Lelaki Bernama Adrian

1344 Words
            Raya tengah bersiap-siap untuk pergi ke acara reuni yang diadakan oleh teman-teman TK nya. Reuni TK yang tadinya akan digelar setelah lebaran, mendadak dimajukan karena alasan yang tidak diketahui. Sebenarnya Raya tidak suka dengan acara reuni, apalagi Raya tidak mengenal dengan baik teman-teman TK Kusumah, karena sudah sangat lama tidak pernah bertemu, namun karena Andien berkali-kali memohon padanya untuk datang ke acara reuni, Raya merasa tidak enak jika menolaknya. Raya berangkat ke acara reuni TK yang bertempat di Hotel Alabsyah yang terkenal mewah di kotanya. Tiba di lokasi, Raya bertemu dengan Andien di lobi dan beberapa orang yang tidak Raya kenal namun mereka mengenali Raya, karena canggung Raya hanya tersenyum, Raya berfikir mungkin mereka adalah teman-teman TKnya, Apa wajah Raya dari kecil memang tidak pernah berubah sampai dewasa sehingga mereka langsung mengenali Raya begitu bertemu? Bukankah struktur wajah orang itu akan mengalami perubahan ketika dewasa? Apa wajah Raya terlihat tidak berubah sejak kecil? Raya benar-benar bingung, namun dirinya segera menyusul Andien untuk masuk ke dalam Gedung, dirinya tidak mau terlihat seperti orang asing di dalam nanti.             Acara reuni memang dihadiri oleh sekitar dua belas orang termasuk orang yang mengadakan acara reuni ini yang disinyalir merupakan orang yang kaya raya.             “Ray, itu Adrian,” kata Andien sambil berbisik ke telinga Raya, seorang laki-laki tampan dengan setelan jas yang mewah berjalan menuju mimbar untuk berpidato.             ‘Oh, jadi dia orang yang punya acara, tampan,’ gumam Raya. Raya mengagumi seseosok laki-laki hebat yang kini tengah berbicara di mimbar, dirinya sama sekali tidak menyadari kalau laki-laki hebat itu ternyata adalah teman masa kecilnya, meskipun Raya sama sekali tidak mengingatnya.             Sebagian teman-teman TK Raya yang hadir hampir semua sudah menikah dan memiliki anak, hanya dirinya dan beberapa orang termasuk laki-laki hebat yang tengah berbicara yang diketahui bernama Adrian itu. Tapi meskipun teman-temannya belum menikah, karir mereka sangat sukses, Dewi contohnya, dia adalah seorang penyiar radio yang bekerja di stasiun radio ternama di Jakarta, Aldi adalah seorang arsitek handal dan Adrian adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Sedangkan dirinya adalah seorang penulis buku yang baru saja mengepakkan sayapnya di dunia literasi, masih jauh dari kata sukses. Hampir semua teman-teman TK Kusumah angkatan Raya adalah anak orang kaya, jadi tidak salah jika mereka tampak sukses seperti sekarang karena mereka memiliki privilege yang tidak dimiliki oleh dirinya. Bagi Raya kesuksesan adalah ketika kita mencintai apa yang dilakukan, Dirinya sendiri sudah merasa telah sukses karena dirinya mencintai apa yang dia lakukan meskipun dilihat dari sudut pandang orang lain dirinya masih belum dikatakan sukses, tapi untuk apa mempedulikan penilaian orang lain? Toh, ini adalah pilihan hidupnya sendiri.             Raya gelagapan ketika Adrian datang menghampiri mejanya dan Andien, dia duduk tepat di samping Raya. Raya hanya tersenyum ketika bersitatap dengan Adrian,             “Hai Raya, apa kabar?” tanya Adrian, wangi parfum Adrian menusuk hidung Raya.             “Alhamdulilah baik,” jawab Raya gugup. Raya semakin tak nyaman ketika Andien meninggalkan mereka berdua di meja untuk pergi mengambil es krim untuk anaknya, sedangkan teman-teman yang lainnya sibuk dengan obrolannya masing-masing.             “Kamu, masih inget saya kan?” tanyanya lagi.             “Jujur, saya sebenarnya kurang ingat sih, yang saya ingat hanya Andien, soalnya dia dulu satu kampung dengan saya.             “Ya sih, memang sudah lama sekali ya kita tidak pernah bertemu apalagi aku hanya satu tahun sekolah di TK, jadi pasti kamu tidak ingat,” sergahnya, Adrian mengganti kata saya menjadi aku, mungkin dia ingin terlihat akrab dengan dirinya, gumam Raya.             “Iya, aku mohon maaf, tapi apa waktu kecil kita pernah begitu akrab?” tanya Raya, sengaja agar obrolan mereka tidak terkesan kaku.             “Sebenarnya kita tidak begitu akrab, namun apa kamu gak inget dulu kamu pernah menyelematkan aku lho,” jujur Adrian, yang membuat Raya kaget.             “Menyelamatkan gimana ya?”             “Ya, waktu itu aku dan beberapa teman yang lain seperti Aldi, Eros, Dewi, Anggun, Fatih dan kamu sedang asyik bermain di taman sekolah, namun ada ular mendekati aku, dan ular itu hampir menggigitku, teman-teman yang lain pada lari kecuali kamu, kamu mengambil batu besar dan membunuh ular itu tepat ketika ular tersebut hampir mematukku.” Jelas Adrian membuat Raya tercengang, ingatannya kembali ke masa kecil dulu.             “Oh, jadi anak itu kamu? Ya ampun aku sama sekali gak sadar, tapi tunggu, dulu kamu…sorry agak besarkan tubuhnya.” Oceh Raya hati-hati. Adrian hanya tertawa melihat tingkah Raya.             “Iya, aku anak yang besar itu, sejak hari itu aku sakit, dan orangtuaku memutuskan untuk memindahkanku ke Kalimantan, karena pekerjaan papa dipindahkan kesana. Bertahun-tahun aku melupakan kejadian itu, aku berharap bisa bertemu denganmu dan mengucapkan terimakasih.” Ucap Adrian tulus, Raya hanya mengangguk dan tersenyum, tatapan Adrian membuat Raya jadi salah tingkah.             “Saat itu aku menangis keras dan kamu tanpa banyak bicara menuntunku dan membelikanku es krim, sampai akhirnya aku berhenti menangis, romantis sekali, bagaimana aku bisa melupakan kejadian itu Ray, kamu sungguh berhati malaikat.” Lanjut Adrian dengan mata yang berbinar.             “Yaah itu hanya sesuatu yang wajar, aku tipe orang yang tidak suka melihat teman atau saudaraku menangis, jadi kalau mereka menangis aku langsung mengajaknya makan es krim, hehe.” Kata Raya santai, Adrian terus menatap Raya, Raya menjadi kikuk dibuatnya.             “Ray, kamu mau menikah denganku?” tanya Adrian tanpa tedeng aling-aling, Raya yang tengah minum wedang uwuh menjadi tersedak, kaget dengan pernyataan Adrian yang tiba-tiba.             “Kamu, kalo becanda jangan kelewatan dong, kamu bahkan belum tahu apa aku sudah menikah atau belum” kata Raya sambil tertawa, tapi mimik Adrian tidak sedang bercanda, Raya kembali serius dan menunduk kurang nyaman karena Adrian terus menatapnya.             “Aku serius Ray, aku tahu kamu belum menikah dari Andien, dan aku sangat bersyukur kamu belum menikah. Kamu tahu salah satu alasan aku mengadakan acara reuni ini dari tahun ke tahun hanya semata-mata buat ketemu kamu?”             “Kalau kamu ingin membalas perlakuanku waktu kecil, tidak harus dengan cara seperti ini lho,”             “Sejak kejadian itu, aku jatuh hati sama kamu Ray, bertahun-tahun aku selalu ingat kamu, mencari-cari kamu.”             “Aku gak tahu apa yang harus aku katakan, kita baru ketemu lagi setelah dua puluh tahun, dan itu waktu yang cukup lama, jujur, aku belum kenal kamu, kamu juga belum kenal sama aku.”             “Bagaimana kalau kita mencoba untuk saling mengenal satu sama lain dulu, kalo dalam proses pengenalan kamu gak suka sama aku, aku gak akan memaksa,” Raya terdiam dengan ucapan Adrian, hatinya benar-benar tidak karuan, dirinya dilamar oleh seorang pria tampan dan kaya raya, Raya mencoba untuk terbangun dari mimpi yang seperti dongeng Cinderella itu.             “Diam berarti iya, jadi sekarang kamu adalah calon pasanganku!” putus Adrian, membuat Raya tak bisa berkata-kata. ‘Calon pasangan?’ gumam Raya.                                                                                                     **             Seminggu pasca lamaran mendadak Adrian pada Raya di acara reuni, Raya masih belum sadar dari apa yang telah terjadi, baginya ini membuatnya terlalu cepat, apalagi ketika Adrian datang ke rumah Raya dan ngobrol dengan orangtuanya, Raya merasa apa Adrian adalah jodohnya? Namun, kisi hatinya masih belum yakin seratus persen, seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, tapi Raya tidak tahu apa itu.             “Aku mau hubungan kita terlihat biasa-biasa aja, gak perlu ada hal-hal yang lebay dan drama kayak pasangan lain,” kata Raya ketika mereka ngobrol di teras rumah Raya, Adrian hanya tertawa mendengar syarat Raya yang unik itu.             “Aku setuju, sebenarnya aku juga kurang begitu suka kalo hubungan di ekspos, jatuhnya seperti yang kamu bilang, lebay.” Sergah Adrian, sambil matanya tak henti menatap Raya. Raya jadi agak rishi dengan tatapannya.             “Aku juga gak mau kita terlalu deket, sebelum ikatan halal terjadi, kita masih tetap bukan siapa-siapa,” tambah Raya lagi, kali ini Adrian hanya mengangguk.             “Makasih ya, kamu udah menunggu, sebulan lagi orangtuaku akan datang buat ngelamar resmi, mereka lagi di Australia, sebenarnya aku gak sabar ingin segera menikahi wanita yang aku cintai dari dulu.” Kata Adrian, membuat hati Raya berdebar dan pipinya merona.             Raya menatap bintang di langit, dia merasa Tuhan begitu baik padanya, Dia menyembuhkan hati Raya yang terkoyak karena Ayas, semoga Adrian adalah jodoh yang Tuhan kirim untuknya. Raya menutup mata sambil menggumamkan kata aamiin dalam hati.                                                                                                 ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD