6 - Menghibur

1577 Words
Setelah meminta izin terlebih dahulu pada kedua orangtua Varlotta tentang keinginannya membujuk dan menghibur wanita itu, barulah Geonado pergi ke lantai teratas kediaman Samuel Vandara, di mana ruangan tidur dari Varlotta berada. Wanita itu pasti sedang menyendiri di dalam kamar. Selain merasa khawatir dengan keadaan Varlotta, ia juga senang akan kepercayaan yang diberikan oleh kedua orangtua wanita itu. Geonado berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan membuat Varlotta bisa kembali ceria. Ia sudah menyiapkan beberapa cara. "Aku membawa wine. Apa kau mau, Little Princess? Aku rasa kau akan menyukainya. Jadi, kau harus minum bersamaku. Bagaimana? Kau wajib mau. Aku malas menerima penolakan darimu. Okay?" "Aku akan mengajakmu minum sekarang. Bisakah kau bangun, Little Princess? Kau tidak mungkin tidur bukan? Jadi, kau harus menemaniku minum." Geonado tetap berjalan masuk ke dalam kamar Varlotta, selepas loloskan pertanyaan yang lebih terdengar seperti sebuah ajakan.  Dan, tidak diperoleh respons apa pun atas apa dimintanya. Varlotta tak menyahut. Bukan menjadi masalah jika tidak mendapatkan izin wanita itu juga. Memang dari penglihatannya, Varlotta tengah berbaring di atas kasur dan ditutupi selimut. Kemungkinan besar wanita itu menyadari kedatangannya. Namun, sengaja tak menyambut. Ia telah tahu penyebabnya. Walau belum mendengarkan pendapat pribadi dari Varlotta. Ya, persoalan beda pandangan tentang suatu hal yang biasa terjadi di antara anak dan orangtua mereka. Tidak hanya wanita itu yang mengalami. Dirinya pun pernah merasakan hal yang sama. Perdebatan dengan sang ayah menyangkut masalah bisnis. Dan, juga perkara lainnya. Bagi Geonado, hal tersebut lumrah terjadi. Akan diakhiri lewat penyelesaian yang tak merugikan semua pihak. Memang harusnya demikian agar menghindari terjadi konflik tambahan, penyebab memburuknya hubungan. Geonado akan menasihati Varlotta supaya nanti meminta maaf.  “Little Princess…,” panggil Geonado dengan suara yang semakin lembut. “Ayolah bangun. Sambut aku. Kau akan aku berikan wine terbaik. Kau pasti akan suka.” Geonado masih berkata dalam intonasi yang pelan. Namun, yakin dapat didengar jelas oleh Varlotta. "Wine dapat membantu mengembalikan suasana hatimu yang buruk, Little Princess. Percayalah kepadaku. Dibandingkan kau tidur saja dengan mood buruk. Lebih baik kita minum bersama.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Geonado pun mengambil posisi duduk di tepian kasur empuk ditempati wanita itu. Masih terpusat pandangannya pada sosok Varlotta yang belum ingin menunjukkan respons apa pun, walau ia sudah cukup banyak mengeluarkan kalimat bujukan. Senyum Geonado sudah terukir sejak tadi. Terhitung dari dirinya memasuki kamar Varlotta. Hendak memerlihatkan sikap yang bersahabat agar dapat membuat wanita itu lebih nyaman dan menyambutnya dengan baik. Namun, realita bagus belum didapat. Varlotta masih diam saja. Geonado tidak akan kehabisan akal dalam membujuk Varlotta agar merespons. Cara lain sudah disiapkan. Geonado pun cukup yakin bahwa akan membuahkan hasil. Ia sudah beberapa kali sukses mengatasi suasana hati Varlotta yang buruk. Sangat percaya tak akan gagal nantinya. "Jadi, kau tidak akan mau menemaniku minum wine? Padahal aku sudah berbuat banyak hal membantumu, Little Princess? Kau tidak boleh lupa cara cara berterima kasih. Tapi, kau tida--" Geonado tak melanjutkan ucapannya karena melihat ada pergerakan dilakukan oleh Varlotta. Paling tidak, wanita itu sudah mendengar ucapan-ucapannya. Dan, merespons baru sekadarnya. Namun, hal tersebut sukses membuat ia senang. Senyuman di wajah pun kian terbit lebar. Tak dikatakan apa-apa lagi. Hanya tinggal menunggu tanggapan lanjutan dari Varlotta, tentu saja. "Aku akan menemanimu. Ada syarat. Kau tidak boleh menertawakanku, saat nanti kau melihat wajahku. Apa kau mau menepati, Mr. Gorgeous? Jika kau melanggar, aku akan kesal.” Geonado berupaya menahan tawa agar tak terlolos, keadaan tengah tidak mendukung. Namun, harus diakui bahwa cara Varlotta berbicara baginya terdengar lucu, bukan menyeramkan atau menyebabkannya menjadi takut. Meski demikian, ia tidak boleh menunjukkan gelakan sedikitpun. Kemudian, dipilih mengangguk. Menandakan mengiyakan, walau Varlotta tak menyaksikannya secara langsung. Sedangkan, tangan kanan diarahkan ke kepala wanita itu. “Baiklah.” “Aku tidak akan mungkin menertawakanmu, Little Princess. Jika aku sampai melanggar, aku siap menerima hukuman darimu. Apa pun yang kau mau nantinya, pasti akan aku berikan.” Geonado berujar dengan tegas, walau kelembutan dalam suara beratnya sangatlah dijaga. “Kau serius akan memberikan apa pun yang aku mau? Kau harus janji menepatinya. Jika tidak, aku akan marah dan tambah kesal kepadamu, Mr. Gorgeous. Okay? Aku akan menagihnya.” Geonado mengangguk cepat, walau tahu jika Varlotta tak akan menyaksikan. "Baik. Aku akan menepati. Jangan cemas, Little Princess. Aku memegang ucapanku. Dan janji tidak akan ter--" Geonado tidak bisa melanjutkan kata yang hendak diucapkan karena dilanda oleh rasa terkejut secara tiba-tiba. Penyebabnya tentu adalah sosok Varlotta. Terkhususnya wajah basah wanita itu dan kedua mata sembab. Ia tak menyangka saja Varlotta akan demikian menyedihkan. Tak tega sungguh melihat wanita itu dalam keadaan yang kurang baik. Ia seperti ikut merasakan. Geonado bergegas berjalan mendekat ke arah ranjang. Setelah sampai, ia pun segera menaiki kasur. Dibutuhkannya waktu tidak lebih dari 10 detik untuk memberi pelukan kepada Varlotta yang erat. Ia mempunyai tujuan untuk menenangkan wanita itu. Tak akan dibiarkan Varlotta kembali menangis. Ia siap melakukan apa saja guna menghibur. Sudah seharusnya begitu yang ia lakukan untuk menunjukkan kepedulian besar yang dimiliki terhadap Varlotta. “Kau masih ingin menangis, Little Princess? Ayo, lakukan saja. Aku ada di sini. Aku akan selalu bersamamu. Menemanimu. Aku juga akan selalu memeluk jika kau masih mau menang—” Varlotta tak membiarkan Geonado melanjutkan ucapan, dilepaskan secara cepat pelukan yang diberikan oleh pria itu sehingga tidak dapat meneruskan kata hendak dilontarkan. Varlotta pun melemparkan tatapan kesal ke arah pria itu dengan kondisi kedua mata yang masih berair. Ia tahu tampak menyedihkan seperti ini. Kontras akan biasanya yang selalu berusaha untuk tampil cantik di hadapan Geonado. Tentu, ada perasaan malu. Namun, tak dapat dihindarinya. “Tidak!” seru Varlotta kencang dan tegas. Dilemparkan tatapan yang kesal dengan peluk mata masih tergenangi oleh cairan bening sehingga tak terlalu dapat dilihat secara jelas Geonado. “Kau jangan menyuruhku menangis lagi! Aku tidak mau.” Varlotta mempertegas kembali. Suara tambah meninggi. Kejengkelan yang tengah dirasakannya pun semakin menjadi-jadi saja. Bukan dikarenakan mood buruk atau ingatan tentang perdebatan dengan sang ayah tadi, tetapi disebabkan oleh ekspresi Geonado. Pria itu memang sedang memerlihatkan senyuman hangat seperti biasa senatural mungkin supaya tak menimbulkan curiga. Meski demikian, Varlotta sangat sadar bahwa Geonado tengah berupaya menahan tawa. Sungguh, baginya menyebalkan. “Kau menganggap aku lucu. Kau sudah melanggar janji. Kau membuatku tambah jengkel, Mr. Vilano. Kau akan mendapatkan hukuman. Lihat saja nanti!” Varlotta mengungkapkan rasa kesal lewat seruan yang lebih kencang lagi dari beberapa menit lalu telah dikeluarkannya. “Jika kau ingin tertawa, lakukanlah. Jangan kau sembunyikan. Tidak akan berhasil. Aku sudah tahu. Jadi, ayo sekarang keluarkan tawamu dengan keras. Akan aku dengarkan, Mr. Gorgeous.” Reaksi dari Geonado segera didapatkannya, pria itu terbahak-bahak. Ya, melakukan perintah yang baru dikatakannya. Jelas semakin mengesalkan. Namun, enggan mengomel. Dipilih untuk diam saja sembari memerhatikan Geonado yang tergelak. Ia sebenarnya tidak benar-benar bisa marah. Hanya kesal saja. Dan, tak akan bertahan lama. Geonado sudah tahu perasaannya. Akan dijaga oleh pria itu. "Aku tertawa bukan karena kau jelek. Tapi, karena kau lucu, Little Princess. Percayakan dengan apa yang aku katakan ini? Kau tahu aku tidak akan bisa berbohong kepadamu. Maaf juga karena aku su--" Geonado tidak berhasil menuntaskan kalimat yang ingin diutarakan dengan setulus hati akibat Varlotta memeluknya. Ia bereaksi secara cepat, mendekap balik erat dan kuat. Seolah tak akan membiarkan barang satu detik pun, tubuh Varlotta terlepas dari rengkuhan kedua tangannya yang kokoh. Namun, ia menjamin bahwa pelukannya tak akan membuat wanita itu menjadi sesak dan sulit bernapas. "Ada aku bersamamu, Little Princess. Jika ada yang kau ingin ceritakan, aku siap mendengarkan. Lebih baik kau bilang kepada orang lain, daripada hanya kau simpan sendiri bukan? Kau akan lebih leg--" Kembali, Geonado tidak bisa melanjutkan katanya sebab Varlotta melepaskan diri. Dekalannya pun harus diakhiri, walau di dalam hati masih memiliki keinginan besar memberikan Varlotta ketenangan dengan pelukan dan ucapan-ucapan menyejukan. Kekecewaan melingkupinya secara tiba-tiba. Namun kemudian, dengan cepat berganti akan rasa heran karena melihat Varlotta yang memerlihatkan senyuman begitu lebar. Tatapan wanita itu tidak lagi menampakkan kekesalan atau kesedihan, terdapat sorot jahil. Seketika pula dahi Geonado berkerut. Ia tak menyangka dengan perubahan ekspresi dari Varlotta begitu cepat. Dalam hitungan beberapa detik saja. Namun, ia senang wanita itu ceria. Spontan, Geonado menarik Varlotta ke pelukannya. Ia mendekap dengan kuat. Ditaruh kepala di bahu kanan Varlotta. Kenyamanan yang sangat besar langsung menyergapnya. Sudah lama pula tidak ia pernah rasakan kepada wanita mana pun.  Pemikiran terlogis yang muncul di dalam kepalanya tentang alasan bisa begitu tenang dengan memeluk Varlotta kareka mereka berdua sudah cukup dekat. Ya, dianggapnya Varlotta sebagai saudara sendiri. "Little Princess…," panggil Geonado dalam suara cukup pelab. Diusap jarinya di kepala wanita itu. "Ya, Mr. Gorgeous? Ada apa?" Geonado tersenyum sendiri mendengar bagaimana suara lembut Varlotta. "Suasana hatimu sudah lebih bagus lagi?" tanyanya santai, tanpa nada cemas. "Aku senang melihatmu bisa tertawa. Jangan sedih atau menangis lagi, aku tidak suka kau seperti itu. Aku lebih senang kau tersenyum dan tertawa. Kau tahu tidak? Kau tambah cantik, Little Princess." Wajah Varlotta langsung memanas mendengarkan pujian bernada sangat lembut dilontarkan Geonado. Debaran jantung meningkat karena tatapan pria itu. Memang sudah sejak tadi detakan melebihi batas normal. Dan, ketika sorot mata Geonado semakin hangat serta teduh. Maka hatinya kian bergetar. "Aku sudah cantik sejak dulu. Kau saja yang baru sadar sekarang, Mr. Gorgeous." Varlotta berupaya menjawab dengan suara yang sesantai mungkin. Menyembunyikan rasa grogi dalam alunan suara lembutnya. "Aku bahkan menjadi idola saat dulu di--" Varlotta tidak dapat menyelesaikan ucapan karena menerima kecupan di bagian kening dari Geonado. Napasnya kembali tertahan beberapa detik. Sembari memahami ulang apa yang baru saja diterimanya. Detakan jantung mengalami peningkatan menerus. "Kau menciumku?" tanya Varlotta spontan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD