3 - Sedikit Bermain

1514 Words
"Hai, Little Princess. Kau sudah datang rupanya. Aku kira kau akan batal kemari." Varlotta seketika mengurangi kecepatannya melangkah. Kepala semakin ditegakkan ke depan. Memandang tepat ke sosok Geonado yang duduk di atas alat gym jenis flat brench. Tampak jelas pemandangan pria itu bertelanjang d**a oleh matanya. Aliran darah Varlotta berdesir. Seperti biasa, memengaruhi juga untuk jantungnya, berdegup kian kencang. "Maaf, aku terlambat. Kau sudah lama menungguku? Tapi, kau tidak marah bukan?" Pertanyaan bernada lembutnya segera mendapatkan respons berupa gelengan pelan. Varlotta menarik kedua ujung bibir, membentuk senyuman anggunnya agar lebih menarik lagi. Kaki-kaki jenjang terus berjalan mendekati sosok Geonado. Mata mereka saling memandang. "Aku sempat berpikir kau tidak akan jadi datang. Sudah terlambat dari jam seharusnya. Baru saja aku ingin meneleponmu untuk memastikan. Tapi, kau sudah muncul di depanku." Varlotta tertawa senang sembari mengangguk. "Benarkah? Hmm, aku tidak mungkin batal kemari jika aku mengatakan padamu aku datang, walau terlambat. Apakah kau marah?" "Tidak, Little Princess. Rasanya aku tidak akan bisa marah kepadamu. Mustahil saj-" Varlotta tak membiarkan Geonado melanjutkan ucapan, ditempelkan bibir mereka. Kedua tangan yang berada di masing-masing pipi pria itu diusap-usapkan. Memang tidak terlalu mulus karena rambut-rambut tipis tumbuh. Justru membuatnya menjadi geli sendiri. Varlotta menyadari bahwa ketegangan melingkupi diri Geonado atas aksinya yang pasti tak diduga-duga. Ia pun masih mempertahankan bibir mereka menyatu. Tak ada lumatan atau pagutan diberikan. Hanya menempel saja. Batasan tersebut yang mampu diterapkan. Durasi 10 detik sudah cukup untuk Varlotta. Ia lalu melangkah mundur. Memberlakukan jarak supaya dapat melihat wajah Geonado. Lebih tepat, ekspresi pria itu. Ia penasaran apakah raut keterkejutan akan tampak jelas sesuai dengan ekspektasi muncul di dalam kepalanya. Varlotta menarik sudut kanan bibir karena senang dengan kekagetan pada sepasang mata beriris biru milik Geonado, saat menatap pria itu. Kemenangan yang luar biasa menyelimuti. Letupan bahagia juga menaungi. Debaran jantung tentunya pula berdetak dengan semakin kencang akibat aksi jahil yang diselesaikan sempurna. Ada rasa bangga juga pada dirinya. "Bagaimana menurutmu?" Varlotta bertanya dalam nada biasa. Tak menunjukkan bahwa kegugupan besar tengah menguasai dirinya. Senyuman disunggingkan dengan lebar. "Tentang apa, Little Princess? Maaf, aku tidak paham dengan apa kau tanyakan." Varlotta tidak segera menjawab. Ia terdiam sembari memikirkan balasan yang terlontar dari mulut Geonado dengan kesan jika pria itu tak memahami apa ditanyanya. Diluar dugaan Varlotta. Sebelumnya, ia menyangka bahwa pria itu akan bisa mengerti secara cepat. Namun, benar-benar tidak demikian. Varlotta berupaya memaklumi dan memberikan penyalahan kepada dirinya yang belum mengutarakan apa ingin disampaikan dengan benar serta jelas. "Kau yakin tidak tahu tentang apa yang aku maksudkan, Mr. Gorgeous?" konfirmasinya dengan nada yang sedikit keheranan. Sengaja untuk menunjukkan keseriusan. "Tidak. Aku tidak paham. Entah, kenapa aku jadi tidak bisa berpikir jernih, setelah kau menciumku tadi. Tunggu sebentar, aku akan memikirkan lagi apa yang kau tanya ta--" "Tidak perlu dipikirkan." Varlotta memotong dengan cepat sembari melebarkan senyuman di wajah. Merasa kian senang oleh jawaban baru didengarnya. Sungguh hati berbunga-bunga. "Kau tidak perlu memikirkan. Aku yang akan memberitahukan kepadamu saja," imbuhnya masih dalam nada riang dan lengkungan pada kedua ujung bibir yang semakin meninggi. "Baik, Little Princess. Terima kasih sudah mau memberitahuku, disaat aku tidak bisa berpikir. Dan, untung juga kau tidak mengejekku. Berbeda dengan kakakmu si Darmo. Dia sangat pandai mencelaku jika aku tidak bisa memahami ucapannya." Varlotta meloloskan tawa yang terbilang kencang. Ia pun terbayang akan tingkah sering diperlihatkan oleh saudara sulungnya, Darmo Vandara. Muncul seringaian sang kakak lebih tepatnya. Ekspresi yang sering diperlihatkan kepada Geonado Vilano, saat kakaknya ingin menunjukkan ejekan. Ia sudah hafal benar karena mereka bertiga cukup sering berkumpul bersama. Tahu, bagaimana sang kakak dan Geonado Vilano yang suka saling berdebat, diakhiri sesi saling mengejek satu sama lain. "Kami memang punya sifat berbeda, Mr. Gorgeous. Genderku dan Darmo juga tidak sama. Jadi, wajar bukan jika aku ingin bersikap berlainan dari kakakku itu?" Varlotta membalas dengan kalimat guyonan. "Aku ini wanita. Jadi, aku pasti memperlakukan pria lebih baik dibandingkan kakakku itu, termasuk pada kau juga, Mr. Gorgeous," imbuh Varlotta. Diselipkan kode di dalam rangkaian balasannya, tentu saja. "Hahah. Kau benar, Little Princess. Trims sudah mau memperlakukanku dengan baik. Aku senang." Varlotta menambah sunggingan senyum. Bahagia akan jawaban dan tawa dikeluarkan Geonado. Lalu, ia mengangguk. "Iya, sama-sama, Mr. Gorgeous. Aku pasti akan memperlakukan kau dengan baik." "Nah, kau masih berhutang perjelasan kepadaku, Little Princess. Aku semakin penasaran. Kau mau bukan memberitahuku segera soal ciuman tadi?" Varlotta mengangguk dengan cepat. Tak bisa dikedipkan kedua mata karena disuguhkan wajah menawan Geonado dan tatapan hangat pria itu. Sungguh, hatinya semakin bergetar. Reaksi yang wajar jika setiap berada didekat Geonado. Ia sangat mencintai pria itu dari waktu ke waktu. Tidak pernah absen barang satu hari, dipikirkan Geonado Vilano. "Aku pasti akan menjawab. Tapi, aku akan bertanya dulu kepadamu. Dan, kau harus mau menjawab, ya Mr. Gorgeous," pinta Varlotta dalam nada manja. "Bertanya soal apa lagi, Little Princess?" "Yang ingin aku tanyakan adalah tentang pikiranmu mengenai ciuman yang aku lakukan." Varlotta pun menjawab dengan lebih antusias lagi. Suara teralun lebih keras, walau jaraknya dan Geonado tak jauh. "Aku juga tadi ingin bertanya soal ciuman yang aku berikan. Bagaimana menurut kau, Mr. Gorgeous? Manis atau panas?" Varlotta membuat suaranya semakin lembut sekaligus manja, kali ini. "Panas atau manis? Apa yang kau maksud, Little Princess? Kenapa kau balik bertanya kepadaku? Bukankah aku yang harus memberikan pertanyaan yang begitu? Tadi, sepertinya aku sudah bertanya." Kekehan Varlotta pun keluar. "Iya, kau sudah bilang kepadaku maksud dari ciumanku apa. Aku sudah berjanji juga akan menjawab. Kau tidak sabar." "Bukannya tidak sabar, Little Princess. Aku semakin penasaran. Aku malas harus menduga-duga." "Aku bingung juga. Dan, aku ingin tahu alasanmu menciumku. Katakan yang masuk akal, ya. Atau yang mudah aku mengerti. Jujur saja, sampai sekarang ini aku pun masih kaget." Varlotta menganggukkan kepala tetap dalam gerakan masih santai. "Kau ingin tahu? Kau sudah siap mendengar penjelasanku? Tapi, ada syaratnya. Kau akan menerima atau tidak?" "Syarat? Apa yang kau ingin untuk aku lakukan, Little Princess? Akan aku penuhi." Tawa Varlotta sejak tadi ditahan-tahan pun akhirnya terlolos karena keseriusan ekspresi wajah Geonado tengah dipertontonkan. Tentu, gelakan sedang dikeluarkannya dengan cukup kencang membuat pria itu semakin kebingungan. Tampak jelas pada tatapan Geonado. "Aku hanya minta kau mengajariku cara berciuman yang baik, panas, dan mendominasi. Kau akan mau mengabulkannya untukku?" Varlotta bertanya dengan nada serius kental. "Apa? Mengajarimu berciuman? Kau serius atau bagaimana, Little Princess? Aku tidak ingin percaya apa yang kau minta. Kau sedang baik-baik saja bukan, Little Princess?" Varlotta mengangguk secara cepat. Tawanya belum dihentikan. "Iya. Aku ingin kau mengajari cara berciuman yang baik dan panas. Kau harus mengabulkan permintaanku." "Ah, alasanku menciummu apakah kau benar tidak tahu, Mr. Gorgeous?" Bukan seperti tengah bertanya belaka. Namun, lebih terkesan sedang ingin menantang. Seringaian tampak. "Iya, aku masih ingin tahu alasanmu menciumku tiba-tiba tadi, tanpa memberitahuku sama sekali. Aku sangat heran dan juga merasakan kaget." Ekspresi yang diperlihatkan serius pada Varlotta, berbanding terbalik dengan raut wajah terpamer di wajah wanita itu. Senyuman yang tampak sebagai sebuah ejekan. Namun, ia tak merasa tersinggung. Justru senang melihat tatapan senang Varlotta. "Andai saja tadi aku sudah tahu alasanmu apa, aku pasti akan lebih rileks menerima ciuman darimu, Little Princess. Mungkin bisa aku balas juga." Varlotta terkekeh, walaupun terkesan dipaksakan. Rasa tenang terganggu dengan ucapan Geonado. Meski demikian, harus ditampakkan ekspresi biasa saja. Enggan membuat pria itu menjadi curiga. Ia tak akan memerlihatkan gestur atau bukti apa pun yang bisa menunjukkan perasaannya pada pria itu. "Hmm, alasannya konyol bukan? Aku hanya ingin mengetes rasa ciumanku. Beberapa hari lalu, pria yang ingin dijodohkan Dad denganku berusaha menciumku. Dan, aku tidak mau. Dia mengatakan jika aku sangatlah payah. Aku tidak akan pernah terima dikatakan seperti itu." Varlotta memperlebar lagi senyum. "Aku tidak terima. Jadi, aku melakukan padamu. Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu. Apa yang kau rasakan dari ciumanku tadi? Jawab jujur." Varlotta langsung terbayang kembali dengan wajah dan kata-kata kotor dari pria bernama Brandon, notabene adalah calon tunangannya. Mereka sudah dijodohkan beberapa bulan yang lalu. Namun hingga kemarin, sama sekali belum didapatkan ketertarikan pada sosok Brandon. Ia justru semakin merasa jijik dan kesal akan sikap-sikap ditunjukkan pria itu. "Kenapa diam saja, Mr. Gorgeous? Kau tidak percaya dengan alasan yang aku katakan tadi kepadamu? Aku tidak berbohong, sungguh." Varlotta berupaya meyakinkan kembali. "Iya, aku percaya. Kau belum pernah berbohong kepadaku, Little Princess. Tapi, logikaku masih menolak alasanmu. Jika aku boleh jujur dan tidak menyinggungmu, penyebab kau menciumku tidak masuk akal. Kau jangan marah karena aku berkata yang jujur seperti ini karena aku benar bingung." Varlotta akhirnya tertawa. Diakibatkan oleh jawaban bernada polos Geonado. Ditambah pula dengan ekspresi pria itu yang masih menampakkan kebingungan. Ia menjadi gemas. Ingin sekali membelai kedua pipi Geonado. Namun, tak mungkin bisa dilakukan. Mustahil saja. "Mana aku bisa marah denganmu, Mr. Gorgeous? Aku justru senang kau menjadi bingung dengan alasan yang aku katakan tadi. Aku hanya sedikit kecewa kau tidak percaya penjelasanku. Padahal, menurutku sudah masuk akal." Varlotta menyahut santai sembari menambah seringaian di wajah. "Tetap tidak masuk akal untukku, Little Princess. Tapi, akan aku anggap kau mengerjaiku. Aku tidak akan anggap sebagai sesuatu yang serius. Kau jangan ulangi lagi karena membuatku terkejut." "Ah, bukankah kemarin aku sudah sempat bilang kepadamu, jika aku serius? Tentang ciuman dan bahkan rencana tidur denganmu, Mr. Gorgeous."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD