CHAPTER 03. AWAL PERKENALAN
FLASBACK….PERTAMA MASUK !!
“Fernando Brahmantyo…,” Cicitku memperkenalkan kepada setiap orang yang baru ku kenal. Kali ini kumasuk ke dalam ruangan besr di departemen Pelumas dan Tools.
“Risa,” kata seorang customer service di departemen Pelumas & Tools yang kenalan denganku.
“Hai, apa kabar, Risa? Senang kenalan denganmu” Cicitku
“Sama-sama”
“Manager baru ya? Kamu rumah dimana, Fernando?” tanya Risa.
“Aku di Jakarta Timur sana, Jauh, kamu dimana Risa?” tanyaku.
“Saya deket Mangga dua sini ajah,” katanya.
“Wah, dekat donk?” tanyaku.
“Iya, kamu naik apa ke kantor?” tanya Risa.
“Aku naik kereta terus dari stasiun naik mikrolet, Risa,” Cicitku.
“Oh ya, sama aku juga naik mikrolet dari rumah,” katanya.
“Aku keliling dulu ya, banyak yang belum aku kenal. Terima kasih Risa, senang kenalan dengan kamu, semoga kita bisa dekat ya Risa,” Cicitku menggoda dan memberikan sinyal lirikan mata kepada nya.
“Ya, semoga kita bisa kenal dekat hahahaha,” katanya.
“Kok, ketawa sih Risa? Eh beneran loh aku pengen dekat dengan kamu? Siapa yang gak mau kenal dekat dengan cewek cantik, dan anggun seperti kamu,” Cicitku menggodanya.
“Eh iya, kamu belum menikah?” tanya Risa.
“Hayoo…kepo nih? Belum Risa, Aku belum menikah, tapi tahu depan rencana mau menikah,” Cicitku Jujur.
“Hmm jangan selingkuh ya! hehehe” katanya.
“Nggak selingkuh donk, kan cuma mau dekat saja sama Risa,” Cicitku.
“Aku pamit dulu ya, Risa,” Cicitku.
“Ya, silahkan Fernando,” katanya.
Di bagian Pelumas & Tools ada 2 orang customer service yang juga bertindak sebagai sales toko-toko. Jadi mereka melayani juga pembelian langsung dari toko atau pun menginput penjualan yang berasal dari salesman Pelumas & Tools disana. Mereka berkoordinasi dengan para salesman Pelumas & Tools yang ada. Disana mempunyai 4 salesman Pelumas & Tools yang sering berkomunikasi.
Risa adalah sosok wanita berkulit Putih, berambut sebahu, pakai kacamata dan kalau ketawa matanya sipit jadi ya cocoklah dengan aku…hahahahaaha.
***
“Diana,“ katanya sambil menjabat tanganku.
“Fernando Brahmantyo,” Cicitku. Diana adalah seorang customer service yang akan sering berhubungan denganku. Yang juga mengurus masuk keluar.nya barang gudang terutama yang berasal dari container yang masuk.
Diana sendiri seorang gadis mungil yang manis, dia adalah adik dari karyawan kepercayaan Bos besar di kantorku yang ada di bagian Pembelian yaitu Mas Adi. Kantorku ini ada 3 perusahaan yang bergerak di bidang yang berbeda. PT. ADI yang menjual barang dagang bidang Pelumas & Tools dan pelumas. PT. SDI yang bergerak menjual barang dagang di bidang Elektronik dan Elektirk. Dan satu lagi PT. HAW yang bergerak dalam menjual barang ke luar negeri.
Setelah itu aku berkeliling kembali berkenalan dengan karyawan ke semua bagian yang ada di semua lokasi di gedung kantor itu sampai ke gudang. Karena menyangkut dengan cek quality, aku harus sering main ke gudang, dan harus menjalin kerjasama dengan kepala gudang kalau ada barang yang masuk.
Ketiga perusahaan itu dipegang oleh Tiga beradik laki-laki yang semuanya sangat tampan dan kaya raya. Mereka masing-masing menjadi Prediden Director di ketiga perusahaan itu. Bapak dari ketiga anak itu sudah sangat tua tetapi masih saja setiap bulan dia datang untuk mengontrol kerja dari ketiga anak-laki laki nya itu. Memang agak rumit, tetapi Fernando berada dibawah naungan PT. SDI yang mengurusi barang dagangan Elektrik dan elektronik. Jadi tugas utamanya adalah mengontrol kualitas barang yang datang dengan spesifikasi yang dia terima dari bagian pembelian.
***
“Hai Risa…makan siang yuk,” Ajak Fernando ke Risa yang sedang sibuk mengatur file.
“Wah, kayak nya kamu duluan saja, saya masih sibuk ini input beberapa DO yang masih belum saya input,” katanya.
“Ya, kalau tinggal sebentar lagi saya tunggu saja Risa,” Cicitku.
“Gak usah Fernando, kamu duluan ajah sama Diana tuh,” katanya.
“Ya, Sudah, yuk Diana, aku traktir nanti,” Cicitku menggoda Diana yang tersenyum dan malu.
“Gak usah mas,” Ucap Diana malu-malu.
“Apanya yang gak usah,” Cicitku.
“Ya, traktir nya. Kan kamu baru masuk belum ada gaji, jadi nanti saja traktir nya kalau kamu sudah gajian,” katanya.
“Oh itu, gak papa, saya ada uang nya kok, kalau Cuma untuk traktir makan kamu ya masih bisa lah Diana,” Cicitku.
“Tuh Diana, kalau gitu nanti sekalian bungkusin buat saya ya?” tanya Risa ke aku.
“Wah gak bisa kalau itu, harus sama orangnya Risa,” Cicitku.
“Ya,h kok gitu…bisa ya Mas Fernando?” rayu Risa. “ Nanti biar Diana saja yang pesankan ke pelayannya Cuma Mas Fernando yang bayar hihihi…” kata Risa menggoda.
“Gak mau ah, Kan, tadi aku sudah bilang mau dekat sama kamu,” kata Fernando malu.
“Ya, Sudah, deh, hayoo nanti aku kerjakan saja abis makan siang,” katanya.
“Asiik, gitu dong Risa yang cantik,” Cicitku.
Risa setelah ku kenal adalah seorang anak gadis berusia 21 tahun dan dia sudah yatim piatu, anak bungsu dari 3 bersaudara. Dia hidup bersama kedua kakaknya di suatu kawasan padat penduduk di Jakarta barat.
“Hhmm mau makan dimana nih? Saya kan baru hari pertama kerja disini. Jadi belum tau tempat makan disini,” Cicitku.
“Disana ajah Sudah, murah enak kok, kamu emang nya suka makan apa Fernando?” tanya nya.
“Apa ajah, atau disini ada makanan kayak warung nasi gitu?” tanyaku.
“Ada tapi harus nyebrang jalan di sana,” katanya sambil menunjuk sebuah kawasan ruko di seberang jalan.
“Gak papa Risa, kita nyeberang ajah, yuk,” Cicitku.
Akhirnya kita bertiga menyeberang jalan. Diana dan Risa saling berpegangan tangan layaknya sahabat dekat. Aku tidak tau ternyata kakak kandung Diana adalah Mas Adi yang bekerja dibagian Pembelian dan dia juga suka sama Risa juga Tetapi Mas Adi itu hanya genit saja karena dia sebenernya sudah mempunyai 1 orang anak dan istri.
Sesampainya di warung nasi itu kita langsung memesan makanan yang kita ingin makan dan kita duduk bertiga dalam satu meja. Kebetulan belum banyak yang makan disana. Kita terlibat obrolan seru.
“Diana, Mas Adi kemana kok hari ini gak keliatan?” Tanya Risa ke Diana.
“Aku tadi berangkat sendiri dari rumah, dia lagi sakit gak bisa bangun tadi pagi, gak tau kenapa itu,” katanya santai.
“Kok, kamu gak kuatir sih sama mas Adi dia lagi sakit gitu?” Tanya Risa.
“Ah gak papa, Kan ada istrinya yang urusin, bukan kewajibanku dong,” kaya Diana.
“Oh, Mas Adi itu kakak kandung kamu, Diana?” tanyaku.
“Iya, Mas Fernando, kakak kandung diatas ku,” katanya.
“Berarti, ada lagi yang adik kakak disini?” tanyaku ke Diana.
“Ada orang Gudang, lupa namanya,” katanya lagi.
“Boleh saja adik kakak tapi gak boleh satu perusahaan mas, karena manajemen disini kan keluarga juga,” jelas Risa.
“Kamu, Sudah punya pacar, Risa?” tanyaku.
“Eh baru kenal, Sudah nanya-nanya pacar lagi,” katanya.
“Hehehehe, gak papa, kan? Emang gak boleh ya?” tanyaku lagi.
“Ya, gak papa juga sih. Belum punya mas, aku masih single, mana ada yang mau sama orang miskin kaya aku gini mas,” kata Risa.
“Ah yang bener, gak punya pacar orang secantik kamu?” tanyaku.
“Aku ajah mau kalau jadi pacarmu, tapi sayang aku sudah mau menikah tahun depan,” Cicitku.
“Oh ya, kapan menikah nya mas?” Tanya Risa dan Diana serempak.
“Tahun ini atau tahun depan. Tapi gak mungkin tahun ini, Kan saya ajah baru saja kerja disini. Masih harus ngumpulin uang dulu buat menikah,” jelasku.
“Hmm jadi kita terlambat ya kenalannya, kalau ajah kita berkenalan setahun yang lalu, pasti aku milih kamu. Haahahaha,” Cicitku sambil meledek Risa.
“Emang, kamu sudah pacaran berapa lama?” Tanya Risa.
“Baru saja 5 bulan lalu, emang kenapa Risa?” tanyaku.
“Gak papa Cuma nanya saja, kamu sudah tunangan?” tanyanya.
“Iya,…ini cincin tunangan nya, Oh iya bisa saya minta nomer HP kamu Risa?” tanyaku sambil memperlihatkan cincinku.
“Hm ntar ya, aku kasih tau, pakai telpon kantor ajah nanti nomer telpon mejaku 124,” katanya.
“Oke nanti aku telpon kamu dari meja ku,” Cicitku.
“Eh ada perjanjian apa, nih? Hayoo, Mas Fernando jangan selingkuh ya?!!” Ucap Diana.
“Siapa yang selingkuh juga, hahaahaha, Cuma minta nomer Hp Risa saja. Nomer HP kamu juga Diana, biar saya bisa hubungi kamu kalau ada perlu,” Cicitku.
“Ya, mana nomermu, aku miscall ajah,” katanya.
Setelah dikasih ke Diana, dia miscall ke Hpku.
“Risa gak bawa HP?” tanyaku.
“Bawa, oh iya saya miscall ajah ya…,” kata dia.
“Ya” Cicitku.
Tak berapa lama setelah kami bertiga selesai makan, kubayar semua tagihan makannya, dan kembali ke kantor untuk bekerja.
Sore hari pulang kerja, aku pulang agak telat setelah sholat Maghrib karena ternyata kalau sore kereta agak padat. Karena jabatanku seorang Manager disana maka aku dikasih motor inventaris dari kantor baruku ini dan diberitahukan oleh HRD setelah Jam pulang, untung aku belum pulang. Sebuah motor bebek, walaupun bekas, Alhamdulillah saya bisa menggunakan untuk pulang pergi jadi gak usah bejubel di kereta.
Waktu mau pulang aku liat Risa masih ada di meja nya, lalu kutegor saja,
“Eh, belum pulang Risa?” tanyaku.
“Belum Mas Fernando, kok belum pulang juga kamu?” Tanya Risa.
“Ini baru mau pulang, kebetulan ini dikasih motor inventaris jadi pulang dengan motor. Masih lama gak Risa? Kalau, tinggal sebentar lagi mending sekalian saja bareng, aku kan lewat kearah rumahmu juga Risa," Cicitku.
“Nggak usah mas, ntar banyak gosip disini,” katanya.
“Ah moso sih?” tanyaku.
“Iya, apalagi kamu Manager Baru disini, aku tuh gak pernah mau diajak bareng pulang sama siapapun disini. Jadi kalau aku tiba-tiba naik motor bareng dengan kamu pasti gosipnya santer. Aku kan gak enak, lagipula kamu kan sepupu pak Krisnandi kan?” tanyanya.
“Kok tau kalau saya sepupunya Pak Krisnandi?” tanyaku.
“Ya, tau donk. Beliau kan Managing director disini, jadi sudah pada tau semua orang disini,” katanya.
“Oh Sudah, santer ya, cepet amat gossip di kantor ini?” Cicitku.
“Ya, Sudahlah saya pulang dulu ya Risa. Nanti malam pas aku sudah sampai rumah aku telpon kamu, boleh?” tanyaku.
“Boleh, tapi jangan kemaleman ya telpon nya, soalnya kakakku itu gak suka kalau aku teponan malem-malem dengan cowok. Chat dulu ajah ya, Mas Fernando,” katanya.
“Oh iya pasti itu Risa, makasih ya Risa, kamu hati-hati di jalan,” Cicitku.
“Ya, mas, kamu juga ya hati-hati di jalan,” katanya.
Akhirnya kutinggal Risa dan pulang dengan naik motor. Di sepanjang jalan kuteringat terus dengan senyum Risa yang manis sekali. Entah kenapa Risa berbeda, dia lembut kalau bicara denganku. Berbeda dengan suara calon istriku.
Sampai dirumah pacarku telpon dan menanyakan mengenai pekerjaan baruku. Kami telponan selama sejam. Kemudian mandi dan istirahat depan TV. Eh, kok ingat dengan Risa, aku chat dia, dia bales.
“Malam Risa, sudah sampai di rumah? Ini nomerku…Fernando,” chatku.
“Malam juga alhamdulillah sudah sampai rumah. Mas Fernando Sudah, sampai di rumah juga?” balasnya.
“Iya, Risa sayang…eehh salah ketik,” balasku ditambah emot malu.
“Hahahaaha..Bisa aja kamu nanti kalau ketauan dengan pacarmu bahaya deh, ada perang dunia ke tiga nanti,” balasnya.
“Hahahaha..Ndaklah, pacarku ada di jawa timur sampai kita menikah nanti,” balasku.
“Sudah makan belum, Mas Fernando?” balasnya.
“Nanti saja disuapin sama kamu,” balasku meledek.
“Hah….emang mau disuapin oleh Risa? Kan pacar mu lebih cantik dari Risa pastinya,” balasnya.
“Nggak lah kamu juga cantik dan seksi, malahan aku ingin kamu jadi pacarku kalau kamu mau?” balasku menggoda.
“Hhmm gak ahh jadi pacar serep mah, pasti jadi yang kedua terus nih, hahahahaha,” balasnya.
“Ya, maksudku kan pacar ku ada di jawa, kalau aku di Jakarta sini kan gak ada pacar?” balasku.
“Hahahaha…kamu bisa ajah sayang…eh maaf salah!” balasnya.
Akhirnya aku telpon Risa, dan dia angkat.
“Halo, beneran nih mau jadi pacarku?” tanyaku sambil berharap.
“Ah maaf gak kok, aku salah jawab terbawa suasana…hahahahaha,” katanya.
“Ih, serius Risa cantik, kamu mau jadi pacarku Risa? Kalau mau ya kita jadian ya, aku suka sama kamu Risa, gak tau aku nyaman saja dengan kamu,” Cicitku lagi menunggu jawabannya.
“Gimana ya Mas Fernando, aku susah jawabnya, sebenernya aku juga suka sama kamu. Walaupun baru ketemu kamu tadi, hatiku berdesir dan kalau liat wajah kamu aku deg-deg an,” katanya malu-malu.
“Ya, sudah aku mau kamu jadi pacarku Risa sayang, aku akan jadikan kamu yang utama deh, mulai sekarang,” Cicitku janji.
“Janji Mas Fernando?” tanyanya.
“Janji sayang, beneran kamu mau jadi pacarku? Eh kok kayak mimpi ya aku…," Cicitku heran dan senang.
“Iya, aku mau jadi pacarmu, tapi jalanin dulu apa adanya ya, Mas Fernando, jangan cemburu kalau aku nanti dikelilingi sama salesman, soalnya mereka suka godain aku. Tapi gak ada yang aku suka dari mereka, mereka semua sudah punya istri masih suka godain aku. Aku gak suka aja sama mereka,” katanya.
“Iya, sayang aku pasti gak akan cemburu, tapi apakah kamu mau aku antar jemput?” tanyaku.
“Kalau pergi gak usah Mas, kalau pulang boleh tapi aku naiknya dari ujung jalan saja, nanti siapa ajah yang duluan nunggu saja disana,” katanya.
“Ujung jalan sebelah mana?” tanyaku.
“Dekat pom bensin itu loh,” katanya.
“Oh yang itu ya sudah. Terus besokkan malam minggu, kita jalan yuk merayakan jadian kita,” Cicitku.
“Heheehehe, Boleh, kemana?” tanyanya.
“Ke pantai yuk, kan deket dari situ. Kalau kamu pulang hari minggu bisa gak?” tanyaku.
“Jangan ah Mas, besok kita sampai jam 10 atau 11 malam saja. Minggu depan aku baru mau nginep dengan kamu. Aku lagi dapet Mas Fernando, jadi kadang emosiku naik turun,” katanya.
‘Wah kode nih ‘batinku.
“Iya, gak papa, kita makan seafood ya disana, tau gak yang enak seafood nya?” Cicitku.
“Ya, kalau seafood nanti aku ajak kamu ke tempat langganan ku yah,” jelas Risa.
“Siap Risa, ya sudah besok chat an ajah ya sayang,” Cicitku.
“Iya, mas…, malam,” katanya.
“Malam juga sayang,” Cicitku.
Betapa senang hatiku, Risa yang paling cantik di kantor itu bisa aku dapatkan. Sebenarnya aku lebih ingin Risa, menjadi istriku dibandingkan pacarku sekarang. Ya lihat nanti saja.
****
Pesona Sang "Donjuan" Manager
by. SKI