Bimbang

1507 Words
             Matahari menampakkan sinarnya dengan sempurna, Ayas tengah memanaskan motor bebeknya di halaman rumah, dirinya tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sembari memanaskan motornya, Ayas mengingat percakapan dengan ayahnya tadi malam tentang wanita dan pernikahan. Dirinya tiba-tiba tersenyum, dan hal itu terlihat oleh adiknya yang pertama, Ayna yang tengah menjemur pakaian. Buru-buru Ayas mematikan motor bebeknya dan bersegera untuk pergi, dirinya tidak mau dianggap gila oleh Adiknya gara-gara tersenyum sendirian.             Suasana kedai kopi Sakko cenderung ramai, karena di kedai tersebut tengah ada acara live music yang mendatangkan tiga penyanyi terkenal G.A.C. Dari pagi hari para pelayan dan barista begitu sibuk tiada henti melayani konsumen. Ayas dan beberapa temannya yang masuk shift pagi terpaksa harus lembur karena konsumen yang semakin memadati kedai kopi tersebut. Baru pukul sebelas malam Ayas dan pekerja lainnya bisa pulang karena acara sudah selesai. Ketika dia menyalakan motornya, tiba-tiba Diva meminta diantarkan ke rumahnya, karena dia tidak membawa kendaraan. Pada awalnya Ayas sungkan namun karena kasihan, akhirnya Ayas setuju untuk mengantar Diva pulang.             Dalam perjalanan, Diva tak hentinya bercerita baik tentang acara live musik maupun tentang dirinya sendiri. Ayas tidak terlalu mendengarkan karena sudah merasa lelah. Ada sesuatu yang membuat Ayas merasa tidak nyaman, yaitu pegangan Diva di pinggang Ayas yang erat, hal itu membuat Ayas merasa risih dan dirinya berusaha untuk melepaskan tangan Diva, namun Diva seolah tidak mau melepaskan pegangannya, dan Ayas pasrah.             Setibanya di rumah Diva, Ayas menurunkan Diva tepat di pintu pagar rumahnya yang sederhana.             “Makasih ya kang Ayas, udah nganterin Diva pulang,” kata gadis berusia duapuluh tahun tersebut. Ayas hanya mengangguk dan mencoba menyalakan motornya lagi.             “Kang Ayas, gak mampir dulu ke rumah Diva? Ngopi-ngopi dulu gitu,” tawar Diva.setengah memaksa.             “Enggak Div, makasih, saya langsung pulang aja, udah malam.” Tolak Ayas halus. Ayas melihat raut wajah Diva yang menandakan kekecewaan.             “Ya udah, saya pulang dulu, kamu cepat masuk ke rumah!” Suruh Ayas, Diva hanya menganggukkan kepalanya sambil cemberut, dirinya pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Setelah melihat Diva sudah masuk rumah, Ayas pun buru-buru tancap gas untuk pulang. Jalanan rumah Diva terlihat sepi membuat bulu kuduknya meremang.                                                                                         **             Sudah dua minggu ini Ayas tidak pernah melihat sesosok perempuan yang sering membuatnya merasa gelisah. Setelah kejadian tempo hari ketika dirinya dan Raya berbicara di taman, Raya tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di depannya. Biasanya hampir setiap hari Raya mengunjungi kedai kopi Sakko, memesan kopi kesukaannya, caramel macchiato sambil jarinya yang lentik itu menari-nari di atas laptop. Sekarang Raya seolah hilang dari pandangan mata Ayas, dirinya merasa hampa.             “Kenapa Kang? Kok lesu gitu?” Tanya Aji begitu melihat raut muka Ayas yang terlihat bete.             “Gak ada apa-apa Ji,” jawab Ayas singkat.             “Oh ya, si teteh yang pernah nanyain akang, kok sekarang jarang kelihatan ya?” Sergah Ayas sambil menyeduh kopi.             “Siapa?” Ayas pura-pura bertanya, padahal dirinya tahu yang dimaksud Aji adalah Raya.             “Itu, si teteh yang sering pesan caramel machiatto, yang sering bawa-bawa laptop,”             “Oh perempuan yang itu, emang kenapa?”             “Kayaknya si teteh itu kenal deh sama akang, kayak ada hubungan gitu, siapa sih dia kang? Pacar kang Ayas ya?”             “Bukan, saya gak pacar-pacaran, dia teman SMA namanya Raya, emang kenapa?” Ayas merasa hatinya berdebar karena dituduh pacar Raya oleh Aji.             “Enggak kenapa-napa sih, nanya aja, jadi namanya Raya ya, hmm,” Gumam Aji sambil menyentuh dagunya dan tersenyum.             “Kenapa senyam-senyum?” Tanya Ayas curiga.             “Enggak, si teh Raya itu punya wajah yang manis dan unik, dia masih jomlo gak ya?” Ayas merasa ada yang tidak beres, apa Aji menyukai Raya? Seketika hati Ayas terasa panas. Aji tidak pantas untuk Raya, karena dia melihat kalau Aji itu terkenal playboy. Ayas merasa was-was, padahal dirinya bukanlah siapa-siapa Raya, namun dirinya merasa khawatir karena melihat karakter Raya yang sangat baik dan terlihat polos, takut Raya terbujuk rayuan gombal si playboy kabel. Tapi, ah, kenapa dirinya merasa sentimentil sekali jika menyangkut Raya.             “Kang, mau kemana?” Tanya Aji yang melihat Ayas pergi begitu saja ke dapur, Ayas tidak menjawabnya karena merasa kesal, bahkan Ayas menanyakan kenapa dirinya merasa kesal.                                                                                             **             Pikiran Ayas benar-benar tidak karuan akhir-akhir ini, dirinya merasa tidak bisa bekerja dengan baik karena teringat Raya. Hal itu tentunya membuat semangat kerjanya menurun. Setiap pulang kerja, dirinya kerap duduk melamun di bangku taman, tempat dirinya dan Raya berbicara serius untuk yang pertama kalinya tempo hari. Ayas merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya pada gadis itu. Padahal Raya sama sekali tidak bersalah sedikitpun, dia hanya ingin mendengar kepastian dari mulut Ayas, namun Ayas menggugurkan keinginan sederhana Raya dengan sebuah ketidaktegasan. Ayas merasa dirinya menyesal dengan apa yang telah dilakukannya pada Raya, dan Ayas baru menyadari bahwa dirinya kini sudah jatuh hati pada perempuan itu. Namun apakah Ayas yang sudah menghancurkan hati Raya masih bisa diterima  oleh gadis itu? Ayas merasakan penyesalan yang amat dalam.                                                                                                 **             Tepat satu bulan, Ayas tidak pernah bertemu lagi dengan Raya, dirinya merasa hidupnya kini terasa hampa tanpa Raya. Jika Ayas bertemu lagi dengan Raya, dirinya akan memberikan sebuah keputusan yang akan membuat Raya bahagia, Ayas berjanji tidak akan membuat Raya kecewa lagi. Ayas ingin sekali pergi menemui Raya untuk mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya, namun dirinya tidak memiliki alamat rumah Raya, nomor ponsel Raya yang sempat Ayas blokir pun sudah tidak aktif lagi, whatsappnya pun sama. Ayas teringat kalau dirinya masih memiliki nomor Nawang, dirinya segera menelepon Nawang hendak mananyakan alamat rumah Raya, namun nomor ponsel Nawangpun tidak aktif, di chatpun hanya centang satu. Ayas merasa lunglai.             “Kang Ayas, dicariin Diva tuh!” Seru Reno, yang menjadi kasir kedai kopi Sakko. Ayas yang tengah mencuci gelas tak bergeming sama sekali.             “Ngapain dia cariin saya? Bilangin lagi sibuk gitu.” Tolak Ayas. Tanpa menjawab Reno segera ke depan menemui Diva. Tak berselang lama kemudian, Diva datang ke dapur dan segera menemui Ayas sambil menahan kesal, khas bocah yang kemauannya tak dituruti.             “Kang, kenapa sih, akang ngehindarin Diva mulu? Salah Diva apa kang?” Tanya Diva tanpa tedeng aling-aling, Ayas kaget dengan kekesalan Diva padanya, dirinya mencoba untuk tenang apalagi di dapur ada Suri dan Laras yang tengah membuat kue.             “Kamu kenapa Div?” Tanya Ayas tanpa dosa. Wajah putih Diva berubah agak merah karena menahan kesal pada Ayas.             “Malah balik nanya lagi, Diva tanya akang kenapa ngehindarin Diva terus?” Kata Diva lagi kali ini sambil berkacak pinggang.             “Saya gak merasa ngehindarin siapa-siapa kok, kamunya aja yang terlalu perasa Div,” jawab Ayas sambil ngeloyor pergi dari dapur, dirinya merasa risih dengan perlakuan Diva yang sok intimate dengan dirinya.             Ayas sebenarnya tahu kalau Diva menyukai dirinya, hal itu sering sekali diperlihatkan Diva lewat perhatian-perhatian kecil dan manjanya pada Ayas. Namun Ayas merasa risih dengan sikap Diva yang seperti itu, atau lebih tepatnya Ayas tidak suka. Apalagi setelah Ayas mengantarkan Diva pulang ke rumah, sikap Diva semakin menjadi-jadi, bahkan semua karyawan kedai kopi Sakko pun beranggapan bahwa Ayas dan Diva memiliki hubungan khusus. Maka dari itu, untuk menghindari rumor, Ayas berusaha untuk menghindari Diva sebisa mungkin.             Pulang kerja, Ayas melihat Diva di atas motor bebeknya sambil berkaca di spion motornya.             “Kenapa kamu duduk disitu?” Tanya Ayas agak kesal. Diva dengan wajah tak berdosanya turun dari motor dan mendekati Ayas.             “Kang, Diva mau ngomong sesuatu.” Kata Diva pelan.             “Diva suka sama kang Ayas!” Kata Diva lagi sambil menampilkan pipi yang kemerah-merahan menahan malu. Ayas kaget dengan pengakuan Diva yang tiba-tiba. Ayas diam tak menjawab, dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Diva, bahkan Ayas hanya menganggap Diva sebagai adiknya tidak lebih.             “Mohon maaf Div, saya tidak bisa menerima perasaan Diva, kamu sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Saya yakin kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik dari saya Div.” Sergah Ayas hati-hati. Diva terlihat menunduk entah sedih ataukah marah. Ayas benar-benar merasa canggung sekarang.             “Diva kurang apa kang? Apa Diva kurang cantik?” Tanya Diva dengan mata berkaca-kaca, Ayas merasa dirinya serba salah.             “Tidak, Diva sangat cantik, namun saya tidak bisa menerima Diva, mohon maaf.”             “Dasar berengsek!” Teriak Diva sambil dirinya berlari masuk ke kedai kopi. Ayas hanya menghela nafas panjang, dirinya benar-benar lelah sekali.                                                                                             **             Keesokan harinya, Ayas bekerja seperti biasa. Ayas juga melihat Diva dan Aji tengah mengobrol di meja barista sambil sesekali tertawa bersama-sama. Ayas merasa senang bahwa Diva sudah kembali ceria meskipun ada kemungkinan bahwa dirinya dan Diva tidak akan sedekat dulu lagi. Tapi itulah yang diharapkan Ayas, agar tidak ada kesalahpahaman lagi antara dirinya dengan Diva. Ayas juga akan berhati-hati dalam bergaul apalagi dengan perempuan, agar tidak ada yang bisa memicu kesalahpahaman lagi mengingat bahwa perempuan itu makhluk yang sangat perasa yang harus dijaga perasaannya.             Ayas kembali bekerja dengan tenang, dirinya kini hanya akan fokus untuk bekerja dan mengumpulkan uang, dirinya sekarang juga memiliki tujuan yaitu menikah. Dirinya juga berharap bertemu lagi dengan Raya, dan akan berjuang untuk mendapatkan cintanya lagi. Ayas menuju ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan seragam kerja lalu melangkah mengambil sapu dan lap pel.                                                                                             ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD