Musibah

1483 Words
            Setelah acara lamaran selesai, Ayas beserta keluarga langsung pulang ke rumah, wajah Ayas begitu sumringah dan tidak berhenti tersenyum, sebentar lagi dirinya akan mengemban amanah sebagai seorang suami. Di perjalanan pulang Fajar berulang kali menggodanya karena sebentar lagi dirinya akan menjadi suami, Fajar juga mengatakan kalau Ayas harus rajin berolahraga agar pada saat malam pertama nanti dirinya bisa kuat. Ayas langsung menimpuk sahabatnya itu dengan bantal leher yang ada di dekatnya, semua orang yang mendengar hal tersebut langsung tertawa, Ayas menjadi malu karena hal itu bersifat pribadi. Ayas mendelik galak ke arah sahabatnya, sedangkan Fajar hanya cengengesan tak berdosa.             Tiba di rumah, Ayas langsung bekerja, di sela-sela pekerjaannya itu, Ayas mencoba mendesign undangan pernikahan dirinya dan Raya nanti. Dirinya ingin membuat design undangan yang unik dan beda dari yang lain, maka Ayas membuatnya dengan sepenuh hati. Design undangan pernikahannya yang tengah dia buat itu bisa dijadikan contoh undangan untuk kliennya nanti.             Satu minggu menjelang hari pernikahannya, Ayas benar-benar deg-degan, dia berlatih cara mengucap ijab qobul saat akad nikah nanti, jika Ayas sedang gugup stutteringnya akan keluar, dirinya tidak mau orang lain tahu bahwa Ayas menderita stuttering, namun Ayas mencoba untuk melawan kegugupannya, dengan melatih pernafasan agar dirinya menjadi tenang.             Hari pernikahan semakin dekat, undangan pernikahan sudah disebar ke beberapa teman-teman Ayas dan Raya, karena mereka satu sekolah saat SMA, maka lingkup pertemanannya pun sama. Rencananya akad nikah dan resepsi akan diadakan di rumah Raya, konsep pernikahannya pun tidak mewah malah cenderung sederhana, karena Raya dan dirinya sepakat untuk tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk sebuah pesta yang hanya sehari. Justru Raya inginnya pernikahan mereka diadakan di KUA saja, karena untuk menekan biaya pernikahan. Sudah Ayas duga, bahwa Raya tipe wanita yang sederhana, Ayas tidak salah memilih Raya sebagai istrinya.             Sebenarnya Ayas ingin sekali bertemu dengan Raya atau hanya sekedar chatingan dengannya, namun dirinya kembali diingatkan bahwa hal itu tidaklah ada gunanya, disamping itu  Ayas tidak ingin m*****i rumah tangganya nanti dengan seusatu yang salah sebelum menikah. Ayas menahan kerinduannya pada Raya dengan banyak beraktivitas baik itu dengan berolahraga atau bekerja. Ayas hanya diperbolehkan berkomuikasi dengan ayah Raya, dirinya hanya sekedar saling melihat status w******p saja untuk mengobati rasa ingin bertemu. Ayas akan libur bekerja dua hari sebelum hari pernikahannya, karena dia tahu orderan dari klien setiap hari semakin banyak, maka Ayas menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sesuai deadline yang telah ditentukan.             Ketika sedang bersantai di kamar, Ayas dikagetkan dengan ponselnya, dirinya melihat layar dengan nomor tak dikenal. Awalnya Ayas ragu, namun dirinya kemudian menegaskan bahwa mungkin itu nomor kliennya. Setelah Ayas mengangkatnya terdengar suara seorang wanita.             “Halo, apa benar ini dengan Ayas?” Tanya wanita itu.             “Iya, maaf ini dengan siapa?” Tanya Ayas was-was karena dia jarang berbicara di telepon dengan wanita tidak dikenal apalagi sebentar lagi dirinya akan menikah, takutnya terjadi kesalahpahaman.             “Saya Andien, teman Raya, mungkin Raya gak pernah cerita sama kamu.” Jawab wanita di ujung telepon itu. Ayas mengerutkan keningnya, dia memang tidak mengetahui semua teman-teman Raya, namun dia tahu bahkan kenal dengan sahabat dan beberapa teman dekat Raya.             “Iya, maaf ada keperluan apa ya?” Tanya Ayas penasaran.             “Saya ingin mengatakan kalau …tut tut tut tut….” Suara wanita yang bernama Andien itu putus begitu saja. Tak lama, ponsel Ayas kembali berdering, telepon dari Attar, adiknya.             “Assalamualaikum Tar? Ada apa?”             “A Ayas, ruko kebakaran, cepat A Ayas datang kemari!” Teriak Attar. Ayas kaget dan langsung terbangun dari atas kasur.             “Attar, jangan becanda kamu!” Teriak Ayas lagi dengan perasaan was-was.             “Attar gak bohong A, cepat A Ayas datang ke ruko!” Terdengar di ujung telepon Attar dan beberapa suara orang lain tengah berteriak panik . Ayas pun ikutan panik, dia segera mengambil kunci motornya dan berlari ke halaman rumah mengambil motor. Ayah dan ibu yang berteriak memanggil Ayas pun tak digubrisnya.             Setibanya di ruko, terlihat para warga di sekitar sedang berlomba-lomba menyiramkan air ke arah ruko yang tengah dilalap si jago merah. Terlihat wajah panik Attar yang juga tengah memadamkan api. Melihat wajah Ayas, Attar segera menghampiri Ayas yang tengah mematung karena kaget. Terdengar suara sirene pemadam kebakaran yang sudah ditelepon Attar. Ayas tetap tak bergeming sambil matanya menatap rukonya yang sudah berubah warna menjadi gosong, Ayas melihat kertas-kertas berisi hasil designnya yang tinggal serpihan, semua peralatannya, usahanya, kerja kerasnya hancur tak bersisa. Wajah Ayas pucat seketika, dirinya tiba-tiba limbung.                                                                                                     **             Ayas baru sadar ketika dirinya sudah berada di rumah sakit. Dirinya melihat keluarganya yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Tak terasa Ayas menangis di pelukan ibunya, meluapkan semua emosinya dan banyak pertanyaan tentang kenapa semua ini bisa terjadi padanya.             “Polisi sedang mengusut penyebab kebakaran A,” ucap Attar setelah Ayas sudah sedikit agak tenang.             “Fathur dan ketiga karyawan lainnya semuanya baik-baik sajakan?” Tanya Ayas. Attar mengangguk.             “Mereka baik-baik aja A, mereka sekarang sedang mengurus laporan ke kepolisian.” Jawab Attar sendu.             “Sebenarnya apa yang terjadi Tar? Kenapa ruko bisa terbakar? Saat A Ayas meninggalkan ruko, semuanya terlihat baik-baik aja.”             “Attar juga kurang tahu A, sementara polisi mengatakan bahwa kebakaran terjadi karena korslet listrik, tapi polisi juga melihat ada kejanggalan di situ, seperti ada yang sengaja menyabotase sikring listrik.”             “Siapa? Gak mungkin kalo karyawan Aa yang melakukannya, mereka bukan orang yang seperti itu.” Ayas serasa putus asa, sedangkan Attar tidak menjawab karena karyawan kakaknya tidak mungkin melakukan hal sejahat itu, disamping itu juga Attar cukup dekat dengan keempat karyawan kakakknya itu. Jadi, mustahil Fathur dan keempat karyawan Ayas yang melakukan kejahatan tersebut.             Berita kebakaran ruko milik Ayas diberitakan di TV, Ayas diburu oleh beberapa awak media, kerugian yang didapat Ayas mencapai ratusan juta, beberapa warga yang rumahnya berdekatan dengan ruko terkena imbas dari kebakaran tersebut juga meminta ganti rugi, disamping itu polisi juga belum menemukan pelaku penyebab kebakaran. Ayas benar-benar pusing, dirinya seolah kembali terpuruk ke titik nol.             Berulangkali, ponsel Ayas berdering, dari Raya, namun Ayas tak kuasa untuk mengangkatnya. Kepala Ayas sudah sedemikian peningnya dengan musibah yang menimpa dirinya itu. Tabungannya juga terkuras habis mengganti uang klien yang kebanyakan sudah membayar di muka bahkan dirinya terpaksa harus mencari pinjaman untuk mengganti rugi tiga rumah warga yang terkena imbas dari kebakaran di rukonya, sedangkan asuransi belum bisa dicairkan.             Ayas benar-benar putus asa, dirinya juga bertanya-tanya apakah dia akan meneruskan acara pernikahannya atau harus membatalkannya. Ayas takut, Raya tidak bahagia hidup dengannya. Sehari pasca kebakaran tersebut, Ayas berencana untuk membatalkan pernikahannya itu, namun ayah dan ibunya menentang keras keputusannya. Mereka mengatakan bahwa pernikahan tinggal empat hari lagi, undangan sudah disebar, persiapan juga sudah hampir 100 persen, apa kata orang nanti jika pernikahannya batal. Ayas hanya mendengar nasihat orangtuanya itu tanpa benar-benar memahaminya, yang dipikirkan Ayas saat ini adalah bukan apa kata orang melainkan apa yang harus dia lakukan untuk menutupi biaya ganti rugi tiga rumah warga yang terkena imbas kebakaran itu? Di mana mereka tinggal? Saat orang lain kesusahan akibat musibah yang terjadi karena rukonya sedangkan dirinya harus pura-pura bahagia di pelaminan, ke mana nuraninya sebagai manusia? Semua itu tidak bisa dilakukan, meskipun sebenarnya Ayas kasihan pada Raya dengan keputusan sepihak dirinya namun ini semua demi kebaikannya juga. Raya berhak mendapatkan kebahagiaan, dan kebahagiaan itu tidak didapatkan darinya.                                                                                                 **            Ketika Ayas mengatakan keputusannya untuk membatalkan pernikahannya dengan Raya, Ayah marah besar sedangkan ibunya menangis sambil memeluk Ayna dan Ainun. Wajah ayah merah menahan marah, bahkan ayah hampir saja menampar Ayas jika tidak ditahan oleh Attar.             “Gila kamu Ayas! Ayah tidak habis pikir dengan cara berfikirmu yang sangat sempit, ayah tahu kau sedang mendapat musibah namun kau juga tidak boleh membatalkan sesuatu yang memang sudah direncanakan. Kamu pikir semudah itu membatalkan pernikahan yang dalam hitungan hari? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Raya dan keluarganya jika mereka tahu kamu hendak membatalkan pernikahannya? Kamu akan sangat menyakiti hati mereka, kamu juga sangat menyakiti hati ayah dan ibumu ini!” Ujar ayah sambil menahan amarah. Ayas hanya diam menunduk, pikirannya benar-benar buntu, entah apa yang harus dilakukannya. Ayas kembali menatap dirinya sendiri yang tidak berdaya seperti dulu dengan masa depan suram.             “Nak, ibu mohon jangan membatalkan pernikahanmu, kamu harus ingat kamu memiliki dua adik perempuan yang belum menikah, bagaimana jika kedua adikmu diperlakukan seperti itu. Hati orangtua mana yang tidak sakit melihat anak perempuan yang dicintainya deiperlakukan tidak sepatutnya oleh orang lain.” Sergah ibu sambil berurai air mata, melihat ibu memohon, Ayas ikut menangis, Ayna dan Ainun juga terlihat menitikkan air mata.             “Kamu tahu, pernikahan itu bukan perkara main-main, musibah yang sedang kamu alami tidak akan membuatmu mati dan kehilangan harapan. Yang paling penting adalah kamu tetap berjuang dan tidak menyerah dengan apapun yang terjadi. Ayah yakin kamu bisa menghadapinya. Tetaplah pada niat baikmu, Insya Alloh semuanya pasti ada jalan.” Lanjut ayah yang kini sudah bisa menguasai emosinya.             Ayas hanya duduk termenung mencoba memahami semua perkataan ayah dan ibunya. Dirinya mohon diri untuk pergi ke kamarnya, memikirkan keputusan apa yang akan Ayas berikan untuk masa depannya.                                                                                                 ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD