Adzan awal sayup-sayup terdengar di telinga Ayas, dirinya yang tengah tertidur lelap seketika bangun dan bersiap-siap untuk mandi, dilihatnya wajah istrinya yang tengah tertidur lelap di pelukannya. Wajahnya polos seperti bayi, Ayas terpaksa meninggalkan istrinya untuk mandi, dirinya hendak melaksanakan sholat tahajud. Dirinya sholat tahajud sendirian tanpa membangunkan Raya karena merasa kasihan. Ayas tahu Raya pasti kelelahan. Setelah melaksanakan sholat tahajud, sambil menunggu adzan shubuh berkumandang, Ayas membaca Al-Qur’an dengan lirih, sesekali dirinya menyusut air matanya yang tiba-tiba menetes. Ayas merasa Tuhan begitu baik padanya, dirinya yang bukan siapa-siapa tiba-tiba dilimpahi rezeki yang teramat melimpah, seorang istri yang cantik dan baik. Jika Ayas menghitung nikmat Tuhan, tentu dirinya tidak akan sanggup menghitungnya karena saking banyaknya.
Setelah Ayas selesai membaca A-Qur’an dia melanjutkan istighfar. Ingatan Ayas melanglangbuana saat dirinya masih mencari jati diri. Dulu Ayas hanyalah seseorang yang tidak percaya diri, tidak tahu kemampuan dirinya seperti apa, lantas tiba-tiba seseorang datang mengajaknya menikah, namun karena rasa tidak percaya dirinya yang parah, Ayas menolaknya dengan alasan belum siap. Namun karena Tuhan jugalah akhirnya Ayas dipertemukan kembali dengan seseorang itu, meskipun dulu Ayas sempat mencampakkan dan menyakiti hatinya. Perjalanannya tidak mudah, sampai dirinya akhirnya mengakui bahwa ternyata dia memiliki perasaan yang sama, sampai hendak melamarnya, tapi lagi-lagi kesulitan masih berpihak padanya, gadis yang dicintainya ternyata sudah dilamar orang lain, saat itu hatinya memang hancur, namun Tuhan seakan memberikan kekuatan dengan cara-Nya. Ayas dipertemukan dengan orang-orang yang mengenalkannya pada alam. Ayas jatuh cinta pada pandangan pertama, dirinya teramat bahagia, luka di hatinya mendadak sembuh dan dirinya menemukan sesuatu yang ada pada dirinya yang tidak dia ketahui.
Sampai suatu ketika Ayas memutuskan untuk membuka usaha percetakan, pada awalnya dirinya amat ragu namun dirinya yakin pada kemampuannya, Tuhan seolah memberikannya jalan, usahanya sedikit demi sedikit mengalami kemajuan, sampai memiliki karyawan. Kemudian beberapa hari sebelum acara pernikahannya, musibah datang, rukonya terbakar, tempat usahanya hancur dan hanya menyisakan puing-puing. Dirinya juga harus mengganti kerusakkan tiga rumah yang terkena dampak dari kebakaran rukonya. Untungnya Ayas mendaftarkan tempat usahanya ke asuransi sehingga sedikitnya Ayas bisa membantu kerusakkan tiga rumah meskipun tidak semuanya. Disamping itu pemilik rumah juga sangat baik dan mau mengerti, karena hal itu adalah musibah. Lalu, Ayas sempat memiliki keputusan untuk membatalkan pernikahannya dengan Raya, karena dirinya merasa belum bisa membahagiakannya. Namun Tuhan membawanya lagi pada gadis yang dicintainya sampai akhirnya menikahi gadis itu. Meskipun banyak hal yang telah dilalui, Ayas masih tidak percaya bahwa dirinya telah mendapatkan apa dia inginkan. Benar, Tuhan tahu kapasitas hamba-Nya sampai mana. Ayas benar-benar bersyukur, dirinya kembali melakukan sujud yang panjang.
**
Adzan Shubuh sudah berkumandang dirinya hendak bersiap-siap untuk pergi ke masjid, Ayas melihat Raya bangun, dirinya tersenyum, Ayas memberikan segelas s**u segar yang tadi dia buat sebelum istrinya itu bangun lalu Ayas pamit untuk pergi ke masjid bersama mertuanya.
Sepulang dari masjid mertuanya mengajaknya mengobrol di teras rumah, beliau menitipkan putri tercintanya padanya, Ayas juga mengatakan bahwa dia akan membawa Raya ke rumah kontrakan, dirinya ingin mencoba hidup berdua bersama Raya, ingin menikmati sari pati hidup berumah tangga, Ayas berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Raya. Mertuanya mengucapkan terimakasih dan memberi restu untuk dirinya dan Raya untuk hidup mandiri. Baginya, memang sudah seharusnya, pasangan yang sudah menikah hidup terpisah dari orangtua. Obrolannya terhenti ketika Raya datang membawakan camilan berisi pisang goreng dan singkong goreng serta dua gelas teh manis. Mertuanya kembali bercerita tentang masa kecil Raya yang penuh warna, Ayas mendengarkan dengan seksama, sesekali diselingi tawa. Betapa bahagianya Ayas kini.
**
Siangnya, Ayas mengajak Raya untuk pergi berjalan-jalan ke mall, layaknya orang pacaran mereka menonton film, makan berdua sambil membeli kebutuhan sehari-hari dan membeli peralatan rumah tangga serta beberapa furniture untuk mengisi rumah kontrakannya nanti. Selain itu Ayas juga mengajak Raya melihat rumah kontrakan yang akan ditinggalinya bersama, yang lokasinya berdekatan dengan ruko tempat usahanya itu.
Di rumah kontrakannya, Raya langsung membawa sapu untuk membersihkan lantai yang kotor, namun Ayas langsung mencegahnya.
“Nanti saja dibersihkannya, nanti aku akan menyuruh orang lain untuk membersihkannya,” cegah Ayas.
“Gak usah, gak apa-apa kok, ini kan rumah kita masa harus menyuruh orang lain untuk membersihkan sih,” jawab Raya sambil tersenyum, Ayas akhirnya membiarkan Raya untuk membersihkan rumah, dirinya juga mengambil lap dan pembersih kaca untuk membersihkan kaca-kaca yang kotor.
“Oh iya, bagaimana kalau kita memanggil satu sama lain sebagai bebeb?” tawar Ayas pada Raya di sela-sela mereka membersihkan rumah.
“Euh, lebay, aku gak suka, bagaimana kalau aku panggil kamu Aa dan kamu panggil aku Neng?” usul Raya, dan langsung disetujui Ayas, mereka tertawa bersama-sama.
“Oh iya A, bagaimana kalau kisah kita aku tuliskan dalam novel? Supaya kisah cinta kita abadi.” Tawar Raya, Ayas tahu kegiatan Raya adalah menulis, dirinya sama sekali tidak melarang Raya untuk berkarya, bahkan mendukungnya seratus persen.
“Aa mah setuju-setuju aja apa yang dilakukan Neng,” jawab Ayas, hal itu pasti membuat Raya jengah, karena Ayas tahu Raya tidak suka hal-hal yang lebay.
Ternyata menikah itu membuat bahagia, Ayas menyesal kenapa dirinya sampai hati menolak wanita seimut Raya? Apa dulu mata Ayas terhalangi oleh kabut sehingga dirinya dengan teganya mencampakkannya? Tapi sudahlah ini sudah menjadi jalan takdirnya, yang penting ke depannya Ayas akan selalu melindungi Raya, dirinya tidak akan membiarkannya sakit hati ataupun terluka lagi.
“A, kenapa melamun?” tanya Raya membuat Ayas tersentak dari lamunannya.
“Lagi mengenang masa lalu kita,” jawab Ayas sambil tersenyum.
“Masa lalu kok diungkit-ungkit,” jawab Raya ketus.
“Jadi lebih baik digimanain?” Goda Ayas.
“Dilupakan saja!” ujar Raya, membuat Ayas mengacak-ngacak jilbab biru Raya, Ayas benar-benar gemas dengan kepolosan istrinya itu.
Ayas terpaksa menyudahi kekonyolannya dengan istrinya itu ketika melihat truk yang berisi tempat tidur, lemari dan beberapa kursi parkir di halaman rumah kontrakkannya. Si supir datang menuju Ayas sambil memberikan nota untuk ditanda tangan. Mereka membawa barang-barang yang dibeli Ayas itu untuk dimasukkan ke dalam rumah. Mereka pergi setelah semuanya selesai.
“Kita berjuang bareng-bareng ya untuk membangun rumah tangga ini, susah senang kita hadapi bersama,” ucap Ayas sambil melingkarkan tangannya di pinggang Raya.
“Iya, aku setuju, pasti ke depannya kita akan menghadapi banyak ujian dalam rumah tangga, tapi asalkan kita terus berjuang sama-sama, pasti semua ujian itu akan kita lalui dengan baik.” Ujar Raya, dan hal itu membuat Ayas mencium kepala Raya yang tertutup jilbab, lama. Ayas berucap dalam hati, ‘tidak ada yang lebih membahagiakan dari menikah.’
***