Malam ini adalah malam terakhir Raya melajang, berbagai perasaan dari mulai bahagia dan terharu, berkecamuk dalam d**a. Bahagia karena sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri. Terharu karena perjuangan menjemput jodoh akhirnya menampakkan hasilnya. Dirinya mengingat betapa terlukanya dirinya ketika gagal taaurf, mengalami banyak penolakkan, di ghosting oleh laki-laki yang sedang bertaaruf dengannya. Sebenarnya saat itu Raya sudah mau menyerah, namun dirinya kembali dikuatkan ketika melihat orangtuanya yang sangat menginginkan Raya menikah. Raya pun berusaha untuk bangkit di tengah-tengah keterpurukannya itu, dirinya berjuang melawan ketakutannya akan penolakan dan sakit hati, semua itu Raya lakukan untuk kebahagiaan kedua orangtuanya juga dirinya yang menginginkan untuk membina keluarga.
Keesokkan harinya, Raya yang sudah mandi tengah menunggu di kamar untuk dirias, dirinya melihat-lihat kamarnya yang sudah terlebih dahulu dirias menjadi kamar pengantin, Raya tak menyangka bahwa hari ini dia akan menjadi pengantin. impiannya untuk menjadi seorang istri akan terwujud, bahkan Tuhan menikahkan Raya dengan seseorang yang sangat didambakannya. Raya sangat bahagia saking bahagianya dirinya sampai meneteskan air mata. Sehingga perias pengantin yang akan merias wajahnya pun kaget melihat Raya menangis. Takut disangka terpaksa menikah, Raya mengatakan bahwa dirinya terlalu bahagia.
Ketika wajah Raya sedang dirias, berulang kali Raya bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, ibunya tahu Raya sedang gugup. Teh Rena selaku perias pengantin hanya menggelengkan kepalanya, Raya mencoba untuk menghela nafas agar dirinya tenang, sampai akhirnya Teh Rena berhasil menyulap wajah Raya yang biasanya polos menjadi berbeda dengan sapuan make up. Raya menggunakan pakaian pengantin berwarna putih dengan jilbab yang menutup d**a berwarna sama. Raya terlihat sangat cantik dan anggun, tante Arum pun memuji kecantikan alami Raya, mungkin karena Raya jarang sekali berdandan, maka dirinya tampak sangat berbeda, padahal make upnya sangat sederhana.
Rombongan calon pengantin pria sudah datang, Raya sudah tidak bisa diam saking gugupnya, untungnya tante Arum menemaninya sehingga Raya bisa mengontrol kegugupannya. Terdengar sambutan dari ustadz yang berisi nasihat tentang pernikahan yang sangat menyentuh, juga pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh adik Ayas yang bernama Attar, sangat merdu dan indah.
Tibalah inti acara ini, yaitu akad nikah, terdengar ayah Raya begitu lantang dengan suara yang sedikit bergetar menyerahkan tanggung jawab Raya sebagai anak kandungnya pada laki-laki bernama Ayas. Ayas pun demikian dengan suara yang jelas dalam satu kali tarikan nafas Ayas menerima tanggung jawab ayah Raya. Kini tanggung jawab ayah Raya selesai, dan beralih ke Ayas yang menjadi suaminya. Hati Raya bergetar mendengar janji itu, mitsaqon ghalidzo, sebuah perjanjian yang berat. Kini Ayas telah sah menjadi suami Raya, dirinya memiliki tugas sebagai seorang istri untuk taat dan patuh pada suaminya. Raya dituntun oleh tante Arum keluar kamar, Raya melihat Ayas tampak gagah dengan pakaian dan peci putihnya itu, Raya disandingkan dengan Ayas, dirinya mencium tangan Ayas lama, dan Ayas mencium kening Raya.
Saat acara resepsi, para tamu yang hadir mengucapkan selamat pada Raya dan Ayas, banyak tamu yang meminta foto bersama dengan Raya dan Ayas, bahkan Fajar pun dengan hebohnya berfoto sambil meringis karena jomlo. Raya tak hentinya tersenyum, dirinya benar-benar sangat bahagia, hidupnya kini terasa lengkap dengan hadirnya Ayas.
Setelah rangkaian acara selesai, keluarga Ayas pulang meninggalkan Ayas, Ayas sudah menjadi bagian dari keluarga Raya sekarang. Raya langsung pergi ke kamarnya yang telah disulap menjadi kamar pengantin, dirinya segera berganti pakaian, Ayas pun terlihat sudah berganti pakaian dengan pakaian santai, dirinya berganti pakaian di kamar mandi. Raya geli pada sikap Ayas, kenapa dia berganti pakaian di kamar mandi? Kenapa tidak di kamarnya? Mungkin Ayas melihat bahwa Raya juga hendak berganti pakaian.
Tak terasa malam pun tiba, setelah melaksanakan sholat sunnah berjamaah dengan Ayas, Raya keluar menuju dapur dan kembali sambil membawa makanan. Raya dan Ayas makan bersama sambil diselingi candaan dan membicarakan rencana dimana mereka akan tinggal nantinya. Setelah makan, Raya kembali ke dapur membawa piring dan gelas bekas makan mereka. Rumahnya terasa kosong, orangtua Raya mungkin sudah tertidur di kamar, mungkin mereka kelelahan karena acara pernikahan anaknya yang menguras tenaga mereka. Raya benar-benar kasihan. Sedangkan keluarga besarnya sudah dari tadi siang pulang ke rumahnya masing-masing. Di Depan pintu kamarnya, Raya berdiri sebentar dirinya takut untuk masuk, namun Raya mencoba untuk memberanikan diri karena bagaimanapun Ayas kini sudah menjadi suaminya.
Dengan hati-hati Raya membuka pintu kamarnya, Raya masuk dan menutup pintunya rapat, Ayas mengatakan untuk mengunci pintu kamarnya, Raya menelan ludahnya namun dirinya pun menuruti apa yang dikatakan suaminya tersebut. Setelah pintu kamarnya terkunci, Raya mengambil ponselnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur, sedangkan Ayas duduk di kursi sambil membaca buku yang diberikan temannya sebagai hadiah. Bukunya yang berjudul Mahkota Pengantin membuat Raya mendadak tegang, Dirinya berpura-pura sibuk memainkan ponsel sambil mengunggah foto-foto pernikahannya ke media sosial miliknya.
Beberapa kali Ayas berdehem, Raya pikir tenggorokan Ayas gatal dan dirinya mengambil air putih yang berada di meja rias dan langsung diberikannya pada suaminya tersebut. Ayas menerima gelas yang disodorkan Raya dan langsung meminumnya sampai habis. Raya sedikit kaget ketika melihat Ayas minum seperti orang kehausan. Ayas juga ikut merebahkan tubuhnya disamping Raya, wajah Raya menegang, dirinya menyimpan ponselnya di meja dan menunduk dalam-dalam. Ayas tiba-tiba memegang tangan Raya dengan lembut, Ayas mendekatkan wajahnya ke wajah Raya, ekspresi Raya begitu kaget, dirinya hendak membuang muka namun Ayas memegang dagu Raya, Ayas mengecup kening Raya lama, hal itu membuat Raya merasa nyaman, kemudian Ayas mengecup kedua mata Raya secara bergantian.
**
Adzan shubuh berkumandang, Raya melihat wajah Ayas yang sudah terlihat rapi dengan baju koko dan sarung, dirinya hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Raya mencoba untuk bangkit namun seluruh tubuhnya terasa ngilu. Dirinya kembali berbaring, Ayas pun menyuruhnya untuk tetap berbaring saja, bahkan Ayas memberikan segelas s**u untuk Raya. Raya merasa malu, seharusnya dirinya yang membuatkan minuman untuk suaminya tersebut. Ayas hanya tersenyum dan hanya mengusap rambut Raya yang acak-acakkan. Ayas bersiap pergi menuju masjid.
Setelah menghabiskan s**u yang diberikan Ayas, Raya mencoba untuk bangkit dan pergi ke kamar mandi. Setelah penampilan Raya rapi, dan telah melaksanakan sholat shubuh, dirinya segera menuju dapur untuk memasak. Sebelum menikah Raya sudah terbiasa membantu ibunya di dapur sehingga dirinya sudah terlihat mahir dalam hal memasak.
Raya sudah selesai membuat pisang goreng dan singkong goreng sebagai camilan yang dia hidangkan di meja makan sebelum ayah dan suaminya pulang dari masjid. Tak lama kemudian terdengar suara Ayas mengucap salam, dan Raya pun menyambutnya, ayah mengajak menantunya itu untuk duduk di teras rumah sambil menghirup udara segar, Raya membawa camilan berisi pisang goreng dan singkong goreng serta dua gelas teh hangat untuk dua orang laki-laki yang Raya cintai ke teras rumah. Setelah itu Raya kembali ke dalam rumah untuk bersih-bersih rumah serta memasak untuk sarapan keluarganya nanti.
Siang hari, Ayas mengajak Raya berbelanja untuk kebutuhan rumahnya nanti, sebelumnya Ayas mengajak Raya melihat-lihat kontrakan barunya itu dan Raya merasa cocok dengan rumah yang akan ditempatinya nanti dengan suaminya itu. Sikap Raya dan Ayas seperti halnya dua orang yang sedang pacaran, namun bedanya mereka pacaran setelah menikah. Mungkin itu yang membuat Raya dan Ayas tampak mesra, karena mereka tidak pacaran dulu sebelum menikah.
Ayas mengajak Raya untuk melihat ruko yang terbakar, Ayas mengatakan pada Raya bahwa dirinya akan kembali mendirikan usaha percetakan yang sudah hancur tersebut apapun yang terjadi. Raya mendengarkan suaminya dengan seksama, dirinya juga berusaha untuk menyemangatinya dan akan terus menemani dari nol apapun yang terjadi. Jika dua orang yang saling mencintai sudah bertekad untuk saling mendukung satu sama lain, maka rintangan jenis apapun akan dengan mudah dilewati.
Raya melihat Ayas tengah mencari-cari peralatan miliknya yang mungkin masih bisa dipakai sedangkan Raya mencoba membantu dengan membersihkan ruko sedikit demi sedikit.karena Ayas akan menggunakan ruko itu kembali sebagai tempat usahanya. Raya bangga pada Ayas, karena dirinya berani memutuskan dan mengambil resiko untuk menjadi seorang pengusaha. Raya juga ingat bahwa dirinya juga memiliki mimpi untuk menjadi penulis best seller. Raya berinisiatif untuk menuliskan kisah dirinya dan suaminya ke dalam bentuk novel, Raya berbicara pada suaminya tentang idenya tersebut dan Ayas sangat mendukungnya. Raya benar-benar sangat bahagia, dirinya sangat bersyukur atas semua nikmat yang telah Tuhan berikan padanya.
***