Jatuh Cinta

1138 Words
            Sudah tiga hari Ayas tidak masuk kerja, dirinya hanya mengurung diri di kamar berkalung sarung, Ayas mengatakan kepada manager kedai kopi dengan alasan sakit. Ayas juga merasa tidak tahu apa yang terjadi padanya saat ini, pikirannya tidak fokus dan semangatnya kini seolah menguap entah kemana. Beberapa kali ayahnya menasihatinya, namun seolah nasihat itu hilang tak menapak ke dalam otaknya. Ayas berfikir, apakah semua ini karena cinta? Tapi bukankah cinta itu menyembuhkan? Bukan malah membuat sakit?             Ayas benar-benar tidak tahu, saat ini dirinya ingin bertemu seseorang yang membuatnya jatuh cinta, namun seseorang itu entah dimana. Kenapa cinta selalu terlambat datang, apakah kini Raya sudah menemukan belahan hatinya? Tapi bukankah dia hanya jatuh cinta pada dirinya saja? Bahkan sudah sepuluh tahun dia memendam rasa pada dirinya? Apakah Raya benar-benar akan melupakannya? Berbagai pikiran negatif hinggap di kepala Ayas tanpa henti, dan hal itu membuatnya semakin pusing bahkan stuteringnya menjadi semakin parah.             Ibunya yang khawatir dengan anak lelakinya itu mulai mencari tahu penyebab Ayas menjadi seperti itu dengan bertanya pada suaminya. Mereka berinisiatif untuk menikahkan saja Ayas dengan Raya daripada terus-terusan melihat Ayas begitu. Tapi, mereka kembali dihadapkan dengan ketidaktahuan identitas gadis yang dicintai anaknya itu. Nomor ponsel Raya maupun Nawang sudah tidak aktif, sedangkan mereka tidak memiliki alamat rumah Raya, ketiga adik Ayas juga membantu kakaknya menemukan kontak Raya maupun teman-teman SMAnya melalui media sosial, dan berhasil setelah beberapa hari kemudian, mereka menemukan akun f*******: Raya dan sahabat Raya ketika SMA, Anita dan Rahma. Ayna dan Attar mencoba untuk bertemu dengan kedua sahabat Raya, sedangkan Ainun menghubungi Raya lewat messanger di facebooknya.             Dari kedua sahabat Raya, hanya Rahma yang bersedia untuk bertemu, Anita tidak ingin berurusan lagi dengan kehidupan Raya pasca Raya menolak sepupunya, Andri. Rahma pun memberikan alamat rumah Raya dan nomor kontak Raya yang baru. Hal itu tentunya membuat senang ibu dan ayah Ayas, mereka bergegas pergi menemui orangtua Raya untuk melamar Raya, namun terjadi hal tak terduga lagi, Ayas tiba-tiba pingsan, orangtuanya terpaksa membawanya ke dokter. Acara melamarpun terpaksa ditunda, sampai Ayas benar-benar sembuh.                                                                                                 **             Setelah mendapatkan perawatan, Ayas mencoba untuk istrirahat, Fajar datang menengok Ayas dan mengatakan bahwa dirinya boleh mengambil cuti kerja. Sebenarnya Ayas merasa malu dengan kondisinya, namun untungnya anggota kerluarganya tidak membocorkan penyebab Ayas menjadi seperti itu pada Fajar. Ayas takut, jika rekan kerjanya itu mengetahui penyebab dirinya sakit, pasti dirinya akan menjadi buah bibir di tempat kerja nanti. Namun kekhawatirannya tidak terjadi.             Beberapa hari kemudian, kondisi Ayas sudah membaik, dirinya juga sudah mulai bekerja kembali. Dirinya dikejutkan dengan berita bahagia yaitu Diva dan Aji akan segera menikah, tentu saja Ayas ikut senang, dia sudah berburuk sangka pada Aji kalau Aji akan bertindak macam-macam pada Raya. Nyatanya, justru Aji secara gentle akan menikah, sesuatu yang belum bisa dilakukan Ayas padahal umur Aji jauh lebih muda diabanding dirinya, tapi pemikiran Aji mengenai pernikahan jauh lebih dewasa dari dirinya, Ayas benar-benar iri. Bagi Ayas, menikah adalah sesuatu yang sangat berat, dirinya terlalu banyak rasa takut pada sesuatu yang belum terjadi. Ayas mengucapkan selamat pada Diva dan Aji, Ayas tidak memberitahu pada Aji bahwa Diva pernah mengungkapkan rasa suka padanya, biarlah hal itu menjadi rahasia.             Saat istirahat siang, Ayas berfikir, apakah Raya sudah dilamar oleh seseorang? Ataukah dia sudah menikah? Sudah beberapa bulan ini Ayas tidak pernah bertemu dengan Raya, nomor whatsappnya sudah tidak aktif, Ayas hendak mencoba untuk menyapa Raya melalui f*******: dan i********:, namun dirinya ragu dan takut akan kenyataan yang nanti dia terima. Orangtuanya sudah memberikan lampu hijau untuk segera melamar Raya, adik-adiknya juga turut membantunya mencarikan alamat rumah Raya saat dirinya sakit, namun hati Ayas masih diliputi keraguan dan ketakutan yang besar. Padahal dirinya hanya tinggal datang saja ke rumah Raya, masalah nanti akan ditolak atau diterima itu urusan belakangan. Tapi, lagi-lagi Ayas kembali diliputi kegamangan, seolah ada batu super besar yang menimpa hatinya. Sebelum memutuskan, Ayas mencoba untuk melakukan sholat istikharah terlebih dahulu, agar hatinya benar-benar mantap untuk melangkah.                                                                                             **             Ayas bersiap-siap untuk pulang menggunakan motor bebeknya, sengaja dia berhenti di taman tempat dirinya dan Raya berbicara empat mata sekaigus tempat dimana dirinya mematahkan hati Raya. Jika Ayas ingat itu, dirinya benar-benar merasa amat bersalah, Ayas yakin, hati Raya pasti hancur ketika dirinya mencampakkannya ketika hujan. Dan sejak itu Raya tidak pernah menunjukkan dirinya lagi di hadapan Ayas. Ayas duduk di bangku besi sambil menatap langit senja, dirinya melihat wajah Raya dalam gumpalan awan, hatinya sedikit merasa terhibur dan seperti ada sesuatu yang menyelusup di perasaannya, sesuatu yang agak panas ketika Ayas memikirkan Raya, dirinya merasa takut jika Raya sudah memiliki pengganti yang lebih baik dari darinya, jika Ayas memikirkan itu, hatinya juga ikut tidak tenang bahkan terkadang mendadak perutnya mulas. Ayas tak paham, kenapa dirinya jadi begini?             Di rumahpun Ayas melihat-lihat akun media sosial Raya, dari mulai f*******:, line sampai i********:, namun tidak ada unggahan terbaru yang diposting Raya sejak setahun yang lalu. Kini hatinya semakin nelangsa akibat perasaan cinta yang tak terkatakan. Jatuh cinta benar-benar membuatnya panik sekaligus patah. Ayas hanya bisa mengadukan perasaannya pada Yang Maha Kuasa, dirinya benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.             “A Ayas kenapa kok melamun?” tanya Ayna seraya memberikan teh manis padanya, Ayas gelagapan menjawabnya.             “Eng, enggak kok Na, Aa hanya sedang berfikir saja,” jawab Ayas gugup.             “Mikirin Teh Raya ya? Mending Aa segera lamar, takut nanti Teh Raya keburu diambil orang lho, nanti Aa menyesal lagi,” celetuk Ayna, perkataannya membuat perasaan Ayas kembali panas, dan membuat perut Ayas mulas. Ayas segera berlari ke kamar mandi tanpa menghiraukan perkataan Ayna yang tengah tertawa terpingkal-pingkal.             “Ayna, gak mau jatuh cinta ah, takut kayak A Ayas!” teriaknya pada Ayas sambil tertawa.                                                                                                 **             Ayas melihat jumlah saldo di buku tabungannya yang berisi tiga juta rupiah, dirinya menepuk jidatnya yang lebar berkali-kali. Ayas berencana untuk menikahi Raya namun dirinya hanya memiliki tabungan sebesar tiga juta rupiah, uang segitu mana cukup untuk biaya pernikahan, belum lagi biaya untuk mahar, seserahan, catering dan biaya-biaya lainnya. Kenapa acara pernikahan di zaman sekarang malah dijadikan ladang bisnis? Padahalkan menikah adalah ibadah harusnya dipermudah. Tapi Ayas yakin Raya tidak akan neko-neko tentang acara pernikahan, dia merupakan gadis sederhana yang mungkin jika diajak menikah di KUA saja dia pasti mau.             Ayas berfikir, apakah dia harus nekad seperti ayahnya? Tapi, Ayas tidak tega jika harus mengajak Raya hidup susah, mungkin bagi Ayas, dirinya sama sekali tidak masalah hidup lebih susah lagi, toh Ayas sudah terbiasa makan sekali sehari, bahkan kalau tidak ada makanan, Ayas memilih untuk puasa. Tapi, Ayas tidak ingin Raya nanti mengalami hal serupa seperti dirinya jika nanti menikah, apalagi ditambah jika nanti Raya hamil. Ayas benar-benar pusing dibuatnya, dirinya terlalu jauh memikirkan sampai Raya hamil segala padahal memikirkan untuk biaya pernikahan saja sudah sulit.             Karena terlalu pusing, Ayas mencoba menghirup udara segar dengan berjalan-jalan menggunakan motor bebeknya, Dirinya mencoba berfikir sejernih mungkin untuk masa depannya, dirinya ingin hidupnya terang, jelas.                                                                                             ***      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD