Kereta yang ditumpangi Raya melaju dengan kecepatan tinggi, pikiran Raya melanglangbuana entah kemana. Dirinya juga tidak tahu apakah keputusannya untuk pergi ke rumah neneknya yang ada di desa adalah keputusan tepat atau tidak. Raya hanya ingin melarikan diri untuk sementara dari kehidupannya yang rumit juga tentunya untuk melupakan sosok Ayas. Tiba di stasiun, Raya disambut oleh paman dan sepupunya Nur yang baru 16 tahun. Di mobil, Raya sengaja membuka kaca mobil dan menghirup udara segar desa yang banyak sekali ditumbuhi pepohonan tinggi.
Rumah sederhana semi permanen milik nenek Raya terlihat dari kejauhan, disana terlihat neneknya sudah berdiri menyambut kedatangan cucu kesayangannya itu. Raya sudah sangat rindu, begitu tiba di depan rumah, Raya dan neneknya saling berpelukan melepas kerinduan, Nur dan Mang Rudi membawa tas Raya dan oleh-oleh yang dibawa Raya dari kota, disana juga ada anak-anaknya Gendis, sepupu Raya yang ikut membantu membawa barang-barang Raya, ada Fian, Rahma dan si kecil Bima yang baru berusia empat tahun. Terakhir kali Raya datang ke desa, setiap kali lebaran, kedatangan Raya sangat ditunggu-tunggu oleh keponakan-keponakan kecilnya itu sehingga mereka sangat antusias bertemu dengan Raya.
Nenek Raya tinggal di rumah sendirian, sebenarnya orangtua Raya sudah mengajaknya untuk tinggal di kota, namun neneknya menolak, dengan alasan agar lebih mudah nyekar ke makam kakek. Terkadang Nur juga sering menemani nenek di rumah, agar nenek tidak kesepian dan ada teman ngobrol. Raya menyimpan barang-barangnya di kamar sebelah dan merebahkan tubuhnya di kasur kapuk tanpa dipan seraya menatap langit-langit kamar, perjalanan yang cukup jauh membuat Raya sedikit letih, yang akhirnya membuatnya tertidur.
**
Waktu Raya kelas dua SD, Raya pindah sekolah di desa, saat itu ayah kena PHK akibat krisis moneter di tahun 98, untuk sementara Raya dititipkan pada nenek, sedangkan ayah dan ibu tinggal di kota dan sesekali menengok Raya. Dulu suasana desa jauh dari peradaban modern belum ada listrik pula, ketika Raya berangkat mengaji ke surau pun Raya kerap dibekali obor. Disamping itu Raya bersama teman-teman seusianya kala itu sering main di sawah sambil ngangon* kerbau dan bermain lumpur yang berakhir mandi di sungai, anak-anak lelaki sering kedapatan mengintip di sela-sela batu besar yang membuat Raya dan teman-teman perempuan lainnya serta merta melempari para anak-anak lelaki itu dengan kerikil sampai mereka kabur. Raya terkekeh sendirian mengingat kejadian memalukan itu. Raya jadi kangen dengan teman-teman masa kecilnya itu, Wati, Eneng, Iin dan Ica, Raya berfikir untuk menemui mereka dan bersilaturahmi.
Raya melihat teman masa kecilnya yang bernama Wati sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya. Raya mengucapkan salam dan dibalas Wati meskipun Wati seolah tak mengenalnya. Baru ketika Raya mengucapkan namanya Wati tersenyum lebar dan segera memeluk teman masa kecilnya itu. Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing yang tentunya telah berubah. Wati kerap kali menanyakan kapan menikah, menikah itu enak dan sebagainya. Hal itu membuat Raya malah tersenyum karena yang bertanya adalah Wati, temannya yang terkenal ceplas ceplos. Wati sudah menikah sejak dirinya berusia 16 tahun dan kini dia sudah memiliki empat orang anak yang sudah beranjak ABG. Di desanya menikah di usia belia adalah hal yang biasa, bahkan jika di usia 20 tahun belum menikah sudah disebut perawan tua. Apalagi dirinya yang sebentar lagi akan menginjak usia 30 tahun, mungkin jika tinggal di desa dirinya sudah dicap sebagai perawan tua senior, pasti akan banyak orang yang meneror dirinya dan ikut campur dengan hidupnya. Raya bersyukur begitu lulus SD dirinya kembali lagi tinggal di kota, sehingga Raya bisa menikmati masa-masa remajanya dengan bersekolah tanpa harus memikirkan stigma negatif dari orang-orang tentang pernikahan.
Wati kemudian bercerita tentang ketiga temannya yang lain, Ica, Eneng dan Iin. Mereka semua sudah menikah bahkan Eneng sudah tiga kali menikah, sekarang dirinya bekerja menjadi TKW di Hongkong karena suaminya tidak bekerja. Lain cerita dengan Ica yang kini jadi istri ketiga seorang pengusaha batu bara asal Kalimantan. Ica termasuk gadis yang terlambat menikah versi desanya meskipun usia Ica kala itu masih 25 tahun. Orangtuanya menjodohkan Ica dengan seorang pengusaha batu bara asal Kalimantan untuk dijadikan istri ketiga. Awalnya Ica menolak namun orangtuanya kerap kali mendesaknya agar bersedia mengingat adik perempuannya sudah ada yang melamar, keluarganya akan menjadi pergunjingan seantero desa karena dilangkahi adiknya menikah. Dan hal itu termasuk aib bagi keluarganya. Dengan terpaksa Ica bersedia dijadikan istri ketiga. Sekarang Ica tinggal di Kalimantan, dan sudah lama tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Wati.
Sedangkan Iin, sekarang Iin tinggal di Bandung dengan suaminya, anaknya sudah dua, kehidupan Iin tak ada bedanya dengan Wati, mereka juga sering berkomunikasi lewat pesan chat. Raya menghela nafas panjang, kehidupan teman-temannya berbanding terbalik dengan dirinya, namun setiap orang memiliki cerita hidupnya masing-masing. Raya dan Wati kemudian bernostalgia tentang kehidupan masa kecil mereka yang indah.
Tak terasa sudah satu bulan Raya tinggal di rumah neneknya di desa, suasana desa yang asri dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan membuat Raya merasa betah dan nyaman, jika saja ibunya tidak sering meneleponnya untuk cepat-cepat pulang mungkin Raya akan lebih lama untuk tetap tinggal di desa. Kehidupan di desa membuat Raya sejenak lupa dengan berbagai masalah yang dihadapinya, termasuk masalah jodoh yang kerap menghantuinya setiap waktu.
Banyak sekali kegiatan yang dilakukan Raya selama di desa, dari dirinya bangun tidur di pagi-pagi buta untuk memasak nasi dengan menggunakan aseupan sambil meniup songsong agar apinya tetap menyala, karena nenek Raya tidak menggunakan kompor gas melainkan tungku api untuk keperluan memasak dan sebagainya. Siang harinya Raya membantu nenek dan bibinya di sawah, terkadang menanam tanaman di halaman rumah. Hal itu membuat pikiran Raya menjadi lebih segar, Rutinitas menulis pun tetap dilakukan, bahkan Raya banyak mendapatkan ide-ide tak biasa yang didapatkannya selama di desa. Kegiatan Raya di desa mirip seperti yang dilakukan oleh Hye Won di film Korea Little Forest. Di desa, Raya semakin banyak tersenyum, pikirannya juga tidak seruwet dulu ketika masih dirundung permasalahan hati, kondisi Raya semakin segar dan membaik sekarang.
Sehari sebelum Raya pulang, nenek mewanti-wanti pada dirinya untuk sering-sering datang ke desa kapan saja, Nur juga yang malam itu kebetulan menginap di rumah nenek merasa sedih karena Raya akan pulang, sambil becanda Raya mengultimatum sepupunya yang beranjak dewasa itu untuk jangan cepat-cepat menikah, karena sudah menjadi hal yang lumrah di desa, jika seorang perempuan menikah muda. Nur hanya tersenyum dan mengatakan kalau dirinya tidak akan menikah sebelum Raya menikah, apalagi Nur berencana untuk melanjutkan kuliah di Bandung selepas lulus SMA nanti. Raya tersenyum dan meminta doa pada nenek dan Nur agar dirinya segera dipertemukan dengan jodoh terbaiknya. Malam itu, Nur dan Raya bercerita tentang masalah perempuan sampai tengah malam. Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Raya diantar Mang Rudi sampai ke stasiun.
**
Raya tengah mengetik di laptopnya dengan fokus di salah satu café baru di daerah tempat tinggalnya, Raya sengaja tidak menulis di café Sakko karena untuk menghindari Ayas, dirinya sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Ayas dan mencoba untuk move on dari segala hal yang terjadi padanya. Raya juga Sekarang aktif di kajian-kajian ilmu bahkan mengikuti kegiatan holaqoh1 di salah satu rumah dakwah di kotanya. Hidupnya kini sudah semakin membaik, tidak mudah galau dan mencoba belajar ikhlas. Raya sadar segala sesuatu yang kita inginkan tidak harus terwujud, termasuk mengikhlaskan Ayas yang Raya harap menjadi pendamping hidupnya.
Sore hari, ketika Raya dalam perjalanan pulang ke rumah, dirinya mencoba berjalan-jalan ke area taman, hanya sekedar melepas lelah setelah berkutat seharian dengan pekerjaannya menulis novel. Dirinya duduk sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang, bagi Raya duduk sambil menatap orang-orang adalah me timenya, Ide menulis juga terkadang sering hadir maka, Raya selalu menyiapkan buku dan bolpoint di sampingnya.
Lamunan Raya buyar ketika dirinya tanpa sengaja melihat seorang perempuan mengenalinya.
“Raya ya?”
“Iya, siapa ya?” tanya Raya ragu, perempuan yang menyapanya itu tanpa disuruh duduk di bangku dekat Raya.
“Andien, teman kamu waktu TK, teman main perosotan sama lompat tali, ah kamu.”
“Andien? Yang waktu itu nangis karena permen gulalinya aku ambil?” Kata Raya menepuk jidatnya.
“Ah, kamu kalo yang kayak gitu mah inget, oh iya, lagi ngapain disini? Tinggal dimana sekarang? Udah punya anak berapa?” tanya Andien bertubi-tubi, Raya hanya meringis.
“Aku lagi duduk aja sih, menatap senja, rumah masih di daerah sini, boro-boro anak nikah aja belum.” Jawab Raya beruntun.
“Kirain udah nikah, aku sekarang udah punya anak tiga, kirain kamu gak tinggal di kota ini, tahu begitu udah dari dulu aku main ke rumah. Btw kamu masih inget sama Adrian kan? Dia sekarang udah jadi orang hebat, dan tiap tahun dia sering mengadakan reuni TK Angkatan kita, yang datang sedikit sih, soalnya susah nyarinya, wajar sih, pasti pada lupa sama teman-teman zaman TK.” Sergah Andien tanpa jeda, Raya hanya tersenyum tipis mendengarnya.
“Ehm, jujur aku lupa sama teman-teman TK, soalnya udah lama banget gak ketemu, tapi kok kamu ngenalin aku sih? Emang wajah aku gak berubah gitu dari dulu?”
“Iya sih, wajar aja kalau gak inget, wajah kamu mah dari dulu sama aja, gak ada perubahan, masih kayak anak-anak hahaha.” Raya tersipu dibilang wajahnya seperti anak-anak, berarti dia awet muda walau sudah mau kepala tiga.
“Minta nomor hape, w******p, telegram, akun f*******:, i********:, line atau apalah itu, soalnya tahun ini, abis lebaran, kita mau ngadain reunian lagi, lumayan jadi tambah satu orang teman TK, kamu juga nyari nomor teman TK angkatan kita ya, jadi biar banyakan.” Sambung Andien lagi, Raya hanya mengangguk setelah itu memberikan nomor whatsappnya dan akun f*******: miliknya. Tak berselang lama, Andien undur diri karena buru-buru, Raya sama sekali tidak percaya dengan kejadian yang dialaminya itu. Memang, takdir tidak ada yang bisa memprediksi kecuali Tuhan, mungkin Tuhan punya rencana dibalik pertemuannya dengan teman lama, bisa jadi lewat cara itulah Tuhan menunjukkan takdir hidupnya, tidak ada yang tahukan? Raya hanya menghela nafas panjang, dan beranjak untuk pulang, sayup-sayup lantunan adzan magrib berkumandang, Raya menambah kecepatan berjalannya.
***
1 pengajian yang dilakukan secara duduk melingkar
*Menggembala