Pukul delapan malam, ayah dan sepupu Raya datang ke rumah Ayas, Ayas menyambut ayah Raya dengan senang hati, sedangkan sepupu Raya yang bernama Satria memilih untuk menunggu di teras, mengobrol bersama Attar. Ayah Raya menanyakan keadaan Ayas dan kronologis kejadian kebakaran di rukonya tersebut. Ayas pun menjawabnya dengan apa adanya. Dirinya juga sempat menceritakan kegelisahan tentang bagaimana caranya untuk membahagiakan Raya jika kondisi Ayas saat ini sedang tidak baik. Namun ayah Raya menyemangati Ayas bahwa dirinya tak perlu takut tidak bisa membahagiakan putrinya, karena putrinya bukanlah orang yang materialistis, dan juga mustahil seseorang bisa membuat bahagia manusia lainnya sebab letak kebahagiaan berada di masing-masing orang.
Mendengar itu, Ayas merasa mendapatkan pencerahan dan kemantapan untuk menikahi Raya. Ayas yakin bahwa Raya adalah jodoh yang diberikan Tuhan untuknya. Hati Ayas semakin lapang dan tenang. Pukul sepuluh kurang, ayah Raya dan sepupunya pamit untuk pulang. Sebelum pulang ayah Raya yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertuanya itu berpesan untuk tidak perlu mengkhawatirkan masa depan, setiap orang membawa rezekinya masing-masing, dan jangan pernah takut kehilangan rezeki. Setiap ujian yang menimpa pasti akan ada jalan keluarnya. Dan ada satu perkataan ayah Raya yang membuatnya bersemangat yaitu hidup itu jika ditanyakan terus menerus pasti akan terasa berat, tapi jika dijalani akan terasa lebih ringan.
**
Waktu berjalan tanpa terasa, hari pernikahan pun tiba, setelah sholat tahajud, Ayas segera mandi dan berbaju koko, dirinya belum memakai pakaian pengantin karena hendak melaksanakan sholat shubuh di masjid terlebih dahulu. Untuk melawan kegugupannya Ayas memperbanyak dzikir, sampai adzan shubuh bergema, dirinya bersama ayah serta adiknya, Attar bersama-sama berangkat menuju masjid.
Ayas dan keluarganya sudah berangkat menuju rumah Raya dengan menggunakan mobil sahabatnya, Fajar yang sudah dihias menjadi mobil pengantin. Fajar membuat Ayas semakin gugup dengan olokan tentang malam pertama, suatu saat Ayas akan membalas perbuatan Fajar nanti jika kelak Fajar menikah. Dengan pakaian serba putih Ayas terlihat semakin gagah dan bersinar, dia turun dari mobil ketika sudah sampai di rumah Raya. Ibu Raya mengalungkan untaian bunga melati ke lehernya. Ayas digamit oleh kedua paman Raya menuju meja ijab qobul, di sana sudah ada penghulu dan ayah Raya sebagai wali, sedangkan Raya masih berada di kamar pengantin, jika ijab qobulnya sudah selesai maka Raya akan dibawa menuju dirinya.
Sebelum acara ijab qobul dimulai, berbagai acara sambutan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an pun digelar, Ayas benar-benar tegang, dirinya mencoba untuk menarik nafas dan berdizikir agar mendapatkan ketenangan. Setelah acara sambutan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an selesai, maka tibalah acara ijab qobul, penghulu meminta Ayas untuk berjabat tangan dengan ayah Raya sebagai wali sah calon istrinya itu.
“Saudara Muhammad Ayas bin Surahman, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya Raya Pradipta binti Hamid Husen dengan maskawin emas 10 gram dibayar tunai.” Ucap Ayah Raya dengan lantang.
“Saya terima nikahnya Raya Pradipta binti Hamid Husen dengan maskawin emas 10 gram dibayar tunai!” balas Ayas dengan sekali tarikan nafas, para saksi dan orang-orang yang hadir mengucap kata sah secara bersamaan. Dirinya benar-benar sangat lega telah mengucapkan ucapan sakral itu dengan baik. Raya pun dituntun oleh tantenya menuju meja ijab qobulnya.
Ayas melihat Raya terlihat sangat cantik dengan pakaian dan jilbab serba putih serta dandanan yang sederhana, membuat daya Tarik Raya begitu terlihat memukau. Raya mencium tangan Ayas lama dan Ayas mencium kening Raya, dirinya baru pertama kali mencium kening seseorang, berpegangan tangan dengan wanita pun dia belum pernah, dirinya sangat bersyukur bahwa Tuhan menjaganya sampai akhirnya dirinya bisa memegang tangan dan mencium kening seorang wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Ayas pun menyerahkan mas kawin yang dibungkus dengan indah kepada Raya dan Raya menerimanya dengan malu-malu. Setelah acara akad nikah selesai, dirinya dan Raya digiring ke pelaminan untuk menyambut tamu yang hadir. Ayas dan Raya bergantian mengganti pakaian mereka dengan pakaian berwarna hijau, hijau dipilih karena Raya sangat menyukai warna itu. Raya keluar dengan balutan gaun hijau, dirinya tampak semakin cantik dan anggun, Ayas benar-benar beruntung mendapatkan istri secantik dan sebaik Raya. Senyum Raya pun tak hentinya mengembang, Raya terlihat benar-benar bahagia begitupun dengan Ayas.
**
Malam pun tiba, Raya dan Ayas benar-benar lelah setelah menyelesaikan acara pernikahannya dan menyambut para tamu yang hadir. Raya masuk ke kamarnya, dan Ayas pun menyusulnya, setelah berganti pakaian, mereka melaksanakan sholat sunnah berjamaah, setelah itu mereka makan bersama sambil bercanda. Mereka menentukan rencana ke depannya. Ayas mengatakan pada Raya bahwa sekarang kondisinya tidak begitu baik, dirinya berencana untuk mengajak Raya hidup berdua saja dengan mengontrak rumah sekaligus membangun kembali usaha percetakannya yang hancur. Ayas memutuskan untuk mengontrak agar bisa membangun rumah tangganya sendiri. Raya pun setuju karena memang lebih baik jika pasangan suami istri itu terpisah tempat tinggalnya dengan orangtua. Ayas sengaja memilih kontrakan yang dekat dengan rumah orangtua Raya, agar Raya bisa mudah berkunjung ke rumah orangtuanya jika sedang rindu.
Malam beranjak tua, suara jangkrik menggema di halaman rumah Raya, hati Ayas gundah gulana, dirinya merasa gugup luar biasa, diliriknya istrinya itu sedang rebahan sambil memainkan ponsel, mungkin sedang mengupload foto-foto pernikahannya itu ke media sosial. Ayas membaca buku yang berjudul Mahkota Pengantin yang merupakan kado dari rekan kerjanya dulu saat di kedai kopi Sakko. Tiba-tiba ponsel Ayas berdering, terlihat chat dari Fajar, Ayas berfikir sahabatnya itu tak henti-hentinya menggodanya, padahal saat ini Ayas benar-benar gugup, dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ayas menutup bukunya dan mencoba memberanikan diri untuk merebahkan tubuhnya disamping Raya, wajah istrinya itu tiba-tiba menegang, dirinya dengan sigap menyimpan ponselnya dan melirik ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, mereka sama-sama menunduk malu, Ayas mencoba untuk memegang tangan Raya yang mendadak dingin. Ayas memberanikan diri untuk mengecup kening dan mata Raya. Mereka pun larut dalam penyatuan dan saling menjelajahi satu sama lain.
***