Dalam hitungan hari Raya akan segera melepas masa lajangnya, dirinya benar-benar gugup, bahkan Raya sempat sakit karena terlalu gugup. Untung saja orangtua dan saudara Raya sigap dengan kondisi Raya. Nenek dan keluarga Raya dari pihak ibu di desa sudah datang ke rumah Raya untuk sekedar membantu. Raya senang keluarganya bisa berkumpul semua di rumahnya. Raya sebenarnya ingin membantu namun keluarganya tidak memperbolehkan, mereka menyuruh calon pengantin untuk istirahat saja. Karena bosan jika harus tiduran saja, maka Raya pergi ke ruang tengah untuk menonton TV. Di chanel berita, Raya melihat berita kebakaran yang terjadi di kotanya tepatnya di daerah tempat tinggal Ayas. Dan Raya tambah kaget ketika melihat Attar, adik Ayas muncul di TV sedang diwawancarai. Raya langsung segera menelepon nomor Ayas namun tidak ada jawaban. Tak habis akal, Raya pun menelepon ketiga adik Ayas, namun tetap tak ada jawaban. Karena khawatir, Raya mengatakan pada ayahnya untuk mengantarkannya ke rumah Ayas.
Keluarga Raya yang tahu ketika tempat usaha Ayas mengalami kebakaran panik dan ikut sedih atas musibah yang dialami calon suami Raya. Khawatir pada kondisi psikis Raya, ayah dan Satria, sepupu Raya pergi ke rumah Ayas untuk memastikan. Berulangkali Raya menghubungi nomor Ayas namun tak kunjung diangkat. Raya khawatir dengan nasib Ayas dan juga dirinya, karena Raya takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Namun Raya tetap berprasangka baik bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya termasuk dengan musibah yang menimpa Ayas.
Ayah dan sepupu Raya baru pulang pukul sepuluh malam, Raya melihat wajah ayah Raya pucat, dan ayahnya langsung pergi ke kamar tanpa berbicara apapun. Raya semakin cemas dengan apa yang terjadi pada Ayas. Raya lalu bertanya pada Satria, namun sepupunya itu malah ikut diam seribu bahasa, meskipun Raya sudah mendesaknya jawaban Satria hanya tidak tahu karena dirinya tidak ikut masuk ke dalam rumah Ayas. Raya semakin gundah, ibu meminta Raya untuk tetap tenang dan selalu berpikir postif, ibunya juga mengatakan bahwa dirinya nanti akan berbicara dengan ayah jika suasananya sudah agak tenang. Raya mengangguk setuju meskipun di dalam hatinya yang paling dalam dirinya benar-benar cemas.
**
Setelah sholat subuh, ayah meminta Raya, ibu dan keluarga untuk berkumpul di ruang tamu guna membicarakan perihal masa depan Raya. Raya bingung sekaligus cemas, apakah gara-gara musibah kebakaran ruko Ayas, lantas Ayas akan membatalkan pernikahannya? Jika hal itu sampai terjadi, bagaimana dengan dirinya? Undangan pernikahan sudah disebar, persiapan pernikahan hampir 100 persen, apakah Ayas tidak memikirkan apa yang sudah Raya lakukan? Bagaimana mungkin Ayas sampai setega itu?
Namun, semua kekhawatiran Raya tentang pernikahannya yang batal itu tidak terjadi, Ayas tetap akan menikahinya dan pernikahan pun akan tetap digelar sesuai rencana. Raya lega mendengar semua itu.
Setelah mendengar semua penuturan ayahnya, Raya segera mengirim chat untuk Ayas tentang kabar diri Ayas yang seharian menghilang dan membuatnya khawatir itu. Ayas pun membalas chat Raya walau singkat, dirinya meminta maaf pada Raya untuk semua yang terjadi, dan Ayas bercerita jika masa-masa setelah pernikahan nanti mungkin tidak akan seperti yang dibayangkan, karena Ayas yang kembali tidak memiliki pekerjaan setelah usaha percetakannya habis dilalap api. Ayas hanya tidak ingin membuat Raya kesusahan nanti setelah menikah dengannya. Raya hanya terdiam mendengar penjelasan Ayas yang menurutnya keterlaluan itu. Raya marah karena Ayas menganggapnya seperti tidak ingin hidup sulit. Raya mengatakan dengan tegas bahwa dirinya sama sekali tidak keberatan tinggal di kolong jembatan sekalipun asalkan itu bersama Ayas. Dirinya sama sekali tidak takut hidup miskin asalkan Ayas selalu di dekatnya dan selalu mencintainya, bagi Raya itu sudah cukup. Setelah kesalahpahaman itu, Raya bisa tidur dengan tenang, dirinya ingin waktu segera cepat berlalu.
H-3 acara pernikahannya dengan Ayas, Raya tengah sibuk membaca novel berjudul Grotesque yang membuatnya pusing setengah mati dengan jalan ceritanya namun meskipun begitu Raya sangat suka dengan ide cerita dari novel karya Natsuo Kirino yang bercerita tentang sisi gelap manusia itu. Tiba-tiba ponselnya berdering dari nomor Andien. Raya mengerutkan keningnya, Andien adalah teman masa kecilnya yang mempertemukannya dengan Adrian. Ada sedikit perasaan takut ketika Andien menelepon dirinya, karena Raya tahu Andien cukup dekat dengan Adrian. Dari pada menduga-duga, Raya segera mengangkat telepon dari Andien itu.
“Assalamualaikum?” Salam Raya pada Andien yang berada di ujung telepon. Samar-samar terdengar sudara tangis seorang perempuan.
“Waalaikumsalam Raya,” jawab Andien di sela-sela isak tangisnya.
“Iya, Andien ada apay a?” Tanya Raya tanpa basa basi
“Ray, aku ingin minta maaf sama kamu, aku baru tahu bejatnya seorang Adrian. Maafin aku Ray, udah mempertemukan kamu sama Adrian.” Ucap Andien. Raya terdiam sejenak, dalam pandangan Raya, Andien sama sekali tidak bersalah.
“Kamu gak perlu minta maaf, karena kamu sama sekali gak salah Ndien, ini murni kesalahannya Adrian.”
“Enggak Ray, ini sebenarnya salah aku, aku udah ngsih ide ke Adrian buat ngadain acara reuni itu, untuk segera melamar kamu langsung, trus pas kejadian kamu hampir dilecehkan Adrian, itu juga ide aku Ray. Aku bener-bener minta maaf, tadinya aku hanya memberikan saran ke Adrian agar dia bersikap agresif ke kamu dan aku juga memberi tahu kalau kamu tinggal sendiri saati kejadian itu, tapi aku gak gak tahu kalau Adrian melakukan hal bejad seperti itu, aku benar-benar minta maaf.” Ucap Andien, Raya hanya menghela nafas, kini dia semakin tahu sisi gelap temannya itu dan juga sisi gelap Adrian yang ternyata tidak memiliki prinsip sehingga dirinya tidak bisa membedakan mana saran yang baik dan buruk.
“Aku sudah memaafkanmu Ndien, lagipula semuanya juga sudah berlalu jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Kalau begitu sudah dulu ya sampai jumpa.” Sergah Raya, sembari menutup telepon sebelum Andien mengatakan sesuatu. Dirinya sudah benar-benar lelah dan ingin segera memutuskan hubungan pembicaraannya dengan Andien.
Setelah pembicaraan serius Andien dan Raya di telepon, ada pesan chat yang diketahui dari Andien itu, isinya sungguh mencengangkan Raya.
‘Ray, sebenarnya yang membuat kebakaran di ruko Ayas adalah Adrian, saat itu dia mengatakan akan membuat perhitungan dengan laki-laki yang bernama Ayas, dan ternyata kebakaran itu yang dilakukannya. Aku cuma mengingatkan kamu untuk berhati-hati dengan Adrian, dia orang yang licik dan berbahaya.’ Raya kaget dengan kebenaran yang terjadi, namun dirinya menahan diri untuk tidak berprasangka buruk karena tidak adanya bukti bahwa Adrian adalah pelaku kebakaran ruko Ayas. Namun hal itu juga membuat Raya sedikit cemas, apakah dirinya harus melaporkannya pada Ayas atau bagaimana? Raya mencoba berfikir realistis, dan sampailah pada sebuah keputusan bahwa dirinya tidak akan mengatakan apapun, biarlah polisi yang menyelidikinya apalagi polisi juga berkesimpulan bahwa kebakaran itu terjadi karena unsur kesengajaan, Raya juga tidak ingin memperkeruh suasana, apalagi hari pernikahannya akan segera tiba. Raya ingin fokus pada pernikahannya saja, dia tidak ingin berusan dengan sesuatu yang bukan urusannya apalagi jika menyangkut Adrian. Raya mematikan ponselnya dan melanjutkan kegiatannya membaca buku.
***