Varlotta akhirnya pulang, walau dengan setengah hati dan sedikit keterpaksaan. Dan, tempat tujuan wanita itu tentu rumah orangtuanya guna menemui sang ayah. Ia tidak dapat menghindari masalah menerus. Harus segera ditemukan penyelesaian.
Ketidaksetujuan wajib untuk diutarakan pada sang ayah, dibandingkan semakin emosi menghadapi orang direncanakan dijodohkan dengannya. Ia pun enggan menerima konsekuensi diakhir. Lebih baik menghentikan sekarang. Penyesalan terlambat tak sangat ingin dirinya ciptakan di kemudian hari.
Varlotta langsung berbicara dengan sang ayah, saat baru saja sampai di kediaman orangtuanya. Hanya mereka berdua saja yang berdiskusi. Suasana pun menjadi sedikit tegang. Ia dan sang ayah kompak sama-sama menunjukkan raut serius. Sesekali juga saling melempar tatapan yang bisa terbilang tajam.
"Kau ingin menyampaikan penolakan lagi, Nak?"
Kepala Varlotta anggukan mantap sembari sudah memandang sang ayah lekat. "Benar, Dad. Aku tetap akan menolak. Aku belum berubah pikiran."
"Dad, kita harus membahas tuntas tentang rencana perjodohan hari ini juga. Keputusanku tidak akan bisa Dad ubah. Aku menolak dijodohkan. Aku ada alasan yang sangat kuat. Jadi, Dad harus percaya kali ini dengan penilaianku. Sudah sebisa mungkin aku berusaha untuk objektif, tidak subjektif."
"Kau benar tidak mau menerima Brandon, Varlo? Benarkah begitu? Apa alasan bisa kau beri, Nak?"
Varlotta membuang napas gusar. Sudah tiga kali dirinya diberikan pertanyaan dengan tujuan yang sama, yakni meminta jawaban darinya. Bukanlah kejujuran. Akan tetapi, sesuai apa diinginkan sang ayah yang tak ia kehendaki. Jadi, lebih baik untuk diam, kali ini. Lagipula, sudah dijelaskannya tadi.
Varlotta mengangguk pelan. Bukan karena merasa takut. Namun, semakin malas. "Dad, bisakah beri aku waktu? Aku sudah bilang akan menjelaskan semua alasan yang aku punya. Jangan mendesak terus Dad," pinta Varlotta dengan nada jengkel.
"Terima atau tidak? Dad ingin kau memutuskan segera. Tidak penolakan yang Dad mau. Jangan gegabah membatalkan, Nak. Pikirkan kembali demi masa depanmu nanti. Rasional berpikir, Varlo."
Varlotta menggeleng beberapa kali dalam gerakan yang mantap secara cepat. Tanpa keraguan. Dipandang lekat sosok sang ayah. Dilihat jelas perubahan ekspresi ayahnya. Rahang wajah yang semakin mengetat menandakan tambah marah kepada dirinya.
Tidak apa. Ia akan menerima konsekuensi amarah ayahnya. Kemurkaan diawal lebih baik dibandingkan penyesalan di kemudian hari yang akan membuatnya kian menderita. Benar, perjodohanlah tengah Varlotta maksudkan. Ia enggan mengubah pemikirannya sendiri. Tetap menunjukkan penolakan dan pembatalan. Keputusan diambilnya pun sudah mantap.
“Jawab, Varlo. Dad tidak suka kau yang hanya diam tanpa memberi penjelasan apa-apa dengan cepat. Jika kau sudah memiliki jawabannya. Katakan saja sekarang kepada Dad. Kau tahu Dad tidak suka menunggu. Apalagi untuk masalah yang serius."
"Aku tidak mau, Dad. Jangan memaksaku juga. Brandon itu pria berengsek. Dia tidak sesuai dengan harapanku. Tidak akan bisa menjadi pasangan yang baik bagiku jika kami menikah. Tolonglah Dad percaya ucapanku.” Varlotta memberikan jawaban dalam nada serius.
Varlotta tahu bahwa jawabannya tak memberikan alasan spesifik dan masuk akal. Memang, dirinya tidak memiliki niatan membocorkan sifat buruk Brandon di depan sang ayah. Tak ada keuntungan baginya juga membongkar. Ia bukan tipikal suka membicarakan keburukan yang sudah diperbuat oleh Brandon kepadanya. Cukup hanya akan menjadi masalahnya saja.
"Dad jangan coba memaksaku. Atau aku akan sungguh membuktikan jika aku tidak mau menjalankan bisnis lagi. Dad tinggal memilih sekarang," ancam Varlotta secara halus.
“Jika Dad tetap menginginkan rencana Dad tentang perjodohan tetap terlaksana. Maka, aku juga akan egois mempertahankan keinginanku. Dan, jika Dad tidak masih dapat menerima keputusanku dan menganggap aku pembangkang, aku siap tidak dianggap anak lagi.”
Varlotta menajamkan tatapan ke arah sang ayah. Deru napas mulai bertambah, membuat dadanya naik dan turun tak teratur. Emosi Varlotta sukses terpancing. Tentang, penyampaian penolakan, belum selesai dilakukan. Masih ada beberapa kalimat akan diucapkannya. Tetapi, dipilih untuk menjeda sekitar sepuluh detik untuk menetralkan kembali napasnya.
“Aku siap juga meninggalkan rumah ini. Tidak mendapatkan warisan apa pun dari Dad dan Mom. Bisnis-bisnis Dad miliki, akan dikelola semua oleh Darmo Vandara saja. Bukan aku.”
Ekspresi kaget sang ayah dilihatnya secara nyata. Sudah sesuai dugaan jika ayahnya akan terkejut dengan ancaman yang ia lontarkan. “Bagaimana, Dad? Apakah Dad setuju?”
"Baik. Dad tidak akan memaksamu, Varlo. Perjodohanmu dan Brandon akan dibatalkan. Dad tidak ingin kau tercoret dari daftar putri Dad. Kau harus menjalankan beberapa bisnis Dad.”
Varlotta mengukir senyum kemenangan, sedetik selepas sang ayah menyetujui keinginannya dengan segera. "Terima kasih, Dad,” ujar Varlotta riang. Sungguh, ia sangat bahagia.
“Tapi, Dad ingin kau cepat menemukan pasangan. Lalu, menikahlah. Itulah tugasmu selain menjadi salah satu pewaris bisnis-bisnis Dad bersama dengan Darmo, kakakmu.”
Varlotta mengangguk semangat dan kian antusias. “Iya, Dad. Tenang saja. Walaupun aku menolak perjodohan dengan Brandon, bukan berarti aku tidak akan pernah menikah.”
"Semua pria kau bilang tidak cocok denganmu. Sudah lebih dari lima orang kau tolak, Varlo. Dad kecewa. Harus bagaimana Dad memilihkan pria yang menurutmu baik, Sayang? Kau lebih baik katakan pada Dad. Pasti akan mampu Dad temukan pria yang kau mau, Nak.”
Varlotta tetap mempertahan senyuman pada wajah, walaupun sang ayah berujar dengan semakin serius. Varlotta enggan saja untuk terlalu terbebani ucapan ayahnya kembali seperti tadi. Tentang perjodohan yang memang tidak pernah ia kehendaki. Keinginan tetap sama, yakni tak mencintai pria lain. Hanya Geonado saja. Namun, masih tak bisa diungkapkan.
"Tidak, Dad. Tidak." Varlotta melembutkan nada suara secara sengaja. "Dad tidak perlu aku beri tahu. Aku yang akan mendapatkan pria aku cintai. Tunggu saja, Dad. Okay?"
“Aku membutuhkan waktu untuk memperoleh dia sepenuhnya. Aku masih berusaha hingga hari ini. Tapi, aku percaya aku akan berhasil memiliki dia. Dan, Dad tidak perlu ikut campur. Percayakan semua saja kepadaku. Tidak akan aku kecewakan kesempatan yang Dad sudah berikan. Aku juga menjamin dia adalah pria yang pantas untukku,” terang Varlotta mantap.
"Menunggu sampai kapan? Kau tidak ingin segera menikah? Dad memberi kau target di usia 28 tahun harus memberikan Dad dan Mom cucu. Kau tidak lupa bukan, Varlo?"
Varlotta mengangguk ringan. "Aku masih sangat ingat, Dad. Tenang saja. Okay? Aku akan berusaha menepati apa yang aku janjikan. Jika melanggar, aku juga merasa bersalah.”
Varlotta lalu meraih kedua tangan sang ayah guna digenggam. Ia hanya melakukan sebentar saja sebagai cara meyakinkan ayahnya akan apa baru saja disampaikan. Varlotta tahu jika sang ayah masih meragu atas keputusannya. Namun, tidak akan dibiarkan berlangsung lama.
“Dad percaya bukan kepadaku? Ah, Dad dan Mom harus mendoakanku juga supaya segera bisa aku menemukan dan mendapatkan pangeran impian yang aku cintai. Okay, Dad?”
Aksi belum disudahi Varlotta untuk bisa meluluhkan sang ayah. Diberikan pelukan yang erat. Biasa dilakukan sebagai cara tambahan guna membujuk ayahnya. Tak lama. Dalam hitungan sepuluh detik saja sudah dilepaskan. Lalu, Varlotta kembali duduk di kursinya seperti semula.
“Dad kenapa tidak menjawab? Jangan buat aku sedih karena Dad tidak mendukungku. Beda dengan Mom yang selalu menghargai keputusan yang ingin aku ambil.” Varlotta merajuk.
“Dad mendukungmu juga. Jangan bangga-banggakan Mom saja. Kami akan melakukan yang terbaik untuk mendukungmu dan Darmo. Kau harus menghargai Dad juga. Paham?”
Varlotta menanggapi dengan anggukan santai. Tawanya kembali diloloskan dan pelukan diberikan kepada sang ayah. “Iya, Dad. Baiklah. Dad tenang saja. Aku juga sayang Dad.”
"Aku akan menikah satu tahun lagi dengan pria yang aku cintai. Akan aku pastikan juga jika aku dapat menepati janjiku. Dad dan Mom ingin mendapatkan cucu berapa dariku? Katakan saja sekarang. Bagaimanapun aku harus memikirkan dan menyiapkan secepat mungkin.”
"Dua mungkin cukup. Dua lagi dari Darmo. Sudah akan ramai ada empat cucu kami di rumah. Jika lebih juga tidak masalah. Dad dan Mom akan senang-senang saja ada banyak cucu.”
Varlotta tidak kuasa menahan tawanya, ia langsung terbayang oleh sosok-sosok bayi mungil. Buah hati hasilnya cintanya dengan Geonado Vilano. Paras tampan pria itu akan diwariskan ke anak-anak mereka. Khayalan yang sangat sempurna. Dan, ia ingin benar-benar mewujudkan menjadi kenyataan.
Tekad sudah bulat untuk mendapatkan Geonado. Tak akan pernah berlaku kata menyerah sampai ia berjuang di titik penghabisan. Sangat yakin jika ada kesempatan terbuka lebar memiliki Geonado.
"Dad, kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" tanya Varlotta langsung, ketika menyadari tatapan aneh dilemparkan sang ayah.
"Bukan salah, Nak. Kau hanya terlihat aneh tadi. Kau tersenyum lebar sendiri. Membuat Dad takut."
Harusnya Varlotta tertawa karena jawaban ayahnya namun ia justru memerlihatkan ekspresi datar saja. Suasana hati mendadak buruk. Fantasi indahnya tadi sudah digantikan dengan pemikiran logis lagi. Namun, tidak memupuskan harapan besarnya. Ia ingin tetap optimis untuk tujuan ingin diraihnya.
"Aku hanya mengkhayal sedikit tentang suami di masa depanku, Dad. Hal yang wajar 'kan?" balas Varlotta dengan nada suara bangga dan riang.
"Jangan hanya dikhayalkan saja. Kau punya tugas untuk merealisasikan secepatnya. Dad ingin hasil enam bulan lagi. Jika tidak ada juga, kau harus mau menerima perjodohan yang akan Dad persiapkan. Tidak boleh lagi kau menolak pilihan dari Dad."
Suasana hati Varlotta seketika berubah drastis. Ia tersinggung akan ucapan ayahnya. Dan dianggap sebagai perintah wajib dipenuhi. Sebuah hal yang masih tidak ingin dilakukannya. Sampai kapan pun ia enggan menerima perjodohan. Tak ada pria lain akan menikah dengannya, hanyalah Geonado saja yang diinginkan untuk menjadi suaminya nanti.
Tatapan sang ayah kian tak mengenakan dilihat, maka Varlotta memutuskan mengangguk dengan gerakan lemah. Sepatah kata tidak dikeluarkan karena memberikan pendapat pribadi bukanlah pilihan terbaik. Perdebatan justru akan muncul.
"Mau ke mana aku, Nak?"
Varlotta yang lima detik lalu baru bangun dari sofa dan baru dua langkah berjalan, langsung menoleh ke arah sang ayah. "Aku mau tidur, Dad. Aku lelah."
"Soal ucapan, Dad. Aku akan mengikuti semua apa mau Dad. Jika aku benar-benar tidak bisa memiliki pria yang aku cintai. Aku siap dijodohkan lagi."