Pesona Sang "DONJUAN" Manager

1879 Words
CHAPTER 04. PACARAN DENGAN RISA Paginya aku berangkat kerja dengan suasana hati yang gembira, karena aku sudah jadian dengan Risa, gadis cantik dan seksi, dambaan semua pria. Sampai di halaman kantor sekitar jam 7.50. Setelah aku absen, seperti biasa aku ngecek ke belakang yaitu ke gudang untuk menanyakan barang yang akan datang hari ini. Ternyata tidak ada dan sekalian aku ambil beberapa sampel untuk ditest kecocokan spek dengan data pembelian. Kemarin masuk dua container barang Elektrik berupa kabel-kabel dan stabilizer dengan merk sendiri. Setelah semuanya aku ambil dan aku cek semua dengan staffku yang di gudang. Kabel-kabel aku bawa ke ruangan untuk dicek spek kabelnya dengan alat pengukur seperti ketebalan dan sebagainya. Begitu masuk kantor lewat pintu belakang lantai 1, aku liat Risa sedang kerja asik dengan komputernya. Dia sedang sibuk print Delivery Order dari beberapa Salesman disana. Tampaknya di sangat sibuk jadi gak jadi mengganggunya. Setelah sampai di ruangan ku, aku langsung ngecek semua barang dengan spek aslinya. Ku chat Risa, “Sibuk banget pacarku pagi ini? Ku lihat kamu banyak kerjaan ya?” tanyaku. “Wah pagi-pagi aku sudah berbunga-bunga mendapatkan kata “Sayang” dari kamu. Makasih ya kamu sudah sayang sama aku. Aku akan jaga rasa sayang mu di hatiku. Ya sudah kerjakan saja tugas mu, nanti sore sesuai rencana ya sayang?” tanyaku. “Eh iya ya…kok aku Sudah bilang sayang sama kamu? mungkin juga aku Sudah beneran sayang ya sama kamu Mas Fernando,” katanya. “Heheheheh…alhamdulillah kalau kamu sudah sayang sama aku…, tapi aku belum….” Cicitku. “Oh, belum sayang sama aku jadinya?”balasnya. “Bukan belum sayang Risa, tapi belum sanggup ditinggalkan mu…hehehehe” balasku “Aamiin..aku gak akan meninggalkanmu sayang, ya nanti sesuai rencana, tapi aku gak bisa nginep ya sayang,” balasnya. “Iya, gak papa, kan katanya minggu depan bisanya?Kita atur lagi buat minggu depan ya,” Cicitku. “Ya, sayang. Aku lanjut kerja dulu ya, nanti makan siang bareng lagi ya, kamu lagi yang traktir aku, hehehe,” balasnya. “Ya, sayang. Siap aku bayarin lagi gak papa kok, kan kamu pacarku,” balasku. Akhirnya kulanjutkan kerja dan tak berasa sudah mau masuk makan siang. Sebelumnya ku bereskan dulu barang-barang yang berantakan. Kemudian ku sholat dzuhur dulu sebelum turun untuk menjemput Risa untuk makan siang bersama. Supaya tak kelihatan banget aku dan Risa makan bersama kawan-kawan yang lain. Disana aku sengaja duduk berdampingan dengan Risa dan sengaja aku berbisik dengan Risa kalau bicara dengan dia agar tak kelihatan hubungan ku dengan dia. Diana juga ada dan dia juga minta dibayarin makan siangnya, katanya uangnya lupa kebawa, dan memang kalau pulang pergi ke kantor, Diana selalu bareng dengan Mas Adi. “Ya,nk, mau makan apa?” bisik Risa. “Aku pake ayam goreng aja sama sayur dan sambel,” Cicitku. “Ya, aku pesenin ya,” katanya. “Ya,,” balasku. Setelah itu Risa pergi memesan pesanan ku dan pesanan nya. Dia kembali ke Meja dan duduk disamping ku sambil bermain HP. Ternyata dia chat aku, “Yank, nanti kita mau kemana?” chatnya. “Ke Pantai aja ya, mau?” balasku. “Boleh, tapi nanti kita nonton dulu yuk, ada film yang aku mau tonton di bioskop,” chatnya. “Ya, sayang gak papa, dimana?” balasku. “Di mall Senen ajah,” balesnya. “Ya, boleh, kamu suka nonton bioskop?” balasku. “Kadang-kadang sih tapi aku suka nonton sendiri kalau ke bioskop,” balasnya. “Ya, nanti sekalian kita buat film juga ya sayang..hahahaha,” balesku. “Hhmm…liat nanti saja yank, belum pernah sayang,” balesnya. “Ya, nanti aku kasih tau kamu caranya, hahahaha,” balesku. “Ih,, Genit kamu yank,” balesnya. “Hahahahaha…” balesku. Akhirnya kita balik ke kantor lagi bertiga dengan Diana juga. Di jalan kita saling tidak bicara agar Diana gak curiga dengan kami. Sesampainya di kantor ada chat masuk, “Mas Fernando, nanti malam ada acara gak?” chat dari Diana. “Ada Diana, saya mau pergi, ada urusan keluarga,” balesku. “Oh gitu ya, maksudku kalau gak ada acara anterin aku ke Depok,” balesnya. “Loh emang ngapain ke Depok?” balesku. “Aku mau main ke mall Depok ada acara kan disana,” balesnya. “Acara apa Diana?” balesku. “Acara musik, cuma dua hari, hari ini dan besok,” balesnya. “Kalau besok saya liat dulu ya kalau gak capek bisa aku anterin kamu kesana,” balesnya. “Oh kalau besok bisa, ya besok ajah,” balesnya. “Kok kamu minta anterin aku sih? Emang kamu gak punya pacar Diana?” balesku. “Belum Mas Fernando, ini mau nanya sama kamu, mau gak kamu jadi pacarku?” bales Diana. ‘ Eh buset ini Diana v****r banget ngajak aku pacaran ‘ “Hhm, kan kamu tau kalau aku sudah punya pacar di jawa,”balesku. “Kan, Jauh Mas Fernando, disini aku deh yang nemenin kamu terus,” balesnya. “Hhmm wah kalau itu gimana nanti aja, soalnya aku gak mau ketauan sama temen kantor apalagi nanti ketauan sepupuku bisa berabe nanti,” balesku. “Aku janji gak akan kasih tau siapa-siapa,” balesnya. “Termasuk Risa?” balesku. “Iya, siapapun deh Mas Fernando. Kalau gitu besok hari minggu kita ketemuan ya,” balesnya. “Iya, tapi kita janjian ya diluar?” balesku. “Ya, kamu gak mau ketauan sama mas Adi kan?” balesnya. “Iya, donk. Nanti bisa berabe, kan kamu tau kalau kita rahasia kan hubungan kita,” balesnya. “Kok kamu milih aku jadi pacarmu?” balesku. “Soalnya, kamu itu Pria Idamanku, orang seperti kamu yang selalu aku inginkan,” balesnya. “Masa sih, aku jadi tersanjung jadinya,” balesku. “Kamu beneran ya mau nemani aku ke Depok?” balesnya. “Iya,, nanti hari mingu pagi aku chat kamu ya, Diana,” balesku. “Iya,, terima kasih ya Mas Fernando, aku tunggu chatmu,” balesnya. “Ya,,” balesku. Pulang bekerja jam 2 siang aku langsung janjian dengan Risa, “Sayang, kamu nunggu dimana?” chatku. “Aku tunggu di stasiun aja ya, supaya gak ada yang curiga,” balesnya. “Ya, kalau gitu kamu saja duluan pulang nanti kalau kamu sudah dekat chat aku ya sayang,” balesku. “Ya, sayang, hati-hati ya,” balesnya. “Ya, kamu juga sayang,” balesku. Akhirnya setelah mendapatkan chat dari Risa, aku segera meluncur ke stasiun tempat dia menunggu. Begitu sampai sana aku langsung kasih helm ke dia. “Pakai helm nya sayang. Kamu sudah lama nunggunya?” tanyaku. “Belum palingan 10 menitan lah,” katanya. “Ya, sudah siap sayang? Naik dan pegangan ya,” Cicitku. “Ya, sayang sudah siap,” katanya. Lalu kulajukan motor ke jalan raya dan Risa melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku. Terus terang d**a ini berdetak kencang, ntah senang atau bahagia? Karena pertama kali aku memboncengi seorang wanita cantik idaman pria di kantor, dan sekarang sedang memelukku dari belakang. Sesampainya di Mall Senen kami memarkirkan motorku. Begitu jalan beriringan dia langsung memegang tanganku dan menggandengnya. Mau copot jantungku, deg-deg an sepanjang jalan masuk ke mall. Tapi dia dengan santai dan sambil tersenyum jalan tanpa beban. “Sayang, kok kamu kayak nya merasa aku sudah lama menjadi pacarmu?” tanyaku. “Kenapa yank? Kamu kok aneh sih, kan aku sudah sayang sama kamu, dan aku merasa nyaman saja disampingmu,” katanya. “Ah, yang bener sayang? Tau gak kalau aku sekarang lagi menjaga supaya jantungku gak copot dan terlempar dari badanku,” Cicitku. “Kenapa sayang? Kamu masih kurang nyaman sama aku?” tanyanya. “Bukan sayang, aku masih gak percaya ajah, padahal baru 2 hari kita kenal kenapa kamu sudah merasa kita sudah kenal lama?” tanyaku. “Gak tau Mas Fernando, aku liat sosokmu sangat mempesona, dan sangat rugi kalau aku gak mendapatkan mu lebih dulu,” katanya tegas. “Emang, kamu kuatir sama siapa?” tanyaku. “Aku curiga Diana juga suka deh sama kamu, soalnya dia kalau menatap kamu kayak suka banget,” katanya. “Emang, iya sayang? Moso sih?” Cicitku pura-pura tidak tahu. “Kamu awas ya sampai meladeni Diana juga, kamu kan punya aku mulai sekarang,” katanya sambil melotot. “Emang, kamu mau hidup sama aku yang sebenernya, kamu gak tau siapa diriku sebenernya?” tanyaku. “Semua bisa dijalani kalau kita punya niat baik satu sama lain sayang, dan aku menjunjung kesetiaan,” katanya lagi. “Bener sih, kata kamu tapi aku bukan orang yang setia loh sayang,” Cicitku mengetes dia. “Ya, manusia hanya berusaha tapi Allah yang menentukan, paham kan maksudku?” tanyanya. “Ya, Paham sayang, berarti kita harus saling menjaga niat kita berdua kan?” tanyaku. “Ya, sayang, aku akan menyerahkan diriku seutuh nya ke kamu asal kamu berjanji akan hidup denganku sampai kapanpun,” katanya lagi. “Wah kalau itu Sudah terlalu jauh sayang…,’” Cicitku. Sampailah kami di bioskop itu dan mesan tiket tempat duduk. Kita sepakat untuk duduk di barisan paling belakang dan dipojok. “Yuk, masuk sayang, itu sudah dibuka pintu teaternya,” katanya. Akhirnya kita masuk berdua ke dalam bioskop dan duduk sesuai nomer tempat duduk. Sebelum masuk tadi Sudah kubelikan Popcorn dan minuman dingin masing-masing dua. Aku duduk dipojok dan Risa disampingku, ternyata tidak banyak yang menonton film itu karena sudah penghabisan masa tayangnya di bisokop tersebut dan minggu depan sudah tidak ada film itu. “Yank,” kata Risa. “Aku mau kamu sambil peluk aku dong,” katanya lagi. Akhirnya kulingkarkan tanganku memeluk badannya dari belakang. Tercium wangi tubuhnya dan rambutnya yang terurai sebahu. Kucium wanginya yang lembut membuatku tidak ingin melepasnya. Film akhirnya mulai, 10 menit pertama aku tak bergerak sama sekali dan dia menyenderkan kepalanya dibahuku. Aku yang merasa grogi tiba-tiba melihat gundukan besar dibalik baju yang dipakai oleh Risa waktu dia sedang menyenderkan kepalanya dileherku. Tak sengaja begitu mau mengambil minum dengan tangan kananku, tangan kiriku ikut begerak dan menyentuh gundukan sebelah kiri, “Maaf sayang,” Cicitku. Risa menatapku beberapa detik, ntah siapa yang mulai kami saling berpagutan bibir dan melumat satu sama lain. Setelah kusadari akhirnya kulepas pagutan nya. Dia terlihat malu dan makin menyenderkan badannya ke badanku. Aku peluk dia dengan kasih sayang dan dia mempererat tangannya di tanganku. Risa kembali berbalik muka dan mengecup bibirku kembali dengan mesra. “Sayang, aku cinta kamu,” katanya berbisik. “Aku juga sayang kamu, Risa,” Cicitku membalasnya. Lama Risa menatap mataku, dia kembali maju untuk mencium bibirku, kubalas dengan mesra, kami berpagutan lama sekali dan tanpa sadar, tanganku mulai masuk ke dalam bajunya dan meraih puncak gundukan itu. Risa mendesah, “Sayang enak….pelan-pelan ya aku pertama diginiin, ternyata nikmat banget ya,” katanya sambil menahan geli. Tak lama kemudian kami fokus menonton film yang sedih. Setelah Film nya selesai diputar, kami turun untuk keluar teater dan Risa masuk ke toilet, juga sama denganku masuk ke toilet. Aku keluar duluan dan Risa menyusul, begitu sampai dia langsung menggandeng tangan kiriku untuk keluar dari mall. Tak sadar ternyata sudah abis magrib menjelang Isya, aku kasih tau mau sholat maghrib dulu ke Risa dan kita mampir ke mushola mall untuk sholat maghrib. Risa keluar duluan dan menunggu dipojok lorong keluar dari mushola. "Yuk sayang, kita jadi ke pantai?" tanya Risa. “Ya, dong sayang. Yuk kita berangkat," Cicitku. *** Pesona Sang "Donjuan" Manager by SKI
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD