"Ahhhh, nikmat sekaliii!"
"Ahhh, sungguh nikmattt! Aku sangat puasss!"
Seruan sebanyak dua kali yang cukup keras tidak juga mampu menjelaskan bagaimana rasa senang tengah menyelimuti Varlotta, selepas menenggak satu gelas berisi penuh wine. Ia bahkan menjadi melayang dengan kedua mata masih dipejamkan.
Dan, walaupun semua cairan wine sudah masuk ke dalam kerongkongan, belum menghilang jejak dari sensasi terbaik pada mulutnya yang pernah dicecap karena minuman tersebut. Sangat pantas diberikan nilai tertinggi, yakni sepuluh. Jika perlu lebih.
"Aku harus mencoba lagi," gumam Varlotta pelan sembari membuka secara cepat kelopak matanya.
Tangan sudah bergerak ke arah botol dingin wine. Ia lalu menuangkan isi di dalamnya ke gelas, diisi penuh sampai ke ujung. Warna ungu dari wine pun sangat terlihat cantik untuk dipandang, terpukau.
Paling tidak, akan dihabiskan sebanyak lima gelas. Batas yang masih terbilang wajar saja jika tak ingin sampai mabuk. Walau, sangat menggilai rasa dari wine. Ia tidak ingin terlalu banyak minum.
"Wahhh, sangat nikmat!" Varlotta kembali berseru, selepas menyicipi sedikit wine menggunakan lidah.
Barulah kemudian, mulutnya diisi penuh. Dengan cepat ditelan. Lanjut menenggak hingga tidak ada lagi di dalam gelas. Semuanya ditandaskan, tanpa tersisa setetes pun. Sungguh minuman yang enak.
Mendengar langkah kaki dari seseorang berjalan mendekat, maka Varlotta mengalihkan pandangan dari gelas. Diarahkan lurus ke depan. Dan, ketika sudah tahu siapa yang menghampirinya, tangan kiri dilambai-lambaikan dengan semangat. Senyuman pun mengembang lebar menghiasi wajahnya.
"Mr. Gorgeous cepatlah kemari!" panggil Varlotta setengah berteriak, namun suara tidak nyaring.
Tatapan semakin intens, saat Geonado sudah ada di depannya. Diraih lengan pria itu agar bisa lebih mendekat lagi kepadanya. "Aku suka wine ini," ujar Varlotta antusias seraya memerlihatkan botol wine.
"Kau kenapa tidak bilang memiliki minuman yang seenak ini? Kau sangat pelit kepadaku. Tapi, karena aku baik hati, mari kita minum bersama. Aku tidak bisa menikmati wine menakjubkan ini sendiri. Ka--"
"Ayahmu meneleponku. Kau katanya tidak satu pun mengangkat telepon. Kau jangan begitu, kau harus berbicara dengan Mr. Vandara. Tidak boleh ka--"
"Aku tidak mau. Dad pasti hanya akan membahas soal perjodohan. Aku sangat malas." Giliran Varlotta yang memotong ucapan Geonado, nadanya galak.
"Kau saja berbicara dengan Dad, Mr. Gorgeous. Kau bilang pada Dad jika aku tidak masih ada di sini dan sudah pulang dari dua jam yang lalu. Bisakah kau melakukannya sekali saja untukku?" Varlotta meminta dengan nada suara sungguh-sungguh.
"Maaf aku harus memintamu berbohong. Aku punya alasan kuat kenapa aku malas mengangkat telepon dari Dad. Aku akan diajak berdebat mengenai hal yang tidak aku sukai, yaitu tentang perjodohan."
"Ayahmu akan membahas soal perjodohan. Ap--"
Geonado tidak bisa melanjutkan kalimat yang ingin diselesaikan selepas teleponnya berdering kembali. Ia memutuskan menunda pertanyaan, terlebih dulu memilih mengangkat panggilan Samuel Vandara.
"Jadi, dia tidak akan pulang menemuiku?"
Varlotta menunjukkan gelengan-gelengan kepala kuat ke arah Geonado yang baru saja memandangnya. Bibir turut digerakkan, membentuk kata demi kata penolakan tanpa perlu meloloskan suara. Geonado pasti sudah paham. Terbukti nyata dari anggukan pelan dilakukan pria itu. Jadi, ia tidak perlu melakukan apa-apa lagi untuk memeringatkan.
"Sepertinya begitu, Mr. Vandara. Tapi, saya akan tetap membujuk Varlotta supaya dia mau segera pulang. Mungkin membutuhkan waktu. Saya harap Mr. Vandara mau menunggu.”
"Baik. Aku percaya padamu, Mr. Vilano. Tolong bujuk dia agar mau pulang. Ada banyak hal yang harus kami selesaikan. Aku harus menasihatinya. Terutama, soal rencana perjodohan."
"Akan saya usahakan membujuk Varlotta, Mr. Vandara." Geonado berujar dengan lebih serius lagi. Dilirikkan mata ke arah Varlotta yang kembali menggeleng-gelengkan kepala.
“Harap Mr. Vandara mau menunggu dulu, seperti saya katakan tadi. Jujur saja, tidak mudah bagi saya membujuk Varlotta. Dia tipe yang sedikit keras kepala dan tidak mau mendengar apa yang saya katakan. Saya harus berusaha lebih keras membujuk dia kembali.”
“Baik, Mr. Vilano. Aku akan menunggu. Aku menaruh harapan tinggi kepadamu membujuk anak perempuanku agar mau pulang dan berbicara kepadaku. Terima kasih banyak.”
“Iya, Mr. Vandara. Sama-sama. Saya akan berusaha membantu.”
Varlotta bertepuk tangan riuh, tepat setelah sambungan telepon diakhiri Geonado dengan sang ayah. Kemudian, ia acungkan kedua ibu jari tangan kepada pria itu yang berjalan mendekat. Menuju ke sofa tengah didudukinya. Senyuman pada wajah semakin dilebarkan.
"Terima kasih untuk bantuanmu, Mr. Gorgeous. Aku akan membayarnya segera," ujar Varlotta bergembira anggun sembari mengambil gelas berisi wine yang ada di atas meja.
"Kau sudah semakin pandai minum saja dari hari ke hari, Little Princess. Tapi, aku tidak akan memberikan kau izin menambah satu botol lagi. Jadi, kau harus menuruti apa perintahku.”
Varlotta pun menandaskan terlebih dahulu sisa wine di dalam gelas kacanya, kurang dari sepertiga, sebelum tunjukkan tanggapan atas ucapan Geonado Vilano. Hanya butuh lima detik menenggak semua. Varlotta tersenyum puas. Lengkungan di kedua sudut bibir begitu tinggi diangkat ke atas. Deretan gigi putihnya tampak jelas, saat tersenyum dengan lebar.
"Tidak masalah hanya minum sedikit di sini. Aku bisa tambah lagi nanti di rumah," jawabnya santai sembari mengangkat kedua bahu dan memandang intens sosok Geonado.
"Aku akan menuruti perintah darimu, Mr. Vilano." Varlotta imbuhkan dengan nada suara yang semakin lembut. “Anggap saja sebagai balasan karena kau sudah mau membantuku.”
Di setiap kesempatan, ia sangat ingin menunjukkan jika dirinya sudah dewasa. Termasuk, meneguk beberapa gelas wine di hadapan Geonado. Disamping juga sudah berpenampilan menarik, terlihat seksi dengan kemeja yang ketat dan rok denim selutut. Namun, tidak sampai memamerkan lekuk tubuh atau bagian tubuh tertentu. Semua pun masih ditutupinya.
"Ada satu saranku masih kau abaikan, Little Princess. Kau yakin tidak mau mendengar apa yang aku sudah katakan padamu? Ayo, jangan bersikap seperti ini, Little Princess.”
Varlotta mengendikkan bahu. Pura-pura jika ia tidak mengerti dengan apa yang sedang dimaksudkan. Begitu pula akan ekspresi di wajah yang menampakkan kebingungan guna memperkuat sandiwaranya di depan Geonado. Walau, tak yakin akan berhasil.
"Aku tidak paham. Bisa kau menjelaskan lagi dengan sebaik-baiknya? Agar aku juga bisa mengerti." Varlotta berujar santai saja. Ekspresi pun sengaja dibuat agar terlihat polos.
"Jangan banyak minum. Itu saranku. Kau tidak mungkin melupakan ucapanku begitu saja, Little Princess. Tapi, kau hanya tidak mau menuruti perkataanku. Benar bukan?”
Varlotta mengangguk ringan. Sedangkan, tangan kanan mengambil gelas yang berisi wine. Meminumnya dengan cepat. Sengaja dilakukan, saat Geonado masih memandang ke arahnya. Lalu, senyuman dilebarkan. Ia bisa melihat jelas bagaimana ekspresi pada wajah Geonado yang menampakkan sedikit kekesalan. Tentu, dikarenakan jawaban baru ia berikan. Sudah sesuai dengan prediksi. Dan kini, tiba gilirannya untuk menunjukkan antisipasi.
“Iya, kau benar. Aku memang masih ingat larangamu yang memintaku untuk tidak banyak minum karena aku cepat mabuk. Aku tidak lupa. Tapi, aku tidak ingin melakukan sekarang. Aku ingin minum sampai lima gelas lebih. Apakah boleh?” Varlotta melontarkan candaan.
“Terserah kau saja. Mau minum berapa gelas pun, lakukan. Jangan menanyaiku lagi. Jika aku melarang, kau pasti akan tetap melakukannya. Kau akan membela diri juga. Jadi, ak—“
"Kau marah padaku, Mr. Gorgeous?" tanya Varlotta ringan. Tanpa ada rasa bersalah yang ditunjukkan lewat ekspresi tengah dipamerkan di depan Geonado. Tentu, disengaja.
"Iya. Benar. Kau sudah tahu alasannya? Jika tidak, akan aku jelaskan kepadamu.”
Varlotta mengangguk kecil sembari berjalan ke arah Geonado berada. Senyum hangat polos di wajah masih terus diperlihatkannya kepada pria itu. Varlotta sangat sadar bahwa arah pandang Geonado tidak tertuju ke matanya. Namun, pada bibir. Ia tak mungkin salah.
“Ayo jelaskan kepadaku. Kau bebas mengomel juga. Sepertinya akan menyenangkan bisa melihatmu menunjukkan amarah dan kekesalan kepadaku. Hmm, belum pernah kau lakukan bukan?” Varlotta masih menanggapi santai. Mempertahankan akting dengan baik.
Setelah selesai melontarkan seluruh kalimatnya, maka Varlotta pun telah berdiri di depan Geonado. Jarak mereka yang hanya membentang kurang dari satu meter, segera dipangkas. Lalu, dilanjutkan menaruh masing-masing tangan pada kedua bahu pria itu. Senyumannya belum menampakkan pemudaran. Ekspresi yang memang harus tetap bisa dijaganya.
“Tidak, Little Princess. Aku tidak bisa mengomel. Tapi, ada cara lain yang akan aku gunakan untuk menunjukkan kekesalan dan kemarahanku, jika kau tidak mau menuruti juga.”
Varlotta merespons antusias dengan anggukan beberapa kali. Senyuman lebar pada wajah tak mengalami pengurangan. Begitu juga tatapan intens yang masih dipusatkan ke sosok Geonado. Tidak gentar atau takut, walau pria itu sudah menunjukkan ekspresi kian serius.
Bukan bermaksud meremehkan ucapan Geonado kepadanya. Hanya saja lucu cara pria berbicara, tatapan, dan raut wajah yang diperlihatkan sehingga tidak mampu untuk menahan tawa. Meski demikian, Varlotta enggan segera menyudahi aksinya, gelakan masih keluar.
Walau demikian, ia akan melontarkan balasan beberapa detik lagi. Jika tidak ditanggapi, maka rasanya kurang menyenangkan. Ya, memang ada niatan bercanda dengan Geonado. Tak cukup yakin pria itu bisa memberikan balasan gurauan balik kepada dirinya nanti.
“Ayolah, kau jangan marah atau kesal. Ketampanmu bisa berkurang, Mr. Gorgeous. Kau tidak cocok galak kepadaku. Kau lebih bagus bersikap yang hangat “ Varlotta berujar dalam nada godaan kental. Seringaian pun dipamerkan olehnya penuh kesengajaan.
Kemudian, diberanikan diri untuk melakukan kontak fisik dengan Geonado. Ya, Varlotta berencana memberikan pelukannya. Sempat ada keraguan. Namun, enggan dipikirkannya. Ia berupaya memantapkan hati dan niat untuk merealisasikan apa hendak dilakukan.
Varlotta mengangkat kedua sudut bibirnya lebih tinggi lagi, saat menyaksikan bagaimana ekspresi senang menghiasi wajah tampan Geonado Vilano. Pesona pria itu sungguh tidak bisa dibantahnya. Ia pun spontan melangkahkan kaki. Ingin mendekat ke sosok Geonado sehingga jarak yang memisahkan mereka sekarang kurang dari satu meter saja.
Varlotta mewujudkan keinginannya tadi. Diberikan pelukan kepada pria dicintainya itu. "Trims untuk bantuanmu tadi, Mr. Gorgeous," ujarnya lembut.
Kemudian, ditangkupkan kedua tangan di masing-masing pipi Geonado. Dan, dengan segera ditempelkan bibir mereka. Dilakukan lumatan yang cepat. Namun, kilat saja. Lalu, Varlotta menjauhkan diri. Seringaian pun dipamerkan pada Geonado, pria itu sedang membelalakan mata karena terkejut.
"Bagaimana ciumanku, Mr. Gorgeous? Apa sudah lebih hot dari yang kemarin?" tanya Varlotta dalam nada suara sangat santai.
Kembali, didekatkan tubuhnya pada pria itu. Wajah diarahkannya ke bagian telinga kiri Geonado karena akan dibisikkan sesuatu. Kalimat-kalimat yang ia yakini lebih dapat membuat pria itu merasakan kekagetan.
"Ah, aku sudah membaca beberapa teknik tentang bercinta yang memuaskan. Tapi, aku belum paham. Apakah harus dipraktikan?"