harus menahan rasa rindu pada Ayas.
Raya seperti tidak bisa menahan perasaannya pada Ayas, dirinya ingin sekali mengirim chat pada Ayas untuk sekedar mengungkapkan bahwa dirinya sangat bahagia, namun Raya harus menjaga harga dirinya sebagai perempuan. Komunikasi yang terjalin pun hanya boleh dilakukan antara ayah Raya dan Ayas saja, ayahnya sangat menjaga agar Raya tidak intens berkomunikasi hal-hal yang tidak penting dengan Ayas meskipun Ayas adalah calon suaminya. Untungnya Ayas paham dengan hal itu, dirinya sama sekali tidak mempermasalahkannya malah sangat mendukung sikap ayah Raya yang menurutnya keren.
Raya sudah mengajukan resign pada manager kedai kopi Sakko tempatnya bekerja, dirinya ingin fokus pada persiapan pernikahannya saja, lagipula ayahnya juga menyuruh Raya untuk resign dengan alasan bahwa orangtua Raya ingin memiliki quality time bersamanya sebelum Raya menikah. Mungkin ini adalah moment yang paling mengharukan untuk Raya dan orangtuanya ketika seorang anak perempuan satu-satunya hendak menikah, Raya berterima kasih pada orangtuanya karena telah membesarkannya dengan sangat baik, Raya sangat beruntung dilahirkan di keluarga seperti orangtuanya.
Raya diperlakukan seperti layaknya seorang anak kecil yang begitu manja pada orangtuanya. Waktu begitu cepat melesat, seperti baru kemarin Raya dimasukkan orangtuanya ke taman kanak-kanak, lalu SD, kemudian SMP, terus SMA, kuliah lau bekerja. Di dalam fase itu ada tangis, tawa, kecewa dan terluka, tapi Raya telah berhasil melewati semua fase itu dengan baik. Semoga orangtuanya bangga memiliki anak seperti dirinya. Raya belajar menjadi orangtua, kelak jika dirinya menjadi seorang ibu, dirinya akan tetap mengingat moment ini bersama anaknya yang hendak menikah. Raya memeluk erat orangtuanya dengan sangat erat seolah dia tidak ingin melepasnya.
**
Hari pernikahan tinggal seminggu lagi, undangan pernikahan sudah Raya sebar, Raya mengundang teman-teman dekatnya saja serta rekan kerjanya di penerbitan dan di kedai kopi Sakko. Undangan pernikahanpun didesign dan dicetak oleh Ayas sendiri selaku pemilik percetakan, undangan pernikahan itupun disebar oleh adik-adik Ayas yang nantinya juga akan menjadi adik-adik Raya. Menjelang hari H, Raya benar-benar cemas dan juga takut, apakah dirinya bisa lepas dari bayang-bayang kejadian mengerikan itu? Namun Raya banyak sekali mendapatkan berbagai motivasi dan saran dari dokter yang merawatnya selama masa traumanya dulu. Raya merasa baikan kembali, setelah mendengar saran dari dokternya tersebut.
Nawang datang bersama putranya yang masih berusia dua bulan, dirinya ingin bersilaturahmi serta ingin mengobrol sesuatu dengan Raya.
“Ray, aku sangat bahagia akhirnya kamu menemukan belahan jiwamu,” kata Nawang, saat dirinya berkunjung ke rumah Raya.
“Terimakasih Nawang, kau teman terbaikku,”
“Aku sama sekali tak menyangka ternyata calon suamimu adalah Ayas, yang dulu pernah aku chat,”
“Iya Nawang, aku juga tak menyangka, Tuhan memberikan jalan yang benar-benar tanpa diduga sebelumnya,”
“Ray, aku jadi pengen memarahi Ayas, kenapa saat aku chat dulu, dia tiba-tiba menghilang? Kan kalau dia benar-benar suka padamu semuanya tidak akan serumit ini,”
“Dulu dia benar-benar belum siap, masih takut membina rumah tangga karena pikirannya masih belum dewasa,”
“Tapi tidak dengan cara menghilang dong, buat aku marah saja,”
“Mungkin memang harus seperti itu jalan ceritanya, bukankah semua itu berproses, dari yang belum siap sampai akhirnya siap lahir batin, semuanya tentu mengalami proses yang panjang terlebih dahulu.”
“Iya sih, yang penting sekarang kamu dan Ayas bisa hidup bersama-sama setelah melewati kejadian demi kejadian yang tidak mengenakkan.”
“Aamin, makasih ya kamu sudah bantu aku untuk mengungkapkan persaanku pada Ayas dulu,”
Raya dan Nawang saling bertukar cerita tentang masa lalu mereka dan tentang perjuangan mereka dalam menemukan pasangan hidup. Betapa indahnya sebuah perjuangan yang akhirnya bisa memberikan rasa manis untuk kehidupan.
**
Raya merasa hari demi hari yang dia lewati benar-benar sangat lama, Raya memberi bulatan kecil di kalender, hari pernikahannya tinggal lima hari lagi, kenapa waktu tiba-tiba terasa sangat lama? Apakah dirinya sudah benar-benar sangat mengidam-idamkan moment-moment yang hadir satu kali seumur hidup itu? Apakah Ayas juga merasakan hal yang sama seperti dirinya? Komunikasi yang dilakukan Raya dan Ayas hanya saling melihat status di w******p.
Ponsel Raya berdering, Raya melihat nomor tidak dikenal tertera di layer ponselnya, saat Raya mengangkat ponselnya, Raya mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
“Halo Raya? Apa kabarmu?” Tanya seorang laki-laki yang Raya kenal suaranya, Raya gelagapan menerima telepon dari orang yang hampir melecehkannya itu, Adrian. Raya hampir menutup teleponnya namun suara itu memohon untuk tidak menutupnya.
“Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku? Aku sama sekali sudah tidak ada urusan denganmu!” Jawab Raya ketus.
“Kau akan menikah dengan Ayas, laki-laki yang tempo hari mengirim undangan kepadamu?” Tanyanya di ujung telepon. Raya sedikit ketakutan karena dia menyebut nama calon suaminya itu.
“Aku akan menikah dengan siapa itu bukan urusanmu, lebih baik kau mengurus dirimu sendiri!” Ucap Raya Ketus.
“Jangan galak-galaklah, aku bertanya baik-baik padamu, aku tidak menyangka kamu yang kuperjuangkan mati-matian malah akan menikah dengan orang lain.”
“Sudahlah, semuanya sudah berlalu, antara kita sudah selesai, aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri.”
“Kebahagiaanku hanya kamu Ray, gak ada yang lain.”
“Adrian, aku mohon, pergilah, lupakan aku, jangan ganggu aku lagi, kumohon.”
“Di hatiku hanya ada kamu Ray, aku menyesali perbuatanku waktu itu, aku benar-benar khilaf, itu semua kulakukan karena aku tidak mau kehilanganmu.”
“Jujur aku belum bisa memaafkan perbuatanmu, karena itu sangat membuatku terluka, kamu tahu setelah kejadian itu aku mengalami trauma yang berat? Bahkan aku meminta bantuan psikolog untuk mengobati rasa traumaku? Kamu tidak tahu apa yang aku alami setelah kejadian itu. Hal itu sangat sulit, jadi aku mohon padamu, jika kamu mau meminta maaf dengan tulus maka berhentilah menggangguku karena aku sudah tidak mau bertemu ataupun mendengar suaramu lagi, aku mohon pergilah, carilah kebahagiaanmu sendiri.”
“Ray, aku benar-benar mencintaimu, tidak bisakah kau memberi kesempatan kedua untukku?”
“Aku sudah tidak mau berurusan denganmu lagi, jangan pernah ganggu hidupku lagi! Atau aku akan melaporkanmu pada polisi!” Ancam Raya, setelah itu Raya langsung mematikan teleponnya dan memblokir nomor Adrian secepatnya lantas menonaktifkan ponselnya. Raya benar-benar takut sesuatu terjadi pada dirinya atau Ayas.
Raya menangis sambil menutup mukanya dengan bantal, dirinya kembali ingat kejadian mengerikan itu lagi yang membuatnya seperti ingin mati. Raya mencoba untuk melakukan metode butterfly hug yang diajarkan psikolognya ketika emosinya tidak stabil akibat trauma yang dalam. Beruntung metode itu bisa sedikit memberikan sedikit rasa tenang untuknya. Raya ingin sekali menceritakan kepada seseorang tentang Adrian yang tiba-tiba meneleponnya, namun Raya tidak berani karena merasa malu dan takut. Dirinya tidak ingin merusak kebahagiaan orang-orang yang membantunya, Raya memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat semuanya, dirinya ingin terbebas dari belenggu rasa takut akibat ulah Adrian padanya. Lagipula Raya tidak ingin merusak suasana bahagia dirinya. Raya mencoba untuk melupakan telepon Adrian, besok Raya akan mengganti nomor ponselnya karena Raya takut Adrian akan meneleponnya lagi.
Raya harap, acara pernikahannya bisa berjalan dengan lancar tanpa ada masalah dan halangan apapun. Dirinya sudah benar-benar lelah dan ingin sekali merasakan kebahagiaan yang sejati bersama seseorang yang sangat dicintainya, Ayas. Semoga Raya bisa melewati semuanya dengan baik dan juga aman.
***